----- Original Message ----- 
 Perempuan-perempuan Perkasa (2)
(Berita / Kekerasan)
Tanggal: Selasa, 01 Juni 2004 - 06:49 PM WIB

 URL:
http://www.wanita-muslimah.com/modules.php?op=modload&name=News&file=article&sid=153&newlang=ind


 Perempuan-perempuan Perkasa di Ranah Konflik Konflik Bersenjata (2)

 Penyampai fakta dan kebenaran.

 Sama seperti di tahun 1998, dimana 2 perempuan janda korban  DOM dengan
beraninya bertestimoni di Jakarta untuk menyampaikan fakta dan realita yang
terjadi di Aceh, saat inipun perempuan tetap mengambil peran tersebut.
Begitu banyak ancaman, tekanan dan kekerasan ditengah operasi DM, namun
tidak menghentikan langkah mereka untuk menyampaikan informasi agar di
ketahui dunia. Banyak diantaranya berbicara dengan suara menggeletar menahan
tangis, tangan gemetaran ketakutan, mata membasah, tapi tidak melunturkan
tekat untuk menyampaikan kebenaran. Mereka tetap bergerak diantara rasa
takut yang mencekam. Seperti pengalaman seorang Ibu di  Desa Meunasah Bale,
Kecamatan Mutiara Timur,  Pidie yang menceritakan anaknya yang berusai 16
tahun dan  menjadi korban penembakan oleh  tentra RI, kepada wartawan.

 "Dia seperti hilang begitu saja,"   suaranya parau, seraya menutup muka
dengan tangan, menahan tangis.  "Saya sebenarnya tak sanggup bercerita, tapi
ini harus saya ceritakan, agar orang-orang tahu anak saya tak bersalah,"
tekatnya begitu kuat. Menurutnya pernah sekali waktu, orang-orang yang
mengaku aparat keamanan datang ke rumahnya. "Mereka bilang, lupakan saja
kejadian itu. Tetapi, saya katakan, saya tak bisa melupakannya, sampai kapan
pun"[11].

 Pemberi semangat, Membangun kekuatan.

Ketika penyelenggaraan DOM, ada desa yang dinamakan "Bukit Janda". Hal ini
muncul karena di desa tersebut hanya tinggal perempuan saja, dengan anak
kecil dan beberapa laki-laki yang sudah lanjut usia. Sebagian laki-laki
memang terbunuh, diculik, tapi sebagian lagi pergi meninggalkan desa demi
keamanan, dan kembali pada pasa paska DOM. Namun  Paska DOM-pun ternyata
tetap ada desa yang menjadi "kampung janda" , karena berbagai operasi yang
digelar pemerintah untuk menumpas GAM.

Dalam kondisi tersenbut, perempuan-perempuan yang tinggal di desalah yang
melanjutkan seluruh kehidupan sosial, menyelenggarakan upacara keagamaan,
gotong royong membersihkan desa, membantu tetangga yang sakit,  menguburkan
manyat sampai berbagi cerita untuk mengurangi penderitaan .

 Pada akhir tahun sembilan puluhan, penulis terlibat dalam
pertemuan-pertemuan perempuan dan  menginap di salah satu kampung di Pidie.
Ada sekitar 30 lebih perempuan yang selalu  hadir dalam pertemuan, satu
laki-laki tua yang lumpuh (bekas siksaan aparat) dan selebihnya anak-anak.
Seluruh laki-laki di kampung tidak ada lagi (cat: pada masa DOM, desa
tersebut dianggap daerah rawan). Sebagian besar dari perempuan tersebut
adalah korban, ada yang suaminya disiksa di depannya dan dibawa pergi oleh
aparat, ada yang anaknya hilang, ada yang mengalami kekerasan fisik bahkan
sampai pada tahap penyerangan seksual.

 Ketika seorang perempuan korban penyerangan seksual  berbicara, yang lain
mendengar dengan penuh empati. Tangisan dan linangan air mata bukan hanya
membasahi pipinya, tapi juga peserta lain. Ketika suaranya tersekat, yang
lain melanjutkan "waktu itu, diam-diam ditengah malam saya datang untuk
membantu mengobati kamu, masih ingat? " (cat: masyarakat dilarang aparat
untuk membantu mengobati korban, walaupun ada tulang yang patah akibat
penyiksaan).  Pertanyaan itu mengingatkan korban bahwa Ia mempunyai teman,
menumbuhkan kekuatan baru, sehingga dapat melanjutkan ceritanya. Ketika Dia
mengatakan telapak tangannya sakit, yang lain segera menggenggam dan
mengurutnya, walaupun mereka tahu luka fisik ditangan itu sudah sembuh
dengan berlalunya 8 tahun dari kejadian. Tidak ada satupun yang menyebutkan
sebagai 'trauma healing berkelompok", tapi mereka melakukannya, dari
pertemuan ke pertemuan baik secara formal di Meunasah,  berbicara di pojok
dapur ataupun sambil menyuci di sungai.

 Sering dimalam-malam yang lewat, mereka berkumpul dan tidur disebuah rumah.
Bagi yang rumahnya terpencil, menjelang magrib langsung datang kerumah
tetangganya yang dekat dengan jalan raya dan baru kembali kerumah sendiri
ketika pagi. Begitulah cara mereka membagi ketakutan, dan membangun
kekuatan.

Selain dari pengalaman pribadi penulis, juga cerita  aktifis NGO perempuan,
bahwa  di kamp pengungsian ataupun di desa-desa, biasanya perempuan yang
paling atusias terlibat dalam proses pemulihan. Misalnya program
pengembangan ekonomi alternatif, bermain dan belajar bersama anak, usaha
kesehatan alternatif melalui akupressure dan pengembangan tanaman obat
tradisional sampai ke soal pemulihan trauma. Kemauan untuk mengulurkan
tangan, membuat penderitaan mereka sendiri terlupakan.

 Menjadi  Tameng Keluarga

 Tidak sedikit cerita dimana seorang perempuan menjadi tertembak, bahkan
akhirnya meninggal dalam upaya untuk menyelamatkan suami ataupun anak
laki-lakinya.  Misalnya saja pengalaman seorang perempuan (Saudah, 52 thn)
yang melarang GAM untuk menembak dan  secara spontan melompat serta
menjadikan dirinya sebagai tameng bagi suaminya, dari tembakan mereka yang
meminta uang pajak nanggro.  Walaupun sempat kritis, akhirnya jiwa suaminya
selamat, tapi Ibu Saudah sendiri tidak dapat terselamatkan[12].

 Atau pengalaman seorang perempuan (29 thn) pegawai honorarium di RSU Sigli,
yang mencoba menyelamatkan dua perempuan tetangganya dari tembakan anggota
GAM yang marah karena mereka pacaran dengan anggota TNI. Perempuan ini
berteriak-teriak dan melarang GAM untuk menembak dan menjadikan tubuhnya
sebagai penghalang,  akhirnya kena dua  tembakan di badannya, tapi jiwanya
berhasil selamat[13].

 Kedua cerita di atas, hanya contoh dari sekian pengalaman perempuan di Aceh
yang mencoba menyelamatkan orang-orang terdekatnya.  Banyak cerita yang
tersimpan, bahkan tidak diketahui oleh tetangga sekalipun. Kisah-kisah
perempuan yang merelakan nyawanya demi sebuah kebenaran.

 Penutup

 Selain pemaparan di atas, masih banyak cerita yang tersimpan tentang
kekuatan perempuan Aceh yang tersembunyi dibalik riuhnya berita konflik yang
identik dengan senjata dan  perang. Sudah saatnya bagi kedua kelompok yang
berkonflik untuk segera meletakkan senjata, duduk bersama, dialog dalam
upaya penyelesai persoalan Aceh secara damai. Seharusnya mereka merasa malu
kepada perempuan-perempuan itu, orang-orang yang tidak  pernah menjadi
inisiator perang, tapi mau mengorbankan nyawa demi sebuah kedamaian. Mereka
sosok yang tidak pernah di kenal, namanya tidak  muncul di koran, apalagi
mendapat medali kehormatan dan menjadi cacatan dalam sejarah.

 ---------00000-----------
Lampiran A.
Beberapa contoh diantara berbagai  bentuk kasus kekerasan yang dialami
perempuan semasa DM:

 1.      Kasus Pembunuhan :

 a. Seorang Ibu  dan tiga anak perempuannya dibantai sekelompok pria
bersenjata yang mendatangi rumah korban di Desa Baroh Njong, Kecamatan
Bandar Baru, Pidie, Minggu sekitar pukul 22:00 WIB. Akibatnya  Aminah binti
Abu Bakar (50) dan dua putrinya (32 dan 22 thn), meninggal di tempat.
Sementara putri berusia 24 thn dalam kondisi kritis, dan  dirawat di Rumah
Sakit Umum (RSU) Sigli {Sumber: Harian Serambi Indonesia, "Sekeluarga di
bantai 3 perempuan Tewas", 10 September 2003}.

 b. Tanggal 6 Juli 2003 di Bireuen, Cut Aja Budi, 37 thn bekas pasukan Inong
Balee warga Desa Pante Rheung Kec. Samalanga tewas ditembak oleh GAM
dirumahnya. Selain korban Anak korban (10 thn) juga turut jadi sasaran
penembakan. {Sumber: Harian Serambi Indonesia, 8 Juli 2003}.


 2. Kasus di Jadikan sandera.

 a. Tanggal 18 September 2003, dua  truk Reo dan satu mobil Kijang menyusuri
Desa Lam Badek, Kabupaten Aceh Besar untuk mencari Maliki (GAM). Karena
tidak berhasil ditemukan, maka Fatimah (nama samaran)  bersama anaknya
(semua bukan nama sebenarnya); Finaha (6 th), Meutuah (3 th) dan Sabil yang
berusia 20 hari di bawa oleh pasukan tersebut  tanpa ada surat perintah
penangkapan atupun bukti lainnya. Sebelumnya mereka  juga menghancurkan
perkakas dapur dan alat-alat elektronik dengan alasan dibeli dari pajak
nanggroe.  Fatimah dan anak-anaknya baru dilepas keesokan harinya dengan
memberikan Rp.300.000 sebagai ganti rugi perkakas yang rusak, setelah
mendapat bantuan dari pengacara yang selama ini menangani isu Hak Azasi
Manusia. Menurut pengakuannya, Fatimah juga sempat di pukul dengan rol
{Sumber: Aceh Kita   www.acehkita.com , "Mencari Maliki Membawa Istri", 13
Maret 04.

b.  Tanggal 6 Juni 2003  Aparat TNI (Denrudal asrama Arhanud Pulo Rungkom)
menangkap seorang istri GAM (27 thn) yang sedang hamil bersama seorang
anaknya (4 thn) di rumahnya di komplek BTN desa Gle Madat, kec. Dewantara,
Kab. Aceh Utara. Ke-2 korban dibawa bersama aparat dan sampai bulan Oktober
2003 belum diketahui kondisi dan keberadaannya {Sumber : hasil investigasi
salah satu NGO Aceh }.

c. Tanggal 25 Oktober 2003, Aparat TNI Menangkap isteri salah satu GAM di
Aceh Utara (23 thn) untuk dimintai keterangan. Turut juga ditangkap
keponakan GAM tersebut {Sumber, Harian serambi Indonesia,  26 Oktober 2003}.

 d.  Pada Tgl 29 Juni 2003, GAM menculik Soraya dan Farida (isteri anggota
TNI) yang diculik bersama wartawan RCTI di Aceh Timur dan disekap selama 7
bulan. Selain mengalami berbagi teror dan ancaman, salah satu  korban
(Soraya) sempat keguguran karena kelelahan,  jalan kaki naik dan turun
gunung berpindah-pindah tempat {Sumber : Harian Waspada, 5 Juli 2003; Harian
serambi Indonesia "Pengakuan Safrida dan Soraya,  sering di ancam Koh
Takue[14], 31 Januari 2004 }.

 3. Kasus Penyiksaan/penganiayaan.

 Tanggal 7 Juni 2003, Pasukan TNI menyiksa seorang perempuan (28 th)bersama
anaknya  berumur sekitar 1 tahun di desa Paya Bili, kec.Jeunieb, kab. Aceh
Jeumpa. Korban diikat di tiang meunasah kemudian dipukuli karena menjawab
tidak tahu ketika ditanyai keberadaan GAM { Sumber : Investigasi Flower Aceh
bersama salah satu NGO Aceh,   15 Oktober 2003}

 4.  Kasus Perkosaan.

a. Tanggal 21 Juni 2003, tiga Prajurit TNI (Batalyon Infanteri Yonif 411
Pandawa Salatiga) melakukan tindakan perkosaan terhadap tiga perempuan Aceh
di kawasan Kecamatan Paya Bakong, Aceh Utara. Peristiwa itu terjadi pada
Sabtu (21/6) malam antara pukul 19.00 22.00 di Desa Alue Lhok Kecamatan Paya
Bakong, Aceh Utara. Para pelaku di hukum penjara 2 tahun 6 bulan, 3, dan 3
tahun 4 bulan serta dipecat dari kesatuannya { Sumber : Harian Waspada, "3
Oknum TNI Perkosa 4 Wanita di Aceh Utara", 1 Juli 03; Harian  Kompas,
"Anggota TNI Pemerkosa wanita Aceh di Hukum Penjara dan di Pecat", 20 Juli
2003 }.

 b. Tanggal 18 Juni 2003, korban (15 thn) bersama adik  dan seorang rekannya
baru pulang dari sekolah untuk mengambil ijazah.  Ketika pulang mereka
berjalan kaki dan melewati pos Brimob yang menempati bekas kantor Kejaksaan
Negeri Bireun, tiba-tiba korban di panggil oleh pelaku (Muhammad Solihin
anggota Brimob Polda Sumatera Utara yang berposko di bekas kantor). Korban
tidak tidak menghiraukannya, pelaku mendatangi serta menarik tangan korban
dan membawanya ke salah satu ruangan di dalam gedung, setengah jam kemudian
korban keluar dengan dari dalam gedung dalam kondisi lemas dan rok korban
dipenuhi darah {Sumber: Harian  waspada, 30 Oktober 2003; Harian Suara
Karya, "Cewek SMP Mengaku diperkosa Brimop, 20 Juni 2003}.

 5.Kasus Perampasan

 a. Tanggal 22 Juni 203, sekitar pukul 16. 15 Wib, pasukan TNI melakukan
operasi militer ke kawasan Desa Lam Keureumeh, Kecamatan Cot Glie, A. Besar.
Dalam operasi militer tersebut pasukan TNI ini melakukan penggerebekan
terhadap rumah korban (Aqni, 40 thn), sehingga korban kehilangan 10 mayam
emas. Kerugian di perkirakan mencapai Rp 3.144.900 {Sumber : Sumber  Flower
Aceh, 15 Okt 03}.

 b. Tanggal 25 Juli 2003,  Fatima (Istri camat Ulee Gle Pidie) dihadang oleh
4 orang yang diduga anggota GAM di desa Balee Ulim, Kecamatan Ulim Pidie.
Korban yang juga guru SLTP 1 Ulim berhasil melarikan diri namun sepeda
motornya hilang yang diduga dirampas oleh ke 4 org tersebut {Sumber : Harian
Kompas, 26 Juli 2003}

 6. Peluru Nyasar

 Sipil menjadi korban akibat kontak tembak antara TNI dan GAM di sekitar
Kantor Koramil 09 Nurussalam Aceh Timur. Korban merupakan Siswa
SLTP(Etiyanti, ) Bagok Aceh Timur. Korban Akhirnya meninggal dunia akibat
kena serpihan peluru {Sumber : Harian  Serambi Indonesia, 18 Juni 03}.

 7. Kasus Penangkapan sewenang-wenang.

 a. Pada Tanggal 20 November 2003, Korban di tangkap aparat TNI , (yang
berposko di bekas PLN di Desa Cot Bada.), karena ditemukan 2 orang yang
diduga anggota GAM didalam rumahnya. Kemudian korban ditanyai tentang
keberadaan suaminya. Karena suaminya sudah lama meninggal maka korban yang
tidak lancar Bahasa Indonesia, mengatakan bahwa dirinya balee (janda), akan
tetapi aparat TNI tersebut, menganggap bahwa korban adalah anggota Inong
Balee (Pasukan Wanita GAM), maka korban dan anaknya dibentak dan dipukuli
sampai babak belur { Sumber: hasil investigasi Flower Aceh dan salah satu
NGO Aceh}.

 b. Tanggal 13 Juni 2003 , Aparat (TNI yonif 501/Rajawali) menangkap seorang
perempuan (18 thn) di desa Blang Pala, kec. Nisam, Kab. Aceh Utara. Korban
kemudian dipukuli dibawa bersama aparat dan sampai saat ini belum diketahui
kondisi dan keberadaannya {Sumber: hasil investigasi salah satu NGO Aceh}.

 8. Kasus Pelecehan Seksual

 Tanggal 20 Mei 2003,  satu pasukan TNI (kesatuan tidak jelas, A. Utara)
masuk ke rumah penduduk di salah satu desa Kec. Salah satu pelaku memaksa Rr
(18 thn) masuk ke kamar. Kemudian terdengar suara jeritan Rr dari kamar yang
di dengar oleh Mz (17 thn) di luar kamar. Mz menduga Rr di perkosa di dalam
kamar. Hampir bersamaan jeritan Rr , Mz di paksa pelaku untuk telanjang dan
berjalan jalan mengintari ruangan rumah tersebut. Sejak kejadian tersebut
keduanya sangat trauma, terutama Rr berubah menjadi sangat pendiam. Akhirnya
Rr minta sama keluarganya untuk pindah ke desa lain {sumber : hasil
investigasi tim Flower Aceh,  diceritakan oleh keluarga korban, masih
informasi awal dan perlu follow up untuk  kevalitan data} .

 ---------------------------------------
[11] Agar Orang Tahu Anak Saya tak Bersalah" www.acehkita.com, 24 April 04
[12] "Kisah nyata: Pengorbanan Seorang Istri", [EMAIL PROTECTED], 23
Juli 2003.
[13] "Mimi si Pemberani" www.acehkita.com, 8 Maret 2004.
[14] Bahasa Aceh, yang artinya Potong Kepala

 Anda bisa membaca selengkapnya di Wanita-Muslimah
http://www.wanita-muslimah.com/



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke