Gus Solah Digunakan Sebagai "Rinso" Alias Pencuci Dosa
Wiranto
(Gema Warta Ranesi, 27 Mei 2004)


Intro: Ikatan Keluarga Orang Hilang Indonesia (IKOHI),
bersama para keluarga korban Senin ini mengadakan aksi
bersama menuntut Komisi Nasional HAM agar segera
membentuk KPP HAM adhoc kasus penghilangan orang
secara paksa. Mereka mencakup para korban tahun 1965
dan sampai ke kasus-kasus penculikan yang terjadi di
penghujung rejim Soeharto. Soeharto, Prabowo dan
Wiranto dinilai bertanggung jawab terhadap kasus-kasus
tersebut. Demikian tegas Mugiyanto dari IKOHI kepada
Radio Nederland. Mugiyanto khawatir masa depan
penegakan HAM bertambah suram di Indonesia, karena
Wiranto kini menjadi calon presiden. Ironisnya
Sholahuddin Wahid, Gus Solah, bekas pengurus Komnasham
yang dulu dekat dengan para aktivis pembela HAM, kini
menjadi pendampingnya. Menurut Mugiyanto, Gus Solah
bakal digunakan sebagai "rinso"nya Wiranto. Terlebih
dahulu Radio Nederland menanyakan kepada Mugiyanto
kenapa masalah ini diungkit justru pada saat Wiranto
maju sebagai capres.

Mugiyanto: Kita ingin mengingatkan masyarakat bahwa
Wiranto masih punya tangung jawab yang harus dia
pertanggung jawabkan pada masa lalu. Sehingga
masyarakat tidak salah pilih ke depan untuk menentukan
pemimpin Indonesia. 

Radio Nederland (RN): Menurut anda pribadi apa dia
tidak patut memimpin bangsa? 

M: Saya pikir dia sama sekali tidak patut. Pertama
Komnasham sebagai satu-satunya lembaga yang punya
wewenang untuk menyelidiki berbagai kasus pelanggaran
HAM, sudah menyimpulkan bahwa pada peristiwa Timor
Timur Wiranto terlibat dan harus dimintai pertanggung
jawabannya. Kemudian pada peristiwa Mei 98, yang juga
sudah dibentuk KPP HAM, yang dipimpin oleh Sholahuddin
Wahid, itu juga menyimpulkan bahwa Wiranto adalah
salah satu orang yang harus dimintai pertanggung
jawabannya. Orang seperti itu tidak patut menjadi
pemimpin Indonesia ke depan. 

Kedua yang menjadi kekhawatiran kami yang lain adalah
ketika orang seperti itu menjadi pemimpin Indonesia ke
depan, menjadi presiden, menjadi eksekutif, maka kami
yakin usaha-usaha untuk menuntaskan/menyelesaikan
kasus-kasus pelanggaran HAM masa lalu, akan ditutup.
Karena dia salah satu orang yang terlibat di sana.
Kami khawatir masa depan penegakan HAM di Indonesia
sama sekali suram dan tertutup ketika mereka menjadi
presiden. Dan perjuangan kita, para korban pelanggaran
HAM, kemudian lembaga-lembaga yang concern (prihatin)
terhadap penegakan HAM, menjadi semakin berat.

RN: Terus kenyataan bahwa wakilnya itu, Sholahuddin
Wahid, nota bene orang bekas pengurus Komnasham dan
juga yang justru mengawali atau mengangkat kasus-kasus
orang hilang dan tragedi Mei dan sebagainya kok
bersedia menjadi cawapres. Bagaimana? Apakah dia juga
patut, menurut anda?

M: Itu sebuah ironi sebetulnya. Dan sebelumnya kita
berharap Gus Solah atau Sholahuddin Wahid ini cukup
dekat dengan kami ini para korban pelanggaran HAM.
Kita sering ketemu dengan dia. Dia menyatakan
keinginannya untuk menuntaskan kasus-kasus pelanggaran
HAM masa lalu.

Nah satu minggu sebelum dia menyatakan bersedia
dipinang oleh Wiranto untuk menjadi calon wakil
presiden, kita bertemu dengan Gus Solah. Dan Gus Solah
mengatakan bahwa sebagaimana Gus Dur - Gus kan tidak
akan mau menerima pinangan Wiranto-... Tetapi satu
minggu kemudian dia menyatakan bersedia. Jadi di sini
kami para korban pelanggaran HAM ini merasa dibohongi,
merasa ditusuk dari belakang. Kami sedih sekali
sebetulnya. Gus Solah, orang yang bekerja di Komansham
dan masyarakat sudah menaroh kepercayaan yang besar
sekali di Komnasham, salah kepada Gus Solah ini, tapi
ternyata dia memilih jalan yang sangat bertentangan
dengan kami. 

RN: Tapi apakah anda tidak mengira mungkin dia itu
punya agenda dan tujuan-tujuan tersendiri makanya dia
maju sebagai pasangan Wiranto dengan tidak melupakan
perjuangan untuk menegakkan HAM, dalam hal ini membela
orang-orang hilang dan orang-orang yang dilanggar
HAMnya?

M: Yang disampaikan Gus Solah memang demikian, tetapi
kami sama sekali tidak percaya dengan realitas politik
yang ada di Indonesia ketika dia sudah betul-betul
bergandengan dengan Wiranto. Wiranto bukan orang
lemah. Golkar bukan orang lemah, yang akan begitu saja
mau menuruti apa yang diinginkan Gus Solah atau pun
PKB.

Sebaliknya, menurut kami Gus Solah hanya digunakan
oleh Wiranto dan Golkar sebagai 'rinso' untuk mencuci
dosa-dosa Wiranto dan Golkar pada masa lalu, dengan
mengambil figur Gus Solah yang dari Komnasham itu. 

Demikian Mugiyanto dari Ikatan Keluarga Korban Orang
Hilang Indonesia.

http://www.rnw.nl/in/berita/gemawarta.html#4023030


        
                
__________________________________
Do you Yahoo!?
Friends.  Fun.  Try the all-new Yahoo! Messenger.
http://messenger.yahoo.com/ 


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke