http://www.suarapembaruan.com/News/2004/06/02/index.html
SUARA PEMBARUAN DAILY Waisak dan Pendidikan Agama Kontekstual Oleh Jo Priastana BANYAK keluhan disuarakan masyarakat terhadap kekurangan yang terjadi pada pendidikan agama selama ini. Masyarakat Indonesia masih menaruh harapan besar dan memandang pendidikan agama sebagai titik utama di dalam membangun moralitas dan spiritual bangsanya. Dan, ketika ternyata moralitas masyarakat yang bermutu, seperti yang tampak pada tingginya tingkat kriminalitas, anak-anak sekolah yang jauh dari etika dan budi pekerti, kekerasan dan gejala korupsi, tidak terwujud, maka peran pendidikan agama itu pun menjadi banyak keluhan dan dipertanyakan. Selama ini pendidikan agama dianggap tidak sanggup memainkan perannya sebagai penegak moralitas masyarakat, dan dinilai telah tidak memadai. Kekurangan itu di antaranya disebabkan oleh kecenderungan pendidikan agama yang bersifat normatif dan tekstual, yang lebih menekankan pada proses pewarisan agama daripada menjadikan anak didik dapat mencari pengalaman keberagamaan, serta terpenuhinya diri anak didik dengan nilai-nilai moralitas-spiritualitas agamanya. Gencarnya keluhan terhadap pendidikan agama seperti itu, menyebabkan munculnya pendapat untuk meniadakan saja pendidikan agama. Namun, tampaknya pendapat untuk meniadakan pendidikan agama di sekolah ini -sebagaimana yang banyak terjadi di negara-negara lain- untuk negara Indonesia yang dikatakan bukan negara sekuler ini, masih sangat sukar diterima. Negara tampaknya masih berkewajiban menunjang penyelenggaraan agama, termasuk menempatkan pendidikan agama sebagai kurikulum di sekolah. Karena itu, untuk mengisi kekurangan itu, tiada salahnya bila kita melihat dimensi pendidikan agama, yang sekiranya dapat memenuhi harapan itu, yakni pendidikan agama yang bersifat empiris atau pendidikan agama kontekstual, sebagaimana yang terkandung di dalam peristiwa Waisak. Pendidikan Agama Dalam rangka mengisi kekurangan pendidikan agama yang sifatnya normatif-tekstual atau dogmatis, yang juga berlaku untuk pendidikan agama Buddha itu, amat perlu untuk merintis dan mengembangkan metode pendidikan agama kontekstual. Pendidikan agama kontekstual itu diharapkan mampu mengisi kekurangan sisi normatif pendidikan agama selama ini, sehingga dapat memadukan dan melengkapi dimensi normatif-tekstual yang dogmatis dengan dimensi historis-empiris agama yang kontekstual. Pengembangan metode pendidikan agama kontekstual itu diharapkan akan mencerminkan berlangsungnya pendidikan agama yang ideal, yang menunjukkan terjadinya dua kekuatan legitimatif yang saling melengkapi bagi suatu agama, yakni legitimasi tekstual dan legitimasi kontekstual. Dimensi tekstual akan menjamin keabsahan ajaran agama menurut sumbernya, sedangkan dimensi kontekstual akan membuktikan keabsahan tekstual itu dalam kenyataan hidup dan perkembangan zaman. Dimensi kontekstual juga bisa dipahami bagaimana mewujudkan esensi agama dalam konteks kehidupan, di samping juga menjanjikan anak didik mampu menemukan dimensi-dimensi ajaran yang terdapat dalam fenomena kehidupan dan alam semesta. Dimensi kontekstual inilah yang terlihat di dalam pencarian spiritual pemuda Siddharta yang akhirnya menemukan pengalaman religius agungnya dalam pencapaian kebuddhaannya dalam purnama Waisak 2548 tahun lalu. Begitu pula setelah menjadi Buddha, Sang Buddha selalu mengutamakan metode yang kontekstual dan menekankan kepada setiap siswanya untuk menemukan dan mengalami sendiri pengalaman religius dan hukum kebenaran itu. Dengan cara pendidikan agama kontekstual yang dilakoni Buddha selama 45 tahun pembabaran Dharmanya, hingga wafatnya di usia 80 tahun, banyak dihasilkan siswa yang mencapai kesucian dan pencerahan. Segi pencarian itulah yang sangat ditekankan oleh Buddha, sebagaimana ia sendiri mengalaminya di dalam pencapaian Waisaknya. Dalam pendidikan agama, proses pencarian itu dapat dikembangkan menjadi pendidikan agama kontekstual. Segi kontekstual-empiris atau pengalaman keberagaman itu pula yang juga ditekankan Robert N Bellah, yang mengungkapkan, agama pada hakikatnya adalah suatu instrumen bagaimana manusia bisa berdialog dengan Tuhan, menangkap pesan-pesan Tuhan dan bisa berperilaku religius. Dalam bahasa yang sedikit lain, fungsi dari pendidikan agama pada hakikatnya adalah bagaimana memberikan wahana yang kondusif bagi anak didik untuk menghayati agamanya. Pendidikan agama tidak hanya sekedar teoretis (berdasarkan norma tekstual saja), tetapi juga mencakup penghayatan yang benar-benar dikonstruksi dari pengalaman beragama (bersifat kontekstual). Agama, tidak bisa tidak, harus memberikan keragaman (pluralitas) bagi tumbuh suburnya penghayatan dan pengalaman beragama, dan bukan sekadar pengajaran teks-teks suci yang bersifat dogmatis dan normatif. Buddhadharma Kontekstual Waisak yang memperingati tiga peristiwa agung; kelahiran Siddharta, pencapaian penerangan sempurna pertapa Siddharta menjadi Buddha, dan parinirvana atau wafatnya Buddha Gautama, bisa dilihat sebagai suatu perjalanan sosok manusia yang senantiasa mencari pengalaman religius, menemukan hukum kesunyataan, dan pada akhirnya membabarkan hukum kesunyataan tersebut secara kontekstual. Buddha selalu mengingatkan, setiap manusia dapat mencapai kebuddhaannya masing-masing, dan untuk itu temukanlah kebuddhaan itu dalam diri dan pengalaman hidup masing-masing. Mencermati apa yang dicapai Buddha dalam Hari Waisak, yang kerap dipandang sebagai peristiwa mistikal setelah bertahun-tahun melakukan pengembaraan spiritual, maka peristiwa pengalaman mistiknya itu bukanlah berarti sama sekali tidak mencerminkan hakikat yang satu dan sama dari berbagai tradisi pengalaman mistik, yang juga terdapat di dalam agama-agama lainnya. Sebagaimana Inayat Khan (1882-1927), seorang sufi India, yang mengibaratkan rasa-satu agama, kebenaran esensial yang dialami dalam peristiwa mistik itu, adalah air yang bisa terwujud dalam berbagai bentuk agama-agama. Air yang membentuk menjadi sungai, danau, laut, kolam, maupun ombak dan sebagainya. Setiap orang harus menemukan kebenaran, kebuddhaannya sendiri, kebenaran yang diisyaratkan di dalam ajaran-ajaran agamanya yang telah tersurat-tekstual. Terhadap Dharmanya yang telah diajarkannya, dan ini kemudian dituliskan oleh para siswanya menjadi Kitab suci yang bernama Tri-Pitaka, Buddha sendiri hanya memperumpamakannya dengan segenggam daun. Menurutnya, masih terdapat dharma-dharma lainnya ketimbang yang telah diajarkan (yang kemudian menjadi teks dalam kitab suci) seperti daun-daun di hutan luas. Daun dharma itu luas dan tidak terbatas, dan setiap orang dituntut untuk mencari dan menemukannya sendiri daun-daun dharma itu, karena kebenaran itu terdapat di mana saja, dalam fenomena kehidupan dan alam semesta. Perumpamaan itu pun dapat menunjukkan segi tekstual dan kontekstual Buddha Dharma. Karena itulah, dalam konteks pendidikan, termasuk di sini pendidikan agama Buddha, sangat penting untuk dapat mengajak anak didik melihat dan menemukan dharma yang kontekstual ini, dharma yang tidak hanya semata tertera di dalam kitab suci, tetapi dharma dalam kehidupan yang justru menjadi rujukan kitab suci. Memang Dharma tekstual pun merujuk kepada realitas kehidupan yang sesungguhnya, karena dharma itu pun sebagaimana Buddha nyatakan mampu membawa kita kepada pantai seberang. Dharma tekstual adalah ibarat jari yang menunjuk ke bulan, dan karenanya kita pun tidak perlu hanya terpaku atau berhenti pada jari itu semata, karena jari itu sesungguhnya untuk menunjukkan bulan, realitas kehidupan dan alam semesta yang jauh lebih luas, indah, dan dalam. Bulan terang dalam purnama Waisak 2548 tahun lalu mengandung dimensi pendidikan yang kontekstual, mengingatkan kita untuk melihat dan mengalami langsung kehangatan sinar kebenaran itu sendiri melalui pengembaraan spiritual dalam realitas kehidupan yang sebenarnya, yang sejati. Kebuddhaan itu selalu dapat ditemukan di mana saja, ditumbuhkembangkan dalam realitas nyata dan bersifat kontekstual. Akhirnya, pendidikan agama kontekstual itu bukanlah hanya berlaku untuk pendidikan agama di sekolah, namun juga perlu terjadi dalam hidup seseorang, siapa saja, sebagai suatu gambaran bahwa kehidupan yang dijalani ini merupakan suatu pengembaraan spiritual, sebagaimana yang dicerminkan oleh kehidupan Siddharta dalam pencapaian pencerahan Waisak-Nya. Selamat Waisak 2548/2004.* Penulis adalah dosen Sekolah Tinggi Agama Buddha Nalanda, Jakarta. Last modified: 2/6/04 ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70 http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

