10.06.2004
 
Melacak asal bahan makanan
 
 
Setelah merebaknya wabah penyakit sapi gila BSE, penyakit kuku dan mulut, sampar babi 
serta flu unggas, pertanyaan mengenai asal bahan makanan, semakin menjadi perhatian di 
negara maju.


Terutama di Eropa, dimana rantai distribusi bahan makanan relatif pendek, tapi 
mencakup banyak negara, tema asal dan keaslian bahan makanan menjadi amat penting. 
Sebab, selain menyangkut keamanan konsumen, deklarasi bahan makanan berpengaruh besar 
pada bidang ekonomi. Apakah betul minuman anggur mahal yang kita beli berasal dari 
Perancis? Atau keju yang dijual di supermarket berasal dari Belanda? Daging asap dari 
Italia? Atau kaviar benar-benar berasal dari Rusia?

Bagi orang awam, sulit membedakan asal dan keaslian bahan pangan. Karenanya pemalsuan 
merk, kini semakin merajalela. Minuman anggur murah dari Afrika Selatan, bisa saja 
dibubuhi aroma tertentu dan ditempeli merk seolah-olah berasal dari Perancis. Dengan 
begitu harganya akan naik secara drastis. Atau kaviar alias telur ikan yang harganya 
amat mahal, dideklarasikan berasal dari Rusia. Padahal asalnya dari peternakan ikan di 
Asia. Rasa makanan kini dapat direkayasa dengan mudah, untuk meniru rasa aslinya.

Pemalsuan semacam itu, untuk meraup keuntungan ekonomi dengan mudah, merugikan 
konsumen di banyak negara. Yang paling membahayakan, jika di satu negara sedang 
berkecamuk wabah penyakit ternak yang mematikan, ternak dari negara bersangkutan 
dideklarasikan sebagai berasal dari negara lain yang aman. Misalnya saja, ketika di 
Inggris merebak wabah sapi gila-BSE, banyak pedagang yang curang, mengakali 
seolah-olah daging sapi yang dijualnya tidak berasal dari Inggris. Dengan cara itu, 
pedagang dapat membeli daging dari Inggris dengan harga murah, dan menjual lagi dengan 
harga tinggi.

Perlindungan konsumen dan produsen

Akan tetapi, dengan praktek semacam itu, keamanan konsumen diabaikan. Melalui cara 
curang semacam itu, siapa yang dapat mengira, bahwa mereka mengkonsumsi daging sapi 
tercemar BSE, bukannya daging sapi yang aman. Padahal diduga, penyakit sapi gila dapat 
menular kepada manusia. Atau juga para produsen bahan makanan yang jujur, jelas sangat 
dirugikan. Misalnya, para petani anggur di Perancis, terancam bangkrut karena wine 
produksinya dipalsukan. Atau peternak di Italia yang bingung, karena produk daging 
asapnya yang terkenal bermutu, menjadi tidak laku. Pasalnya di pasaran beredar daging 
asap yang rasanya mirip, dengan harga lebih murah.

Kini pertanyaannya, apakah lembaga pelindung konsumen diam saja, menyaksikan 
kecurangan semacam itu? Adakah metode yang betul-betul dapat dipercaya, untuk 
membongkar penipuan yang amat merugikan ini? Jawabannya, tentu saja jika ada rekayasa 
untuk meniru rasa makanan, pasti ada metode untuk melacaknya. Salah satunya 
dikembangkan di Jerman, dengan metode pelacakan isotop stabil dari bahan makanan. 
Dengan meneliti komposisi isotop elemen dasar, seperti karbon, hidrogen, belerang, 
nitrogen dan oksigen, biasanya wilayah asal bahan makanan dapat diketahui.

Prof. Dr. Peter Schreier, gurubesar di jurusan kimia bahan makanan di Universitas 
W�rzburg menjelaskan, setiap wilayah memiliki komposisi elemen dasar yang khas. 
Misalnya anggur dari kawasan Bordeaux di Perancis, memiliki komposisi elemen dasar 
yang khas, yang amat berbeda dengan anggur dari kawasan lain. Rasa yang khas dari 
anggur Bordeaux misalnya, ditentukan oleh faktor komposisi tanah, udara dan 
kelembaban. Komposisi elemen dasar yang unik itulah, yang menimbulkan rasa khas pula 
pada anggur Bordeaux, yang menyebabkan harganya amat mahal. 

Dengan bantuan metode pengukuran isotop stabil, kini dibentuk apa yang disebut bank 
data aroma yang khas dari berbagai bahan makanan. Dengan begitu dapat diperiksa, 
apakah benar bahan makanan yang dideklarasikan, berasal dari daerah yang sebenarnya. 
Dengan metode itu, dapat dilakukan pemeriksaan, apakah deklarasinya tidak menipu atau 
melanggar hukum. Sebab, dengan majunya ilmu kimia, dewasa ini rasa bahan makanan 
tertentu dapat ditiru dan direkayasa, baik menggunakan ekstrak unsur alami, ataupun 
yang dibuat secara sintetis. Prof.Schreier mengatakan, hal ini bukan hanya menyangkut 
perlindungan konsumen, akan tetapi juga sekaligus perlindungan produsen bahan makanan.

Rekayasa aroma

Dewasa ini, semakin banyak bahan makanan yang diperiksa keaslian serta keamanannya, 
menggunakan metode penelitian isotop. Misalnya saja produk makanan dan minuman dari 
buah-buahan, wine, minuman beralkohol, produk daging olahan atau juga produk olahan 
dari susu. Prof. Schreier mengatakan, yang paling menarik adalah penelitian unsur 
aroma. Dewasa ini, banyak sekali ekstraksi unsur alami, atau juga aroma yang 
direkayasa secara bio-teknologi, digunakan menggantikan unsur aslinya. Sebagai contoh, 
sejenis tanaman merambat yang di Brazil disebut Guarana, jika diekstraksi dapat 
menghasilkan coffein, yang harganya jauh lebih murah dari coffein dari kopi asli.

Industri pembuatan minuman suplemen energi misalnya, dapat memanfaatkan ekstraksi 
Guarana yang murah, menggantikan kopi bermutu baik yang mahal harganya. Dengan begitu, 
konsumen yang awam dicurangi, karena dalam kemasan hanya ditulis minuman mengandung 
coffein. Tapi tidak disebutkan darimana coffeinnya berasal. Padahal dalam benak 
konsumen sudah tertanam citra, cofein pasti diperoleh dari ekstraksi kopi. Selisih 
harga antara unsur aroma dari bahan alami atau unsur sintetis, dengan ekstrak unsur 
aslinya, bisa mencapai ribuan kali lipat.

Di Universitas W�rzburg, saat ini dikukuhkan metode penelitian multi elemen. Dimana 
dengan cara itu, komposisi isotop karbon, isotop oksigen dan isotop hidrogen dapat 
diketahui secara akurat. Dengan demikian, metode yang dikembangkan prof.Schreier, 
merupakan metode yang pertama di dunia, yang dapat menentukan secara akurat komposisi 
elemen aroma, baik dari bahan mentah maupun dari produk olahan. Keunggulan metode 
komposisi isotop tsb adalah, dapat dengan cepat mengetahui dimana bahan bakunya tumbuh.

Sidik jari isotop

Sementara itu, secara acak lembaga pelindung konsumen di Jerman terus mengawasi produk 
yang beredar. Dengan membandingkan komposisi unsur dalam bahan makanan, dengan apa 
yang disebut sidik jari isotop bahan makanan, dapat diketahui, apakah terjadi 
pemalsuan etiket atau penipuan deklarasi asal wilayah produk bersangkutan. Selain itu, 
juga dapat dilacak, apakah bahan pangan bersangkutan, produk pertanian bio atau 
pertanian intensif dengan penggunaan pupuk sintetis.

Selain metode yang dikembangkan di Universitas W�rzburg, di pasaran dewasa ini sudah 
beredar metode pelacakan isotop serupa, untuk tujuan komersial. Misalnya metode yang 
dikembangkan perusahaan Jerman Agro-Isolab. Pengembangan sampai metode dengan 
pelacakan sidik jari isotop ini matang, dilakukan prof. Hilmar F�rstel dari lembaga 
penelitian ilmiah di kota J�lich. Prof F�rstel mengatakan, mereka kini mengembangkan 
atlas isotop, yang merupakan acuan bagi penelitian dan pelacakan asl bahan pangan. 
Dengan membandingkan data analisis sebuah produk, dengan atlas standar, dapat 
diketahui darimana asal produknya



                
---------------------------------
Do you Yahoo!?
Friends.  Fun. Try the all-new Yahoo! Messenger

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke