http://www.indomedia.com/bpost/062004/2/opini/opini1.htm

Rabu, 02 Juni 2004 02:13

Pendidikan Dalam Perspektif Pemberdayaan
Oleh Muhammad Ridha SAg *

Sebelum membicarakan masalah pendidikan dan proses pemberdayaan, maka mau
tidak mau kita harus melakukan refleksi filosofis tentang hakikat manusia.
Pernyataan ini memiliki implikasi bagi pengembangan kehidupan sosial,
budaya, ekonomi, politik dan idiologi.
Penempatan manusia sebagai titik sentral ini, tidak berarti bahwa pengaruh
dan tuntunan masyarakat serta lingkungan sama sekali dilepaskan. Antara
manusia, masyarakat dan lingkungannya ada dialektika yang terus menerus, di
mana yang satu mempengaruhi yang lain. Maka dalam konteks ini, pendidikan
berfungsi sebagai wacana interaktif antara manusia dengan lingkungannya. Hal
ini disebabkan, manusia memiliki potensi kemerdekaan untuk memilih dan
melakukan berbagai macam tindakan sesuai pilihannya.
Ali Sarianti, salah seorang intelektual Iran yang tersohor mengatakan,
manusia adalah satu-satunya makhluk yang dapat memilih bagi dirinya sendiri.
Pilihan tersebut dapat bertentangan dengan instinknya, alam, masyarakat
ataupun dengan dorongan yang bersifat fisiologis dan psikologisnya.
Kebebasan memilih itulah yang dapat mendorong manusia mencapai tarap
tertinggi dari proses menjadi manusia dengan realitas kemanusiaannya.
Wacana tentang manusia semacam itu, yang mestinya menjadi acuan dalam
mengembangkan pendidikan dengan perspektif pemberdayaan. Namun yang menjadi
problem sekarang adalah model pendidikan bagaimana yang mampu membawa misi
pembebasan dan pemberdayaan itu?
Akhir-akhir ini bermunculan berbagai kritik yang dialamatkan terhadap dunia
pendidikan kita. Salah satu kritik cukup tajam yaitu realitas proses belajar
mengajar kita saat ini lebih banyak hanya mengejar target kurikulum yang
ditentukan. Oleh karena itu, yang terjadi kemudian adalah peserta didik
dipaksa menyerap semua informasi yang diberikan tanpa diberi peluang sedikit
pun untuk melakukan perenungan maupun refleksi diri secara kritis. Paling
ironis adalah materi yang disajikan berupa konsep pengetahuan, aturan dan
keterampilan yang serba given. Akibatnya, cara penyampaian dan metodologi
yang dipakai cenderung menolog, monoton, indoktrinatif dan berpusat kepada
satu orang saja.
Paulo Freire menyebut pendidikan seperti di atas dengan istilah bank
concept. Ia mengkritik pendidikan gaya ini, karena menjauhkan diri dari misi
ke arah pembebasan dan pemberdayaan. Menurut ia, pendidikan model bank
boncept hanya melihat pengetahuan, nilai dan keterampilan sebagai anugrah
yang dihibahkan oleh seorang pendidikan kepada peserta didik. Proses seperti
ini diasumsikannya sebagai kegiatan menabung, di mana peserta didik sebagai
tempat menabung dan guru sebagai penabung sehingga tidak ada komunikasi dan
dialog dalam proses belajar mengajar.
Jika dalam institusi pendidikan telah terjadi perkembangan dalam semua hal
dengan ketat dan peserta didik dipaksa melakukan internalisasi, maka akibat
sosial sebagaimana dikemukakan Illich adalah polosi fisik, polarisasi sosial
dan impotensi psikologis. Sedangkan menurut Friere, praktik pendidikan
seperti di atas akan memunculkan kebudayaan bisu di masyarakat sebagai
akibat dari dihinggapinya rasa takut terhadap kebebasan dan kemerdekaan
individual.
Sehubungan dengan cita-cita menjadikan pendidikan sebagai pratik
pemberdayaan, dalam kaitan ini ada beberapa pemikiran yang tentu saja masih
dibutuhkan kajian, diskusi dan renungan yang lebih mendalam yaitu: Pertama,
pendidikan sebagai praktik pemberdayaan, di mana visi pendidikan menjadikan
manusia sebagai basis utama atau titik sentral. Untuk itu perlu
direkonstruksi secara mendasar tentang kerangka pandang filosofis kita dalam
melihat keberadaan manusia. Cara pandang manusia yang bersifat reduktif,
sudah waktunya kita tinggalkan dan menggantinya dengan cara pandang lebih
mendasar dan yang dapat mempertahankan keutuhan manusia yaitu dengan
mengelaborasi konsep tentang manusia Indonesia seutuhnya dalam kerangka
pandang tujuan pendidikan nasional yang lebih optimal.
Kedua, pendidikan merupakan institusi yang bercorak teleologis. Artinya,
mengarah kepada tujuan yang ingin dicapai, maka perlu dilakukan reformulasi
tujuan pendidikan agar lebih khusus dan konkrit, pendidikan lebih mengarah
kepada praktik pemberdayaan manusia yang lebih optimal.
Ketiga, inti kegiatan pendidikan adalah belajar mengajar. Betapa pun baiknya
filsafat pendidikan, tetapi jika tidak ditindaklanjuti dengan kegiatan
proses belajar mengajar yang baik, maka pendidikan dapat dikatakan mengalami
kegagalan semenjak proses paling awal. Terhadap kegiatan proses belajar ini
sudah saatnya dikembangkan wawasan imansipatoris, di mana peserta didik
diberikan cukup keleluasaan dalam mengaktualisasi potensi kediriannya. Yang
ingin dikembangkan dalam proses belajar mengajar dengan konsep
emansipatoris, adalah hubungan yang berdasarkan kemitraan antara pendidik
dan peserta didik.
Keempat, sering kita menyaksikan peserta didik teralinasi dari kehidupan
sosial dan karena itu kurang memiliki kepekaan dalam membaca realitas
sosial. Akibatnya, peserta didik kehilangan kekuatan di tengah derasnya
perubahan. Hal ini disebabkan, peserta didik kita tidak diajak berpikir
induktif imperik dan kritis tentang realitas sosial yang ada di sekitarnya.
John Dewey merekomendasikan tiga hal yang harus dipertimbangkan dalam
mengembangkan sistem pendidikan. Pertama, hakikat dan kebutuhan peserta
didik. Kedua, hakikat dan kebutuhan masyarakat. Ketiga, masalah pokok yang
digumuli peserta didik untuk mengembangkan diri sebagai pribadi yang matang
dan mampu menjalin hubungan dengan pribadi lain dalam masyarakat.
Jika inti kehidupan masyarakat ada perubahan, maka dengan mendekatkan
pendidikan terhadap masyarakat, diharapkan manusia yang dihasilkan dari
pendidikan mampu berada pada posisi sentral dalam perubahan yang terjadi dan
mampu pula mengarahkan serta mengendalikan perubahan itu. Pendidikan seperti
inilah barangkali yang memiliki perspektif pemberdayaan.
Pengamat Pendidikan



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke