http://www.sinarharapan.co.id/berita/0405/18/opi01.html

Kekerasan dan Budaya Islam
Oleh Abdurrahman Wahid

Pagi hari, pada waktu pencoblosan pemilu legislatif 5 April, penulis
kedatangan seorang mahasiswi Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif
Hidayatullah, Jakarta, yang datang mewawancarai penulis dalam rangka
menca-ri/-riset negeri kita. Sebagaimana kita ketahui, dalam beberapa ta-hun
terakhir banyak para teroris berkeliaran untuk "menjajakan" kekerasan dalam
ber-hubungan dengan kalangan lain bangsa kita.
Dalam wawancara itu, pertama-tama penulis mengungkapkan dua buah pendekatan
yang diambil orang dalam hubungan dengan Islam. Ada yang mengutamakan
pendekatan "budaya Islam", sehingga menjadi tumbuh sebagai jalan hidup yang
semakin lama semakin dihayati dan diamalkan orang. Pendekatan budaya ini
menerangkan mengapa halal-bihalal, haul, ziarah kubur gerakan Islam dan para
ulama memiliki peran yang positif, namun semua itu memerlukan dukungan
gerakan Islam yang dewasa.
Sebaliknya pendangkalan agama terjadi, manakala yang dipentingkan adalah
institusi Islam, bukannya budaya agama tersebut. Memang secara institusional
gerakan-gerakan Islam tertinggal dalam segala hal, sehingga pada akhirnya
menimbulkan rasa cemas di kalangan mereka. Cemas jangan-jangan Islam akan
dikalahkan oleh peradaban Barat. Apalagi banyak teori yang disusun dan
dikembangkan berdasarkan asumsi institusional tersebut, antara lain teori "
perbenturan peradaban" (Clash of Civilization) yang dikemukakan oleh Samuel
Huntington seorang mahaguru Harvard University. Menurut konsep itu,
peradaban Islam yang demikian berbeda dari peradaban Barat akan berbenturan
dengan sendirinya.
Dalam sebuah diskusi yang diselenggarakan oleh (suratkabar Jepang) Yomiuri
Shimbun, penulis berhadapan dengan pengagas konsep itu. Penulis katakan
dalam presentasi itu, teori itu timbul tanpa mengingat perkembangan sejarah
yang sebenarnya, bahwa ada ratusan ribu orang pemuda muslim, mengambil
ilmu-ilmu eksakta dan teknologi mutakhir dari Barat. Tentu mereka paling
tidak juga "menyerap" peradaban dan budaya Barat.
Walaupun sudah tentu yang diambil hanyalah sebagian kecil dari peradaban itu
sendiri, seperti halnya penulis yang menggunakan "pakaian Barat", tanpa "
dibaratkan" 100%. Tentu saja, ini berarti mereka juga tidak berkonfrontasi
dengan kebudayaan itu, jadi tidak merasa khawatir terhadap "tantangan Barat"
. Sudah tentu ini sesuai dengan kenyataan historis yang terjadi di mana-mana
dalam lingkungan dunia Islam.

Abu Bakar Ba'asyir dan Rizieq Shihab
Karena tidak memiliki pengetahuan akan proses ini, maka mereka yang
mendukung pendekatan institusional itu, ada yang merasa sangat khawatir
jangan-jangan akan kehilangan kebesaran Islam. Karena ketakutan itulah "
anak-anak" itu tidak mampu memandang persoalan secara jernih, akibatnya
keluar ketakutan Islam akan tertinggal lebih jauh. Nah, sikap ketakutan
inilah yang sebenarnya menjadi motif bagi terorisme yang dilakukan itu.
Diperkirakan dengan melakukan hal itu, pihak-pihak lain akan "ketakutan"
pada Islam sehingga akan menjauh dari kelompok-kelompok muslimin, dan dengan
keterpisahan itu kaum muslimin, akan aman dari "gangguan". Sikap seperti itu
sebenarnya adalah bukti dari kekerdilan jiwa dan kurangnya pengetahuan akan
proses sejarah. Karenanya untuk mencegah berkembang terus pandangan seperti
itu, diperlukan ketegasan sikap dan keberanian bertindak terhadap siapa saja
yang menyebarkannya dan mempercayai adanya penyebaran itu sendiri.
Sebenarnya, sikap untuk menggunakan kekerasan melalui perkembangan teknologi
modern (dengan membuat sendiri bom-bom dan senjata-senjata rakitan), adalah
pengakuan akan "kelemahan" Islam sendiri. Karenanya kelemahan-kelemahan
pemahaman seperti ini, harus terus-menerus ditunjukkan kepada mereka,
melalui pemaparan tiada henti dalam karya-karya ilmiah dan media massa.
Namun, sikap kita sendiri tidak boleh didasarkan pada rasa benci kepada
siapa pun, karena kebencian hanya akan melahirkan kebencian-kebencian baru.
Kita harus sabar menunjukkan kepada mereka kelemahan-kelemahan dalam
pandangan mereka, dan "kelebihan-kelebihan" ajaran Islam menurut mereka,
namun tidak berarti kita boleh berbuat seenak perut kita dalam tata
pergaulan internasional. Kita harus menghormati orang lain, jika kita ingin
dihormati orang pula.
Sikap resiprokal seperti inilah yang harus dikembangkan di dunia saat ini.
Sebuah sikap untuk tidak mau mengalah, alias sikap mau menang sendiri tidak
mencerminkan kekuatan kita, melainkan sebaliknya. Hal ini harus selalu
ditekankan kepada mereka, yaitu sikap adanya keharusan menghormati orang
lain guna memperoleh penghormatan kepada diri kita, membuat kita harus
mengambil sikap berikut: kita berkeras menjaga hubungan baik dengan semua
pihak tetapi pada saat yang sama menumbuhkan sikap saling hormat antara para
warga masyarakat.
Karena itulah, penulis menelepon Ustad Abu Bakar Ba'asyir sewaktu berada
dalam tahanan/penjara di Cipinang. Demikian juga, penulis saling bertukar "
pesan-pesan persaudaraan" dengan Habib Rizieq Shihab di penjara.

SM Kartosuwiryo
Inti dari sikap penulis itu, adalah ketundukan kepada aturan-aturan hukum,
tetapi disertai penghormatan kepada manusia-manusia yang melanggarnya. Kita
harus mampu menegakkan "kebenaran" undang-undang, tetapi pada saat yang sama
harus pula memahami sebab-sebab yang sangat besar yang mendorong mereka
membuang peraturan-peraturan itu sendiri. Pengertian mendalam akan
sebab-sebab yang mendorong mereka melakukan pelanggaran-pelanggaran
tersebut, harus juga dicari dan diketengahkan melalui tulisan-tulisan
seperti ini.
Sebuah sikap sepihak, yang hanya bersifat menghukum te-tapi tidak mengerti
sebab-sebab sebuah "kejahatan" dilakukan, hanya akan melahirkan rangkaian
kejahatan yang tidak berkeputusan. Apalagi jika keputusan yang diambil
dengan tidak menimbulkan "rasa keadilan" yang maksimal, seperti dalam kasus
Amrozi atau dalam kasus sikap keras dari pemerintah Ariel Sharon di Israel
saat ini.
Dalam dunia yang bergerak sangat cepat, tentu tidak ada tempat yang memadai
bagi sikap yang dikemukakan penulis itu. Apalagi jika sikap yang diambil
terhadap tindakan-tindakan mereka, sangat dipengaruhi oleh tindakan-tindakan
politik tertentu terhadap mereka. Seperti dalam kasus Amrozi di Pengadilan
Tinggi Denpasar. Mengapakah tidak ada pemeriksaan mendalam atas sebuah bom
rakitan lain, yang berkekuatan lebih besar di samping bom rakitan yang
dinyatakan dalam pembelaan tertulis/pledoi yang dibuatnya dalam pemeriksaan
tersebut?
Bahwa orang seperti penulis sampai mengajukan pertanyaan seperti ini,
menunjukkan bahwa tuduhan Amrozi itu memerlukan pembuktian yang nyata, dan
itu hanya akan diperoleh jika kita berani melakukan pemeriksaan yang tuntas
atas tuduhan itu sendiri.
Sikap jujur seperti inilah yang sebenarnya dituntut oleh siapa pun untuk
ditegakkan di Tanah Air kita. Ini sama dengan kasus Sekarmadji Marijan
Kartosuwiryo yang oleh Panglima Besar Soedirman diperintahkan untuk
mendirikan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) di Jawa Barat di
paruh kedua tahun 1940-an.
Perjanjian Renville 1948 menetapkan Angkatan Perang Republik Indonesia harus
ditarik ke wilayah Republik Indonesia di Jawa Tengah dan mengakibatkan
kevakuman kekuasaan di Jawa Barat. Juga oleh kekhawatiran "Tentara Pasundan"
akan mengisi kekosongan itu, maka Pak Dirman memerintahkan pembentukan
DI-TII oleh Kartosuwiryo. Kesalahannya, terletak pada kenyataan bahwa ia
tahun 1949 sampai pada 1950-an menggunakan gerakan tersebut untuk
melancarkan pemberontakan pada pemerintah yang sah. Memang memahami sejarah
adalah sesuatu yang sulit, apalagi melaksanakannya dalam kenyataan.

Penulis adalah Ketua Umum Dewan Syura DPP PKB.




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
---------------------------------------------------------------------~->

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke