Pustakaloka
Sabtu, 22 Mei 2004
Terbebas dari Piciknya Kekuasaan
DI-PERSONA non-grata harus meninggalkan Sri Lanka dalam waktu 2 x 24 jam,
Hersri Setiawan (68) tiba kembali di Jakarta pada 24 Agustus 1965.
Keputusan itu adalah kelanjutan penutupan Biro Pengarang Asia-Afrika di
Colombo, di mana Hersri sejak tahun 1961 bekerja di biro tersebut mewakili
Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra).
Sejak meletus G30S, ia main kucing-kucingan dengan bekerja di berbagai
kedutaan asing, menulis dan kuliah, tetapi keburu "dijemput" aparat. Hidup
sebagai tahanan politik (tapol), mula-mula Hersri ditahan di tempat
penahanan operasional, kemudian di Salemba dan Tangerang sampai dipindahkan
ke Inrehab Pulau Buru (1969-1978).
Enam bulan pertama sepulang dari Buru, Hersri memenangi dua hadiah
penulisan esai. Yang satu, untuk lomba esai yang diselenggarakan majalah
Prisma, lainnya oleh Dewan Kesenian Jakarta. Sesudah itu, dia menulis di
berbagai koran, sampai akhirnya ada larangan penerbit memuat
tulisan-tulisan eks tapol, termasuk Hersri. Ia pun menulis dengan nama
samaran, misalnya lima jilid dongeng rakyat dengan berbagai nama samaran.
Ia mendirikan biro penerjemah, Biro Translasi Inkultra, dengan tenaga
penerjemah para sarjana bekas tapol. Tahun 1981-1984 Hersri bekerja sebagai
anggota redaksi di sebuah penerbit referensi dengan hasil antara lain
Ensiklopedi Indonesia, 7 jilid.
Lahir dari keluarga priayi di Yogyakarta dari tujuh bersaudara, 3 Mei 1936,
Hersri sejak mahasiswa di Fisipol UGM (1955-1961) sudah menekuni dunia
tulis-menulis. Bahkan, dengan seabrek kegiatannya, dia digolongkan sebagai
penggiat kebudayaan.
Di sekitar soal tapol, sebelum Memoar Pulau Buru, ia menulis Negara Madiun?
Kesaksian Soemarsono Pelaku Perjuangan (2002), Aku Eks Tapol (2003), dan
Kamus Gestok (2003). Masih ada tiga naskah bukunya yang belum terbit: Empat
Lakon Henri Ibsen, Savanajaya Desa Tapol Indonesia, Puisi dan Esai Sastra
dan Budaya yang Berserakan.
Menikah pada bulan Desember 1981 dengan Jitske Mulder, seorang Belanda, dan
pada Januari 1981 lahir anak mereka, Ken Maijtje Prahari, keluarga Hersri
selama beberapa tahun tinggal di Tebet. Pada tahun 1987 keluarga Hersri
pindah ke Belanda untuk keperluan pengobatan Jitske. Jitske meninggal tahun
1989, dan kini jenazahnya dimakamkan di Kockengen. Dengan nama pena Ruth
Havelaar, Jitske menulis Quattering yang diterjemahkan Hersri menjadi
Selamat Tinggal Indonesia (2002).
Di desa dengan 3.000 jiwa, letaknya 40 km tenggara Amsterdam, Hersri dan
Ken menetap hingga sekarang. Setiap pagi Hersri selalu berziarah ke pusara
istrinya. "Saya selalu terkenang dia karena berkat dia saya bangkit dari
piciknya kekuasaan. Dia perempuan berani, mencintai kesederhanaan,
kejujuran, dan cinta kasih," kenang Hersri. "Kami senang di sini,
orang-orangnya ramah," kata Hersri, setahun lalu, di rumahnya. Konckengen
yang masuk kawasan Provinsi Utrecht itu masih bersuasana desa. Ken sudah
hampir selesai dari jurusan sejarah dan kebudayaan Indonesia dan Oceania di
Universitas Leiden. "September nanti wisuda," katanya.
Sampai sekarang Hersri terus menulis, sebelumnya pernah bekerja di
Universitas Leiden sebagai penerjemah. Kebiasaan menyambangi nisan istrinya
dibenarkan Murbandono, rekannya, yang bekerja di Radio Hilversum. Apa yang
dia lakukan? Berdoa, kata Murbandono. "Ya, saya berdoa. Minta pertolongan
agar Jitske tetap mendampingi kami," tambah Hersri. "Jalma tan kena kinira
(kekuatan manusia tidak bisa kita duga)," kata Hersri setiap diingatkan
tentang kemampuannya menahan siksaan dan penderitaan sebagai tapol. "Semua
orang akan memilikinya pada saat ia tiba di satu titik ketika tidak ada
jalan lain, kecuali harus bertahan hidup." Dia menambahkan, "Mungkin inilah
secara pasif yang dimaksud Darwin dengan teorinya tentang survival of the
fittest."
Menurut Hersri, "memoar" ini sudah selesai ketika ia masih tinggal di Tebet
tahun 1981, jauh sebelum Pramoedya Ananta Toer menyelesaikan Nyanyi Sunyi
Seorang Bisu. Ketika mau diterbitkan, baik Pram maupun WF Wertheim
(almarhum)-sosiolog dari Universitas Amsterdam dengan buku klasiknya
Indonesian Society in Transition-"minta pamit" kepadanya. "Biar Pram dulu,
ya Hersri," katanya mengutip ucapan Wertheim.
Tentang risiko mengungkap penahanan tapol tahun 1965, Hersri merasa tak
peduli lagi. "Saya didorong untuk bicara sebelum saya mati. Khususnya
kepada anak saya, dia harus tahu selengkap-lengkapnya tentang sejarah hidup
orangtuanya." Sebelum "dimasyarakatkan ke Jawa", para tapol menandatangani
surat sumpah yang berisi larangan berpolitik, larangan menyebarkan ideologi
terlarang, menuntut ganti rugi, dan sebagainya. "Tapi, tidak ada larangan
bercerita tentang Buru."
Memiliki masa lalu sebagai aktivis Lekra, dengan buku ini Hersri berhasil
membebaskan diri dari tempurung picik kekuasaan. Bukunya, Memoar Pulau
Buru, merupakan kesaksian tentang sejarah kemanusiaan, terutama tentang
sisi iblisnya. Ia tampil sebagai manusia merdeka, berhasil menyuarakan apa
yang selama ini terpendam di setiap pori-pori kehidupannya. Ia sekaligus
menyuarakan penderitaan dan kepedihan yang tak tertanggungkan
kawan-kawannya sesama tapol. Tak ingin kembali ke Tanah Air? "Maunya
pengin, tapi sangunya, akh," katanya, sendu. (STS)
Terbebas dari Piciknya Kekuasaan
PUSTAKALOKA
Design By KCM
Copyright � 2002 Harian KOMPAS
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/