Salam,

dikutip dari milis tetangga dan coba diteliti kebenarannya.

Wassalam,
IzaM

SKENARIO MEGAWATI SOEKARNOPUTRI

Salah seorang petinggi PDIP yang kecewa karena gagal menjadi anggota
DPR RI
bercerita panjang lebar soal skenario Mega. Berikut ini
penuturannya : Dalam
rapat DPP PDIP hampir semua peserta rapat tertawa terbahak-bahak
ketika
membaca hasil survey LSI yang mengunggulkan SBY sampai 58%. Terlihat
tawa
bahagia disana ketika tahu scenario mengunggulkan SBY dikerjakan
dengan baik
oleh LSI.

Kalau mau sedikit berpikir, memang aneh gerakan tim Mega ini, walau
nampak
kasat mata, tapi tidak ada satupun media massa yang mau memberitakan
betapa
Mega begitu piawai mengobok-obok konstelasi politik dimana-mana.
Golkar
dibuat pecah berantakan dengan memunculkan faksi; AT, faksi Kalla,
dan faksi
Palloh. Keluarga besar NU dibuat cerai berai dengan munculnya kelompok
Hasyim, kelompok Gus Solah dan tentu saja the joker, Abdurahman Wahid.

Kalau mengikuti Koran dan TV misalnya, hampir-hampir semua pembicaraan
menguliti sepak terjang SBY, Wiranto dan AR. Banyak media yang berubah
menjadi partisan, terutama TVRI. Tahu tidak, kalau direktur TVRI
mendadak
diganti dengan orang Mega? Anehnya, tidak ada sedikitpun yang mencoba
mengamati gerakan Mega. Padahal gerakan Mega, dirancang oleh puluhan
akademisi dan purnawiraan militer.
Jauh sebelum Mega Presiden dibentuk, lembaga kajian untuk memuluskan
Mega ke
Istana sudah dirancang rapi.
Kepala BIN, Hendropriyono, adalah komandan dibalik scenario Mega.
Namanya
juga dinas intelejen negara, kekuatan dan keakuratan datanya sungguh
luar
biasa. Memberikan rencana A sampai Z dengan segala resikonya.
Hasilnya? Kita lihat saja paparan dibawah ini.

Menohok Pesaing Berat

Tim Mega yakin hanya Wiranto yang benar-benar penantang terkuat,
sementara
AR gampang ditaklukan, sementara SBY hanya Koran dan media massa saja
yang
membesar-besarkannya.
Coba diamati baik-baik, isu anti militerisme misalnya, jelas-jelas
hanya
menyerang Wiranto. Padahal SBY juga militer, namun sama sekali tidak
diungkit-ungkit oleh Mega. Sebab Mega memang yakin, SBY masih dibawah
kendalinya. Bukankah Kalla, Yusril merupakan anak buahnya yang paling
manis
di kabinet?
Kasus Yacob Nuwawea yang merancang ide demo misalnya, ini memang
sengaja
dibocorkan. Sebab, Mega sedang memprovokasi Wiranto, untuk jangan
macam-macam. Apalagi diketahui bahwa yang ikut rapat di pihak Yacob
Nuwa Wea
ada pentolan-pentolan GMNU, Famred, Forkot dan Dita Indah Sari.
Ada juga memang informasi yang menyatakan menyatakan bahwa bocornya
ini
karena Wiranto memang seorang militer tangguh, sehingga sudah biasa
mengendus gerakan musuh. Buktinya, dari yang hadir di rapat, nomor
telephone-nya, sampai detil suasana rapat bisa diketahui dengan pasti.
Sungguh, ini buah kerja inteljen yang luar biasa.
Mega tentu saja tidak tinggal diam, TPDI yang sudah lama "tidur" tiba-
tiba
saja membawa kasus Wiranto soal 27 Juli dan kerusuhan Mei 98 ke
Mahkamah
Agung.
Belum cukup dengan itu, semua kepala daerah dan Gubenur dikumpulkan
oleh
Mega untuk diberi wejangan khusus, mengamankan Mega ke RI 1.
Beritanya terbarunya, Mega memerintahkan Jaksa Agung M Rahman untuk
kembali
membuka kasus BNI. Sebab Mega mempunyai kartu truf soal keterlibatan
Wiranto
dengan kasus ini.

Mengobok-obok NU
Jangan dikira Hasyim Muzadi berani berseberangan dengan Gus Dur sejak
sebelum pemilu legislative karena ingin memperjuangankan NU agar
independen.
Sama sekali tidak. Hasyim memang sudah terikat kontrak dengan Mega
sejak
setahun lampau. Makanya Gus Dur tiada henti menyuarakan dimana-mana
kalau
Hasyim seorang "pembohong".
Siapa dibalik munculnya ide Golput PKB ini? Jawabnya sebetulnya
gampang
ditebak, Arifin Junaedi dan AS Hikam. Kedua orang ini berhasil
menyakinkan
GD untuk Golput. Dengan Golput, suara PKB yang 12 juta dihanguskan.
Sebuah
scenario manis dari Mega. Sebab Mega yakin, tidak mungkin pendukung
PKB
memiih dirinya. Daripada ke Wiranto, lebih baik di'hanguskan" dengan
metode
canggih. Menyerukan golput. Coba tengok ke belakang, bukankah GMNU
dan PMII
yang paling getol membela GD dengan senjata Golput? Padahal ketua
umum kedua
organisasi itu adalah orang-orang Mega. Ketua GMNU diketahui sering
berkunjung ke Yacob Nuwa Wea, sementara pengurus PMII pusat sering
terlihat
bersama Taufik Kiemas.
Sayang scenario mega kali ini kena batunya. GD ternyata Cuma
bersandiwara
ketika menyatakan bahwa tidak akan bekerjasama dengan militer dan
ngotot
maju sebagai capres. GD yang terkenal licin tahu betul, dengan
ngototnya dia
akan menaikkan nilai tawar PKB. Dan minimal 5 menteri dan 3 menko
akan jatuh
ke tangan PKB. Wiranto yang gelap mata, tentu oke-oke saja menyetujui
yang
penting dia jadi presiden.
Apakah mega diam dengan pernyataan GD mendukung Wiranto? Tentu tidak!
Setumpuk agenda baru sedang disiapkan untuk mematahkan ini. Caranya?
Tim
Mega mulai aktif mendekati basis-basis NU yang membutuhkan "bantuan".
Dengan
fasilitas uang negara yang dia punya, akan ada 1000 macam agenda untuk
merayu kaum Nahdliyin. Sementara orang-orang Mega terus memborbardir
arus
bawah NU akan "dosa-dosa" Golkar. 29 Mei 2004 akan diadakan demo
besar-besaran menggoyang Golkar. Demo ini akan didukung penuh oleh
LSM-LSM
dan mahasiswa nasionalis ini ditengarai sebagai warning dan show of
force
kubu Mega untuk lawan-lawan politiknya.
Dengan scenario ini kubu Mega berharap, di putaran kedua nanti jika
harus
ketemu Wiranto, Mega akan mendapat simpati dari masyarakat karena dia-
lah
kini satu-satunya capres sipil!


Membombardir Golkar
Golkar juga tidak luput dari incaran scenario Mega. Suara Golkar yang
24
juta, diporak porandakan dengan mengijinkan Kalla berduet dengan SBY.
Orang
bodoh sekalipun pasti mafhum, bagaimana mungkin Kalla yang ikut
konvensi
Golkar, yang didukung oleh Sultan HB 10, dan iramasuka tiba-tiba saja
ke
SBY?
Hitung-hitungannya jelas. Kalla setidaknya akan menggerogoti 5 juta
suara
Golkar dari Iramasuka. Modal SBY yang Cuma 7 juta suara ditambah 5
juta
suara Kalla, jelas cukup mudah dikalahkan oleh Mega yang sudah
mengantongi
23 juta suara solid! Ya, sementara kubu Islam dan kubu Golkar
dikocar-kacirkan, kubu PDIP nampak utuh, solid dan bersatu. 23 juta
ditambah
sedikit suara dari Hasyim cukuplah membuat Mega melenggang dengan
gampang ke
putaran kedua.

Menciptakan capres boneka
Kubu Mega juga was-was dengan gerakan AR. Untuk membuyarkan
berkumpulnya
kekuatan Islam non NU, Mega menyuruh Hamzah Haz maju ke pilpres. Coba
buka
lagi Koran dan majalah, betapa Hamzah yang tadinya begitu semangat
digaet
Mega, dibatalkan tiba-tiba. Ada apa? Karena Mega tahu, dengan menggaet
Hamzah, percuma saja. Sebab dewan Syariah PPP sudah jelas mengatakan
menolak
Mega. Dengan menyuruh Hamzah maju, Mega sedang menghanguskan 7 juta
suara
PPP. Aneh kah, sebelum maju ke pilpres Hamzah dan Agum (bukankah Agum
tim
Mega center?) meminta ijin ke Mega. Dan dikoran-koran pun jelas
dimuat, di
putaran kedua, suara pemilih Hamzah akan di berikan ke Mega. Sikap
Hamzah
ini yang kemudian membuat GPK yang underbow PPP memilih mendukung AR.

Membingungkan pendukung AR
Modal AR yang Cuma 7 juta pemilih Pan sebenarnya tidaklah membuat Mega
cemas. Tapi dengan berkumpulnya dengan PKS, setidaknya membahayakan
Mega
seandainya AR mampu ke putaran kedua. Mega scenario merekomendasikan
untuk
memilih bertemu Wiranto ke putaran kedua disbanding AR.
Lewat tangan Taufik Kiemas, Mega berhasil menyusup ke PKS dengan
menggunakan
tangan Anis Matta dan Soeripto. Dengan alasan mendukung AR berarti
membiarkan Mega dan SBY lolos keputaran kedua, dewan syuro
PKS "dipaksa"
merekomendasikan untuk mendukung Wiranto.
Aneh bukan, alasannya? Kenapa SBY yang bermodal 7 juta dijadikan
alasan
untuk menolak mendukung AR? Jawabannya jelas, dengan PKS mendukung
Wiranto,
berarti menghanguskan suara PKS. Sebab dengan mendukung Wiranto suara
PKS
akan pecah. Sebagian akan mengikuti rekomendasi dewan Syuro, sebagian
akan
ke AR. Dukungan sebagian PKS ke Wiranto bisa digantikan oleh larinya
sebagian Golkar ke Kalla. Beda jauh efeknya kalau Syuro PKS
merekomendasikan
AR. Suara PKS bisa jadi bulat. Pengikut PKS yang tanpa berikir
panjang pasti
akan berbondong-bondong ke AR dan akibatnya bisa hebat. Sebab akan
membuat
parpol-parpol gurem dan masyarakat muslim berbondong-bondong
mendukung AR
akibat magnet suara PKS. Daripada AR, jelas Mega memilih Wiranto untuk
bertarung di 5 September nanti.

Menonjolkan SBY
Skenario Mega yang paling sukses adalah dengan menonjolkan SBY,
seakan-akan
pasti menang. Padahal kalau mau berpikir, sungguh aneh kalau di
prediksi SBY
akan lolos ke putaran kedua. Modal suara yang cekak, 7 jutaan masih
teramat
jauh. Apalagi jelas-jelas kubu NU nggak bakalan ke SBY. Kubu
Muhammadiyah
apalagi. Kubu nasionalis pasti ke Mega.
Coba tanyakan ini kemana saja. Apakah ada orang yang mencoblos PAN
akan
memilih SBY? Apakah ada orang yang mencoblos PDIP akan memilih SBY?
Apakah
ada orang yang mencoblos PKS akan memilih SBY? Jawabnya gampang, amat
sangat
sedikit!
Biar tambah hebat, SBY di blow up sedemikian hebatnya, padahal kalo
betul
hebat mustinya Demokrat bisa menang pemilu dong? Pilihan presiden beda
dengan legislative? Betul, tapi gunakan logika sederhana, basis massa
SBY
itu dari mana?
Kenapa SBY ditonjolkan? Sebab Mega ingin bertemu SBY di 5 September
nanti.
Dengan melawan SBY di final, peluang Mega jadi lebih gampang.

Inti Skenario
Semua ini memang hanya berpusat pada kata akhir, Mega lebih memilih
SBY
untuk berduel di 5 September. Kalaupun bukan SBY, Mega lebih memilih
Wiranto
untuk berduel, dan menghindari AR.
Kenapa begitu? Dengan Wiranto, kubu Mega jelas memiliki setumpuk
bahan untuk
meng-KO Wiranto di depan rakyat. Dari maslah pelanggaran HAM sampai
masalah
bank BNI. Jangan lupa, kasus bobolnya BNI masih ditangan Mega. Mega
punya
cukup bukti untuk menyeret Wiranto ke pengadilan.
Dengan SBY? Ini lebih gampang lagi. SBY dan partai Demokratnya jelas
sudah
cacat di depan umat Islam. Latar belakang SBY yang terungkap di media
massa
masih 30% saja yang dibeberkan. Kubu mega punya senjata lebih ampuh
soal
siapa itu Sarwo Edi Wibowo, siapa itu Kristina, dan yang jelas kubu
Mega
berhassil menelusuri aliran dana kubu SBY. Lewat James Ryadi yang di
AS,
kubu Mega berhasil mengungkapkan betapa aliran dana SBY begitu "hitam
pekat"
!
Kubu Mega juga yakin, di 5 September nanti kubu Islam akan pikir-
pikir dan
mungkin akan Golput(nanti akan disebarkan data tentang SBY yang
sungguh
seram, yang membuat pemilih Islam tidak punya pilihan kecuali Golput),
sementara kubu NU pasti berbondong-bondong ke Mega karena ada Hasyim.
Di
putaran kedua, meskipun 50 juta orang golput tidak akan mempengaruhi
hasil
pemilu. Yang penting, siapapun yang unggul atas pesaingnya, dialah
yang jadi
presiden.

Kalau ketemu AR? Ini yang membuat bingung. Mega kesulitan menyerang AR
kecuali dengan serangan-serangan ringan semisal mencla-mencle,
ambisius, dan
gemar bicara. Serangan seperti itu jelas tidak memadai untuk
menghentikan AR
seandainya AR mampu ke putaran kedua. Satu-satunya jalan memang harus
menghentikan AR di putaran pertama! Caranya? Ya seperti yang
dipaparkan oleh
caleg PDIP diatas itu. Skenario cerdas bukan? [J-pi ]





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke