SURAT DARI PARIS:

PESTA BERTETANGGA

Bertetangga!? Apakah masalahnya? Di desa-desa atau kampung-kampung, barangkali, 
bagaimana menjalin hubungan bertetangga baik tidak menjadi permasalahan, tetapi tidak 
demikian halnya dengan kota-kota besar baik di Indonesia maupun di Eropa atau 
negeri-negeri lain. Di Jakarta misalnya sudah menjadi pemandangan umum bahwa 
rumah-rumah gedung dikitari oleh pagar-pagar tinggi yang memisahkan penghuninya dari 
tetangga di kanan kiri dan tidak aneh jika hubungan antara mereka pun menjadi tidak 
akrab bahkan tidak saling mengenal. Pagar yang menjulang tinggi itu, sadar atau tidak 
sadar telah  membatasi, bukan hanya rumah dengan rumah tetapi juga sekaligus telah 
memagari hubungan antar manusia. Paling tidak telah membatasinya. 

Di Eropa Barat, sekalipun gedung [immeubles] satu dengan gedung  lain tidak dipisahi 
oleh pagar-pagar, tapi  sering sekali penghuni apartemen yang bertetangga, 
berdampingan atau hadap-hadapan tidak saling mengenal . Apalagi di kalangan mereka 
yang tinggal di lantai-lantai berbeda. Yang paling umum terjadi adalah sapaan minimal 
"bonjour" [apakabar] jika kebetulan bertemu,  tak obah dengan sapaan jika orang saling 
mesti menyapa di jalan atau di kantor-kantor publik. Hubungan antar manusia menjadi 
sangat minim. Masing-masing mengurus diri sendiri-sendiri dan keluarganya, tanpa hirau 
satu dengan yang lain. Tanpa merasa perlu saling mengenal dan saling berkunjung. Di 
Paris misalnya hanya 7 persen saja penduduk immeubles [gedung tempat tinggal 
bertingkat terdiri dari beberapa apartemen]  yang merasa perlu menjalin hubungan 
bertetangga baik [lihat: Mingguan A Nous Paris, Paris, 17-23 Mei 2004]. Dalam keadaan 
begini, sering terjadi penghuni sebuah apartemen meninggal sampai mayatnya membusuk 
tanpa seorang pun tetangganya yang tahu. Kematiannya baru diketahui ketika teman si 
penghuni yang tingggal di immeubles atau dari tempat lain menelponnya berkali-kali dan 
tidak berjawab sehinggga menimbulkan kecurigaan. Kecurigaan juga baru muncul apabila 
kotak surat penghuni apartemen tertentu menjadi penuh. 

Yang lebih "mengeneskan" hati adalah nasib-nasib para jompo yang tinggal sendiri di 
apartemennya. Lebih-lebih jika apartemennya berada di lantai tinggi. "Mengeneskan" 
karena orang-orang dari kategori ini untuk berbelanja demi kepentingan diri sendiri 
saja sudah sangat sulit. Mereka ini jugalah yang sering jadi sasaran perampokan dan 
pembunuhan di apartemen mereka. Anak cucu mereka nampak kurang perhatian terhadap para 
jompo yang jika berjalan saja sudah tertatih-tatih. 

Di Negeri Belanda ada sebuah bangunan perumahan besar seluas kampun, bernama 
Bijlmer.Hubungan antar tetangga oleh luasnya bangunan itu menjadi sangat renggang 
bahkan dari segi keamanan pun tidak terjamin. Di tempat parking sering terjadi 
tindakan kekerasan terhadap para penghuni immeubles raksasa itu. Dengan ini, yang 
ingin saya tunjukkan bahwa bentuk arsitektur sebuah immeuble agaknya mempunyai 
pengaruh terhadap hubungan antar penghuni, terhadap keamanan orang-orang yang tinggal 
di immeubles tersebut. Oleh karena itu di immeubles baru dibangun, kelemahan 
arsitektur ini kemudian diralat dengan menyediakan sebuah ruang publik bagi seluruh 
penghuni immeubles. Di ruang publik inilah dilakukan komunikasi antar penghuni. 
Immeubles pun dibangun dengan tingkat-tingkat terbatas. 

Masalah perumahan memang akan selalu muncul seiring dengan perkembangan demografis 
kota. Pemecahan masalah ini banyak tergantung dari sudut pandang pengambil keputusan 
politik. Kebijakan negara-negara kapalitalis murni akan berbeda dengan yang  diambil 
oleh negara-negara kesejahteraan dan akan jauh berbeda lagi dengan pilihan politik 
perumahan dan pengorganisasian yang diambil oleh negara-negara sosialis. Bentuk 
perumahan agaknya sekaligus mencerminkan sistem masyarakat dan pilihan politik sebuah 
negeri. Sistem masyarakat dan pilihan politik inipun terpantul pada hubungan antar 
tetangga. Sebagai contoh, di sini saya ingin mengambil apa yang saya saksikan di 
Republik Rakyat Tiongkok ketika saya bekerja di negeri ini. Immeubles yang bertembok 
bata merah, paling tinggi bertingkat lima atau enam, mempunyai ruan publik dan para 
penghuninya tergabung dalam organisasi immeuble yang mempunyai pertemuan periodik 
membahas masalah-masalah kehidupan penghuni immeuble. Dalam keadaaan begini para 
penghuni saling mengenal, saling bantu mengatasi permasalahan baik kolektif ataupun 
perorangan keluarga sehingga tidak mungkin terjadi ada penghuni immeuble yang 
meninggal sampai membusuk. Tidak mungkin ada keluarga yang dibiarkan yang menghadapi 
kesulitan tanpa diacuhkan oleh para tetangga sesama immeuble. Saya merasa hubungan 
begini lebih manusiawi dibandingkan dengan yang saya saksikan di Eropa Barat. Dan hal 
begini mengingatkan saya akan sistem pasah betang [rumah panjang] pada masyarakat 
Dayak Kalimantan. Sistem pasah betang Dayak, saya kira bisa diangkat sebagai 
alternatif oleh daerah perkotaan dalam menangani masalah perumahan menjawab 
perkembangan demografis. Budaya betang bahkan saya lihat merupakan konsep budaya yang 
menyeluruh dan manusiawi serta bisa memberikan makna untuk hidup di hari ini.

Belajar dari pengalaman pahit tidak manusiawi selama paling tidak 30 tahun sejarahnya, 
Perancis yang kuat dipengaruhi oleh nilai-nilai republiken hasil Revolusi Perancis 
1789, sejak lima tahun lalu melalui para walikota, mengorganisasi para penghuni 
immeubles untuk menyelenggarakan "F�te  de Voisin" [Pesta Bertetangga] dengan semboyan 
"Voisin Mon Ami" [Tetangga Adalah Sahabatku]. Pesta Bertetangga ini ditanggung  
bersama oleh para penghuni immeuble berbentuk sederhana, dengan apperitive disertai 
makanan kecil serta dansa-dansa dan musik. Diharapkan melalui F�te de Voisin ini bisa 
dijalin dan dikembangkan hubungan bertetangga baik di kalangan para penghuni immeuble 
sehingga hubungan menjadi lebih manusiawi dan ketidakacuhan dimasukkan ke keranjang 
sampah [pouble]. Prakarsa yang diselenggarakan saban 25 Mei tiap tahun ini disambut 
hangat oleh penduduk, termasuk penduduk Paris. Pesta Bertetangga ini juga dimaksudkan 
untuk memerangi indivudalisme dan mengembangkan solidaritas sosial yang makin disadari 
perlunya oleh penduduk berkat pendidikan dan penyimpulan pengalaman serta desakan 
kehidupan nyata sehari-hari. Orang-orang makin :menyadari bahwa mereka tidak bisa 
hidup dengan keangkuhan individualisme, makin mengenal bahwa mereka bukanlah manusia 
supra. Hasil dari prakarsa ini dicatat oleh pengumpulan pendapat umum [sondage] yang 
dilakukan oleh CSA/La Croix bahwa 89 persen penduduk Perancis menginginkan adanya 
hubungan bertetangga baik. Prakarsa menjadikan tanggal 25 Mei sebagai hari bertetangga 
baik, hari "Voisin Mon Ami" [Tetangga Adalah Sahabatku]. Sebuah tradisi baru pun 
dengan ini telah dilahirkan. Prakarsa yang aspiratif senantiasa mendapatkan tempatnya 
di hati penduduk. Ketanggapan ini pulalah maka Pesta Musik [F�te de la Musique] yang 
diprakarsai oleh Menteri Kebudayaan Mittterrand , Jack Lang mendapat sambutan dan 
berlangsun sebagai  tradisi baru Perancis secara nasional. 

Mengomentari adanya F�te de Voisin ini, sosiolog Perancis Jean Ropcherfort, direktur 
jenderal Credoc [Centre de recherche pour �tude et l'observation des conditions de 
vie, Pusat Penelitian Untuk Studi dan Observasi Kondisi Hidup], Paris, menyatakan: 
"Kita telah menjalani kehidupan individualisme selama tigapuluh tahun. Artinya selama 
itu pula kita telah memenggal hubungan dengan kode-kode dan hubungan sosial. Sekarang 
kita mulai belajar kembali untuk sadar bahwa individualisme kita ternyata sudah 
berkelebihan sehingga sekarang muncul suatu  kecenderungan untuk menciptakan kembali 
hubungan-hubungan sosial tersebut. Dengan latar psikhologis dan pikiran inilah maka 
Pesta Bertetangga yang juga  disebut "Immeubles en F�te" [Immeubles Berpesta] mendapat 
sambutan hangat dari masyarakat [lihat: Mingguan A Nous Paris, 17-23 Mei 2004]. Ketika 
"Pesta Bertetangga" ini mulai mentradisi dalam masyarakat, dengan ini Perancis 
sekaligus menyatakan penolakannya terhadap "Uang Sebagai Raja" [L'argent est le Roi] 
dan berusaha mengembalikan manusia ke kehidupan masyarakat. 

Dan Indonesiaku, kau di mana serta mau ke mana?


Catatan: Foto terlampir memperlihatkan Pesta Bertetangga yang diselenggarakan oleh 
penghuni sebuah immeuble di Paris  [Foto: Jelitheng]. 



[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
---------------------------------------------------------------------~->

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke