----- Original Message ----- Perempuan-perempuan Perkasa (1) (Berita / Kekerasan) Tanggal: Jumat, 28 Mei 2004 - 10:31 AM WIB
URL: http://www.wanita-muslimah.com/modules.php?op=modload&name=News&file=article&sid=144&newlang=ind Perempuan-perempuan Perkasa di Ranah Konflik Konflik Bersenjata Suraiya Kamaruzzaman[1] Pengantar: "Waktu itu menjelang magrib. Keponakan saya sedang menyirami tanaman ketimun di kebun yang letaknya dipinggiran kampung. Tiba-tiba satu pasukan aparat (kesatuan tidak jelas) datang, tujuannya mencari GAM (Gerakan Aceh Merdeka). Semua anak muda berusia 14 s.d 21 tahun yang berada di kampung saat itu (14 orang), termasuk keponakan saya diambil serta dibawa ke pos mereka. Tak didengarnya penjelasan kami bahwa anak-anak itu bukan GAM. Keesokan hari saya menghubungi Ibu-ibu lain dan mengajak mereka mendatangi pos tentera. Beramai-ramai kami menunggu di depan pos, menanyakan nasip anak-anak. Saya mencoba masuk, tapi ditahan dan diancam tembak kalau nekat menerobos pintu. "Jeut katimbak laju, keupeu cit kamo udep tinggai inong-inong matong, aneuk ngon lako hana lee meusidro , kabeuh katimbak mandum[2]" Cerita diatas adalah testimoni Ibu Salbiah[3] dari desa sangat terpencil, Aceh Utara, yang disampaikannya ke saya di Banda Aceh pada bulan November 2002. Menurutnya setelah "pemaksaan" Ibu-ibu, anak-anak muda tersebut dilepaskan, namun satu di tahan dengan alasan belum selesai proses pemeriksaan. Besoknya ada berita dari aparat, anak laki-laki tersebut melarikan diri ketika mati lampu. Sampai testimoni dilakukan anak itu tidak pernah kembali. "Padahai pane di plung, ka timbak wate seupeut"[4] tambah Ibu Salbiah dengan suara serak mengandung tangis. Ibu Fatimah, tetangga dekat yang menemaninya bertestimoni terlihat menghapuskan air mata dengan ujung selendang. Berikut, Ia melanjutkan pembicaraannya: Begitu pedih nasip kami, kondisi jauh lebih buruk dari DOM (Daerah Oprasi Militer, 1898 s.d 1998), tapi tidak tahu harus mengadu kemana lagi. Kalau melapor ke kepala Desa, maka Kepala Desa duluan yang menghadapi resiko. Apalagi orang-orang seperti saya, yang sudah pernah merasakan sakitnya waktu DOM. Sekarang mendengar suara tembakan senjata dari jauh saja .. jantung sudah berdebar keras (pada masa DOM suami Ibu Salbiah hilang dan tidak pernah ditemukan jejaknya, sementara Ibu Fatimah kehilangan suami serta anak sulung, tapi manyatnya ditemukan) Cerita Ibu Salbiah dan Ibu Fatimah adalah potret kehidupan sehari-hari perempuan di Aceh. Konflik yang menjelang tiga puluh tahun telah memakan korban jiwa, harta dan luka hati yang tidak terobati. Ketika suami atau anak laki-laki hilang, maka pada saat yang sama perempuan juga telah menjadi korban. Kehilangan orang-orang yang terkasih, tercerabut dari keluarga yang utuh, menanti dalam kepastian yang tidak jelas, apakah anak dan suami akan kembali dengan selamat. Tetapi kasus di atas pula, menggambarkan dengan nyata bagaimana perempuan-perempuan Aceh bersikap. Setelah penderitaan panjang dalam perang yang tak pernah berhenti, perempuan tidak lagi duduk, membisu dan membiarkan diri dan keluarganya menjadi korban terus. Tulisan ini ingin memaparkan lebih jauh, bahwa di balik derita atas nama "korban" ada cerita lain tentang ketabahan, keberanian, kekuatan tersembunyi dan cinta yang luar biasa serta terus dirajut perempuan Aceh, walaupun berbagai pihak mencoba meruntuhkannya dengan todongan senjata sekalipun. Perempuan sebagai Korban ? Dalam setiap perang, dimanapun, apapun alasan yang melandasi terjadinya perang, perempuan selalu menjadi korban yang terbanyak. Alasan itu pula, yang menyebabkan dalam hukum Humaniter Internasional tertera peraturan agar kedua belah pihak yang bertikai harus melindungi perempuan. Didalam perang, kita sering terjebak dengan pengertian korban yang diidentikkan dengan "penyiksaan secara fisik", hilang atau terbunuh. Padahal ketika angka berbicara, katakanlah 3000 laki-laki hilang atau terbunuh, maka pada saat yang sama 3000 perempuan, bahkan lebih dari jumlah angka tersebut juga menjadi korban. Mereka adalah anak, istri, ibu, kakak atau adik perempuan. Rasa kehilangan, apalagi bagi orang-orang yang tubuhnya tidak pernah ditemukan menjadi luka tersendiri, karena selalu ada harapan.. apakah Dia masih hidup? Bagaimana kedaaannya? Di siksakah? Tidak jarang, diantara mereka (termasuk Ibu Salbiah) menyusuri satu desa ke desa lainnya, tak henti-hentinya mendatangi sebuah tempat, walaupun jarak puluhan kilo meter untuk memastikan apakah manyat yang ditemukan itu anggota keluarganya. Terkadang mengunjungi rumah sakit, menyingkapi satu persatu kain penutup manyat dimana menemukan wajah dan tubuh sudah tanpa bentuk atau tidak dapat dikenali karena penyiksaan yang luar bisa. Pemandangan itu pula menambah beban bathin dan trauma membayangkan suami dan anaknya di siksa.. Penantian panjang.. sungguh penderitaan yang melelahkan. Belum lagi harus menghadapi tekanan ekonomi yang tiba-tiba bebannya jatuh ke pundak mereka. Perempuan juga menjadi korban langsung, misalnya penculikan, pembunuhan, dijadikan sandera karena pilihan politik laki-laki (baca; Suami, Ayah, Abang) , penangkapan sewenang-wenang, bahkan perkosaan. Fakta menunjukkan bahwa selama konflik bersenjata terjadi di Aceh, baik masa DOM sampai Darurat Militer (DM) di gelar, perempuan selalu menjadi korban (lihat lampiran A). Namun Kepala Dinas Sosial Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Drs H Sulaiman Daudi mengatakan, selama diberlakukan DM perempuan di Aceh terlindungi, dengan bukti kasus tindak kekerasan terhadap perempuan sudah menurun. Menurutnya berdasarkan data yang ada, kaum perempuan yang menjadi korban tindak kekerasan mencapai 1.000 orang lebih, walaupun Dia tetap memperkirakan akan terus bertambah di masa depan[5]. Data kekerasan yang menurun pada masa DM, tidak dapat dijadikan landasan untuk menyatakan jumlah kekerasan terhadap perempuan menurun, apalagi dengan menjadikan bukti bahwa perempuan terlindungi. Dari berbagai cacatan kasus yang terkumpul, membuktikan sebagian perempuan menjadi korban karena dijadikan sebagai objek oleh pihak yang berkonflik. Seharusnya Kepala Dinas Sosial menyadari bahwa dalam kondisi DM, masyarakat lebih memilih "membisu". Mereka takut, jika memberi laporan akan menambah korban berikutnya. Pengalaman DOM 10 tahun lalu membuktikan bahwa jumlah angka korban terutama kasus-kasus perkosaan justru terungkap setelah masa DOM selesai. Barangkali Kepala Dinas Sosial tidak tahu bahwa selama DM tidak ada peraturan khusus yang dikeluarkan PDMD untuk melindungi perempuan, sementara sampai saat ini undang-undang perlindungan saksi di Indonesia belum ada. Akibatnya korban dan saksi korban lebih memilih untuk bungkam ketika ketika menjadi korban dari kelompok bersenjata militer Indonesia, militer Gerakan Aceh Merdeka ataupun milisi). Perempuan Merenda Kehidupan Dalam sekian pengalaman perang, terutama ketika melawan Belanda, sejarah telah menuliskan begitu banyak perempuan Aceh yang punya andil dalam mempertahankan tanah kelahiran dari jajahan. Mulai dari perempuan-perempuan tak bernama dengan menyanyikan "Hikayat Prang Sabee" untuk membangun semangat ketika menidurkan anaknya diayunan, sampai munculnya tokoh besar semacam Cut Mutia dan Cut Nyak Dien. Namun 30 tahunan Aceh dilanda konflik, perempuan hampir selalu diidentikkan sebagai korban. Berbagai media lebih sering menyebutkan kegagahan para panglima perang dan pasukannya masing-masing, mendali dan penghargaan dibagikan, pangkat dinaikkan. Para pahlawan muncul dari kedua pihak, satu pahlawan yang mempertahankan keutuhan NKRI, satunya pahlawan pejuang kemerdekaan dari penjajahan NKRI (tergantung dari sisi mana masing-masing orang melihat). Ada yang luput dari perhatian, bahwa dibalik genggapgempitanya berita perang, ada sosok bernama perempuan yang mencoba untuk secara terus menerus merajut mimpi merenda kehidupan yang terkoyak. Di bawah, penulis mencoba mengungkap keberanian, ketegaran dan keperkasaan perempuan-perempuan tersebut bergumul menghadapi berbagai kekerasan, teror, dan berita yang memedihkan hati. Perempuan inisiator perdamaian Salah satu bukti keperdulian perempuan terhadap konflik yang terjadi serta keinginan mewujudkan perdamaian adalah melalui pelaksanaan Kongres perempuan dengan tema damai yang dikenal dengan sebutan "Duek Pakat Ureung Inong Aceh'. Kongres ini diselenggarakan pada 20 sd. 22 Februari 2000 di Banda Aceh, dihadiri 450 perempuan dari berbagai kabupaten, stara pendidikan, profesi serta korban kekerasan oleh negara. "Terlepas dari pro dan kontra, Kongres perempuan itu dilaksanakan dalam usaha mencari solusi konflik secara damai, ketika orang lain belum berbicara tentang perdamaian di Tanah Rencong[6]". Tidak kurang intimidasi dari berbagai pihak dihadapi panitia dan peserta karena adanya keinginan dari pihak lain untuk menggantikan tema dengan isu lain yang dianggap lebih populer saat itu. Namun tidak juga menyurutkan langkah mereka untuk terus bergerak dengan tema yang sudah ditetapkan " Krue Seumangat Ureung Inong Aceh, Bak duek Pakat Ureng Inong Aceh, keu damai, adil, untuk rakyat Aceh"[7]. Baru pada masa berikutnya, Henry Dunant Centre salah satu NGO berbasis di Swiss yang menjadi fasilitator negosiasi awal antara pemerintah RI dan GAM di Geneva mulai mengembangkan wacana damai di Aceh. Pertengahan Mei 2000 terbagun kesepakatan jeda kemanusiaan antara Pemerintah RI dengan pihak GAM yang merupakan langkah bagus untuk loby-loby perdamaian tahap berikutnya. Zubaidah, dari Universitas Indonesia yang melakukan penelitian terhadap 15 NGO perempuan di Aceh, Juni 2002 untuk tesisnya di Program Kajian Wanita, menyatakan bahwa gerakan NGO perempuan Aceh dalam proses penyelesaian konflik Aceh secara eksplisit telah menawarkan alternatif lain dalam penyelesaian konflik Aceh, yaitu pendekatan yang mengedepankan kepedulian. Fenomena ini sejalan dengan pemikiran yang dikembangkan feminis Carol Gilligan atau dalam pendekatan feminisme dikenal sebagai ethics of care. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perempuan tetap konsisten dengan isu perdamaian yang mereka digaungkan dari kongres dulu. Menjadi orang tua tunggal Berdasarkan data statistik jumlah perempuan yang menjadi orang tua tunggal bagi anak-anaknya di NAD mencapai 148.000 orang, dimana suaminya terbunuh atau hilang.[8] Namun Kepala Biro Perempuan tingkat propinsi, pada tahun 2000 menyebutkan ada 460.000 perempuan Aceh menjadi orang tua tunggal, 377.000 diantaranya janda. Berapapun jumlah angka yang dikeluarkan tetap tidak merubah kenyataan bahwa konflik yang terjadi membuat perempuan tiba-tiba dihadapkan kepada kenyataan untuk menghadapi seluruh persoalan keluarga sendirian. Hal ini dijalani mereka dengan tabah, mulai dari mengurus anak sakit, menghadapi trauma ketika ada yang menggedor pintu di tengah malam dengan senjata ditangan, sampai memikirkan biaya pendidikan. Tidak sedikit diantara mereka yang mengalami "mengucilan" dan pelabelan seperti Inong pa'i[9] ataupun janda GAM karena aktifitas politik ataupun profesi suami. Hal inipun tidak membuat mereka menyerah dalam upaya mendidik anak-anaknya. Penanggungjawab ekonomi keluarga Ada anggapan, perempuan menghadapi resiko lebih kecil untuk dicurigai sebagai musuh dibanding laki-laki. Barangkali saja anggapan ini mempunyai kolerasi dengan posisi laki-laki sebagai insiator perang. Faktanya, tidak kurang perempuan juga menjadi korban. Terlepas dari posisi perempuan sebagai singgle parent ataupun tidak, tetap saja untuk wilayah yang rawan dengan kontak senjata kehidupan ekonomi keluarga tergantung pada perempuan. Jadi jangan heran, kalau saat ini penjadi pemetik pinang, pemungut kopi, pengambil rotan di gunung adalah perempuan. Dari pembicaraan penulis di kamp Pengungsian Mesjid Abue Beureuh, Pidie pada tahun 2000, kaum Ibu-ibu secara diam-diam sering pulang ke desanya untuk memetik kopi, pinang ataupun sayur mayur. Mereka mengatakan sangat ketakutan. Situasi terasa lengang, ada suasana aneh yang menyelubung ketika menyadari kampung begitu kosong tanpa satu manusiapun yang kelihatan. Tetapi memikirkan kebutuhan keluarga dan kehidupan di kamp pengungsian yang pas-pasan membuat mereka tetap berjalan dalam ketakutan, membulatkan tekatnya untuk bekerja. Demikian juga kehidupan ekonomi keluarga paska pengungsian, tetap banyak bergantung pada perempuan. Mereka keluar masuk hutan untuk mencari pinang, sementara laki-laki tidak berani masuk ke hutan karena khawatir disangka anggota GAM oleh pasukan TNI. Ataupun diincar GAM dan dipaksa menjadi anggota. [10] [bersambung] ------------------------------------- [1] Ketua Dewan Pengurus Flower Aceh; Anggota Dewan Pengawas Nasional Perserikatan Solidaritas Perempuan. [2] Bahasa Aceh : "Silahkan tembak.., untuk apa lagi kami hidup tinggal perempuan saja, anak dan suami sudah habis kalian bunuh semua". [3] Salbiah dan Fatimah adalah nama samaran [4] Bahasa Aceh : " Dia tidak lari, tapi sudah di tembak ketika gelap" [5] Selama DM, Perempuan di Aceh Terlindungi , Serambi Indonesia, 7 Oktober 2003 [6] Naimah hasan "Perempuan Aceh Mampu Wujudkan Perdamaian di NAD", 9 April 2002, http://www.swara.net/id/view_headline.php?ID=569 (http://www.swara.net/id/view_headline.php?ID=569) [7] Bahasa aceh , yang maknanya "Pemberian Semangat untuk Perempuan Aceh, Musyawarah Perempuan Aceh, untuk Perdamaian, Adil bagi Rakyat" [8] "LSM: 148.000 Perempuan Aceh Jadi Orangtua Tunggal", 18 Maret 2004 http://www.gatra.com/artikel.php?id=35054 (http://www.gatra.com/artikel.php?id=35054) [9] Bahas Aceh , artinya istri atau pacar tentera RI. [10] Kaum Perempuan Menjadi Gantungan Hidup Keluarga", Kompas, 28 Juli 2003 Anda bisa membaca selengkapnya di Wanita-Muslimah http://www.wanita-muslimah.com/ ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar. Now with Pop-Up Blocker. Get it for free! http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

