http://www.surya.co.id/17052004/12b.phtml
Mentalitas me too pendidikan tinggi kita
Oleh Redi Panuju
Purek I Unitomo Surabaya
Setiap tahun ajaran baru kesibukan orangtua mencarikan lembaga pendidikan di level
yang lebih atas bagi putra putrinya nampak meningkat. Hal itu menunjukkan, masyarakat
masih menaruh kepercayaan terhadap lembaga pendidikan formal: menamatkan studi hingga
pendidikan tinggi merupakan syarat (mutlak) untuk dapat berperan unggul dalam
kehidupan sosial. Kompetisi untuk meraih stratifikasi tertentu yang lebih tinggi akan
melalui seleksi berdasarkan latar belakang pendidikannya.
Karena itu masyarakat rela menyisihkan sebagian sumber dana dan daya yang dimiliki
untuk membiayai pendidikan ini, karena mereka menganggap pendidikan merupakan bagian
dari investasi masa depan. Meskipun pada akhirnya, apa yang diharapkan tidak selalu
terpenuhi, toh belum ada pengganti jalur lain yang dapat menjamin masa depan, maka
pada umumnya tak banyak yang berani menanggung risiko untuk melawan pendapat umum
(general opinion) seperti itu. Salah satu sebab mengapa lembaga pendidikan tumbuh
kembang menjadi mirip dengan industri kapitalistik adalah karena tingkat kebutuhan
akan jasa pendidikan ini semakin tinggi.
Secara ideal, mestinya memang lembaga pendidikan (tinggi khususnya) harus menjadi agen
perubahan sosial (agent of change). Melalui produk yang dimiliki --mulai dari ilmu
pengetahuan (scientific knowledge), teknologi (teknik & sosial), seni budaya, maupun
gagasan-gagasan yang bersifat menyongsong masa depan (futuristic), maka pendidikan
tinggi mampu memberi arah bagaimana masyarakat bertindak untuk mencapai tujuan
perubahan yang lebih baik. Dengan demikian, mestinya perguruan tinggi tak pernah
ketinggalan oleh perubahan yang ada di sekitarnya. Namun dalam realitasnya, hampir
sulit menunjuk satu saja perguruan tinggi yang mampu memerankan skenario seperti itu.
Kebanyakan justru perguruan tinggi selalu tertatih-tatih menyesuaikan diri dengan
perkembangan yang terjadi. Sehingga gagasan, nilai, norma, maupun sistem laku yang
berkembang di perguruan tinggi jauh tertinggal di belakang. Jadi, wajarlah bila
lulusan perguruan tinggi yang semula diharapkan menjadi agen perubahan justru menjadi
beban bagi masyarakatnya, karena perangkat lunak yang diadopsi di perguruan tingginya
sudah kedaluwarsa, tak bisa digunakan lagi mengakses realitas kekinian yang menjadi
begitu asing. Alhasil, lulusan pendidikan tinggi menghadapi keterkejutan budaya
(cultural shock) yang menimbulkan depresi di mana-mana.
Pertanyaan kuncinya adalah apanya yang salah dari pendidikan tinggi kita hingga
menimbulkan malapetaka seperti itu? Jika dilihat dari cetak biru (blue print)
kebijakan pendidikan tinggi kita agaknya sulit ditemukan kelemahannya. Sebab,
kebijakan pendidikan kita telah dirancang ahli-ahli pendidikan yang kebanyakan lulusan
perguruan tinggi asing (luar negeri). Banyak standar infrastruktur maupun prosedur dan
operasional yang telah diberlakukan di dunia pendidikan kita. Sehingga mestinya,
dengan kebijakan pendidikan yang terstandar itu mestinya output-nya pun tak berbeda
dengan keluaran yang dibuat lembaga pendidikan di tempat asing.
Saya menilai, persoalannya bukanlah kita tak mampu membuat norma-norma pendidikan.
Justru boleh dibilang, bangsa kita justru sangat mampu membuat norma-norma, mulai dari
hukum, peraturan-peraturan hingga instruksi-instruksi. Persoalannya, setelah peraturan
itu ada, dalam pelaksanaannya kita tak mampu membuat hal itu bernilai. Jadi ada
persoalan yang bertolak belakang antara norma (norm) dan nilai (values). Jika suatu
norma mampu menjelma menjadi nilai, maka hal itu akan ditaati, diperjuangkan, dan
dijalankan secara konsekuen. Tapi, ini tidak demikian. Norma-norma dibiarkan muncul
dan tersosialisasi, tetapi tidak berarti membumi, menjadi bagian dari kehidupan yang
penting. Akibatnya, norma tinggal norma, yang ada hanya anggun dan berwibawa di atas
kertas. Saya beri contoh: banyak peraturan menteri pendidikan nasional maupun putusan
Dirjen Dikti yang mewajibkan setiap pengajar melakukan penelitian setiap kurun waktu
tertentu, sebab bila tak melakukan penelitian tak bakalan memperoleh kepangkatan
akademik (mulai dari asisten ahli hingga guru besar/profesor). Sebab, karya penelitian
ini memiliki angka kredit yang wajib, yang tak boleh diganti dengan lainnya. Namun,
dalam kenyataannya banyak dosen yang tidak melakukan penelitian bisa meraih
kepangkatan akademik yang tinggi atau melakukan penelitian ala kadarnya sepanjang bisa
memenuhi formalitas persyaratan. Maka norma itu pun sekadar menjadi norma. Tak ada
penghayatan hingga karya yang dilahirkan memiliki impak dalam kehidupan sosial. Itu
sebabnya meskipun kita memiliki banyak pengajar yang pangkatnya tinggi-tinggi, tetapi
jujur saja sulit dapat kita temukan karya bermutu yang lahir daripadanya. Demikian
juga ada kewajiban untuk menulis di jurnal yang telah terakreditasi. Memang
syarat-syarat itu terpenuhi, tetapi tuntutan kualitatifnya menjadi persoalan kesekian.
Nampaknya kita harus percaya dulu, bahwa persoalan runtuhnya wibawa perguruan tinggi
kita sebagai agen perubahan lebih disebabkan masalah mentalitas. Dalam hal ini
tepatlah apa yang disinyalir oleh Prof Dr Imam Buchori Zainuddin (Guru Besar ITB)
dalam seminar Sosio-Teknologi (Mei 2003), bahwa orang Asia kurang nyalinya untuk
selalu mempertanyakan hal-hal yang tidak pasti, karena adanya kekhawatiran kehilangan
psychological security. Mentalitas semacam ini cenderung membatasi fantasi, imajinasi,
dan keingintahuan untuk menggali kreativitas baru dan penemuan yang orisinal. Kata
Buchori, mentalitas kita (termasuk di perguruan tinggi kita) pada umumnya adalah
mentalitas me too. Mencontoh, menjiplak, dan mengikuti jejak merupakan fenomena umum
yang terjadi dalam berbagai kegiatan.
Dalam kehidupan sehari-hari mentalitas me too ini dapat terlihat dengan mudah terjadi
di mana-mana. Misal ada seorang tetangga sukses menjual durian, kemudian tetangga yang
lain ikut-ikutan jualan durian. Maka tak lama kemudian seluruh jalan di kawasan
tersebut menjadi pusat penjualan durian yang penuh sesak. Di perguruan tinggi
kecenderungan epigonisme ini juga terjadi. Misalnya, ada booming program studi Teknik
Informati, maka semua perguruan tinggi seolah tak mau ketinggalan membuka program
studi yang sama.
Salah satu sebab mengapa program Magister Manajemen (MM) yang ditengarai nyaris
mencapai kejenuhannya, adalah karena sikap latah dari perguruan tinggi. Mentalitas me
too ini menunjukkan bukan saja perguruan tinggi tidak kreatif dalam menciptakan
peluang yang spesifik, sekaligus memperlihatkan ketidakberaniannya berbeda dengan yang
lain sebagai keandalan kompetitif. Akibatnya, tanpa disadari dan tak diperhitungkan,
terjadi penyeragaman dalam pola manajemen serta pola kreativitas di antara perguruan
tinggi. Dengan demikian sulit bagi kita untuk mengindentifikasi keunggulan
masing-masing perguruan tinggi karena 'menu akademik yang disuguhkan' cenderung sama.
Bedanya mungkin hanya pada kelengkapan dan kecanggihan prasarana dan sarana yang
dimiliki.
Pendapat Prof Buchori agaknya berkait dengan pendapat Aik Kwang yang menulis buku Why
Asians are Less Creative Than Westerners. Kwang berpendapat, penyebab kurangnya daya
kreatif orang Asia karena tiga sebab penting: (1) banyak aturan dan norma mengatur
kepentingan masyarakat dari kepentingan individu, (2) bersifat hierrarkies (menarik
garis tegas status dan kepangkatan di antara yang rendah dengan yang tinggi), (3)
lebih mementingkan harga diri (tidak mau kehilangan muka) dalam mengambil simpati
sosial. Agaknya tiga hal inilah yang selama ini membelenggu kehidupan kampus kita.
Orang lebih sibuk membuat aturan-aturan hingga menjadi rumit, hingga aturan-aturan itu
membelenggu sendiri kreativitas keilmuan individu. Para ilmuwan di kampus sibuk
memikirkan bagaimana menaikki jenjang karir setinggi-tingginya tanpa mempertimbangkan
apa (karya) yang dihasilkannya.
Dan terakhir, orang kampus sibuk menjaga jangan sampai kehilangan muka dengan tingkah
polah artifisial, yang kadang jauh dari semangat nilai-nilai intelektual. Maka, demi
menjaga status quo dan psychological security tersebut, orang kampus rela tidak
kreatif dan jatuh di pangkuan mentalitas me too. Yang penting selamat!
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/