Surat Kembang Kemuning:

PANTAI OMAHA  [2]

Sebagai prajurit biasa dari tentara Sekutu dan Nazi,  keduanya bertindak sesuai 
perintah. Kalau mengikuti nurani dan membangkang, pada masa perang mereka bisa dihukum 
mati. Meninggalkan ketentaraan pada saat berada di medan tempur juga tidak gampang. 
Sehingga pada dua orang prajurit itu yang berada di dua kubu bermusuhan , pilihan 
tertinggal sangat sedikit dan pilihan utama adalah melaksanakan perintah. Hal 
beginipun terjadi pada anggota ABRI seperti yang dituturkan oleh Hersri Setiawan, 
budayawan yang lama disekap di pulau pembuangan Buru, dalam Memoire-nya "Di Sela-sela 
Intaian", juga banyak kita dapatkan melalui milis bagaimana seorang perwira Angkatan 
Laut Republik Indonesia [ALRI] sebelum meninggal berpesan kepada puterinya agar 
"jangan sekali-kali nikah dengan anggota ABRI". Pesan ini menunjukkan bahwa anggota 
ABRI [cq: ALRI] sebagai manusia masih punya nurani. Tapi ketika bertugas sebagai 
tentara dan diperintahkan untuk melakukan tindak anti kemanusiaan, ia tidak punya 
pilihan banyak seperti halnya dengan dua prajurit yang hadapan-hadapan hidup- mati di 
pantai Omaha.  Pesan perwira ALRI ini pun juga memperlihatkan sekaligus kritik dan 
penilaian terhadap tindakan anti nurani  yang telah dan masih dilakukan oleh ABRI 
terhadap masyarakat dan yang secara diam-diam ditentang oleh para prajurit yang 
melaksanakannya.Barangkali di sinilah menonjol arti penting tampilnya pimpinan militer 
Indonesia yang berpkiran cerah dalam arti anti militerisme. Keadaan ini juga aku alami 
sendiri di Palangka Raya dengan Kepala Polisi Daerah Kalteng: L. P.  

Berdasarkan pengalaman sejarah, termasuk pengalaman para perwira tinggi tentara Nazi 
Hitler yang anti Hitler dan nazi-isme, kiranya kelompok militer Indonesia yang 
berpikiran cerah  perlu mempertimbangkan cara berjuang agar berhasil dan menang. 
Kelompok militer berpikiran cerah anti militerisme ini kiranya mempunyai peranan besar 
bagi haridepan tanahair, bangsa dan Republik. Untuk menyokong kekuatan ini aku kira 
dari berbagai kalangan dituntut kejelasan wawasan dan ketajaman serta kejernihan  
pandang. Patut dibedakan antara militerisme dan orang-orang militer. Orang militer 
tidak otomatis identik dengan militerisme. Militerisme tidak akan menjanjikan 
haridepan yang diharapkan dari segi memanusiawikan manusia, bangsa dan negeri . Tanpa 
melakukan pembedaan jelas antara militerisme dan orang-orang militer, aku kira para 
pencinta bangsa dan tanahair serta keadilan,  akan  melakukan kesalahan taktis dan 
stragegis sekaligus. Barangkali pandangan ini bisa disebut sebagai pendekatan elitis. 
Tapi kalangan elit memang mempunyai peranan penting bahkan menentukan dalam kehidupan 
politik, lebih-lebih pada saat masyarakat sipil lemah secara organisasi dan wawasan. 
Antara elite dan massa kapanpun senantiasa terdapat saling hubungan. Bisakah 
dibayangkan jika ABRI berada dibawah pimpinan orang-orang militer anti militerisme?! 
Sama halnya, seandainya kelompok anti  Nazi Hitler berhasil, barangkali situasi dunia, 
khususnya Eropa Barat akan berbeda. Peranan pimpinan banyak menentukan keadaan orang 
yang dipimpin: massa luas. Bandingkan saja keadaan angkatan bersenjata Indonesia di 
masa Revolusi Agustus 45, pada masa Soekarno dan Soeharto.Barangkali dari perbandingan 
tiga periode ini, kita bisa menangkap nuansa perbedaan mental dan pola pikir di 
kalangan angkatan bersenjata kita.? Belum lagi jika kita memasuki masalah rinci: 
memasuki keadaan lasykar demi lasykar yang menjadi pilar kekuatan pembela Republik 
pada saat itu. Konsep militer menentukan corak mental kekuatan bersenjata pada suatu 
saat. Yang bisa dipastikan bahwa militerisme dan segala variannya, akan membuat 
kekuatan tentara tidak lain daripada mesin pembunuh dan penindasan. Hal ini dengan 
jelas ditunjukkan oleh filem dokumenter "Pantai Omaha" terutama melalui dua tokoh 
prajurit: prajurit Sekutu, David Silva,  yang melakukan pendaratan di pantai dan 
prajurit Nazi Jerman, Heinrich Severloch, yang berada di belakang mitraliurnya 
menyambut para pendarat . Perintah yang diberikan oleh atasannya  kepada Heinrich 
Severloch [20 tahun] adalah: "mempertahankan posisi hingga peluru terakhir". Di 
kalangan Tentara Rakyat fungsi ini biasanya dilakukan oleh Komisaris Politik dan 
prajurit yang secara sukarela tinggal bersama sang Komisaris Politik. Karena itu dalam 
barisan Tentara Rakyat, Komisaris Politik merupakan tipe perwira yang paling banyak 
jatuh sebagai korban. Dengan cara ini, pimpinan militer mau menunjukkan bahwa perwira 
adalah teladan bagi para prajurit dan tidak menjadikan praajurit sebagai bidak-bidak 
tanpa makna yang hanya untuk dikorbankan kepentingan politik atasan.  

Melaksanakan perintah ini secara harafiah, dari lubang perlindungannya, dengan 
mitraliurnya , Heinrich    Severloch sendiri telah menewaskan paling sedikit 2000 
tentara Sekutu yang melakukan pendaratan. David Silva , tentara Sekutu yang seusia 
dengan Severloch, dilukai oleh tiga peluru Heinrich. Dalam pendaratan di Normandie 6 
Juni 1944 ini, pertempuran paling berdarah dialami oleh Divisi 1 Amerika, Big Red One, 
pimpinan Jenderal Bradley. Bradley hilang separoh dari kekuatan tank ampibinya dan 
3000 prajurit telah gugur serta luka-luka [Harian Le Figaro, Paris , 2 Juni 2004]. 

Heinrich melihat sendiri bagaimana ombak menghanyutkan dan mempermainkan ribuan 
bangkai-bangkai berjatuhan dilanda peluru mitraliurnya. Heinrich dengan sistem militer 
Nazi dan perintah telah benar-benar menjadi bagian dari mesin pembunuh hilang nurani. 
Karena di bawah sistem ketentaraan demikian, ia pun berada di bawah kepungan pilihan 
hidup atau mati, dihukum atau melaksanakan perintah seperti halnya Brigjen Lodewijk 
Penyang di Palangka Raya. Apakah Heinrich bangga dengan prestasinya melaksanakan 
perintah. Juga tidak? Apakah ia menyesal? Ajaibnya: juga tidak. Ketika ia menyaksikan 
filem pendaratan Normandie yang sangat  berdarah: "Hari-Hari Yang Paling Panjang" [The 
Longest Days] karya Alexander Czogalla berdasarkan  roman Cornelius Ryan, Heinrich 
mengirimkan surat kepada sutradaranya tanpa sepatah kata  permintaan maaf. Barangkali 
doktrin naziisme dan militerisme sudah menumpulkan nuraninya. "Heinrich sama sekali 
tidak pernah meminta maaf kepadaku" , tulis David  Silva yang seusai perang kemudian 
menjadi pastur Katolik. "Tapi dalam lubuk hatiku, Heinrich sudah kuanggap sebagai 
sahabat", lanjut David Silva [lihat: Harian La Croix, Paris, 3 Juni 2004]. C�cile 
Jaures, wartawan kebudayaan Harian Katolik, La Croix menganggap sikap David Silva ini 
sebagai ujud dari "rekonsiliasi teladan", kebesaran hati anak manusia untuk menjadi 
manusiawi dengan kemampuan memberikan maaf dan kasih. Tentu saja maaf dan kasih ini 
muncul dan berkembang serta diberikan setelah kebenaran mengenai apa itu fasisme dan 
nazi-isme ditegakkan. Maaf dan kasih tidak lahir dan menyemi di tengah kabut kesamaran 
benar dan salah. Maaf atas dasar kasih tanpa penyingkiran kabut kesamaran antara benar 
dan salah akan membuat kabut ini mengancam hari-hari mendatang. Hanya saja manusia 
sering takut pada diri sendiri, dan sangat takut pada kaca kebenaran di mana bopengnya 
terpampang. Ketakutan yang memang bagian dari watak manusia sering memerosotkan 
manusia ke taraf tanpa martabat menjadi peminum darah, pencaci maki dan penggunjing 
tak menentu, mengira caci maki, gunjing dan meminum darah orang lain segagai budaya 
bermutu tinggi.  "Aku memang tua" ujar Rendra, "tapi aku bukan anjing kurap" , "aku 
ingin menjaga diri sebagai manusia". Penakut, penggunjing, pencerca, pengiri dan  
pendengki  tidak punya niat begini. Ia bangga dengan kedudukannya sebagai "anjing 
kurap" yang berkutat pada diri sendiri dan tidak pada masalah-masalah besar . 

Kalau Ren� Char, penyair Perancis menulis: 

"pada saban kehancuran haridepan
penyair menjawabnya dengan penyelamatan"  

[Lihat: Une Salve d'Avenir.L'Espoir, Anthologie Poetique", Gallimard, Paris, 2004]

apakah manusia vulger jenis di atas bisa disebut budayawan dan penyair? Otoproklamasi 
, resolusi dan komplotan tidak menjawab hakekat pertanyaan. Yang diketengahkan sebagai 
pertanyaan utama oleh filem dokumenter "Pantai Omaha" adalah tetap pada masalah hakiki 
manusia antara lain soal-soal pengertian:  tugas, kesetiaan, semangat korps dan rasa 
bersalah dilihat dari segi obyektivitas. Filem dokumenter yang diakhiri dengan 
berpeluknya dua prajurit bermusuhan, selain memperlihatkan bahwa dokumen dan dokumen 
ada bermacam-macam. Filem dokumenter pun selayaknya mampu mengetengahkan pertanyaan 
dan bukan hanya catatan filmis realis. Manusia dan kehidupannya tidak bisa diangkat 
dan ditanggap dengan kesederhanaan  bocah hitam putih. C�cile Jaur�s dari Harian La 
Croix mengomentari adegan pelukan dari dua prajurit bermusuhan dengan pertanyaan: 
"Apakah mereka sedang melukiskan masa depan?" Dua prajurit dari dua kubu bermusuhan 
yang bertarung hidup mati kemudian berpelukan, adakah manusia begini di tanahair? 
Adakah kemampuan manusia Indonesia melakukan hal begini? Manusia dan bukan "anjing 
kurap"?! Manusia, masihkah ada di Indonesia? Hubungan manusiawi dan kemanusiaan apakah 
mungkin dilakukan oleh jiwa "anjing-kurap" ? Indonesia dan bumi memerlukan manusia, 
kukira. Ini yang dipesankan juga oleh filem dokumenter " Pantai Omaha": bumi 
memerlukan manusia. Bumi manusia menghimbau, menyerukan dan mencari manusia! Yang 
sering dan kudapatkan dengan mudah saban pagi, saban petang dan malam  adalah sampah 
dan keranjang sampah berisikan cerca, caci-maki, kekerdilan, gunjing dan segala macam 
yang benda busuk jiwa-jiwa busuk. Seperti Edgar Morin, sosiolog dan filosof Perancis, 
aku melihat harapan di atas kebusukan ini. Juga untukmu tanahair.


Paris,Juni 2004.
-------------------
JJ. Kusni

[Selesai]

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke