Oleh | Bambang Wisudo, materi wawancara pernah dimuat di Kompas, 31 
Januari 2004 
             Prof Dr Olle Tornquist 
      

            Prof Dr Olle Tornquist

                  Di Indonesia, demokratisasi kehilangan artinya menjadi sekadar 
sebuah proyek. Ada duit jalan. Tidak ada duit ya tidak jalan. Tidak heran bila gerakan 
demokrasi kini seolah-olah mogok. Banyak kegiatan dilakukan tapi jejak yang 
ditinggalkan susah dicari. Gerakan demokrasi yang amburadul itu dikritik pula oleh 
Prof Dr Olle Tornquist, pakar ilmu politik dari Universitas Oslo, Norwegia.
--------------------------------------------------------------

                 
                  Sejak 1970-an Tornquist telah melakukan studi tentang Indonesia. 
Saat itu ia melakukan riset untuk disertasi doktornya yang kemudian diterbitkan dengan 
judul Dillemas of Third World Communism: the Destruction of the PKI in Indonesia. 
Meski begitu ia mengaku bukan seorang Indonesianis dan bukan penutur bahasa Indonesia. 
Ia lebih banyak melakukan studi politik komparatif di Indonesia, Filipina, dan India.

                  Sejumlah momen penting yang menentukan bagi perubahan politik 
Indonesia diikutinya dari dekat. Ia datang ke Indonesia beberapa lama setelah 
pembredelan Tempo, Detik, dan Editor. Ketika penyerbuan markas Partai Demokrasi 
Indonesia yang dipimpin Megawati Soekarnoputri pada 1996, ia tengah mengadakan studi 
di Yogyakarta. Tornquist memang tidak menyaksikan langsung kerusuhan Mei dan aksi 
pengepungan gedung MPR DPR Senayan yang mendorong kejatuhan Soeharto."Saya tidak 
menduga Soeharto jatuh secepat itu," kata Olle yang saat itu tengah melakukan studi di 
Filipina. Sejak itu ia bolak-balik ke Indonesia, mengerjakan sebuah proyek riset 
dengan sejumlah peneliti dan aktivis prodemokrasi tentang gerakan demokrasi di 
Indonesia.

                  Menjelang Pemilu 2004 Tornquist kembali datang ke Indonesia. Ia 
mengaku kunjungannya ke Indonesia tidak berkaitan dengan Pemilu. Ia tengah 
menyelesaikan kesimpulan akhir riset keduanya tentang aktor-aktor demokrasi di 
Indonesia. Dalam wawancara dengan P. Bambang Wisudo Tornquist mengritik para aktivis 
masyarakat sipil di Indonesia yang bekerja secara elitis, meninggalkan keharusan 
melakukan gerakan social, dan cenderung menyerahkan urusan politik pada segelintir 
elite. Pemilu 2004, menurut Olle, penting karena peristiwa itu memanggil refleksi 
kritis baik bagi aktivis gerakan demokrasi di Indonesia tentang kegagalan-kegagalan 
yang telah mereka lakukan.

                  Berikut petikan wawancara dengan Tornquist:

                  Bagaimana Anda memandang Pemilu yang akan segera dilaksanakan di 
Indonesia?

                  Banyak orang memandang Pemilu 2004 tidak penting bagi proses 
demokratisasi di Indonesia karena keikutsertaan sisa-sisa Orde Baru dalam pemilihan 
umum. Saya sendiri sulit melihat representasi aktivis atau aspirasi demokrasi yang 
sejati dalam Pemilu 2004 Pemilu, bagi sebagian orang, tidaklah penting dalam proses 
demokratisasi karena dianggap tidak merefleksikan reformasi.

                  Di pihak lain pemilu penting karena kegiatan itu mengilustrasikan 
kegagalan proses demokratisasi di Indonesia. Pemilu merupakan ajakan bagi mereka yang 
mendukung gerakan demokratisasi di Indonesia untuk melakukan refleksi secara kritis. 
Termasuk di dalamnya organisasi-organisasi internasional yang selama ini menyarankan 
dan membuat kesepakatan dengan elite, membangun institusi-institusi di tingkat elite, 
tanpa berupaya mengubah struktur kekuasaan. Mereka harus berpikir mengapa Indonesia 
masuk dalam situasi di mana aspirasi demokrasi tidak hadir dengan sebenarnya dalam 
pemilu.

                  Pemilu juga merupakan kesempatan refleksi bagi kelompok-kelompok 
prodemokrasi mengapa mereka tidak bisa melakukan pengelompokan ulang dan menciptakan 
situasi yang berbeda. Pemilu 2004 penting karena ia mengajak refleksi tentang apa yang 
salah dalam proses demokratisasi di Indonesia. Akan sangat berbahaya bila para aktivis 
tidak mempedulikan pemilu sebab dengan begitu mereka menyerah pada keadaan. Saya paham 
banyak orang bosan dengan begitu maraknya korupsi dan kekuasaan di tangan bos-bos 
politik yang buruk. Akan tetapi bila mereka tidak mempunyai alternatif dan menemukan 
cara lain dalam berpolitik, risikonya secara tidak sengaja mereka memberikan dukungan 
pada orang-orang yang menginginkan kembalinya sistem otoritarian atau orang-orang yang 
menginginkan solusi ala Pakistan. Daripada sekedar sekedar mengritik sistem yang ada 
lebih baik segera dilakukan evaluasi ulang gerakan demokrasi di Indonesia.

                  Bila kita kembali ke 1999, pemilu pertama pasca Soeharto, itulah 
pertama kalinya gerakan demokrasi tidak terefleksi dalam pemilu. Dalam waktu singkat 
mahasiswa kehilangan perannya segera setelah pemilu dijadikan agenda. 
Organisasi-organisasi nonpemerintah segera kehilangan peran karena tidak bisa 
memobilisasi rakyat. Ada tendensi di kalangan aktivis demokrasi, mereka cenderung 
mengikuti rekomendasi solusi mainstream agar mereka meninggalkan politik, menyerahkan 
urusan politik pada elite, dan kembali melakukan kegiatan dalam masyarakat sipil. 
Harapannya dengan melakukan itu akan ada sebuah perubahan. Solusi seperti itu telah 
terbukti tidak banyak membuahkan hasil.

                  Gagasan mainstream dalam dunia internasional tentang demokrasi 
menekankan membangun instutisi-institusi pada tingkat atas, menyerahkan urusan politik 
pada elite, dan prodemokrasi bergerak kembali pada civil society. Dengan melakukan itu 
memang gerakan prodemokrasi masih tetap ada. Mereka harus diakui melakukan banyak hal 
yang bagus. Mereka juga tidak mati. Akan tetapi dengan pilihan itu mereka terus 
merefleksikan sistem massa mengambang zaman Soeharto. Aktivis demokrasi sangat 
terpecah-pecah, menyebar, tidak terorganisir, dan hampir-hampir tidak memiliki lepas 
keterkaitannya dengan rakyat. Mereka mirip demokrat-demokrat yang mengambang.

                  Bila mereka meneruskan bertindak seperti itu dengan melakukan 
kontrol dan melakukan perlawanan terhadap melawan negara, terus bekerja dalam 
masyarakat sipil, kegiatan mereka tidak akan memberikan dampak yang baik.

                  Mengapa dalam sistem yang ada sekarang hampir-hampir tidak 
memungkinkan kekuatan politik alternatif muncul sebagai pemenang?

                  Pertama-tama itu karena warisan politik massa mengambang dari 
Soeharto. Dalam jangka yang sangat panjang mereka tidak mengorganisir konstituennya 
sehingga akan sangat sulit bagi mereka untuk keluar dari persoalan itu. Persoalan 
kedua, solusi mainstream yang ditawarkan oleh World Bank, PBB, organisasi-organisasi 
lain seperti UNDP meminta kalangan prodemokrat yang radikal untuk meneruskan keiatan 
mereka dalam masyarakat. Dengan pilihan itu sebenarnya mereka telah termarginalkan 
dalam politik. Alasan ketiga, terletak pada gerakan prodemokrasi itu sendiri.

                  Sepanjang kerja mereka terutama dalam organisasi-organisasi 
nonpemerintah dan kelompok penekan ingin membuat perubahan dari belakang meja, tanpa 
ada keterkaitan dengan rakyat, apa yang bisa mereka lakukan? Meneruskan cara lama 
tanpa ada kemauan untuk membangun sebuah partai politik, terus melakukan lobbi dan 
tekanan? Bila mereka termarginalkan secara politik, saya pikir itu merupakan 
konsekuensi logis dari pilihan gerakan itu sendiri. Daripada berupaya membangun 
struktur-struktur organisasi nonpemerintah, mereka memilih tetap berada di luar dan 
melanjutkan tendensi anti negara dan anti politik. Anda berpikir partai politik itu 
buruk dan tidak berupaya membuat suatu partai politik baru dari bawah. Kemudian kamu 
mencari jalan pintas dengan mendesakkan perubahan sistem proporsional menjadi sistem 
pemilihan langsung.

                  Membangun partai politik memang memerlukan waktu yang lama, rumit, 
karena itu Mereka memilih mengubah sistem pemilu menjadi pemilu langsung, konstiuen 
satu orang, dan terus bergerak dengan gerakan paritisipasi dalam masyarakat sipil. 
Mereka memberikan lapangan terbuka pada politisi sementara mereka memilih berada di 
luar. Sementara sebagian kecil lainnya berpendapat bahwa perlu terjun langsung dalam 
politik. Atas dasar itu mereka kemudian bergabung dengan partai yang sudah ada. Akan 
tetapi dalam waktu singkat mereka terkooptasi karena tidak memiliki konstituen dan 
strategi yang bagus.

                  Eksperimen membangun partai politik baru bukan tidak dilakukan 
tetapi hasilnya tidak menggemberikan. PRD gagal ikut pemilu. Partai Keadilan (PK) 
tidak lolos threshold dalam Pemilu 1999. Banyak orang berspekulasi partai-partai baru 
yang mengikuti Pemilu 2004 juga akan bernasib sama?

                  Konstituen PK terbatas karena didasarkan pada sistem nilai tertentu. 
Dengan pilihan itu mereka tidak dapat menjembatani masyarakat yang memiliki aspirasi 
lain. PK hampir sama dengan sebuah partai yang dibangun atas dasar kelompok 
kepentingan tertentu. Ia tidak dibangun di atas dasar kebijakan alternatif dan 
berbagai kepentingan dalam masyarakat.

                  Sedangkan PRD membentuk partai di atas dasar teori dan pemikian. Itu 
tidak mencukupi. Dalam berpatai, konsituen harus diorganisir, massa harus digerakkan, 
bukan dari atas tetapi dari bawah. Membangun partai tidak bisa hanya berdasarkan 
konsep tetapi harus bisa memobilisasi rakyat. Partai yang dibentuk Mochtar Pakpahan 
hanya mengidentifikasikan diri dengan kelompok kepentinan tertentu. Kelompok-kelompok 
dalam masyarakat sipil tidak bisa membentuk partai dan berkompetisi dalam politik 
sekedar dengan mengubahnya menjadi partai politik. Ikut serta dalam pemilu sebagai 
sebuah oranisasi buruh, kelompok studi, atau kelompok agama tidak akan mampu 
menjangkau imaginasi rakyat, menawarkan cara alternatif untuk memerintah rakyat.

                  Lalu apa jalan keluarnya? Bila sistem kepartaian terus seperti ini, 
Pemilu 2004, 2009, dan seterusnya akan menghasilkan konfigurasi kekuatan politik yang 
sama.

                  Saya sadar sepenuhnya bahwa banyak aktivis prodemokrasi sangat 
frustrasi dengan sistem kepartaian yang ada. Mereka lalu mencari cara untuk mengubah 
sistem proporsional dan sebagainya. Tetapi dengan melakukan itu Anda hanya berpindah 
dari neraka yang satu ke neraka yang lain. Mereka bergerak dari abu menuju api. Jika 
kita lihat yang terjadi di Filipina, pemilihan secara langsung, konstituen satu orang, 
hanya menghasilkan lading bagi bintang film, pemain bola basket, orang-orang yang 
memiliki akses pada media, atau tokoh-tokoh tradisional muncul sebagai pemimpin 
politik.

                  Apa yang harus dilakukan oleh pendukung gerakan prodemokrasi di 
Indonesia adalah memulai membuka kesempatan munculnya partai-partai kecil muncul dari 
bawah. Saya tidak melihat cara lain. Mengulang gerakan ekstraparlementer seperti 
dilakukan mahasiswa pada 1998 hanya merupakan ilusi. Ketika Estrada dijatuhkan melalui 
kekuatan rakyat, yang sebenarnya terjadi rakyat ditinggalkan dan negosiasi hanya 
terjadi di kalangan elite.

                  Cara yang harus ditempuh adalah membentuk partai kecil untuk ikut 
serta dalam pemilu lokal. Bisa dimulai dengan membentuk sebuah partai yang pada 
awalnya bukan partai nasional. Misalnya, dengan membentuk partai untuk mengikuti 
pemilu di suatu provinsi di Jawa. Kemudian setelah pemilu, partai-partai serupa dari 
daerah lain melakukan merger untuk meluaskan pengaruhnya. Imaginasi seperti ini akan 
membuat perubahan politik. Saya tidak melihat banyak aktivis prodemokasi berpikir 
seperti ini. Bila aktivis prodemokrasi tidak membangun konstituen, mengoranisasi massa 
di bawah, dan tetap menempatkan diri sebagai kaum lobi atau melakukan demonstrasi 
mereka akan termarginalisasi. Gerakan prodemokrasi hanya akan menjadi kelompok lobi 
permanen, sementara politik dimonopoli oleh orang-orang buruk.

                  Tidak ada cetak biru atau solusi siap pakai untuk menghadapi 
kesulitan yang dialami aktivis prodemokrasi di Indonesia. Yang pasti harus dilakukan 
adalah mengorganisasikan rakyat. Hanya dengan pengorganisiran rakyat akan terjadi 
perubahan. Di Brazil, budget partisipatif tidak datang dengan sendirinya. Budget 
partisipatif muncul setelah Lula memperoleh kekuasaan, karena keberhasilan 
organisasi-organisasi pekerja di negara itu mengorganisasikan partai politik di atas 
dasar organisasi buruh dan organisasi-organisasi lainnya. Harus ada kombinasi antara 
gerakan social dan partai politik.

                  Mulailah berpikir untuk mencari cara apa yang bisa dilakukan untuk 
mengorganisir rakyat!
                    
                  Penulis : | Bambang Wisudo, materi wawancara pernah dimuat di 
Kompas, 31 Januari 2004
                  Tanggal publikasi : 2004-03-23 



[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
---------------------------------------------------------------------~->

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke