Jawa Pos Jumat, 28 Mei 2004, Menerapkan Pendidikan tanpa Kelas Oleh Agus Hilman *
PENDIDIKAN merupakan elan vital bagi kemajuan peradaban suatu bangsa dan negara. Sebab, lewat pendidikan itulah manusia berkualitas dan produktif bisa tercipta. Manusia yang berkualitas akan menjadi tolok ukur kemajuan suatu bangsa. Sebaliknya, manusia yang berilmupengetahuan terbelakang akan menjadi cermin keterbelakangan bangsanya. Dalam konteks ini, pendidikan menjadi satu-satunya ruang rekayasa manusia agar bisa bersaing dengan manusia-manusia bangsa lain. Pada tataran itulah relevansi menciptakan putra bangsa agar bisa bersaing dalam kancah internasional. Dengan demikian, tugas Indonesia sebagai negara adalah harus mampu menggali serta merekayasa sumber daya manusianya. Sehingga, Indonesia bisa berjalan bareng negara-negara internasional melalui prestasi-prestasi gemilang anak bangsanya. Dalam upaya ini, paradigma pasif yang diterapkan negara dengan hanya mencari bibit-bibit (SDM) unggul harus diubah dengan menjadi upaya aktif menciptakan bibit unggul. Suatu ikhtiar negara untuk memberikan ruang pendidikan bagi seluruh rakyatnya. Tetapi, alih-alih negara memberikan upaya rekayasa manusia berkualitas melalui pendidikan, problem pendidikan justru tidak dijadikan sebagai entitas prioritas. Negara terkesan lepas tangan terhadap pendidikan. Terlihat, upaya yang diterapkan pemerintah melalui otonomi kampus (PP No 61/1999) yang kemudian berdampak pada kurangnya akses pendidikan bagi rakyat secara menyeluruh. Saat ini, sangat sulit -untuk tidak mengatakannya mustahil- mencari pendidikan yang bisa dijangkau seluruh masyarakat Indonesia. Bahkan, institusi pendidikan ada yang cenderung melihat biaya mahal sebagai suatu kebanggaan. Pihak institusi pendidikan yang murah merasa malu dari institusi pendidikan yang bisa menerapkan biaya mahal. Sampai-sampai, sulit membedakan antara institusi pendidikan dan perusahaan. Akhirnya, pendidikan menjadi sangat diskriminatif dan dengan sendirinya membentuk fragmentasi kelas antara kaya dan miskin. Pendidikan hanya bisa dinikmati orang yang sanggup secara finansial. Pada level tersebut, yang menjadi persoalan mendasar adalah tingkat akses pendidikan yang bisa didapatkan masyarakat secara menyeluruh. Dengan memberikan tingkat akses pendidikan secara menyeluruh, potensi-potensi manusia Indonesia yang belum dijamah pendidikan bisa dioptimalkan. Dengan demikian, kesempatan anak-anak bangsa meraih prestasi-prestasi di kancah internasional menjadi besar. Nah, jika biaya pendidikan tinggi, lantas bagaimana nasib mereka yang kurang mampu? Hal itulah yang saya maksud dengan pendidikan tanpa kelas. Realitas yang harus dibangun dalam pendidikan tanpa kelas adalah kompetisi kecerdasan. Yakni, orang-orang yang mampu secara kualitaslah yang bisa mendapat pendidikan, bukan direduksi menjadi kompetisi kuantitas (baca: biaya). Itulah esensi pendidikan kompetitif. Memang, beberapa institusi pendidikan menerapkan semacam tes penerimaan anak didik. Tetapi, lagi-lagi, kelulusan tes tersebut tidak otomatis bisa diterima begitu saja, melainkan harus membayar sekian biaya pendidikan. Akhirnya, banyak sekali orang dari kalangan bawah yang tidak lulus tes kognitif, gagal merasakan pendidikan karena tidak bisa memenuhi biaya yang begitu mahal. Jika demikian, kapan masyarakat Indonesia bisa cerdas dan meraih prestasi-prestasi internasional? Banyak sekali putra bangsa yang memiliki kecerdasan luar biasa. Tetapi, kecerdasan tersebut tidak terasah hanya karena akses pendidikan yang diterima sangat rendah. Untuk mendapatkan pendidikan, mereka harus membayar mahal, sedangkan biaya itu tidak bisa dipenuhi. Pada sisi paling mendasar, realitas tersebut tentu akan merugikan negara yang sampai saat ini tercatat sebagai negara yang kualitas penduduknya tergolong bodoh dan terbelakang di dunia (lihat suvei Human Development Index/HDI 2002). Prestasi internasional dan potensi yang diperlihatkan putra daerah Papua merupakan contoh kecil asumsi-asumsi tersebut. Septinus George Saa berasal dari keluarga kurang mampu. Bahkan, dia sering membolos hanya karena kekurangan ongkos kendaraan untuk pergi ke sekolahnya. Kecerdasan Septinus yang berasal dari keluarga bawah dan pelosok itu ternyata mampu membawa medali emas serta menyisihkan 73 kontestan negara lain dalam lomba eksperimen fisika melalui paper-nya Infinite Triangle and Hexagonal Lattie Networks of Identical Resistor. Karena itu, berdasarkan pemikiran-pemikiran tersebut, sebaiknya pihak institusi pendidikan (PTN/PTS) tidak memperbesar biaya pendidikan. Jika persoalannya adalah subsidi pendidikan dari negara sangat rendah, bukan berarti lantas penerapan biaya yang mahal dilegalkan. Tetapi, negara harus serius merealisasikan subsidi yang diamanatkan undang-undang. Dengan demikian, ruang serta peluang anak-anak bangsa bisa bersaing dan mampu meraih prestasi dalam kancah internasional secara optimal terbuka lebar. * Agus Hilman, mahasiswa Sosiologi Agama IAIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70 http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

