http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=86923
Suara Karya, 29/5/2004
Jaringan Penyelamat Ibu Hamil
Oleh Haryono Suyono
Setelah tigapuluh tahun bangsa ini berusaha keras menurunkan tingkat
kematian ibu hamil dan melahirkan, yang pada tahun 1970-an besarnya masih sekitar
600-700 orang per 100.000 kelahiran, minggu ini para pelaksana gerakan itu akan
berkumpul di Jakarta.
Pertemuan itu disponsori oleh Aliansi Pita Putih, suatu forum aliansi atau
sekretariat bersama, dari individu dan organisasi yang peduli terhadap nasib para ibu
hamil yang terpaksa harus menderita karena pengetahuan terbatas dan sarana yang belum
memadai. Di samping prihatin, kita juga boleh merasa lega, karena sejak tahun 1980-an
pemerintah, dalam hal ini jajaran Departemen Kesehatan bersama-sama jajaran BKKBN,
instansi dan masyarakat luas lainnya, berdasarkan kepentingan rakyat banyak, telah
membangun jaringan pelayanan informasi dan pelayanan medis yang handal.
Dengan adanya jaringan itu dapat dirangsang partisipasi masyarakat yang
luas. Akibatnya, tingkat kematian ibu hamil dan melahirkan dapat diturunkan.
Namun penurunan itu belum menempatkan kita menjadi bangsa yang terhormat.
Biarpun dalam tigapuluh tahun terakhir ini tingkat kematian ibu hamil dan melahirkan
turun hampir 50 persen, atau lebih, yaitu dari sekitar 600-700 ibu meninggal karena
hamil dan melahirkan per 100.000 kelahiran pada tahun 1970-an, menjadi sekitar 300-305
ibu meninggal per 100.000 kelahiran pada waktu ini, posisi Indonesia belum memadai.
Prestasi ini memang menakjubkan, tetapi dengan prestasi ini keadaan di Tanah Air masih
jauh dari memuaskan. Negara tetangga terdekat, Singapura dan Malaysia, mempunyai
tingkat kematian ibu hamil dan melahirkan hanya sekitar 7 orang ibu meninggal per
100.000 kelahiran, suatu keadaan yang mirip dengan negara maju seperti Amerika Serikat
dan Inggris.
Lebih-lebih, kalau dilihat secara cermat. Keadaan di Indonesia lebih buruk
dibandingkan dengan negara-negara yang baru merdeka, atau baru membebaskan diri dari
belenggu penjajahan seperti Vietnam. Yang menyedihkan, keadaan di Tanah Air itu mirip
dengan banyak sekali negara yang terkenal miskin atau sangat miskin di Afrika.
Keberhasilan Indonesia menurunkan tingkat kematian ibu hamil dan
melahirkan, antara lain karena kita melaksanakan program KB (Keluarga Berencana) dan
membangun kesehatan rakyat dengan gencar di pedesaan. Dalam upaya itu, mengetahui
kesadaran rakyat yang rendah, pemerintah dengan sengaja mengantarkan banyak sekali
fasilitas dan pelayanan kesehatan dan KB kepada rakyat di daerah pedusunan. Sebagai
misal, untuk ber-KB bagi rakyat yang masih miskin dan kurang pengetahuannya tentang KB
dan Kesehatan, bisa mengikuti program dengan tidak harus pergi ke klinik Puskesmas,
atau tidak harus antre di rumah sakit.
Di samping itu, dibukanya Puskesmas dan klinik-klinik yang tersebar luas
di daerah kecamatan ikut mempunyai andil yang sangat besar. Lebih dari itu, penempatan
dokter di Puskesmas, penambahan dan penyebaran bidan secara besar-besaran pada tahun
1970-an memegang peranan yang sangat tinggi. Pengadaan dan penyebaran bidan yang
jumlahnya mencapai lebih dari 50.000 orang bidan itu sejalan dengan maraknya
pertumbuhan jaringan pelayanan pedesaan, seperti Posyandu dan Polindes. Jaringan ini,
yang bergerak paralel dengan upaya Puskesmas Keliling yang dilakukan oleh Jajaran
Departemen Kesehatan serta instansi lainnya, memberikan sumbangan yang tidak kecil.
Dokter Puskesmas berkeliling ke desa-desa, mengadakan pelayanan di Pos-pos
Pelayanan Terpadu (Posyandu) di pedesaan bersama masyarakat. Apabila diperlukan
konsultasi tambahan, bidan yang ada di desa dapat memberikan bantuan yang diperlukan.
Kombinasi jaringan pelayanan tetap dan pelayanan bergerak ini merangsang penduduk
pedusunan untuk makin tidak takut memeriksakan dirinya kepada para petugas medis atau
para medis. Keberanian itu merangsang partisipasi dalam bidang kesehatan dan KB yang
lebih tinggi. Lebih lanjut daripada itu, pembentukan Posyandu di desa-desa, memberi
kepercayaan kepada penduduk bahwa masalah kesehatan dan KB sesungguhnya bukan masalah
yang terlalu pelik. Semua orang bisa mengambil bagian yang berguna untuk sebesar-besar
masa depan mereka juga. Dengan cara demikian tingkat partisipasi masyarakat dapat
digalakkan dan hasilnya sungguh sangat menakjubkan. Tingkat kematian ibu hamil dan
melahirkan turun secara drastis.
Pengembangan jaringan dan upaya menggerakkan jaringan untuk maju dengan
visi dan misi, dalam suatu program terpadu, sungguh tidak mudah. Tantangan ke depan,
menurut target-target yang ditetapkan dalam berbagai pertemuan internasional, dan
telah disepakati oleh banyak negara, termasuk oleh Indonesia, tidak ringan. Pada tahun
2015 kita sepakat bahwa sasaran penurunan tingkat kematian ibu mengandung dan
melahirkan adalah 50 persen dibandingkan dengan keadaannya pada tahun 1990. Sasaran
itu tidak ringan karena dalam waktu sepuluh tahun lagi, angka kematian ibu hamil dan
melahirkan haruslah pada posisi sekitar 150 ibu meninggal per 100.000 kelahiran.
Target yang harus dicapai pada tahun 2015 tersebut tidak mudah. Ibu hamil
dan melahirkan yang diperkirakan akan mempunyai masalah dan risiko kematian terpencar
di daerah-daerah yang sulit dijangkau, mungkin saja di pegunungan, lembah yang sukar
dicapai, atau pulau terpencil, atau kalau di kota atau pinggiran kota ibu-ibu itu
berada di tempat-tempat kumuh, atau mungkin saja fasilitas medisnya tidak memadai.
Atau mungkin saja, masyarakatnya sukar diajak memahami kepentingan pemeriksaan yang
teratur. Mereka lebih mengandalkan tahayul dan kepecayaan turun-temurun yang tidak
pernah berhubungan dengan dokter, paramedis atau bidan. Atau, mereka yang banyak
dikecewakan oleh para pejabat dan tidak mau lagi berhubungan dengan jalur birokrasi di
daerahnya.
Berhubung dengan masalah pelik itu, Yayasan Damandiri telah menggalang
kerjasama dengan Ikatan Bidan Indonesia (IBI) yang secara berturut-turut mengadakan
serangkaian pertemuan dan seminar di Jakarta, Surabaya, Surakarta, Semarang, dan
Purwokerto. Dalam waktu dekat pertemuan dan seminar itu akan dilanjutkan di Malang,
Karanganyar, Sragen dan kabupaten lainnya. Pada waktu yang bersamaan, Universitas
Airlangga, dalam rangka ulang tahunnya yang ke-50, bersama Yayasan Damandiri dan Bank
Jatim, mengembangkan suatu lembaga dengan nama Indonesian Institue for Human
Development. Lembaga ini, bekerjasama dengan Asian Urban Information Center of Kobe
akan merangsang dan membantu pengembangan dan pemberdayaan sumber daya manusia di
Indonesia. Lembaga ini, di antara berbagai kegiatannya akan ikut mendongkrak
peningkatan mutu bidan di Indonesia.
Dalam pertemuan dengan ratusan bidan di Jakarta, Surabaya, Surakarta,
Semarang dan Purwokerto, disepakati bahwa dokter ahli penyakit kandungan dan dokter
ahli anak-anak, dengan bantuan lembaga ini, atau lembaga lain yang mungkin saja
menjadi mitra kerjanya, akan secara reguler mengadakan pertemuan dengan para bidan,
terutama bidan praktik swasta. Setiap pertemuan akan diisi dengan penambahan ilmu dan
kesempatan tanya jawab untuk memecahkan masalah dan menjawab pertanyaan atau persoalan
lapangan yang dihadapi para bidan dalam kegiatannya sehari-hari. Dengan demikian
diharapkan mutu pelayanan yang diberikan oleh para bidan praktik swasta itu akan
meningkat.
Dalam pertemuan dan seminar di Jakarta, Surabaya, Surakarta, Semarang dan
Purwokerto itu, guru besar, dokter ahli, dan pimpinan Yayasan Damandiri dan Pengurus
IBI, telah memberikan kuliah dan uraian populer tentang masalah-masalah kesehatan
reproduksi, kesehatan anak dan persediaan obat atau alat kontrasepsi yang terkini.
Ratusan bidan yang hadir merasa seakan-akan kembali ke bangku sekolah atau mengikuti
kuliah di Universitas. Mereka mendapatkan tambahan ilmu yang sangat berguna untuk
praktik sehari-hari yang tidak mereka perkirakan sebelumnya. Penambahan ilmu itu
memberikan rasa percaya diri yang makin tinggi.
Melihat manfaat yang tinggi itu, banyak bidan mengharapkan agar pertemuan
semacam ini bisa dikembangkan menjadi pertemuan rutin supaya para bidan selalu
disegarkan ilmu, pengetahuan dan keterampilannya. Mereka berharap dengan cara itu bisa
mendapat jawaban terhadap masalah-masalah lapangan yang selalu dihadapinya. Mereka
ingin kembali kuliah. Para bidan mengharapkan agar Universitas Airlangga, atau lembaga
pendidikan tinggi lainnya, bisa membuka jurusan baru untuk memungkinkan para bidan
melanjutkan pendidikannya ke jenjang akademis yang lebih tinggi.
Dengan semangat pemberdayaan dan peningkatan mutu pelayanan untuk ibu
hamil dan melahirkan, serta anak-anak, terutama bayi, Indonesian Institute for Human
Development dan Yayasan Damandiri, minggu ini ikut membantu penyelenggaraan suatu
pertemuan nasional Aliansi Pita Putih, suatu forum aktivis yang bergerak dalam upaya
penurunan tingkat kematian ibu hamil dan melahirkan di Indonesia. Pertemuan itu
diadakan di Jakarta, dan dibuka oleh Menteri Kesehatan RI, serta diikuti oleh pimpinan
organisasi dan lembaga yang selama ini aktif dalam upaya penurunan tingkat kematian
ibu hamil dan melahirkan.
Menyadari bahwa persoalan yang dihadapi Indonesia sangat pelik, pertemuan
para ahli dan pekerja lapangan itu mengembangkan prakarsa dan rancangan program yang
bersifat multi demensi. Di satu pihak harus meningkatkan ekstensifikasi dan
intensifikasi agar ibu hamil dan melahirkan yang belum pernah, belum biasa, atau masih
enggan, berhubungan dengan tenaga medis dan para medis, segera dengan mantap merubah
sikap dan tingkah lakunya, siap dihubungkan dengan jaringan untuk mencegah kematian
karena hamil dan melahirkan.
Karena itu pertemuan nasional yang telah berhasil menyegarkan strategi
untuk mengembangkan jaringan yang akrab dengan masyarakat di pedesaan atau masyarakat
yang kesadarannya masih rendah harus segera ditindaklanjuti. Jaringan itu harus
sanggup menjemput bola dan memberikan rasa tenteram bagi pengunjung pemula atau
mempunyai rasa takut berhubungan dengan dokter atau paramedis. Jejaring itu harus
akrab dengan peserta ulangan, yang mungkin saja mengandung untuk kedua kalinya.
Peserta ulangan ini harus diperlakukan dengan baik, sekaligus harus disadarkan agar
mengatur kehamilannya dengan baik untuk mencegah kematian karena hamil dan melahirkan
yang sia-sia. Sekaligus diharapkan mengatur kehamilan itu dalam rangka pembangunan
keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera.
Pertemuan yang berhasil diharapkan dapat mengembangkan tidak saja
strategi, tetapi dapat mendorong dikembangkannya bahan-bahan advokasi yang mudah
dimengerti, mampu merangsang kesadaran dan menjadi penuntun tingkah laku ibu hamil dan
melahirkan untuk membiasakan diri memelihara kesehatannya ekstra ketat selama hamil
dan selama masa menyusui anaknya. Perhatian terhadap kehamilan serta kepatuhan
mengikuti petunjuk yang diberikan oleh para dokter, atau tenaga paramedis dan bidan,
dengan baik akan merupakan penolak bala dan mengurangi risiko kematian karena hamil
dan melahirkan. Dengan demikian jaringan pendukung itu menjadi jaringan kepercayaan
yang baik dan disenangi.
Di bagian lain harus dikembangkan suatu program untuk memperluas jaringan
pelayanan informasi dan jaringan pelayanan medis sampai ke daerah-daerah yang masih
terisolasi, terutama daerah padat penduduk usia muda dan paritas rendah, daerah yang
masih langka fasilitas medisnya, daerah yang fasilitas medisnya masih belum banyak
terjamah, dan daerah lain yang dimasa lalu tidak atau belum tersentuh dengan pelayanan
informasi atau pelayanan medis yang baik. Daerah-daerah semacam ini akan menjadi
daerah yang sulit karena pengembangan jaringan saja tidak mencukupi. Sebaliknya
pemberian informasi tanpa jaringan pelayanan medis yang memadai tidak akan membawa
manfaat yang diharapkan.
Jaringan-jaringan itu akan menyelamatkan ibu-ibu dari risiko kematian
karena hamil dan melahirkan. Kematian yang sesungguhnya bisa dicegah, karena ibu-ibu
itu akan melahirkan anak bangsa yang kita cintai. ***
(Prof Dr Haryono Suyono adalah
pengamat sosial kemasyarakatan, dosen Unair Surabaya).
--------------------------------------------------------------------
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/