Jawa Pos Kamis, 27 Mei 2004, Membangun Mental Kompetitif Oleh Iba Ismail *
Beberapa minggu lalu, media masa maupun elektronik ramai mengabarkan tentang kemenangan seorang siswa Papua yang berhasil menjadi juara satu lomba internasional eksperimen fisika The First Step to Nobel Prize in Physics 2004 pada pertengahan April lalu. Sebuah prestasi yang sangat membanggakan bagi Indonesia dan khususnya Papua yang selama ini sering dikonotasikan dengan keterbelakangan, kemiskinan, serta kebodohan. Septinus George Saa, siswa SMUN 3 Waena, Jayapura, membuktikan bahwa masyarakat Papua juga mampu mengukir prestasi di tingkat internasional. Dalam waktu hampir bersamaan, April kemarin, tim FE UI berhasil meraih Golden Price dalam Kompetisi Bisnis Dunia Oreal E-Strat Challenge 4. Cerita kemenangan siswa dan mahasiswa Indonesia dalam ajang kompetisi tingkat dunia itu sejatinya sudah cukup banyak. Pada 1995, saat bangsa kita hendak merayakan ulang tahun emasnya yang ke-50, siswa-siswa Indonesia mempersembahkan kemenangan yang gemilang dalam International Science Olympiads and Their Impact. Saat itu, tim Indonesia mendapatkan banyak pujian dari negara lain. Sebab, Indonesia merupakan peserta baru, tapi mampu menorehkan prestasi yang mengejutkan. Lima siswa memperoleh medali perak dan perunggu untuk ilmu fisika dan satu orang meraih medali perak untuk ilmu komputer. Melihat data-data tersebut, jelas bahwa pelajar Indonesia memiliki kemampuan yang tidak kalah dibandingkan negara lain. Kemampuan akademis, kecerdasan, dan daya analisis generasi muda kita sangat besar. Kemenangan demi kemenangan itu seolah menjadi pelipur lara tersendiri di tengah keterpurukan dunia pendidikan kita. Prestasi-prestasi tersebut tidak hanya akan menguntungkan sang pemenang secara pribadi, tapi juga akan mengangkat citra Indonesia di mata dunia. Salah satu dampak positifnya adalah akan meningkatkan kepercayaan negara-negara asing untuk memberikan beasiswa kepada pelajar serta mahasiswa Indonesia. Sebab, akan ada asumsi bahwa pelajar-pelajar Indonesia sangat berpotensi, sehingga pantas diberi kesempatan mengembangkan kreativitasnya. Dalam jangka panjang, pelajar-pelajar berprestasi itu akan menjadi tumpuan bangsa. Pada masa mendatang, mereka diharapkan menjadi pakar-pakar ternama yang bisa mengharumkan nama bangsa. Suatu kritik yang patut diajukan ketika masyarakat ramai membicarakan kemenangan demi kemenangan yang diraih putra-putra terbaik bangsa. Yaitu, duta muda yang memenangkan berbagai penghargaan tersebut adalah mereka yang berasal dari daerah perkotaan. Mereka berasal dari sekolah-sekolah berfasilitas serba komplet dan modern. Tentunya, untuk masuk ke sekolah tersebut, diperlukan biaya yang cukup komplet pula. Setiap tahun, sekolah yang berhasil meloloskan siswanya dalam tim olimpiade sains dan teknologi hampir tidak berubah. Yakni, sekolah-sekolah swasta yang sudah sangat favorit atau sekolah negeri yang berkategori sekolah unggulan. Tipe sekolah semacam itu biasanya hanya ada di daerah perkotaan dan kota-kota tertentu. Artinya, mereka yang di sekolah terpencil dan bersarana sangat minim yang ingin ikut berkompetisi di ajang internasional hanya seperti punguk merindukan bulan. Bukan hanya ketertinggalan buku pelajaran dan variasi kumpulan soal, sarana praktik di laboratorium yang kosong, serta kualitas pengajaran guru-guru yang masih belum mencapai standar, tapi untuk sekadar mendapatkan informasi bahwa sedang ada lomba saja, mereka tidak pernah tahu. Padahal, siswa-siswa dari daerah (desa) juga memiliki kecerdasan serta kecemerlangan otak yang sangat baik. Hanya, mereka tidak tahu cara memanfaatkan kelebihan yang dimilikinya. Misalnya, Septinus George Saa. Sebelumnya, ketika masih duduk di bangku SMP yang terpencil dan sederhana, dia tidak pernah membayangkan akan bisa meraih prestasi yang begitu luar biasa di tingkat internasional. Jangankan untuk menang, informasi bahwa ada lomba yang bisa menguji kemampuan intelegensia di bidang IPTEK saja, mungkin dia tidak tahu. Dia baru menemukan jalan untuk mengaktualisasikan kecerdasannya saat masuk program sekolah unggulan milik Pemerintah Provinsi Papua di SMUN 3 Waena, Kota Jayapura. Untuk memaksimalkan potensi pelajar dan mahasiswa dalam berbagai ajang bergengsi di tingkat dunia, Depdiknas sebagai institusi birokratis pemerintah perlu melakukan langkah strategis yang harus dikonsolidasikan dengan sekolah/universitas sebagai lembaga pengajaran yang bersentuhan langsung dengan peserta didik. Dalam dunia pendidikan kita perlu dibangun budaya berkompetisi untuk mengembangkan kreativitas siswa. Hal tersebut bisa difasilitasi dengan cara menyelenggarakan berbagai lomba, sayembara, kompetisi, atau olimpiade. Yang jelas, kegiatan semacam itu akan sangat membantu para pelajar dan mahasiswa untuk memiliki mental kompetitif. Sehingga, mereka akan terdorong untuk terus berkreasi serta mengeksplorasi bakat. Selain itu, seseorang yang biasa mengikuti berbagai lomba akan memiliki kepercayaan diri dan kematangan mental ketika harus berkompetisi dengan peserta dari negara lain di tingkat dunia. Ahli strategi Sun Tzu (seorang tokoh yang hidup pada zaman Tiongkok kuno, namun tulisannya banyak sekali dimanfaatkan dalam strategi bisnis dan perang modern) menulis, suatu peperangan akan dimenangkan pihak yang mempunyai rasa percaya diri yang besar. Dengan kepercayaan diri yang besar atas kemampuan, akan semakin mantaplah langkah kita menghadapi persaingan tingkat internasional, khususnya dalam era globalisasi ini. * Iba Ismail, mahasiswa Teknik Metalurgi & Material FT UI serta peneliti di KSM Eka Prasetya UI, Depok [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70 http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

