http://www.hidayatullah.com/modules.php?name=News&file=article&sid=1147
Hidayatullah.com, Jumat, 14 Mei 2004
Kasus Timtim: Kasihan, Indonesia!
RI terus dicurangi menyangkut Timtim. Kalau tak bisa membela diri atas berbagai
kecurangan pada RI, mengapa masih rebutan jadi Presiden? Baca CAP ke-54 Adian Husaini,
MA
Meskipun sudah meraih kemerdekaan dari Indonesia, kasus Timor Timur ternyata
belum selesai. Sejumlah perwira TNI sudah diadili dan dijatuhi hukuman yang beragam.
Namun, Pengadilan Timor Timur, pekan lalu, atas dukungan PBB, mengeluarkan perintah
penangkapan terhadap Jenderal TNI (Purn) Wiranto, atas kasus kerusuhan yang melanda
Timtim pasca jajak pendapat. Wiranto selama ini memang masih lolos, dan berulangkali
menjadi isu internasional, bahwa namanya masuk daftar cekal pemerintah AS. Setahun
lalu, Februari 2003, Jaksa penuntut umum PBB di Timtim sudah menuduh Wiranto melakukan
kejahatan kemanusiaan di Timtim.
Terlepas dari kasus Wiranto, dalam kasus Timtim secara umum, Indonesia memang
sangat patut dikasihani. Setelah dipaksa melepaskan Timtim, Indonesia terus dikejar
soal Timtim. Pada tanggal 7 Desember 1975 - hanya beberapa jam setelah Presiden AS
Gerald Ford dan Menlu Henry Kissinger meninggalkan Jakarta -- Tentara Indonesia
menyerbu Timtim. Laporan Legislative Report Service dari Parlemen Australia melaporkan
jumlah korban sekitar 100.000 orang. Ketika itu tidak ada jenderal atau pejabat
Indonesia yang dituntut Padahal, New York Times, (13 Desember 1975) menulis:
"Indonesia is guilty of naked aggresion in its military seizure of Portuguese Timor."
Indonesia masuk ke Timtim atas restu AS, sebagai bagian dari politik
"pembendungan komunis" Barat. Meskipun kalangan NGO internasional dan Gereja Katolik
tidak pernah mendukung integrasi Timtim ke Indonesia, tetapi AS tetap mendukung
Indonesia, dan tidak pernah mempersoalkan berbagai kebijakan Indonesia di Timtim.
Henry Kissinger ketika itu menyatakan, "AS memahami posisi Indonesia." Pada tanggal 12
Desember 1975, MU-PBB mengeluarkan resolusi 3485 yang memerintahkan Indonesia menarik
tentaranya dari Timtim. Sebanyak 72 negara mendukung resolusi itu, 10 menentang, dan
43 abstain, termasuk AS.
Pasca Perang Dingin situasi berubah. Setelah komunis runtuh, tahun 1990, Barat
tidak lagi melihat komunis sebagai ancaman utama. Maka, posisi AS terhadap masalah
Timtim pun sedikit demi sedikit berubah. Posisi Indonesia sama dengan posisi
Yugoslavia yang selama bertahun-tahun digunakan sebagai "buffer-zone" untuk membendung
pengaruh komunis dari Utara. Para era pasca Perang Dingin inilah, kita melihat peran
penting tokoh Katolik Timtim, Uskup Belo, dalam membebaskan Timtim dari Indonesia.
Belo dengan cerdiknya memainkan isu agama dalam dunia internasional. Bahwa, yang
terjadi di Timtim, bukan hanya soal pelanggaran HAM, tetapi islamisasi oleh orang
Islam Indonesia dan juga pemusnahan orang-orang Kristen.
Pasca Perang Dingin, media massa Barat, rajin menyorot ancaman dan bahaya Islam.
Majalah The Economist edisi 4 April 1992 menyorot perkembangan Islam yang dipandangnya
makin hebat kekuatannya. "One anti-westernism is growing stronger," tulis majalah
tersebut mengawali artikelnya.
Majalah Time edisi 15 Juni 1992 menjadikan tema kebangkitan Islam sebagai topik
utama, dengan judul cover yang mencolok, "Islam: Should the World be Afraid". Yang
mereka maksud dengan paham anti-Barat tak lain adalah Islam. Ada tiga gejala yang
disorot sebagai bukti menguatnya paham anti-Barat itu. Pertama, perkembangan kaum
fundamentalis Islam di negera-negera Arab. Kedua, kebangkitan Islam di negara-negara
bekas Uni Soviet. Dan ketiga, perkembangan bank Islam.
Bisa dipahami, pada saat itu, isu Islamisasi dan ancaman terhadap kaum Kristen
di Timtim yang dikampanyekan oleh Uskup Belo mendapat sambutan luas. Dalam beberapa
kali kesempatan mengikuti perjalanan jurnalistik ke luar negeri, antara tahun
1996-1997, saya melihat bagaimana masalah Islamisasi di Timtim itu beberapa kali
diangkat oleh wartawan Barat dalam acara jumpa pers dengan pejabat-pejabat pemerintah
RI.
Yang lebih menarik, menurut Uskup Belo, Islamisasi di Timtim, difasilitasi oleh
ABRI. Bertahun-tahun Uskup Belo berkampanye di luar negeri bahwa di Timtim terjadi
Islamisasi. Padahal, fakta bicara lain. Yang terjadi di masa integrasi Timtim dengan
Indonesia adalah Katolikisasi, bukan Islamisasi. Tahun 1972, orang Katolik Timtim
hanya 187.540 dari jumlah penduduk 674.550 jiwa (27,8 persen). Tahun 1994, jumlah
orang Katolik menjadi 722.789 dari 783.086 jumlah penduduk (92,3 persen). Tahun 1994,
umat Islam di Timtim hanya 3,1 persen. Jadi dalam tempo 22 tahun di bawah Indonesia,
jumlah orang Katolik Timtim meningkat 356,3%. Padahal, Portugis saja, selama 450 tahun
menjajah Timtim hanya mampu mengkatolikkan 27,8% orang Timtim. Melihat pertambahan
penduduk Katolik yang sangat fantastis itu, Thomas Michel, Sekretaris Eksekutif
Federasi Konferensi para Uskup Asia yang berpusat di Bangkok, menyatakan, "Gereja
Katolik di Timtim berkembang lebih cepat dibanding wilayah lain mana pun di dunia."
Namun, ironinya, Belo tak henti-hentinya menyebarkan isu terjadinya
Islamisasisasi di Timtim, sehingga dalam tahun 1995 dan 1996 terjadi pengusiran
besar-besaran warga Muslim dari Timtim. Tentang sikap Belo dan Barat ini, Prof. Bilver
Singh, pakar politik Universitas Nasional Singapura mencatat: "Dalam kerangka itu,
yang tampak adalah berlangsungnya apa yang dikatakan 'Sindrom Perang Salib Lama', di
mana banyak negara Barat dan kelompok Kristen berupaya untuk membuat gambar negatif
mengenai kebijakan Indonesia terhadap Timtim.Tuduhan-tuduhan jahat ini didorong oleh
ketakutan, meski tak berdasar, bahwa benteng Kristen dan Katolik di Timtim akan
dikepung oleh gerombolan-gerombolan Jawa Islam."
Pasca jajak pendapat, Uskup Belo terus menekan Indonesia. Ia menyebut, kerusuhan
pasca jajak pendapat itu sebagai "genocide" dan setingkat dengan pembasmian etnis di
Bosnia-Herzegovina dan Rwanda. Belo menyebut TNI sebagai pihak paling bertanggung
jawab terhadap kasus itu. TNI, katanya, menaruh dendam karena gagal mempertahankan
Timtim. "Karena dendam itulah Timtim dibikin kacau tak karu-karuan," kata Belo, dari
tempat persembunyiannya di Lisabon.
Saat itu pun, Belo sudah menuntut agar persoalan itu di bawa ke mahkamah
internasional. Suara Belo tentang Timtim ketika itu juga mendapat dukungan dari
Vatikan. Siaran pers Vatikan pertengahan September 1999 memuat hal-hal yang
dikampanyekan Belo, termasuk soal genocide atas bangsa Timtim.
Dan setelah Timtim merdeka, Sang Uskup juga terus berkampanye agar masalah
Timtim di bawa ke mahkamah internasional. Pada 4 September 2002, Belo meminta dukungan
internasional untuk menggelar pengadilan internasional bagi pelaku pelanggaran HAM
berat di Timor Timur. Permintaan itu diungkapkan Belo dalam surat yang dikirim ke
pemerintah Timtim.
Surat Uskup Dili ini --selain dikirimkan ke pemerintah Timtim - juga diedarkan
dan dibacakan ke seluruh jamaah gereja Katolik sediosis Dili. Sejak tahun 1990-an,
peran Uskup Carlos Filipe Ximenes Belo dalam pemisahan Timtim dari Negara Kesatuan RI
memang sangat besar. Namun, pemerintah RI belum pernah berani menindak Sang Uskup,
sampai Timtim dipaksa lepas dari Indonesia. Tahun 1996, Belo menggoncang politik
Indionesia dalam wawancaranya di Majalah der Spiegel edisi 14 Oktober 1996. Kepada
majalah Jerman itu, Belo menyatakan, "Tentara Indonesia telah merampas kemerdekaan dan
menghancurkan kebudayaan kami, juga memperlakukan kami seperti anjing kudisan. Mereka
tidak mengenal tata keadilan. Orang Indonesia memperlakukan kami seperti budak
belian." Judul berita itu sendiri adalah "Sie halten uns wie Sklaven" (Mereka
Memperlakukan Kami Seperti Budak Belian).
Pemerintah RI sangat berang dengan wawancara Belo itu. Menlu Ali Alatas
sampai-sampai menemui Menlu Vatikan Mgr. Jean Louis Tauran di Roma dan menyampaikan
keprihatinan Indonesia terhadap ucapan-ucapan Belo. Ketika itu, dalam pesawat
kepresidenan dari Jakarta-Jordan-Roma, saya melihat bagaimana masalah Uskup Belo dan
Timtim menjadi pembicaraan serius di kalangan pejabat-pejabat tinggi RI. Tetapi,
posisi Uskup Belo sangat kuat, sehingga pemerintah Indonesia tidak berani menindaknya.
Tetapi, hanya mengadukan ulah Uskup itu kepada bosnya di Vatikan. Bahkan, tahun itu
juga, Uskup Belo dianugerahi hadiah Nobel Perdamaian. Posisi Belo semakin naik,
sebaliknya posisi Indonesia di mata internasional semakin jeblok.
Terlepas dari soal kasus para jenderal dan kemerdekaan Timtim, apa yang menarik
kita simak dalam kasus ini adalah kegigihan seorang Uskup dalam membela jemaatnya. Ia
tampak begitu bersemangat memperjuangkan nasib kaumnya. Harga nyawa kaumnya begitu
tinggi di matanya. Meskipun hanya berpenduduk sekitar 700 juta jiwa, Timtim cepat
meraih kemerdekaannya dari Indonesia, karena mereka khawatir dengan isu ancaman
Islamisasi yang digulirkan Uskup Belo. Perlakuan Barat terhadap Timtim, sangat berbeda
dengan nasib rakyat Palestina, yang 3 juta lebih rakyatnya kini masih hidup dalam
pengasingan, dan PBB sendiri tidak pernah mengesahkan pendudukan Israel terhadap Tepi
Barat dan Jalur Gaza. Tetapi, usaha pendirian negara Palestina masih belum jelas.
Nasib Muslim Kashmir pun serupa. Sejak tahun 1948, PBB sudah meminta diadakan usaha
penentuan nasib sendiri oleh rakyat Kashmir, tetapi India tidak pernah mau
melaksanakannya. Kaum Muslim Kashmir yang jumlahnya sekitar 25 juta jiwa, masih tetap
dibiarkan dijajah oleh India. Ratusan ribu kaum Muslim sudah terbunuh. Data Amnesty
Internasional dan Asia Watch, menyebutkan, antara tahun 1990-1999, sekitar 71.204
rakyat Kashmir dibunuh oleh aparat India; sekitar 7.613 wanita menjadi korban
perkosaan.
Kita berharap, tokoh-tokoh dan pemimpin Islam juga bersikap vokal dan
bertanggung jawab terhadap berbagai kondisi yang dialami kaum Muslimin di berbagai
belahan dunia. Baru-baru ini, 7 Mei 2004, misalnya, ribuan kaum Muslim di kota Yelwa,
Nigeria, mengungsi dari kota itu, dan ratusan lainnya terbunuh diserang oleh milisi
Kristen, seperti diberitakan Reuters. Siapa tokoh-tokoh dunia Islam yang membela kaum
Muslim tersebut?
Padahal, kita ingat bagaimana di zaman Rasulullah saw, hanya gara-gara seorang
wanita muslimah diganggu oleh kaum Yahudi Bani Qainuqa', maka akhirnya terjadi perang
antara Muslim dengan Yahudi tersebut. Alkisah, ketika itu, seorang wanita Muslimah
datang ke pasar Bani Qainuqa' dengan membawa perhiasan. Ketika ia sedang duduk
menghadapi tukang emas, sejumlah Yahudi berusaha melihat muka si Muslimah, namun
wanita muslimah menolak (Kisah lain menyebutkan, Yahudi di situ juga berusaha mencopot
jilbabnya). Diam-diam, seorang Yahudi datang dari belakang dan mengikatkan ujung baju
si muslimah pada sebatang pengikat. Ketika berdiri, tampaklah aurat muslimah. Mereka
beramai-ramai menertawainya, dan wanita itu menjerit-jerit.
Seorang laki-laki Muslim yang lewat disitu segera menerkam tukang emas Yahudi
dan membunuhnya. Orang-orang Yahudi lain berdatangan dan membunuh Muslim tersebut.
Segera Nabi Muhamad SAW mendatangi Yahudi Bani Qainuqa' dan mengingatkan mereka, agar
memelihara perjanjian damai yang sudah disepakati. Jika tidak, ancam Nabi, maka mereka
akan mengalami nasib seperti kaum Quraisy yang kalah dalam Perang Badar. Ancaman Nabi
SAW itu malah dilecehkan. Mereka katakan, "Hai Muhammad, jangan kau tertipu karena kau
sudah berhadapan dengan suatu golongan yang tidak punya pengetahuan berperang sehingga
engkau mendapat kesempatan mengalahkan mereka. Tetapi, kalau sudah kami yang memerangi
kau, niscaya akan kau ketahui, bahwa kami inilah orangnya."
Maka tidak ada pilihan bagi Nabi SAW kecuali memerangi mereka. Setelah dikepung
selama 15 hari, Yahudi Bani Qainuqa' menyerah. Seluruh Bani Qainuqa' diusir dari
Madinah, dan kemudian mereka menetap di daerah Syam (Syiria).
Sekarang, kita juga bisa melihat, bagaimana kaum Yahudi terus memburu para
pelaku 'holocaust' dan menuntut diberlakukannya sanksi terhadap para pembantai Yahudi
di tahun 1940-an itu. Baru-baru ini, pada tanggal 5 Mei 2004, pemerintah Jerman
menyerahkan dana 12 juta Euro untuk korban pembantaian kaum Yahudi (holocaust) yang
masih selamat. Israel Singer, Presiden Komite Klaim Holocaust, menyatakan, bahwa
keputusan pemerintah Jerman itu merupakan "langkah pertama yang penting". Jadi,
meskipun sudah puluhan tahun berlalu, tuntutan mereka terhadap pelaku holocaust tidak
pernah dihapuskan.
Kita bisa bertanya, mengapa Indonesia tidak menuntut Westerling, Van den Bosch,
Van der Capellen, dan para penjajah dan pembantai rakyat Indonesia? Indonesia juga
sama sekali tidak menyatakan, bahwa mereka masuk ke Timtim atas restu dan dukungan AS.
Kasihan betul nasib bangsa Muslim terbesar ini. Di suruh masuk ke Timtim, masuk saja.
Disuruh pergi, ya pergi saja. Padahal, selama puluhan tahun, Indonesia menyatakan,
bahwa Timtim adalah bagian yang tak terpisahkan dari Negara Kesatuan RI. Dicurangi
dalam jajak pendapat tahun 1999, ya diam saja. Malah dengan segera mengakui bahwa
jajak pendapat itu sah. Itulah nasib bangsamu, wahai Megawati, Susilo Bambang
Yudhoyono, Wiranto, Hamzah Haz, Amien Rais, atau siapa saja yang mau jadi Presiden RI
2004-2009! Sanggupkah Anda mengubah kondisi bangsamu, dari bangsa yang terhina menjadi
bangsa mulia? Jika tidak sanggup, untuk apajadi Presiden? Wallahu a'lam. (KL, 12 Mei
2004).
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
---------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/