Kang Sandy,

Pagi-pagi koq anda telah mendukung SBY, pasti nih kang Sandy terlibat 
dalam tim suksesnya SBY. Berarti ada saingan tuh dg mbak Listy 
sebagai tim suksesnya Mega-Hasyim dan mbak Ida dg AMien-Uncle Sis 
nya, tuh mbak Virginianoer tim sukses sapa ya? hehehe.

Wassalam,

Kentang India.



--- In [EMAIL PROTECTED], Sandy Dwiyono <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Percuma saja, intrak-intrik nggak keruan, toh rakyat Indonesia 
tetap akan memilih Capres yang bermain bersih seperti Pak SBY.
>  
> Kubu SBY mengutamakan kebersihan dan kecantikan dalam pemilihan 
Presiden. Apa artinya kemenangan kalau dilakukan dengan curang?
>  
> Insya Allooh Pak Susilo Bambang Yudhoyono akan tetap sebagai RI-1 
ke-6, 97%.
>  
> 
> Zamhasari Jamil <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Salam,
> 
> dikutip dari milis tetangga dan coba diteliti kebenarannya.
> 
> Wassalam,
> IzaM
> 
> SKENARIO MEGAWATI SOEKARNOPUTRI
> 
> Salah seorang petinggi PDIP yang kecewa karena gagal menjadi anggota
> DPR RI
> bercerita panjang lebar soal skenario Mega. Berikut ini
> penuturannya : Dalam
> rapat DPP PDIP hampir semua peserta rapat tertawa terbahak-bahak
> ketika
> membaca hasil survey LSI yang mengunggulkan SBY sampai 58%. Terlihat
> tawa
> bahagia disana ketika tahu scenario mengunggulkan SBY dikerjakan
> dengan baik
> oleh LSI.
> 
> Kalau mau sedikit berpikir, memang aneh gerakan tim Mega ini, walau
> nampak
> kasat mata, tapi tidak ada satupun media massa yang mau memberitakan
> betapa
> Mega begitu piawai mengobok-obok konstelasi politik dimana-mana.
> Golkar
> dibuat pecah berantakan dengan memunculkan faksi; AT, faksi Kalla,
> dan faksi
> Palloh. Keluarga besar NU dibuat cerai berai dengan munculnya 
kelompok
> Hasyim, kelompok Gus Solah dan tentu saja the joker, Abdurahman 
Wahid.
> 
> Kalau mengikuti Koran dan TV misalnya, hampir-hampir semua 
pembicaraan
> menguliti sepak terjang SBY, Wiranto dan AR. Banyak media yang 
berubah
> menjadi partisan, terutama TVRI. Tahu tidak, kalau direktur TVRI
> mendadak
> diganti dengan orang Mega? Anehnya, tidak ada sedikitpun yang 
mencoba
> mengamati gerakan Mega. Padahal gerakan Mega, dirancang oleh puluhan
> akademisi dan purnawiraan militer.
> Jauh sebelum Mega Presiden dibentuk, lembaga kajian untuk memuluskan
> Mega ke
> Istana sudah dirancang rapi.
> Kepala BIN, Hendropriyono, adalah komandan dibalik scenario Mega.
> Namanya
> juga dinas intelejen negara, kekuatan dan keakuratan datanya sungguh
> luar
> biasa. Memberikan rencana A sampai Z dengan segala resikonya.
> Hasilnya? Kita lihat saja paparan dibawah ini.
> 
> Menohok Pesaing Berat
> 
> Tim Mega yakin hanya Wiranto yang benar-benar penantang terkuat,
> sementara
> AR gampang ditaklukan, sementara SBY hanya Koran dan media massa 
saja
> yang
> membesar-besarkannya.
> Coba diamati baik-baik, isu anti militerisme misalnya, jelas-jelas
> hanya
> menyerang Wiranto. Padahal SBY juga militer, namun sama sekali tidak
> diungkit-ungkit oleh Mega. Sebab Mega memang yakin, SBY masih 
dibawah
> kendalinya. Bukankah Kalla, Yusril merupakan anak buahnya yang 
paling
> manis
> di kabinet?
> Kasus Yacob Nuwawea yang merancang ide demo misalnya, ini memang
> sengaja
> dibocorkan. Sebab, Mega sedang memprovokasi Wiranto, untuk jangan
> macam-macam. Apalagi diketahui bahwa yang ikut rapat di pihak Yacob
> Nuwa Wea
> ada pentolan-pentolan GMNU, Famred, Forkot dan Dita Indah Sari.
> Ada juga memang informasi yang menyatakan menyatakan bahwa bocornya
> ini
> karena Wiranto memang seorang militer tangguh, sehingga sudah biasa
> mengendus gerakan musuh. Buktinya, dari yang hadir di rapat, nomor
> telephone-nya, sampai detil suasana rapat bisa diketahui dengan 
pasti.
> Sungguh, ini buah kerja inteljen yang luar biasa.
> Mega tentu saja tidak tinggal diam, TPDI yang sudah lama "tidur" 
tiba-
> tiba
> saja membawa kasus Wiranto soal 27 Juli dan kerusuhan Mei 98 ke
> Mahkamah
> Agung.
> Belum cukup dengan itu, semua kepala daerah dan Gubenur dikumpulkan
> oleh
> Mega untuk diberi wejangan khusus, mengamankan Mega ke RI 1.
> Beritanya terbarunya, Mega memerintahkan Jaksa Agung M Rahman untuk
> kembali
> membuka kasus BNI. Sebab Mega mempunyai kartu truf soal keterlibatan
> Wiranto
> dengan kasus ini.
> 
> Mengobok-obok NU
> Jangan dikira Hasyim Muzadi berani berseberangan dengan Gus Dur 
sejak
> sebelum pemilu legislative karena ingin memperjuangankan NU agar
> independen.
> Sama sekali tidak. Hasyim memang sudah terikat kontrak dengan Mega
> sejak
> setahun lampau. Makanya Gus Dur tiada henti menyuarakan dimana-mana
> kalau
> Hasyim seorang "pembohong".
> Siapa dibalik munculnya ide Golput PKB ini? Jawabnya sebetulnya
> gampang
> ditebak, Arifin Junaedi dan AS Hikam. Kedua orang ini berhasil
> menyakinkan
> GD untuk Golput. Dengan Golput, suara PKB yang 12 juta dihanguskan.
> Sebuah
> scenario manis dari Mega. Sebab Mega yakin, tidak mungkin pendukung
> PKB
> memiih dirinya. Daripada ke Wiranto, lebih baik di'hanguskan" dengan
> metode
> canggih. Menyerukan golput. Coba tengok ke belakang, bukankah GMNU
> dan PMII
> yang paling getol membela GD dengan senjata Golput? Padahal ketua
> umum kedua
> organisasi itu adalah orang-orang Mega. Ketua GMNU diketahui sering
> berkunjung ke Yacob Nuwa Wea, sementara pengurus PMII pusat sering
> terlihat
> bersama Taufik Kiemas.
> Sayang scenario mega kali ini kena batunya. GD ternyata Cuma
> bersandiwara
> ketika menyatakan bahwa tidak akan bekerjasama dengan militer dan
> ngotot
> maju sebagai capres. GD yang terkenal licin tahu betul, dengan
> ngototnya dia
> akan menaikkan nilai tawar PKB. Dan minimal 5 menteri dan 3 menko
> akan jatuh
> ke tangan PKB. Wiranto yang gelap mata, tentu oke-oke saja 
menyetujui
> yang
> penting dia jadi presiden.
> Apakah mega diam dengan pernyataan GD mendukung Wiranto? Tentu 
tidak!
> Setumpuk agenda baru sedang disiapkan untuk mematahkan ini. Caranya?
> Tim
> Mega mulai aktif mendekati basis-basis NU yang 
membutuhkan "bantuan".
> Dengan
> fasilitas uang negara yang dia punya, akan ada 1000 macam agenda 
untuk
> merayu kaum Nahdliyin. Sementara orang-orang Mega terus memborbardir
> arus
> bawah NU akan "dosa-dosa" Golkar. 29 Mei 2004 akan diadakan demo
> besar-besaran menggoyang Golkar. Demo ini akan didukung penuh oleh
> LSM-LSM
> dan mahasiswa nasionalis ini ditengarai sebagai warning dan show of
> force
> kubu Mega untuk lawan-lawan politiknya.
> Dengan scenario ini kubu Mega berharap, di putaran kedua nanti jika
> harus
> ketemu Wiranto, Mega akan mendapat simpati dari masyarakat karena 
dia-
> lah
> kini satu-satunya capres sipil!
> 
> 
> Membombardir Golkar
> Golkar juga tidak luput dari incaran scenario Mega. Suara Golkar 
yang
> 24
> juta, diporak porandakan dengan mengijinkan Kalla berduet dengan 
SBY.
> Orang
> bodoh sekalipun pasti mafhum, bagaimana mungkin Kalla yang ikut
> konvensi
> Golkar, yang didukung oleh Sultan HB 10, dan iramasuka tiba-tiba 
saja
> ke
> SBY?
> Hitung-hitungannya jelas. Kalla setidaknya akan menggerogoti 5 juta
> suara
> Golkar dari Iramasuka. Modal SBY yang Cuma 7 juta suara ditambah 5
> juta
> suara Kalla, jelas cukup mudah dikalahkan oleh Mega yang sudah
> mengantongi
> 23 juta suara solid! Ya, sementara kubu Islam dan kubu Golkar
> dikocar-kacirkan, kubu PDIP nampak utuh, solid dan bersatu. 23 juta
> ditambah
> sedikit suara dari Hasyim cukuplah membuat Mega melenggang dengan
> gampang ke
> putaran kedua.
> 
> Menciptakan capres boneka
> Kubu Mega juga was-was dengan gerakan AR. Untuk membuyarkan
> berkumpulnya
> kekuatan Islam non NU, Mega menyuruh Hamzah Haz maju ke pilpres. 
Coba
> buka
> lagi Koran dan majalah, betapa Hamzah yang tadinya begitu semangat
> digaet
> Mega, dibatalkan tiba-tiba. Ada apa? Karena Mega tahu, dengan 
menggaet
> Hamzah, percuma saja. Sebab dewan Syariah PPP sudah jelas mengatakan
> menolak
> Mega. Dengan menyuruh Hamzah maju, Mega sedang menghanguskan 7 juta
> suara
> PPP. Aneh kah, sebelum maju ke pilpres Hamzah dan Agum (bukankah 
Agum
> tim
> Mega center?) meminta ijin ke Mega. Dan dikoran-koran pun jelas
> dimuat, di
> putaran kedua, suara pemilih Hamzah akan di berikan ke Mega. Sikap
> Hamzah
> ini yang kemudian membuat GPK yang underbow PPP memilih mendukung 
AR.
> 
> Membingungkan pendukung AR
> Modal AR yang Cuma 7 juta pemilih Pan sebenarnya tidaklah membuat 
Mega
> cemas. Tapi dengan berkumpulnya dengan PKS, setidaknya membahayakan
> Mega
> seandainya AR mampu ke putaran kedua. Mega scenario merekomendasikan
> untuk
> memilih bertemu Wiranto ke putaran kedua disbanding AR.
> Lewat tangan Taufik Kiemas, Mega berhasil menyusup ke PKS dengan
> menggunakan
> tangan Anis Matta dan Soeripto. Dengan alasan mendukung AR berarti
> membiarkan Mega dan SBY lolos keputaran kedua, dewan syuro
> PKS "dipaksa"
> merekomendasikan untuk mendukung Wiranto.
> Aneh bukan, alasannya? Kenapa SBY yang bermodal 7 juta dijadikan
> alasan
> untuk menolak mendukung AR? Jawabannya jelas, dengan PKS mendukung
> Wiranto,
> berarti menghanguskan suara PKS. Sebab dengan mendukung Wiranto 
suara
> PKS
> akan pecah. Sebagian akan mengikuti rekomendasi dewan Syuro, 
sebagian
> akan
> ke AR. Dukungan sebagian PKS ke Wiranto bisa digantikan oleh larinya
> sebagian Golkar ke Kalla. Beda jauh efeknya kalau Syuro PKS
> merekomendasikan
> AR. Suara PKS bisa jadi bulat. Pengikut PKS yang tanpa berikir
> panjang pasti
> akan berbondong-bondong ke AR dan akibatnya bisa hebat. Sebab akan
> membuat
> parpol-parpol gurem dan masyarakat muslim berbondong-bondong
> mendukung AR
> akibat magnet suara PKS. Daripada AR, jelas Mega memilih Wiranto 
untuk
> bertarung di 5 September nanti.
> 
> Menonjolkan SBY
> Skenario Mega yang paling sukses adalah dengan menonjolkan SBY,
> seakan-akan
> pasti menang. Padahal kalau mau berpikir, sungguh aneh kalau di
> prediksi SBY
> akan lolos ke putaran kedua. Modal suara yang cekak, 7 jutaan masih
> teramat
> jauh. Apalagi jelas-jelas kubu NU nggak bakalan ke SBY. Kubu
> Muhammadiyah
> apalagi. Kubu nasionalis pasti ke Mega.
> Coba tanyakan ini kemana saja. Apakah ada orang yang mencoblos PAN
> akan
> memilih SBY? Apakah ada orang yang mencoblos PDIP akan memilih SBY?
> Apakah
> ada orang yang mencoblos PKS akan memilih SBY? Jawabnya gampang, 
amat
> sangat
> sedikit!
> Biar tambah hebat, SBY di blow up sedemikian hebatnya, padahal kalo
> betul
> hebat mustinya Demokrat bisa menang pemilu dong? Pilihan presiden 
beda
> dengan legislative? Betul, tapi gunakan logika sederhana, basis 
massa
> SBY
> itu dari mana?
> Kenapa SBY ditonjolkan? Sebab Mega ingin bertemu SBY di 5 September
> nanti.
> Dengan melawan SBY di final, peluang Mega jadi lebih gampang.
> 
> Inti Skenario
> Semua ini memang hanya berpusat pada kata akhir, Mega lebih memilih
> SBY
> untuk berduel di 5 September. Kalaupun bukan SBY, Mega lebih memilih
> Wiranto
> untuk berduel, dan menghindari AR.
> Kenapa begitu? Dengan Wiranto, kubu Mega jelas memiliki setumpuk
> bahan untuk
> meng-KO Wiranto di depan rakyat. Dari maslah pelanggaran HAM sampai
> masalah
> bank BNI. Jangan lupa, kasus bobolnya BNI masih ditangan Mega. Mega
> punya
> cukup bukti untuk menyeret Wiranto ke pengadilan.
> Dengan SBY? Ini lebih gampang lagi. SBY dan partai Demokratnya jelas
> sudah
> cacat di depan umat Islam. Latar belakang SBY yang terungkap di 
media
> massa
> masih 30% saja yang dibeberkan. Kubu mega punya senjata lebih ampuh
> soal
> siapa itu Sarwo Edi Wibowo, siapa itu Kristina, dan yang jelas kubu
> Mega
> berhassil menelusuri aliran dana kubu SBY. Lewat James Ryadi yang di
> AS,
> kubu Mega berhasil mengungkapkan betapa aliran dana SBY 
begitu "hitam
> pekat"
> !
> Kubu Mega juga yakin, di 5 September nanti kubu Islam akan pikir-
> pikir dan
> mungkin akan Golput(nanti akan disebarkan data tentang SBY yang
> sungguh
> seram, yang membuat pemilih Islam tidak punya pilihan kecuali 
Golput),
> sementara kubu NU pasti berbondong-bondong ke Mega karena ada 
Hasyim.
> Di
> putaran kedua, meskipun 50 juta orang golput tidak akan mempengaruhi
> hasil
> pemilu. Yang penting, siapapun yang unggul atas pesaingnya, dialah
> yang jadi
> presiden.
> 
> Kalau ketemu AR? Ini yang membuat bingung. Mega kesulitan menyerang 
AR
> kecuali dengan serangan-serangan ringan semisal mencla-mencle,
> ambisius, dan
> gemar bicara. Serangan seperti itu jelas tidak memadai untuk
> menghentikan AR
> seandainya AR mampu ke putaran kedua. Satu-satunya jalan memang 
harus
> menghentikan AR di putaran pertama! Caranya? Ya seperti yang
> dipaparkan oleh
> caleg PDIP diatas itu. Skenario cerdas bukan? [J-pi ]




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke