http://www.sinarharapan.co.id/berita/0405/19/opi02.html

Politisasi Isu Militerisme
 Oleh Hendardi

Hasil survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) yang diumumkan pada 11 Mei lalu,
menyebutkan bahwa Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) akan memperoleh suara
terbanyak. Tentu saja, hasil ini membuat gembira SBY, karena di mata para
responden, ia sangat diharapkan. Dan ujian sesungguhnya akan terjadi pada 5
Juli mendatang.
Begitu juga usaha Denny JA yang ingin menjernihkan opini yang berkembang
belakangan melalui serangkaian demo yang menyuarakan sikap menolak
militerisme dan sekaligus menolak calon presiden yang berasal dari
purnawirawan tentara. Ia mengemukakan, isu militerisme sekarang ini lebih
dipolitisasi oleh pihak-pihak yang terlibat dalam pemilihan presiden
(Detikcom, 11/5/2004).
Agaknya perlu diberikan pendapat yang lain untuk pembandingnya. Pertama, isu
militerisme adalah hal yang penting bagi masyarakat Indonesia. Kedua,
munculnya capres yang berasal dari pensiunan jenderal Angkatan Darat (AD)
dalam bursa pemilu presiden.
Militerisme adalah suatu sistem politik khusus yang beroperasi melalui
dominasi tangan-tangan militer. Dalam suatu pemerintahan, kekuatan militer -
secara terang-terangan atau terselubung - memainkan peran yang lebih
dominan. Pilihan secara terang-terangan lebih bersifat primitif. Sebaliknya
cara terselubung membutuhkan pendekatan yang lebih canggih.
Model militerisme pernah berjaya di Indonesia ketika rezim Soeharto mulai
mengambil alih kekuasaan negara secara merangkak, di mana Presiden Soekarno
dijadikan "presiden tawanan".
Lembaga-lembaga negara seperti MPRS/DPRS, Mahkamah Agung (MA) dan Kejaksaan
Agung, serta Dewan Pertimbangan Agung (DPA) dipimpin atau didominasi oleh
perwira militer, terutama AD.

Mengendalikan Militer
Sebagai kelanjutan dari tindakan "nasionalisasi" perusahaan asing (oleh
Soekarno), rezim Soeharto mengkonsolidasikan kekuatannya dalam bidang
ekonomi dengan meneruskan dominasi para jenderal aktif maupun pensiunan
untuk duduk dalam pimpinan di perusahaan-perusahaan negara. Bahkan
yayasan-yayasan yang dikelola dalam institusi militer dan Polri pun diubah
menjadi berbagai yayasan komersial.
Sistem yang didominasi militer tak hanya mengebiri kebebasan politik, tapi
juga berwatak korup. Berbagai pelanggaran hak-hak manusia yang berat dan
sistem peradilan yang sewenang-wenang dijadikan landasan strategis untuk
memuluskan jalan kebebasan dalam mengeruk kekayaan negara tanpa halangan.
Militerisme membutuhkan biaya yang besar dan korban yang tak sedikit.
Keretakannya juga memercikkan ketidakstabilan politik dan sosial. Kerusuhan
demi kerusuhan mulai menyergap. Tapi akhirnya ekonomi negeri ini telah jatuh
bangkrut. Orde Baru hanya mewarisi rongsokan dan jeratan utang.
Reformasi 1998 dan terbentuknya pemerintahan sipil pada 1999, tetap
dihadapkan pada kesulitan politik real, bagaimana mengendalikan militer.
Habibie secara terpaksa dan Gus Dur dengan rencananya, telah berusaha
mengendalikan militer, tapi keduanya hanya berumur singkat.
Tapi setelah itu, baru saja setahun Megawati bersama Hamzah Haz naik,
permakluman melawan terorisme telah mulai mengembalikan kekuasaan militer
pada 2002 menyusul serangan bom di Bali. Selang beberapa bulan kemudian,
justru mengesahkan sebuah "rezim militer" di Aceh dan mengubur penghentian
permusuhan di meja perundingan.

Pensiunan Jenderal
Mungkin saja isu militerisme yang kemudian dipertalikan dengan nominasi
mantan militer dalam bursa kursi presiden, telah dipolitisasi oleh
lawan-lawan politik mereka. Tapi juga jangan dilupakan bahwa kestabilan
politik dan pertumbuhan ekonomi yang tinggi di masa Orde Baru juga telah
dipolitisasi oleh mereka yang berasal dari kalangan mantan atau keluarga
militer.
Kerinduan pada Orde Baru jelas adalah hasil politisasi. Padahal jika kita
semua mau kembali mengingat ke tahun 1998, segera tahu bahwa Orde Baru
justru mewarisi krisis besar yang kini harus ditanggung sebagian besar
rakyat. Jangankan penindasan hak-hak manusia yang berat saja, bahkan korupsi
yang tak kepalang tanggung pun tak dapat dipertanggungjawabkan.
Politisasi selalu terbuka atas dua hal. Pertama, mempromosikan sesuatu hal
yang baik, mempertontonkan prestasi atau bintang jasa, dihormati oleh banyak
orang, memiliki visi dan misi yang cemerlang, menaburkan janji untuk
memuaskan rakyat, dan sebagainya. Kedua, menunjukkan perilaku yang menindas
hak-hak manusia, berbuat korup, penyelewengkan peradilan yang jujur,
manipulasi dan lain-lain.
Setiap orang berhak mempromosikan dirinya sendiri atau orang lain tanpa
diganggu dan dihalang-halangi untuk meraih dukungan. Tapi hak yang sama juga
bagi mereka yang hendak melancarkan kritik atau menyampaikan pendapat yang
berseberangan secara damai untuk menggalang dukungan oposisi. Keduanya sama
haknya untuk menyuarakan isi hatinya termasuk dengan melakukan politisasi.
Terlalu na�f jika memandang bahwa pendapat semua orang itu seragam. Apalagi
disebut mengenai "lawan politik". Maka si A menjadi lawan politik si B dan
sebaliknya si B terhadap si A. Para capres semuanya ingin menang dan meraih
jabatan yang diincar. Dan arena pertarungan yang sah hanya pada 5 Juli
mendatang.
Berdasarkan UU Pilpres, SBY dan Wiranto maupun Agum Gumelar dilindungi hak
mereka untuk dipilih. Tapi terlalu na�f jika berharap semuanya berjalan
mulus. Karena harus saling menyingkirkan. Lebih tak mulus lagi adalah Gus
Dur, baru akan maju sudah dijegal oleh SK KPU No. 26/2004 dan tak ada capres
yang mempedulikannya.
Selain itu, cara membandingkan pensiunan militer atau kalangan sipil yang
jadi presiden terlalu jauh jika mengacu pada Amerika Serikat, Jerman dan
Russia. Bahkan dengan suatu negeri yang sepadan pun dapat berbeda konteks
politiknya seperti Filipina setelah Cory Aquino atau Korea Selatan setelah
Chun Doo-hwan.
Cara yang lebih baik adalah menggali dari sejarah politik negeri ini
sendiri. Misalnya, di manakah posisi militer saat ini? Apa pertaliannya yang
erat dengan masa lalu? Bukankah masa lalu itu cermin kita? Sebelum cermin
buruk ini dibuang, seharusnya diselesaikan terlebih dulu masalahnya.

Penulis adalah Ketua PBHI (Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia
Indonesia).




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
---------------------------------------------------------------------~->

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke