SURAT DARI PARIS: INDONESIA DI FOIRE DE PARIS
Foire de Paris yang berlangsung baru-baru ini dari tanggal 29 April sampai dengan tanggal 9 Mei 2004 yang lalu di Porte de Versailles, pinggiran Paris, merupakan penyelengggaraan Foire [bazar]yang ke-100 kalinya. Bazar yang sekarang merupakan bazar internasional ini benihnya bermula pada tahun 1917 ketika si Gendut Bertha di tempat yang berjarak kuranglebih 100 km dari Paris menorganisasi sebuah pasar loak di mana orang-orang bisa berbelanja dengan tenang pada 400 stand. Kegiatan ini kemudian sesudah perang lebih berkembang lagi ketika pada tahun 1924-1925 di Porte de Versailles, pingggiran Paris, diadakan perombakan dan dibangun sehingga gedung-gedung bermunculan seperti jamur. Pada saat ini di sini diselenggarakan salon-salon anggur [wine] yang mendapat sambutan hangat dari berbagai kalangan. Melihat sambutan hebat begini maka Porte deVersailles terus-menerus dibangun sampai akhirnya berdiri tempat khusus berupa beberapa gedung yang sampai sekarang dijadikan tempat permanen penyelenggaraan Foire atau bazar saban tahun. Foire pun berkembang melampaui batas batas negara Perancis dan menjadi sebuah Foire internasional , dikenal sebagai Foire de Paris. Melalui Foire de Paris ini para peserta berbagai negeri memperkenalkan produk-produk negeri masing-masing. Pada tahun ini Foire de Paris diikutserai oleh 486 stand dari berbagai benua: Afrika, Amerika Latin, berbagai negeri Eropa dan Asia. Stand terbesar dari Asia yang ikut serta adalah dari Vietnam, disusul oleh India dan Muangthai lalu Indonesia yang diisi oleh 17 grup pengusaha. Vietnam dan India terutama mempromosikan produk tekstil dan mpakaian serta kerajinan tangan, sedangkan Indonesia tampil dengan titik berat pada produk kerajinan tangan Jawa dan Bali dengan sedikit tambahan kerajinan tangan dari Tanah Dayak berupa manik-manik. Kecuali kerajinan tangan, stand-stand Indonesia juga ada yang mencoba memperkenalkan mebel dari jati. Nampak benar bahwa yang ditampilkan oleh pengusaha-pengusaha yang ikut serta dalam Foire de Paris ini masih jauh dari memadai untuk mencerminkan kekayaan dan potensi Indonesia dalam berbagai bidang. Tapi betapapun dengan telah hadir saja, bisa dikatakan sudah sesuatu hasil tertentu. Foire de Paris sesunggguhnya lebih bersifat mencari pasar atau memperluas pasar bagi produk negeri masing-masing, kesempatan mencari dan memperluas kontak bisnis daripada penjualan barang-barang yang dibawa. Barang-barang yang dibawa lebih bersifat sample bagi kegiatan bisnis berikutnya. Yang penting dalam melaksanakan misi bisnis ini, barangkali kemampuan lobbi dan penguasaan bahasa Perancis serta sample yang ditampilkan.Dalam hal ini, Vietnam dan India nampak lebih berhasil. Berdasarkan keadaan ini, saya kira sudah saatnya Indonesia mempunyai perhatian lebih khusus agar mempunyai politik Perancis khususnya dan Masyarakat Eropa umumnya yang rasional. Rasional artinya bukan berdasarkan kira-kira tapi atas landasan pengetahuan yang relatif menyeluruh. Hal begini bukan hanya penting dari segi politik tapi juga dari segi ekonomi. Ketika menyaksikan barang-barang Asia yang dijual di pasar Perancis, saya sering merasa sedih. Indonesia yang begitu kaya dengan kelapa, rambutan, papaya, nenas, durian, jagung, ikan dan lain-lain, tapi barang-barang Asia yang mengisi pasar Perancis umumnya berasal dari Mungthai, Vietnam dan Republik Rakyat Tiongkok. Di mana letak akar masalah, saya kira patut kita jawab jika ingin memasarkan produk Indonesia. Melalui praktek kecil-kecilan yang dilakukan oleh organisasi nirlaba seperti Pasar Malam, nampak benar sesunggguhnya produk kerajinan tangan, seni, tenunan dan pakaian Indonesia mempunyai kemungkinan pasar di sini. Ia bisa dikembangkan melalui LSM-LSM profesional maupun jaluran bisnis biasa.Dibandingkan dengan produk-produk Filipina, Muangthai dan Vietnam sebenarnya produk Indonesia tidak kalah dari segi mutu. Hanya saja yang kurang barangkali kegiatan pemasarannya. Kecuali itu berdasarkan pengetahuan yang saya dapatkan selama bekerja di Kalimantan, produk lokal kita sering mengabaikan pengembangan design dan tekhnik pengolahan. Dari segi ini saya lihat , jika mengambil kasus pengrajin Dayak Kalimantan Tengah, mereka kurang melakukan terobosan-terobosan kreatif. Terlalu statis. Kurang mempelajari selera konsumen dan masalah perkembangan artistik kekinian. Sedangkan dalam bidang pakaian, dari beberapa pengalaman sering terjadi kurang disiplin dalam menjaga mutu. Para produsen kurang menyadari bahwa perbedaan mutu pesanan dan yang nyata bisa menimbulkan dampak negatif finansil yang berat dalam perdagangan internasional. Keadaan inipun saya lihat tidak lain dari ujud masih berdominasinya mentalitas jalan pintas di negeri kita. Untuk pengembangan pasar bagi produk dalam negeri barangkali kerjasama antara pengusaha, produsen dan pemegang kekuasaan politik sangat diharapkan. Saya sering merasa aneh mengapa durian, nenas, jagung, ubikayu, jahe dan lain-lain pada masa panen sering terbuang sia-sia. Mengapa tidak dicoba dikembangkan usaha pengawetan atau pengalengan sehingga produk tersebut bisa dipasarkan ke lingkungan lebih luas seperti yang dilakukan oleh Muangthai? Di Palangka Raya misalnya betapa nenas dan durian, jambu mete dan lain-lain produk pertanian dan perkebunan tidak dicoba ditingkatkan pengolahan dan cara penjualannya. Demikian juga kerajinan tangannya yang unik. Saya menyesal tidak mempunyai cukup waktu untuk tinggal di kampung kelahiran guna menangani masalah ini yang sudah mulai saya rintis kemudian terbengkalai. Ini satu penyesalan besar pada diri saya sampai sekarang. Memperoleh pasar memang tidak sederhana, dan menjadi lebih tidak sederhana lagi dengan keadaan produsen serta mutu yang kita tampilkan sekarang. Sedangkan kesempatan memperoleh pasar bagi kita tidak tertutup. Foire de Paris adalah salah satu peluang tapi agaknya kita belum maksimal memanfaatkan peluang ini.Barangkali saya salah, tapi yang terpenting bagi saya di sini adalah mengajukan pertanyaan! Dan peluang lain masih banyak lagi. Masalah peluang adalah masalah prakarsa dan prakarsa selalu sangat dinamis seperti halnya keadaan pasar itu sendiri. Pola pikir jalan pintas tentu bukanlah sesuatu yang dinamis dan kreatif. Secara hakiki barangkali ialah ujud dari pola pikir dan mentalitas menindas ke bawah menjilat ke atas -- singkatnya budakisme dalam ujud mutakhir dari jiwa-jiwa terkungkung. Catatan: Foto-foto terlampir melukiskan keadaan stand Indonesia di Foire de Paris tahun ini. [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~--> Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar. Now with Pop-Up Blocker. Get it for free! http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM ---------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

