From: Sigit Susanto 
To: [EMAIL PROTECTED] 
Sent: Saturday, May 22, 2004 10:09 AM
Subject: [pengarang] Wawancara dengan Heinrich B�ll


 

Wawancara dengan Heinrich B�ll

Werner Koch

 

   Tuan B�ll, bagaimana anda menulis, kapan anda menulis, dimana anda menulis - 
perlukah anda menulis di sebuah rumah keluarga, mungkin di rumah peristirahatan di 
Irlandia atau di sini di apartemen K�ln-Muengersdorfer, atau cukup di sebuah kamar 
hotel yang tak terlalu pribadi?

 

   Saya bekerja sangat pelan, tapi kalau menulis sangat cepat, kebanyakan pada siang 
hari, antara jam 10.00 sampai jam 14.00, untuk menjawab pertanyaan; bagaimana dan 
kapan. Ya dimana sampai sekarang saya berada, saya tidak tahu, bagaimana nanti di masa 
tua, agaknya sama saja. Saya perlukan sebuah rumah keluarga, tapi rumah keluarga itu 
sudah cepat tersedia - saya sebenarnya hanya perlu sebuah meja, yang tak bergoyang, 
sebuah kursi, yang cocok dengan mejanya, dan di dekatnya ada tempat yang memungkinkan 
untuk mencuci tangan - tak lebih dari itu.

 

   Nah, bagaimana anda menulis, apa anda menulis dengan tangan, dengan tangkai pena, 
dengan mesin ketik?

 

   Ah, itu yang kau maksud. Ya, saya biasanya menulis langsung di mesin ketik, lalu 
dikoreksi - dan pengoreksian ini yang banyak kerjanya - dengan tangan, dengan sebuah 
pensil.

 

   Anda mulai dengan sebuah roman dan menulisnya tak sampai tamat - apakah itu sudah 
di rencanakan?

 

   Ya, itu sudah direncanakan. Bahkan kejadiannya juga sudah dipikirkan, bahwa saya 
akan menulis sebuah roman hingga tamat dan keduanya tak di publikasikan.  

 

   Adakah konsep dasar yang singkat dan tepat? Tidakkah tema itu memuaskan anda? 

 

    Bila roman itu sampai tak selesai, mungkin dasarnya, bahwa saya tak bisa bertahan, 
atau romannya sendiri yang tak tahan - dia juga harus ikut serta, bukan, saya 
mengumpamakannya - sekarang dia sebagai kata ganti orang - sebagai seorang parner, 
yang ikut bersama terlibat; meski kadang materinya tak mudah, kemudian mengalir begitu 
saja, kirim - selesai. Dan yang tak di terbitkan, yang memang menurut saya tak menarik 
dan yang saya anggap tak berkwalitas.

 

    Sebuah pertanyaan menggebu yang kurang sopan: Berapa jumlahnya itu?

 

   Ada empat - tiga atau empat, tapi bagi saya yang terpenting adalah pengalaman 
berkarya itu, luar biasa pentingnya, kadang lebih penting ketimbang dari karya yang 
sudah saya terbitkan. Karya yang tak berhasil saya selesaikan itu, kadang saya belajar 
lebih banyak darinya. 

 

   Untuk memutuskan, apakah sebuah roman sekarang sudah layak di terbitkan atau tidak, 
menurut keputusan anda sendiri atau anda tanya kepada istri?

 

   Pada prinsipnya saya putuskan sendiri, namun istri saya juga ikut terlibat di 
dalamnya.

 

   Tuan B�ll, sebelum anda memulai sebuah roman, sudahkah plot/alurnya di tentukan, 
tahukah anda, apa yang akan datang, tahukah anda, apa yang akan terjadi, tahukah anda 
sebagai penutupnya?

 

   Tidak, hal itu tak bisa di tentukan, khususnya, karena plot sebagai apa adanya, 
sehingga dalam tehnik pembuatan isi epos plot, tak menarik. Saya tertarik pada 
orang-orangnya, situasinya, peristiwa-peristiwa di dalamnya - lalu apa yang orang 
sebut sebagai isi plot yang sebenarnya, aksi, tak bisa di tentukan.

 

   Kemudian itu akan terjadi dengan sendirinya...Sebuah contoh: Anda telah memulai 
membuat sebuah roman, sudah selesai 100 halaman, Anggapan anda adalah, roman itu sudah 
begitu dan terus mengalir saja, tapi bukankah kemudian roman itu harus di plot dengan 
haluan yang baru...

 

   ...Saya tak tahu persisnya, kemana roman itu terus melaju, terutama seluk beluknya, 
bila saya sudah menyelesaikannya - katakanlah konsep pertama, konsep acak-acakan, 
konsep kedua dan seterusnya -, bekerja "dari belakang ke depan", baru bisa ditemukan 
susunan peristiwanya yang pertama, dan kadang juga harus merombak dari belakang ke 
depan, di tengah, harus di pindahkan, sejauh ini saya tak tahu, bagaimana karya harus 
mengalir, seperti plot yang berjalan.

 

   Tuan B�ll, bagaimana hubungannya antara penulis dengan orang-orang pelaku dalam 
roman, sejauh mana anda menjaga jarak dengan mereka, dan sejauh mana anda merasa 
bersaudara dengan orang-orang pelaku itu. Bisakah digambarkan.

 

   Ya, sulit menjelaskannya, tahukah anda, bagaimana semua masalah itu secara alami 
mirip tak bisa diterangkan, dan mirip juga dalam kata, hubungan antara penulis dengan 
orang-orang pelaku, orang-orang pelaku dengan penulis- sebuah percobaan kemiripan dari 
kedua belah pihak, kadang saya tak hiraukan saja, saya anda, tapi itu harus ada sebuah 
jarak, meski minimal sekalipun, kalau tidak hal itu berada di sampingnya,- saya juga 
berpendapat, bagaimana seandainya penulis itu juga seorang pelaku, katakanlah, saya 
menulis sebuah buku otobiografi, harusnya saya makin membuat jarak. Dan orang-orang 
pelaku dalam roman-roman itu banyak - sebenarnya saya mencoba untuk membebaskan mereka 
dan menempatkan mereka pada posisi yang adil, utamanya hal-hal yang saya anggap tak 
simpatik, dengan demikian saya bisa temukan mereka sebagian besar.

 

   Sebelum anda menulis sebuah roman; apakah anda membuat semacam catatan kecil, dan 
jika ya, bagaimana bentuk catatan kecil itu?

 

   Saya tidak membuat catatan kecil sama sekali, hanya menulis beberapa kata-kata 
penting, orang-orang pelaku, kejadian pada suasana-suasana khusus, itu hanyalah 
coretan-coretan yang tak rapi, yang kemudian akan memainkan peran penting. Sebenarnya 
hasil itu muncul saat orang sedang menulis karya sastra.

 

   Seandainya saya mempunyai coretan-coretan semacam itu, tak bisakah saya mulai 
menulis?

 

   Tentu saja juga berlaku buat anda. Disitu khan sudah ada beberapa kata, bagi saya 
itu bisa berarti satu bab, apa yang tersirat di kepala saya, tapi bagi anda bisa 
berarti kosong. Misalkan saja: asbak rokok atau sesuatu yang lainnya, mengertikah 
anda, bagi saya itu hanyalah sebagai alat bantu saja, yang kadang dalam perkembangan 
selanjutnya sama sekali tak ada fungsinya - hanyalah sebuah petunjuk. Saya tak 
menggunakan persiapan study, kira-kira, kita katakan persiapan study materinya.

 

   Tak ada kesadaran..

 

   Tak ada kesadaran, juga tak ada inti dalam karya sesuai ilmu pengetahuan.

 

   Sebuah pertanyaan yang sangat sederhana, karena saya terpikat: Bagaimana anda 
menemukan nama-nama dalam roman anda?

 

   Saya temukan, sebagian besar sudah di rancang, sebagai daya cipta dari penulis, 
nama-nama apa saja yang cocok dan terbatasi, kemudia semua muncul, tapi juga banyak 
yang tak bisa ditemukan.

 

   Sekarang, dalam roman "Murkes" tak ada - bukan?

 

   Tidak, saya pikir tidak, yang saya ciptakan, tak saya kontrol. Tapi penulis 
mengalami begitu saja, karena dia menulis orang-orang pelaku: Dengarkan dulu, 
bagaimana anda bisa sampai pada hal demikian, untuk membelokkan nama- nama saya! 
Nama-nama itu bagi saya sangat penting, nama-nama, karena sebuah yang luar biasa saja- 
kita namainya sebagai kwalitas ungkapan perasaan puitik bagi saya, nama-nama, nama 
depan, nama keluarga adalah sangat penting, dan oleh karenanya saya menciptakan 
seperti itu.

 

   Anda baru saja mengatakan, anda mengalami langsung melalui pembaca anda. Adakah 
reaksinya, hubungan yang berarti dengan penulis, meskipun pembacanya selalu 
menggunakan anonim- adakah yang demikian?

 

   Ya, tentu ada, maksud saya bukan pada sebuah catatan nilai statistik, yang minimal- 
ada reaksi-reaksi, pada orang-orang yang marah atau tidak atau dengan menulis, tapi 
pada prinsipnya saya dalam pengekspresian semacam itu tak bisa memberi alasan, karena 
dalam sebuah roman, bila sudah selesai,sudah dicetak, sudah beredar, bagi saya berarti 
sudah tak hidup lagi, juga orang-orang pelakunya sama sekali tak ada lagi - saya tak 
akan mengurus lagi, saya akan mengurus yang berikutnya, dan bergeraklah saya - 
mengertikah anda?

 

   Ya, pertanyaan yang lain: sebuah roman yang ditulis dalam bentuk "Saya", misalnya 
"Roti tahun yang lampau" (Das Brot der fr�hen Jahre). Sangat sederhana: Siapakah tokoh 
"Saya" dan mengapa tokoh "Saya" itu sekarang bukan sebagai "Dia"?

 

   Tokoh "Saya" bukanlah siapa-siapa, itu juga bukan sebagai tokoh "Dia", melainkan 
Saya adalah saya saja hanya kata ganti orang saya . milik saya - saya (mir: sebagai 
pelengkap penyerta), saya (mich: sebagai pelengkap penderita), jadinya begitu, saya 
pikir, perlu pembiasan-.

 

   Ya, tapi anda memilih contoh pada "Roti tahun silam" (Das Brot der fr�heren Jahr) 
memakai bentuk "Saya", sedang contoh lain dalam "Murke" memakai bentuk "Dia". Adakah 
dasarnya?

 

   Tentu, itu ada dasarnya. Bila "Saya" untuk saya (pelengkap penderita) hanyalah 
sebagai materi bahasa - berikutnya, sebuah ungkapan dasar, yang dapat diikuti, 
tentunya, bisa bervariasi - anda bisa membandingkan dengan sebuah lukisan, katakan 
saja seorang pelukis mengambil warna dasar merah, disitu ada banyak jenis variasinya. 
Pada pokok bahasan ini "Saya" hanya sebagai sebuah materi kata. Tentu saja ada 
kelanjutan sebuah masyarakat dan psikologisnya, mengapa saya memilih "Saya", dan 
sebagai penanggung jawab dalam menghasilkan karya.

Langkah selanjutnya adalah mudah, hanya berpatokan pada seni, dan buat saya dengan 
amat luar biasa untuk berusaha menjaga dengan orang pelaku. Saya yang sebagai orang 
asing itu, yang saya tulis sebagai bentuk "Saya", buat saya merupakan jarak yang amat 
jauh dari pada setiap "Dia". Kalau dibesar-besarkan, bila saya akan menulis 
otobiografi, saya akan tulis dalam bentuk "Dia". Berikutnya amatlah mudah hanya materi 
bahasa saja dan suasana tekanannya dimana, tak setiap bentuk "Saya" dalam buku selalu 
sama.

 

 

    Tuan B�ll, kalau saya tak salah, anda belum pernah menulis sajak- mengapa?

 

   Saya sudah pernah menulis sajak.

 

   Saya belum pernah membaca sebuahpun?

 

   Beberapa sudah saya terbitkan, bahkan beberapa tahun silam, memakai nama samaran: 
dalam cetakan yang terbatas. Saya dulu waktu masih muda banyak menulis sajak dan terus 
saja menulis sajak itu.

 

   Tapi dengan nama samaran apakah tidak sia-sia?

 

   Kemudian memakai nama saya - beberapa diantaranya juga saya buang, tapi saya masih 
menulis beberapa. Saya melihat sesuatu pada diri saya.

 

   Tuan B�ll, pada setiap roman anda terdapat beberapa versi, saya tahu, ada lima, 
enam versi yang berbeda. Yang membuat saya penasaran: bagaimana arah jalan dari versi 
pertama yang tak terkoreksi sampai ke lima, terakhir, versi yang sudah dikoreksi: 
Apakah anda merubahnya terutama agar agak formil, atau membiarkan begitu saja tak 
terartikan secara tepat.

 

   Sulit untuk menerangkannya, saya akan mencobanya. Tentunya ada yang tak setiap 
lima, enam versi, kadang ada dua, tiga, empat - minimal katakanlah tiga. Itu artinya 
bukan setiap versi ditulis seluruhnya baru. Saya akan coba untuk menjelaskannya. Ada 
langkah yang berbeda yang kadang terlalu jauh melaju, dan saya harus menarik kembali 
dari keseluruhannya dan memulai lagi dari depan. Katakanlah tujuan khususnya 
mengambang, bila anda mengukur dengan secara geografi, ambillah geografi yang datar - 
kita katakan saja misalnya, saya akan pergi ke gereja St.Peter di kota K�ln, saya 
dapat saja mencapai tujuan itu dengan berbagai jalur, dan saya bisa saja mengulur 
waktu yang berbeda-beda dari berbagai tempat lain untuk mendekatinya - dalam pemahaman 
ini saya perlu berbagai langkah, ukuran waktu, kadang saya berhasil dari segi waktu, 
berhasil menghadapi rintangan di jalan, yang keduanya harus saya urus, mengertikah 
anda, saya akan mencoba memberi tekanan yang sangat jelas. - dan kami katakan, 
orang-orang pelaku yang usil masuk ke dalam sebuah roman, berhamburan, itu harus 
dikeluarkan. Dengan demikian tak akan berakibat pada sebuah komposisi baru seluruhnya. 
Dalam pemahaman inilah disebut versi baru..

 

   Apakah versi terakhir pada umumnya selalu lebih pendek dari yang pertama?

 

   Ya, tentu jauh lebih pendek.

 

   Apakah kasus itu berlaku secara umum?

 

   Ya, pada umumnya kasusnya begitu. Dasarnya adalah konsentrasi pada peristiwa utama, 
yang berbagai versi, yang dirasa akan mubazir harus dikeluarkan, lalu bagian mubazir 
yang mana yang masih saya pertahankan -apakah itu mubazir, mudah-mudahan daya pikirlah 
yang memutuskan...

 

   ...Tak bisa diperinci lagi?

 

   Ya, sudah terlambat. Tapi itu saya putuskan sendiri.

 

   Tuan B�ll, Franqois Mauriac, yang anda puja itu, seperti yang saya perkirakan, 
telah menyebut sebuah roman adalah "sebuah bentuk sastra yang tersempurna" 
(vollkommenste literarische Form). Anda sendiri pernah mengatakan - saya kutip 
sekarang: "Cerpen adalah selalu yang terindah dari seluruh bentuk-bentuk prosa" (Die 
Kurzgeschichte ist immer noch die sch�nste aller Prosaformen). Anda masih 
mempertahankan keyakinan itu, siapa yang benar: Mauriac atau B�ll?

 

   Saya tak berpikir, bahwa sebuah pertanyaan, apakah Mauriac benar atau saya. Saya 
tetap dalam pendirian saya, dan saya pikir, sangatlah sepele semata-mata hanya 
perbedaan nasional saja - maaf dengan kata "nasional" (national) dalam hubungannya -, 
dengan tradisi roman Perancis, yang sudah amat awal dimulai dan juga pada abad 19 
dengan Stenhal dan Balzac dan Flaubert yang telah berhasil dengan gemilang - di 
Perancis mungkin Roman sebagai bentuk Prosa yang paling di tekankan, di Jerman berbeda.

 

   Tapi bukankah hal yang mudah untuk dikatakan, bila Cerpen adalah bentuk khas 
Amerika?   

 

   Tidak, saya pikir lebih dulu - adalah sebuah teori, yang hanya bisa saya buktikan 
dalam masalah ini (ad hoc) -, bahwa Cerpen Amerika melewati jalan yang berputar ke 
Jerman baru menuju ke Amerika - cikal bakalnya - pengaruh Romantik, termasuk dongeng, 
dan semua bentuk sejenisnya. Di Inggris bentuk prosa pendek juga menjadi idaman. 
Mungkin sekali karena berhubungan erat dengan pengandaian faktor bahasa, yang mudah - 
sebut saja begitu - bahasa dengan keselarasan bahasa Jerman ada kecenderungan. Di 
Jerman saya sangat yakin, bahwa Cerpen, Dongeng, atau seperti biasanya orang 
menamainya - ada banyak bentuknya - seperti yang saya utarakan bagi kami sebagai 
tekanan dalam bahasa Jerman, sementara bagi orang Perancis, dongeng, cerita juga, 
apakah itu cerita pendek atau panjang, dulunya tak pernah menarik. Itu bedanya. Saya 
tak percaya sama sekali, orang bisa mengartikan dari seluruh perbedaan itu secara 
tepat.

 

   Bukan untuk mencari penemunya, tak bisa di pukul rata saja?

 

   Tidak, hal itu selalu subjektif, bagi saya Cerpen merupakan bentuk yang terkuat 
dalam Prosa.

 

   Tuan B�ll, anda pernah mengatakan saat membacakan "Wuppertaler Rede" di tahun 1958, 
bahwa anda sebagai pecinta yang bernafsu pada bahasa. Sekarang sebagai pecinta bahasa 
yang bernafsu, bila anda memposisikan "tehnik pencapaian pengertian" (terminus 
technicus), sebuah bentuk erotik. Apakah kalau dihubungkan dengan penulis B�ll, 
bahasanya juga erotis?

 

   Saya pikir, ya. Saya tak bisa menjawab yang begitu saling erat hubungannya, bisa 
saja nanti berbeda. Erotik mungkin berhubungan dengan bentuk, apa yang saya katakan: 
langkah, untuk mendekatkan. Pendekatan itu ya juga sebuah pengertian erotis. Perebutan 
adalah sebuah pengertian erotis, yang berlaku untuk militer juga, satu diatas yang 
lainnya. Saya pikir itu sebuah bentuk perebutan dengan bahasa, tujuan, dan itu 
merupakan sebuah peristiwa erotis yang murni, dan kadang bahkan tak berhasil, oleh 
karenanya menjadi roman yang bernasib buruk, yang hilang, tak berhasil dalam percobaan 
perebutan.....

Hal itu bisa disebut sebagai peristiwa erotis. Saya pikir, anda benar.

 

   Sebuah roman muncul kapanpun, bagaimanapun, dimanapun.

   Waktu yang tepat, barangkali penulis sendiri tak mengetahui saat itu, bahwa dia 
akhirnya akan selesai? Sejak dari awal prosesnya, memakan waktu cukup lama, 
bertahun-tahun lamanya, bisakah hal itu di tetapkan, di rumuskan?

 

   Ya, tiba-tiba sampai ke tema itu, katakanlah, sebuah ide, yang tak penting, ide itu 
hanyalah sebuah perumpamaan, dan untuk ide itu saya perlukan- ya, bagaimana saya 
menyebutnya? Bukan lingkungan, bukan medan - saya perlukan tempat khusus yang cocok. 
Saya tak bisa menerangkan sebuah contoh. Bila anda mengambil contoh roman "Diamnya 
Doktor Murkes" (Doktor Murkes gesammeltes Schweigen), dimana ide diam ini sangat 
penting peranannya, untuk roman itu, saya perlu waktu dua tahun, untuk mencari tempat 
yang cocok. Tentu saja tempatnya di stasiun penyiaran radio dan TV atau tempat yang 
cocok dengan lingkungan ini, tapi untuk menemukan orang-orangnya, suasana, cuaca, 
semuanya - bisa memakan waktu dua, tiga tahun, bila itu berhasil, itu merupakan sebuah 
bagian dalam peristiwa yang murni, sejarah yang cepat selesai ditulis, mungkin dalam 
dua, tiga hari saja. Tapi tentu begitu banyak roman, yang menyangkut di kepala saya 
dan lupa lagi dan tak sempat ditulis, dimana idenya hilang, dimana kita tak bisa 
katakan padanya, dimana hubungan erotisnya tak terjadi. Waktu yang tepat dapat saya 
katakan, bila saya sudah akan menulis catatan-catatan: hari ini dan ada ide - apa yang 
saya tak lakukan.

 

   Anda tak membuat buku harian?

 

   Tidak

 

   Seorang penulis yang tidak membuat buku harian, Tuan B�ll, rasanya tak umum - atau?

 

   Saya harus koreksi sesuatu, tak pakai buku harian, dalam pengertian kata-kata dalam 
buku harian - meskipun tak pakai, berisi juga masalah-masalah terdalam saya atau 
informasi-informasi sesuatu, pada seseorang yang simpatik. Saya membuat buku harian 
dalam bathin - katakanlah sebuah pekerjaan yang membuang-buang waktu saja, padahal 
masih biasa. Jadi sederhana saja, buat catatan-catatan kapan dan apa yang telah saya 
lakukan dan dimana saya saat itu - hanya itu saja, cukup.

 

   Apakah bisa menyelesaikan dengan tepat?

 

   Tidak, tidak - karena saya pada usia yang tertentu, kalau 10 tahun lalu, saya 
pikir: Oh Tuhan, apa yang sebenarnya kau lakukan sepanjang waktu?

 

   Sekarang, anda senantiasa telah begitu banyak berbuat?

 

   Ya, tentu, tapi saya ingin mengoreksi diri sendiri - kapan dan dimana saya, apa 
yang telah saya perbuat dan sebagainya.

 

   Jadi buku harian anda juga sebuah pedoman yang bisa buat buku?

 

   Ya.

 

   Kalau begitu tak perlu ada pengarang?

 

   Bukan, tak ada hubungannya dengan penulis sama sekali, benar-benar membosankan 
untuk masalah yang sepele saja memerlukan buku catatan, yang tak ada sangkut pautnya 
dengan karya saya.

 

   Tuan B�ll, bolehkah saya membacakan sebuah kalimat untuk anda - kalimat itu 
bunyinya: "Pada hari, Hedwig tiba, adalah hari Senin, dan pada Senin pagi itu, sebelum 
pemilik rumah saya menyodorkan surat dari ayah di bawah pintu, saya lebih suka menutup 
wajah saya dengan selimut, seperti biasa saya lakukan dulu, ketika saya masih tinggal 
di rumah praktek kerja." (Der Tag, an dem Hedwig kam, war ein Montag, und an diesem 
Montag Morgen, bevor meine Wirtin mir Vatrs Brief unter die Tur schob, h�tte ich mir 
am liebsten die Decke �bers Gesicht gezogen, wie ich es fr�her oft tat, als ich noch 
im Lehrlingsheim wohnte). Masih ingatkah anda dengan kalimat ini, yang dimulai dari 
roman"Roti tahun silam" (Das Brot der fruhen Jahre). Sekarang, setelah saya membacakan 
kalimatnya, saya bertanya, siapa tokoh Hedwig itu, siapa pemilik rumah itu, siapa ayah 
itu, siapa "Saya" itu, dan apakah pekerjaan orang itu, yang di tulis dalam bentuk 
"Saya", di tempat praktek kerja. Pertanyaan saya: Bukankah itu terlalu banyak untuk 
ukuran satu kalimat? Saya harus berulang kali membacanya dan mencoba memahaminya, atau 
saya harus menyesuaikan: menunggu waktu sampai mengetahui apa yang akan datang lagi. 
Apakah alasan anda?

 

   Ya, sebenarnya saya sudah sedikit memahami dari kalimat itu, saya tak punya maksud 
tertentu, bagi saya kalimat itu bagaikan cara saja untuk menerangkan dari keseluruhan 
buku, dan apa yang sudah termuat dalam urutan isi buku. Kemungkinannya memang sulit, 
kalimat saja untuk di baca, sebagai bagian pertama, yang meyakinkan saya, tapi saya 
tak bisa banyak berbuat, mungkin saja pembaca harus membacanya dua kali.

 

   Anda tak menentang itu?

 

   Tidak, saya pikir itu benar, hanya saja sebuah hal yang sangat sulit, tapi saya 
pikir, itu hanyalah cara mengungkapkan dari keseluruhan buku pada kalimat pertama, 
kemudian sampai pada hasil karya. Dan tahukah anda, sebagai penulis saya tak terlalu 
memusingkan hal seperti itu, betapa sulitnya dibaca oleh pembacanya, saya tak hiraukan 
itu, bila anda mau, saya akan berikan tekanan tertentu dan mencari tekanan-tekanan 
itu, pilih lah - apa yang akan terjadi, itu bukan urusan saya lagi.

 

   Bisa jadi, buku terbaik dari Heinrich B�ll tak dibaca orang?

 

   Itu bisa terjadi.

 

   Anda tak terganggu dengan itu?

 

   Tidak. Saya hanya menyesali, tapi saya tak merasa terganggu - saya harus 
mengekspresikan begitu.

 

   Tuan B�ll, anda lahir tahun 1917, anda tahun 1947 berusia 30 tahun. Anda dulu 
kawin, anda punya anak, dan anda harus "menafkahi semua itu". Pertanyaan saya: Anda 
dulu seorang penulis, anda ingin jadi penulis, anda perlukan uang, anda perlukan 
keberhasilan - dalam situasi kerja yang memaksa seperti itu: apakah bukan menjadi 
hambatan? Atau bahkan justru sebagai tantangan?

 

   Itu sama sekali tak ada pengaruhnya - antara satu sisi dengan sisi yang lainnya. 
Untuk dapat hidup sebagai seorang penulis, anda tak perlu sebuah keberhasilan mutlak 
dari seorang penulis buku. Pada waktu dulu, saat kami memulai, generasi saya, untuk 
menulis, sponsor dari stasiun Radio/TV mengambil peranan penting dalam beberapa hal 
pokok, dan sebenarnya saya sudah menjalaninya- katakanlah kami hidup awalnya dari 
bekerja di stasiun Radio/TV - mulai dengan pekerjaan tukang.

 

   Baiklah. Kemudian pertanyaan yang lain: terganggukah pekerjaan tukang atau 
pekerjaan jurnalistik dianggap bukan pekerjaan penulis yang sesungguhnya?

 

   Saya suka pekerjaan tukang juga, tapi saya pikir, orang harus mau menerima 
rintangan berat itu. Saya tak pernah menyesali ketidak berhasilan, saya juga tak akan 
bertanggung jawab pada masyarakat. Buku saya yang pertama, saya pikir, penerbit saya - 
telah memerlukan waktu selama tujuh tahun, untuk menjual 3000 eksemplar buku, itu 
karya saya yang termasuk tak paling jelek, seperti saya yakini, dari kejadian tersebut 
membuat pelajaran yang berharga bagi saya, lagi pula saya telah punya, bila suatu saat 
terjadi peristiwa darurat, suatu saat bila pekerjaan di ambil alih, bisa juga 
menghidupi keluarga saya.

 

   Sekarang ada satu yang mengganjal saya...Anda pernah ditanya - saya tak tahu lagi 
siapa yang bertanya -, buku anda yang mana yang anda sendiri paling sukai, dan saya 
pikir, Anda dulu pernah menjawab, bahwa anda tak mau menetapkan buku yang mana, tapi 
kalau sekarang ada sebuah keharusan, bukankah masih pada pilihan yang berjudul "Dimana 
kamu, Adam?" (Wo wars du, Adam?)

 

   Ya, itu sebagai buku yang paling saya sukai, dan itu termasuk buku berat, saya kira 
saya perlu waktu 10 tahun untuk membuatnya, sebelumnya, orang tak pernah menyebut 
sebuah keberhasilan. Aneh khan, tapi sebenarnya tak ada hubungannya dengan buku-buku 
yang lain, diantaranya saya juga telah berhasil dengan buku-buku yang lain, dan tetap 
masih apa adanya dan bahkan tak mengalami kemerosotan. Saya pikir tergantung pada 
penafsiran sebuah keberhasilan, dan beruntung saya tidak menjadi manja.

 

   Ya, adakah...

 

   Membuat permasalahan menjadi ringan.

 

   Adakah hubungan antara kwalitas karya dan keberhasilan, atau bahkan tak bisa 
diartikan begitu?

 

   Tidak, itu benar-benar tak masuk akal, sampai sekarang, saya belum menemukan 
analisa. Ada buku-buku yang jelek, tapi berhasil dengan gemilang, dan ada buku-buku 
bagus - dan juga buku-buku jelek, yang sama sekali tak mendapatkan keberhasilannya, 
dan buku-buku yang bagus - tak ada aturannya. Menurut yang saya ketahui, mungkin 
faktor keberuntungan ikut menentukan?

 

   Saya melompat sedikit, saya tertarik sebagai berikut: Dorothy Parker pernah 
berpendapat:"Paling mudah menulis orang lain, adalah pada orang yang dibenci" (Am 
leichtesten l�sst sich �ber Leute schreiben, die man hasst). Bagaimana anda mencermati 
pernyataan diatas?

 

   Saya pikir, cocoknya pernyataan itu di terapkan untuk wartawan dan dalam urusan 
kewartawanan - ambillah contoh seseorang seperti Karl Kraus, yang menurut saya, 
seorang yang memuakkan, tapi sekaligus juga seorang pecinta yang agung - itu termasuk 
di dalamnya...

 

   Heinrich Mann mungkin termasuk juga?

 

   Ya, tapi untuk menulis orang-orang, yang dibenci, saya tak bisa bayangkan, karena 
saya tak seorang pun, pada orang-orang tertentu yang saya benci dan juga yang membenci 
karya tulis saya. Ada istilah permusuhan, ada yang disebut perseteruan, yang merupakan 
sebagai bukti ungkapan dan sebuah hasil karya kewartawanan, tapi saya pikir, kebencian 
bukan sebagai pendorong yang terbaik, dasar kecintaan juga bisa sebagai pendorong, dan 
memang tidak sekali saja cinta pada sesuatu lalu muncul orang-orang dalam karya itu, 
melainkan begitu saja sebagai - sebut saja rasa keberadaan. Bagi seorang wartawan, 
saya bisa membayangkan, juga untuk sebuah karya kewartawanan, yang memang pada 
pekerjaannya dan dengan dasar tertentu sehingga membenci orang-orang tertentu pula - 
bagi seorang pendongeng cerita - kebencian bisa saja muncul, penampilan, semangat 
jaman, masalah-masalah politik, masalah-masalah masyarakat, tapi tak pernah menyangkut 
orang-orangnya, yang dia benci, untuk di tampilkan dengan jelas - saya pikir tak 
begitu.

 

   Tuan B�ll, Pertanyaan saya yang terakhir: Kita sudah saling mengenal cukup lama dan 
saya tahu, bahwa anda sebenarnya tak menyukai jenis tanya-jawab atau perbincangan 
seperti ini. Mengapa anda lakukan sekarang?

 

   Pada prinsipnya saya lakukan juga, kadang-kadang berlawanan terhadap keyakinan 
saya, karena bagi saya sudah cukup jelas, karena saya terpaksa menjawabnya, dengan 
jawaban itu sudah menjadi beberapa penjelasan juga bagi saya sendiri, dan karena saya 
harap, juga bagi yang lainnya mengerti jawaban yang jelas dari saya itu. 

 

Tamat

 

Diterjemahkan oleh: Sigit Susanto

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 




====================================================
PengarangNet: Info dan Panduan bagi Pengarang Indonesia.
Kunci sukses pengarang adalah menulis dan menulis.
Pengajuan naskah karangan kepada Redaksi Majalah Aksara: 
[EMAIL PROTECTED]
Mohon hapus pesan sebelumnya saat melakukan Reply.
Daftar:[EMAIL PROTECTED]
Keluar:[EMAIL PROTECTED]
Kirim Pesan:[EMAIL PROTECTED]
==================================================== 



--------------------------------------------------------------------------------
Yahoo! Groups Links

  a.. To visit your group on the web, go to:
  http://groups.yahoo.com/group/pengarang/
    
  b.. To unsubscribe from this group, send an email to:
  [EMAIL PROTECTED]
    
  c.. Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service. 



[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke