Kompas, Jumat, 21 Mei 2004
TKI Asal Kupang Disiksa Majikan di Malaysia
Kuala Lumpur, Rabu - Seorang tenaga kerja perempuan asal Kupang, Nirmala Bonat,
yang bekerja di Kuala Lumpur, Malaysia, menjadi korban penyiksaan brutal majikan
perempuannya, sejak ia mulai bekerja pada pasangan suami-istri bulan September tahun
lalu.
Kasus penyiksaan Nirmala (19) itu muncul ke permukaan setelah penjaga keamanan
kondominium melihatnya duduk dan menangis di tangga, Senin (19/5) sore lalu. Petugas
keamanan itu melihat muka Nirmala penuh luka memar dan bengkak, serta darah mengalir
dari kepala dan mulutnya. Petugas itu langsung menelepon polisi, yang terkejut melihat
seluruh tubuh, termasuk wilayah dada dan punggung, yang dipenuhi bekas luka bakar dan
bekas luka siraman air panas.
Polisi langsung membawa Nirmala ke rumah sakit, Kuala Lumpur Hospital, untuk
menjalani perawatan, dan kemudian dibawa ke Kedutaan Besar Indonesia yang menyediakan
penginapan baginya. Polisi juga meminta kepada Nirmala untuk membuat laporan rinci
mengenai penyiksaan itu.
Hari Selasa pukul 11.30, polisi kemudian mengirimkan tim dan menahan majikan
perempuan Nirmala (34), yang menjadi tersangka pelaku penyiksaan sadis itu.
Majikan perempuan, yang memiliki empat anak itu, dijemput polisi di kediamannya
di Villa Putra, Jalan Tun Ismail, dengan tuduhan melakukan penyiksaan terhadap Nirmala.
Kepala Bidang Penerangan Kedutaan Besar Indonesia untuk Malaysia Budhi Rahardja
dan Wakil Presiden Asosiasi Agen Pekerja Asing Jeffrey Foo mengatakan, kasus Nirmala
ini merupakan kasus penyiksaan pembantu rumah tangga terburuk yang pernah dilihatnya.
Budhi juga mengatakan, kasus yang dialami Nirmala merupakan yang terparah,
dibandingkan dengan tiga kasus lain yang melibatkan pembantu rumah tangga asal
Indonesia.
Namun, Budhi dengan cepat menambahkan, kasus yang dialami Nirmala ini termasuk
kasus yang langka di Malaysia. Banyak sekali majikan Malaysia yang memperlakukan
pembatu rumah tangga mereka dengan baik.
Harapan sirna
Nirmala Bonet datang ke Kuala Lumpur dari Kupang, Nusa Tenggara Timur, untuk
mencari kerja. Ia datang pada bulan September lalu dengan harapan kedua orangtuanya,
yang bekerja sebagai petani di kampung halaman, akan berbahagia dan bangga kepadanya,
jika mereka melihat besarnya jumlah uang yang dihasilkannya untuk mereka.
Akan tetapi, harapannya sirna. Bukan hanya uang yang diterimanya, melainkan
penyiksaan demi penyiksaan. "Jika saya kembali ke Tanah Air, apa yang akan saya
katakan kepada mereka, ketika mereka melihat semua bekas luka ini," ujarnya dengan
mata yang menerawang.
Ia datang ke Malaysia melalui agen pengiriman tenaga kerja yang sah. Sebelum
bekerja, ia sempat menjalani pelatihan yang diadakan agen itu selama dua minggu.
"Selesai pelatihan saya langsung bekerja. Saya sungguh tidak menyangka bahwa saya akan
diperlakukan seburuk itu oleh mereka."
Nirmala mengatakan, selama lima bulan ini majikan perempuannya menyiksanya
setiap hari. Kadang ia disiksa dengan seterika panas, kadang ia disiram dengan air
mendidih, dan kadang ia dipukul dengan benda keras lainnya, seperti mangkuk besi dan
gantungan pakaian.
"Penyiksaan itu berlangsung demikian lama. Sampai sering kali saya tidak bisa
bernapas secara wajar karena kondisi hidungnya akibat siksaan demi siksaan," kata
Nirmala kepada kantor berita Malaysia, Bernama, Rabu.
Majikan laki-lakinya seorang pengusaha. "Ia tidak pernah menyakiti saya, tetapi
persoalannya ia tidak berbuat apa-apa untuk membantu saya ketika saya disiksa, maupun
sesudahnya," ujar Nirmala.
Nirmala mengaku bahwa sesungguhnya ia mempunyai banyak sekali kesempatan untuk
melarikan diri dari majikannya, tetapi persoalannya, ia tidak tahu harus ke mana, atau
kepada siapa ia harus meminta pertolongan. Ia juga takut menggunakan telepon untuk
mengupayakan bantuan.
Penyiksaan terhadap dirinya diawali ketika ia tanpa sengaja memecahkan sebuah
cangkir saat mencucinya. "Saat itu, majikan perempuan saya langsung marah dan menyiram
saya dengan air mendidih."
"Suatu hari, ia marah ketika saya sedang menyeterika pakaian. Ia mengatakan,
'saya tidak menyeterika pakaian itu secara benar', dan ia langsung menampar wajah
saya."
"Rupanya, majikan perempuan saya itu tidak berhenti di sana. Ia langsung
merampas seterika itu dari tangan saya, dan langsung menekan seterika itu ke dada
saya."
Majikan perempuannya hanya mengobati luka-luka Nirmala sekadarnya, dan ia tetap
dipaksa harus bangun pada pukul 06.00 setiap hari.
Menurut Nirmala, majikan perempuannya itu juga memaksanya untuk menandatangani
surat pernyataan, yang menyatakan bahwa ia mencederai dirinya sendiri. Dengan
demikian, majikan perempuannya berharap bisa melepaskan diri dari perbuatan kejamnya
itu.
Nirmala juga mengungkapkan bahwa sampai sehari sebelum ia ditemui oleh petugas
keamanan di tangga kondominium, majikan perempuannya masih memukul kepalanya dengan
mangkuk besi hingga benjol. "Ia marah karena tidak puas dengan hasil seterikaan yang
saya kerjakan."
Berita tentang penyiksaan Nirmala Bonet itu langsung menghiasi surat kabar-surat
kabar Malaysia. Surat kabar berbahasa Malaysia, Utusan Malaysia, menuliskan berita
dengan judul Penderaan paling kejam, dan sekaligus memuat foto-foto bekas penyiksaan
yang dialami Nirmala.
Dari nada pemberitaannya, tampak jelas bahwa surat kabar Utusan Malaysia tidak
bisa menerima kasus penyiksaan seperti itu terjadi di negaranya.
"Malaysia kononnya mempunyai rakyat yang bertimbang rasa dan penuh kasih sayang.
Tetapi melihat gambar yang tertera di akhbar (surat kabar) ini, di manakah perginya
semua sifat itu?" tulis Utusan Malaysia.(Bernama/jl)
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/