SELAMAT DATANG NASIONALISME HUMANIS INDONESIA
Oleh Tangkisan Letug
Merayakan Hari Kebangkitan Nasional setiap tahunnya
mesti mengingatkan peristiwa munculnya Boedi Oetomo 20
Mei 1908. Jiwa dan semangat kebangsaan yang muncul dan
menjadi penggerak para intelektual seperti Radjiman
dan Koesoema dll. berakar pada pengalaman
sependeritaan dalam penindasan kolonialisme Belanda.
Mereka mengerti benar apa artinya di bawah penindasan
ketika kemanusiaan diinjak-injak, diskriminasi
merajalela, rakyat diperbudak. Semangat kebangsaan
yang lahir dari keprihatinan inilah yang mestinya
memberi inspirasi terus laju dan gerak pembangunan
kebangsaan kita.
Tiga Periode Kebangsaan
Semenjak keprihatinan para intelektual tergumpalkan
dalam sebuah organisasi politik, mulailah sebuah
perjuangan kebangsaan yang semakin mengental.
Organisasi seperti Boedi Oetomo menjadi salah satu
contoh penggumpalan perjuangan itu. Sejak itu,
tampaklah periode persiapan menuju kemerdekaan
Indonesia yang dilandaskan atas dasar spirit
kebangsaan yang membela kemanusiaan.
Sejak kemerdekaan sampai sekarang, kita bisa melihat
tiga periode perjuangan kebangsaan yang memiliki warna
yang sangat berbeda. Tiga periode itu bisa disebut
sebagai periode Orde Lama, periode Orde Baru, dan
periode Reformasi.
Periode Orde Lama
Di bawah Soekarno, perjuangan kebangsaan sarat dengan
perjuangan fisik menegakkan NKRI. Berbagai kekuatan
separatisme telah berhasil ditaklukan dengan kekuatan
bersenjata. Selain itu, perjuangan itu juga merupakan
perjuangan penegakan teritorial NKRI yang meliputi
wilayah dari Sabang sampai Merauke (tidak termasuk
Timor Timur).
Selain itu, perjuangan kebangsaan di bawah Soekarno
sangat diwarnai oleh kepentingan ideologis. Soekarno
sangat kritis terhadap imperialisme barat dan
kapitalisme-nya. Hal ini bisa dipahami, mengingat
perjuangan penegakan NKRI mendapat tentangan kuat dari
kolonialisme barat, terutama Belanda dan Inggris.
Salah satu akibar dari pertentangan ideologis itu
adalah peristiwa konfrontasi dengan Malaysia.
Perjuangan kebangsaan di jaman Orde Lama yang sangat
berpusat pada seorang Soekarno telah membuahkan sosok
NKRI yang dikenal dan dihormati di dunia. Rasa bangga
terhadap diri sendiri seperti merebak ke segala
penjuru wilayah Indonesia, di segala lapisan
masyarakat, entah kaya atau miskin, entah tentara atau
sipil. Ada seperasaan yang sama ketika nama Indonesia
didengar. Ada seperasaan yang sama ketika lagu-lagu
kebangsaan dikumandangkan. Periode inilah yang disebut
oleh Soekarno sebagai perjuangan Revolusi Indonesia.
Periode Orde Baru
Sayangnya, periode perjuangan kebangsaan di bawah
Soekarno itu terhenti dengan peristiwa tragis 1965.
Apa yang disebut Revolusi Indonesia dalam bahasa
Soekarno seperti distop oleh kekuatan dahsyat para
penentangnya. Soekarno pun sebagai arsitek Revolusi
Indonesia itu telah mengalami nasib tragis. Ia harus
mengalami kematian dalam kesepian. Perjuangan
kebangsaannya pun seperti patah di jalan.
Tampillah kemudian kekuatan yang menyebut diri Orde
Baru, yang mengikrarkan diri mau mengembalikan
cita-cita kebangsaan dengan menjalankan amanat UUD
1945 dan Pancasila secara konsekuen, dengan segala
caranya. Secara kasat mata, periode awal perjuangan
Orde Baru ini telah ditandai dengan lumuran darah
dengan pembantaian para pengikut PKI tanpa ada sebuah
proses hukum. Ironisnya, hal itu dikatakan sebagai
sebuah pelaksanaan amanat UUD 1945 dan Pancasila
secara konsekuen.
Periode Orde Baru yang mau melaksanakan amanat UUD
1945 dan Pancasila dengan konsekuen telah menempatkan
posisi Angkata Bersenjata Republik Indonesia menjadi
satu kekuatan dominan. Sang Jendral Soeharto naik
tahta. Segala lawan-lawan politiknya dilucuti,
termasuk pelarangan PKI yang dampaknya masih terasa
hingga kini.
Ideologi Pancasila yang dianut Orde Baru telah
meletakkan nilai manusia Indonesia seakan tidak
berharga. Atas nama UUD 1945 dan Pancasila,
menghilangkan nyawa orang yang mengancam dan
bertentangan dengan cita-cita itu dianggap tidak
apa-apa. Padahal justru amanat UUD 1945 dan Pancasila
penuh dengan penghormatan akan hak asasi manusia.
Perjuangan kebangsaan di periode Orde Baru sangat
didasari oleh pengalaman terbuai oleh cita-cita
materialistik. Oleh karena itu, sebagai jawaban balik,
secara positif, perjuangan kebangsaan Orde Baru diisi
dengan ideologi pembangunan. Secara fisik, pembangunan
tampak terlaksana. Tapi ironisnya, "pembangunan
manusia Indonesia seutuhnya" yang menjadi jargonnya
hanya terlaksana dalam kulit. Sebab, ada pengingkaran
yang dasariah terhadap kebutuhan penghargaan
kemanusiaan dan keadilan. Demi pembangunan fisik,
seringkali hak-hak rakyat diabaikan bahkan
dikorbankan. Tanah-tanah rakyat diserobot demi
pembangunan.
Lagi pula, yang sangat mencolok, perjuangan kebangsaan
sangat berpusat pada kekuatan ABRI. Begitu dominannya
peranan kekuatan ABRI dalam perjuangan kebangsaan pada
jaman Orde Baru ini, sampai-sampai rakyat pun
menganggap segala sesuatu yang berbau ABRI termasuk
kostum pakaiannya, dianggap membawa simbol kebangsaan.
Spirit kebangsaan seperti melekat pada sosok
ketentaraan. Spirit kebangsaan sipil yang menjunjung
jiwa solidaritas dan perikemanusiaan terpinggirkan.
Sebab, perjuangan-perjuangan membela hak-hak rakyat
dan kasus pelanggaran kemanusiaan yang dianggap
melawan dan mengancam rejim berkuasa dengan gampang
ditindas dengan kekerasan.
Periode Reformasi
Bila Orde Lama berakhir dengan tragis, Orde Baru
rupa-rupanya telah berhasil menanamkan pengaruhnya
lebih dalam lagi dalam kejiwaan masyarakat Indoensia,
lewat seminasi ideologis yang sistematik.
Secara ideologis, perjuangan kebangsaan Orde Lama yang
menekankan kerakyatan dan anti-kapitalisme telah
mendorong Orde Baru untuk mengambil langkah
sebaliknya. Ideologi kerakyatan ditinggalkan, dan
merangkul amat kuat ideologi kapitalisme yang didukung
oleh kepentingan korporalis militer. Hasilnya memang
luar biasa dalam hal mengikis semangat kerakyatan.
Orde Baru tumbang secara faktual dengan lengsernya
Soeharto. Tetapi secara aktual, kekuatan semangat Orde
Baru yang digerakkan oleh kepentingan korporalis
konglomerat dan militer masih berkuasa. Periode
Reformasi dilihat dari perjuangan kebangsaan
sebenarnya belum memberikan cirri signifikan.
Sebabnya, apa yang terjadi dalam periode Reformasi
sejak Rejim Habibie, Abdurahman Wahid sampai dengan
Megawati sekarang ini adalah pergulatan untuk keluar
dari cakar kekuasaan Orde Baru yang telah mengakar
baik dalam lapisan birokrasi, militer maupun
masyarakat sipil.
Pada dasarnya, semangat korporatisme Orde Baru telah
menggeser semangat kebangsaan yang menempatkan nilai
kepentingan rakyat dan manusia Indonesia di atas
segalanya. Akibatnya, korupsi dan persekongkolan
mempertahankan kepentingan kapital korps atau kelompok
lebih kuat.
Salah satu kekuatan perjuangan kebangsaan dalam
periode Reformasi adalah kelompok non partisan,
terutama mahasiswa dan kelompok religius. Tampilnya
Abdurahman Wahid bias menjadi contoh jelas dari
kekuatan itu. Sebagai seorang Kyai yang menjadi
Presiden, dia telah berusaha mengembalik perjuangan
kebangsaan pada rel-nya. Tetapi saying, konflik
kepentingan korporatisme telah mengambil langkah untuk
melengserkannya. Begitu pula dengan Megawati dan
Habibie. Keduanya masih belum berhasil memperkuat
basis pertahanan melawan kekuatan korporatisme Orde
Baru yang terlanjur menggurita.
Akhir Kata
Nasionalisme kita dalah nasionalisme yang didasari
keprihatinan atas kondidi manusia Indonesia. Di
situlah kiranya kita masih bias menemukan pijakan bagi
perjuangan kebangsaan Indonesia. Bila pijakan ini
diingkari, rapuhlah nasionalisme kita. Bila sekarang
dikeluhkan lemahnya semangat nasionalisme kita, kita
bias bertanya siapa yang telah mengingkari landasarn
kemanusiaan itu? Bila rakyat terus menerus dijadikan
objek kerusuhan, dan sementara itu tidak pernah ada
yang mau mempertanggungjawabkan, kita bias bertanya
siapa sebenarnya yang sedang mengkhianati kebangsaan
kita?
Orde Lama tampaknya telah lena dalam mengobati
penderitaan rakyat dengan revolusinya. Orde Baru pun
telah lena melupakan pentingnya menghormati hak-hak
rakyat dalam pembangunannya. Itulah
kelemahan-kelemahan yang menggerogoti semangat
kebangsaan kita, yang secara ringkas merupakan amanat
penderitaan rakyat. Menafikkan amanat penderitaan
rakyat, berarti mengingkari semangat kebangsaan kita.
Merosotnya spirit kebangsaan Indonesia dengan demikian
perlu diobati dengan menjunjung kembali amanat
penderitaan rakyat sebagai landasannya.
Itulah kiranya landasan nasionalisme kita yang
mengatasi perbedaan antara sipil dan militer. Namun
demikian, perlu dicatat bahwa nasionalisme kita tidak
pernah merupakan nasionalisme yang militeristik.
Nasionalisme militeristik malahan menggerogoti
nasionalisme Indonesia yang otentik.
Selamat dating nasionalisme Indonesia yang humanis!
19 Mei 2004
__________________________________
Do you Yahoo!?
SBC Yahoo! - Internet access at a great low price.
http://promo.yahoo.com/sbc/
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/