Mungkin inilah yang disebut 'jika akal sudah di-Tuhan-kan...ucapan 
satu orang dianggap sudah dianggap 'layak' dan 'pantas' dijadikan 
pedoman untuk melanjutkan langkah berikutnya...satu hal, soal kadar 
ketakwaan siapa yang bisa mengukur hal itu?????...wallahualam.

id

--- In [EMAIL PROTECTED], Tangkisan Letug <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Kenapa Gus Dur Ogah Mundur 
> 
> (Gusdur.net, Senin, 10 Mei 2004 )
> 
> Oleh: Adhie M. Massardi
> 
> NGOTOT. Begitulah kesan yang kita tangkap melihat gaya
> KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menyikapi penafsiran
> KPU terhadap pasal 6 (ayat d) UU No. 23 Tahun 2003,
> tentang syarat capres dan cawapres yang harus "mampu
> secara rohani dan jasmani untuk melaksanakan tugas dan
> kewajiban sebagai Presiden dan Wakil Presiden". 
> 
> Di media-media massa, baik cetak maupun elektronik,
> kita bisa menyimak pernyataan (politik) Gus Dur yang
> keras dan tajam terhadap KPU yang mengelaborasi makna
> "mampu secara rohani dan jasmani" dengan membuat MoU
> bersama Ikatan Dokter Indonesia (IDI) untuk memeriksa
> secara seksama, dengan kriteria (sehat jasmani) yang
> sangat ketat, sampai mengukur jarak pandang para
> capres dan cawapres.
> 
> Semua orang tahu, dengan kriteria kesehatan rohani dan
> jasmani yang ditetapkan para dokter spesialis dari IDI
> itu, sulit bagi Gus Dur yang memang mengalami gangguan
> kesehatan pada indra penglihatan, untuk lolos dan bisa
> berkompetisi dengan capres lain dalam pemilu presiden
> langsung yang baru pertama kali digelar di negeri ini.
> 
> Semua orang mungkin juga setuju, persyaratan jadi
> presiden di negeri sebesar Indonesia memang harus
> cermat dan ketat. Mungkin itu sebabnya dalam pasal 6
> UU Pilpres (dan Wapres) itu para anggota legislatif
> (DPR-RI) memasang tak kurang dari 20 ketentuan (dari
> huruf a sampai t) yang harus dipenuhi setiap capres
> dan cawapres. 
> 
> Oleh sebab itu, ada yang bertanya-tanya, kenapa pula
> Gus Dur minta KPU mencabut aturan yang dibuat IDI,
> organisasi profesi yang memang punya kredibilitas
> tinggi dalam mengupas masalah kesehatan? Bahkan sampai
> "mengancam" akan berada di luar sistem bila dirinya
> tak bisa berkompetisi dalam pilpres langsung gara-gara
> tafsiran KPU tentang pasal 6 ayat "d" UU No 23 Tahun
> 2003 itu? Tak cuma itu. PKB yang mencalonkannya juga
> minta fatwa dan judicial review kepada Mahkamah
> Konstitusi serta Mahkamah Agung untuk menolak tafsiran
> KPU terhadap ayat yang kontroversial itu.
> 
> Memang dalam situasi normal, sikap dan langkah Gus Dur
> (juga para pengurus PKB) terhadap ketentuan KPU dan
> para dokter spesialis dari IDI itu, terasa
> mengada-ada, tidak proporsional. Bahkan secara pribadi
> saya bisa menerima bila ada yang berkata: "Gus Dur
> tidak tahu diri. Sudah tahu indra penglihatannya
> terganggu, sok mau jadi presiden RI lagi...!"
> 
> Menjegal Gus Dur Tentang Gus Dur yang "tidak tahu
> diri" dan "sok mau jadi presiden" bisa mengundang
> perdebatan panjang yang mengarah pada "kriteria
> pemimpin politik". Saya sendiri beranggapan presiden
> adalah jabatan politik,
> jabatan publik. Untuk itu syaratnya hanya satu:
> dukungan politik, dukungan rakyat! Prosesnya ya lewat
> pemilu presiden yang langsung itu. Titik. Apalagi
> track record kepemimpinan politik Gus Dur sudah
> teruji, dan tidak bermasalah meski penglihatannya
> terganggu. (Ingat, surat pengangkatan Bagir Manan
> sebagai Ketua Mahkamah Agung ditandatangani Gus
> Dur...!)
> 
> Tapi semua orang juga tahu, persyaratan yang dibuat
> KPU-IDI itu dilandasi kepentingan politik dengan
> semangat "menjegal" Gus Dur. Karena logikanya banyak
> bertabrakkan dengan UU lainnya. Sebab kalau KPU mau
> konsisten dalam menafsirkan ayat-ayat dalam pasal 6 UU
> No. 23 Tahun 2003 itu, tentu tidak cuma ayat "d" saja,
> tapi juga ayat-ayat lainnya. Dengan demikian KPU juga
> harus membuat MoU dengan instansi atau lembaga lain,
> tak cuma dengan IDI.
> 
> Misalnya, untuk ayat a pasal 6 UU tersebut, yang
> berbunyi "bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa", KPU
> seharusnya juga bekerjasama dengan lembaga/organisasi
> keagamaan seperti NU, Muhammadiyah atau MUI, KWI, PGI,
> dan lain-lain untuk mengukur kadar ketaqwaan capres
> dan cawapres kepada Tuhan. Tapi lalu, dengan siapa KPU
> membuat MoU untuk menafsirkan ayat j yang berbunyi:
> "tidak pernah melakukan perbuatan tercela?" Apakah
> dengan lembaga etika seperti John Robert Power
> pimpinan Ibu Mien Uno itu, atau dengan siapa?
> 
> Sebagai lembaga independen yang tugasnya
> menyelenggarakan pemilu, KPU memang banyak melahirkan
> aturan ganjil. Untuk calon anggota legislatif tempo
> hari, KPU minta laporan hasil general check-up setiap
> caleg. Untuk apa? Toh faktanya tidak ada caleg yang
> bisa dibatalkan pencalegannya hanya karena
> kesehatannya negatif. 
> 
> Tulisan ini bukan untuk mengungkap aturan-aturan
> ganjil yang pernah dibuat KPU. Saya hanya ingin
> menjelaskan kenapa Gus Dur ogah mundur dari proses
> pemilu presiden yang sedang berjalan. Sebab ada yang
> menganggap Gus Dur punya ambisi terhadap kekuasaan. 
> 
> Menjadi Guru Bangsa Pada mulanya, sebagaimana
> diharapkan banyak orang, Gus Dur ingin mengambil jarak
> dari pentas politik praktis, menjadi "guru bangsa"
> atau apalah namanya. Langkah ke arah sana sudah
> dimulai di PKB, sebagai Ketua Dewan Syuro. Tugasnya
> memberikan pengarahan seraya terus mengawal proses
> demokratisasi di tubuh partai. Hak eksekusinya tetap
> di serahkan kepada para pengurus di Dewan Tanfidz
> pimpinan Alwi Shihab.
> 
> Akan tetapi ketika mengetahui proses pemilu dijalankan
> KPU dengan penuh tipu daya, melanggar undang-undang
> sesuka hati, menggunakan uang negara sembarangan dan
> cenderung korup, naluri demokrasi Gus Dur pun terusik.
> Bagaimana mungkin pemilu yang diselenggarakan oleh
> lembaga yang antidemokrasi dan korup bisa menjaring
> suara rakyat sejati? Padahal dengan bekal "suara
> rakyat sejati" inilah roda kehidupan bangsa dan nasib
> ratusan juta rakyat akan ditentukan.
> 
> Didorong oleh sejumlah fakta pelanggaran dan
> pengingkaran terhadap nilai demokrasi yang dilakukan
> KPU, mulai dari tingkat pusat sampai kelurahan itulah
> maka usai kampanye pemilu untuk PKB di antero
> Nusantara, Gus Dur kembali ke medan politik praktis.
> Bergabung dengan parpol-parpol yang masih peduli pada
> demokrasi dan nasib rakyat, dalam Aliansi Nasional
> untuk Demokrasi dan Pemerintahan Bersih. Di forum ini
> Gus Dur ditunjuk menjadi Ketua Presidium.
> 
> Tapi yang paling membuat Gus Dur berang adalah
> dihidupkannya kembali "politik diskriminasi" oleh KPU
> melalui penjabaran pasal 6 (ayat d) UU No 23 Tahun
> 2003 itu. Politik diskriminasi adalah politik paling
> kotor dalam peradaban umat manusia modern, yang
> mengakui setiap warga negara harus diperlakukan sama
> di hadapan undang-undang, juga memiliki hak yang sama,
> dalam hampir semua hal. Maka kalau KPU kita biarkan
> mengembangkan politik diskriminasi, bangsa ini akan
> kembali terperosok ke jurang kenistaan. Ingat, sudah
> jutaan nyawa melayang akibat penerapan politik
> diskriminasi ini. 
> 
> Kita masih ingat berapa juta orang jadi korban akibat
> politik diskriminasi terhadap orang-orang yang dituduh
> komunis oleh rezim Orde Baru di Indonesia, atau
> diskriminasi terhadap kaum Yahudi oleh Nazi Hitler di
> Jerman, terhadap warga kulit hitam di Afrika Selatan,
> umat Muslim di Israel, Indian di Amerika Serikat,
> Aborigin di Australia, dan lain-lain. 
> 
> Gus Dur, dan pastinya juga kita semua yang masih
> menyintai negeri ini, niscaya akan terusik dan bangkit
> melakukan perlawanan serius untuk menggagalkan upaya
> orang-orang di KPU yang tampak serius dan konsisten
> ingin mengobarkan kembali politik diskriminasi dalam
> kehidupan berbangsa dan bernegara di negeri ini,
> seperti pernah berjaya di zaman Orde Baru yang
> dimotori Golkar dan tentara.
> 
> Gus Dur sendiri tampaknya akan mau membayar berapa pun
> harganya, mengorbankan apa saja, untuk menggagalkan
> upaya KPU ini. Termasuk mengganti skenario politiknya
> untuk segera menampilkan kader muda ke pentas politik
> menggantikan dirinya. Itulah sebabnya Gus Dur berkeras
> terus maju menjadi capres, mengingkari hati nuraninya
> yang tidak ingin mengejar kedudukan. "Sebab kalau saya
> tidak maju (jadi capres), dan menggantinya dengan
> kader yang sudah saya siapkan, itu merupakan
> kemenangan kekuatan antidemokrasi dan matinya
> kehidupan demokrasi di negeri ini. Dan ini berarti
> seluruh perjuangan saya selama puluhan tahun tidak
> akan punya arti sama sakali bagi bangsa ini," ungkap
> Gus Dur.
> 
> Maklum, sudah puluhan tahun, lebih dari separuh
> usianya dihabiskan Gus Dur untuk berjuang demi
> tegaknya demokrasi dan hapusnya politik diskriminasi
> ini. Dan baru beberapa tahun belakangan ini saja
> upayanya mendapat respon positif dari masyarakat.
> Buktinya kita sudah bisa bicara terbuka soal
> diskriminasi yang dialami warga keturunan, supremasi
> sipil, dan lain-lain. 
> 
> Gagasan Gus Dur menghapus diskriminasi terhadap para
> tapol baru berhasil bulan lalu, saat Mahkamah
> Konstitusi menganulir persyaratan jadi caleg yang
> diterapkan KPU terhadap para mantan tapol. 
> 
> Nah, apakah langkah demokrasi yang baru dimulai ini
> akan kita biarkan ditarik mundur kembali jauh ke
> belakang oleh KPU? Semua itu tergantung pada kita.
> Sebab, seperti kata orang bijak, kejahatan bisa menang
> karena orang-orang baik lebih memilih diam! 
> 
> Sabtu, 8 Mei 2004
> 
> *Penulis adalah aktivis PKB 
> 
> http://www.gusdur.net/detail.asp?contentOID=1934
> 
> 
>       
>               
> __________________________________
> Do you Yahoo!?
> Yahoo! Domains � Claim yours for only $14.70/year
> http://smallbusiness.promotions.yahoo.com/offer



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
---------------------------------------------------------------------~->

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke