MEMILIH PENGUASA YANG BERNODA DAN 
TANPA PROGRAM BAGI RAKYAT?


(  Oleh :  Z. Afif  )


BARU-BARU ini, aku bertemu dengan seorang kenalan dari Jakarta. 
Kami belum pernah bertemu sebelumnya. Tetapi sudah menjalin 
hubungan lewat seseorang  yang sama-sama menjadi teman baik kami. 
Ketika teman perantara itu menelifonku untuk menemui teman 
dari ibu kota "Republik" itu, bayangan yang timbul: "Tentu 
sosok itu angker" dan bergaya kaum elite. Ternyata  itu hanya 
bayangan semata, bukan kenyataan. Begitu bersua langsung dipeluknya 
aku, persis teman akrab yang lama saling merindu . Sambil bersalaman 
ke sana sini, tangannya tak dilepaskannya menggenggam tanganku. 
Orangnya sangat ramah, padahal secara sosial dia bukan sembarang 
orang, sedangkan aku hanya seorang guru (katakanlah dosen) yang 
berpendapatan tak sebanding dengannya. 

Setelah kami duduk menghadap meja makan, ucapannya yang pertama: 
"Bung tahu, Negara Indonesia itu sudah tak ada. Yang ada hanya 
negeri."   Aku agak bingung, apa yang dimaksudnya dengan "negara". 
(Pengertian negara bagiku tentu sebagai alat kekuasaan yang muncul 
sesuai dengan hukum perkembangan masyarakat). 

"Republik Indonesia itu sudah bukan lagi negara," tambahnya. "Di 
sana tidak ada pemimpin. Yang ada orang yang memburu kekuasaan. 
Dengan kekuasaan memperkaya dirinya. Kekuasaan bagi dirinya bukan 
bagi kepentingan rakyat. Dengan kekuasaan mereka bertindak 
sewenang- wenang. Keadaan ini membuat suasana genting," katanya. 

Aku tidak berkomentar apa-apa. Tetapi dari sekelumit penuturannya, 
menimbulkan pertanyaan "akan bagaimana 'Republik'" itu nanti? Baru 
saja aku baca sebuah tulisan yang melampiaskan kejengkelan perasaan 
(hal yang wajar!) penulisnya dengan mengatakan "Republik Indonesia" 
itu adalah "Republik Monarki", "Republik Kerajaan", "Republik KKN" 
dan ada juga yang menyebutkan "Republik amburadul (kacau-balau)", 
"Republik pemeras daerah luar Jawa", dan macam-macam lagi namanya. 
Karena itu sampai ada yang berucap: "Malu menjadi warga Republik 
Indonesia." "Malu menjadi orang Indonesia." Tragis! 

Juga ada yang mengatakan "Indonesia 'indah permai' hanya 
tinggal dalam lagu. Kalau W.R. Supratman masih hidup tentu dia akan 
sangat terluka hatinya menyaksikan negeri yang dipujanya jadi hancur 
secara alami dan bubrok moral penguasanya." 

Lantas bagaimana mau keluar dari gua gulita itu? Begitu berjubel 
para jago mencalonkan diri jadi presiden atau wakil presiden yang 
diakronimkan "capres" dan "cawapres", namun apa programnya 
untuk keluar dari kemelut itu? Tak ada apa-apanya yang langsung 
menyangkut kepentingan dan tuntutan rakyat kecil. Sebab sepanjang 
berkuasa Orde Baru militer, sudah menjadi adat budaya 
para pemilik modal, kaum oligarki dan elit politik  baik sipil 
maupun TNI memburu kekuasaan dan bagaimana mengkomersilkan 
jabatan di tangannya. Justru di antara capres dan cawapres terdapat 
yang disebut politikus busuk, orang bermasalah dalam pelanggaran 
HAM sebagai istilah halus untuk "pembunuh" dan "pencipta peristiwa 
berdarah" sepanjang ORBA. Penampilan "pemimpin bangsa" seperti itu 
dijadikan kategori "perwujudan demokrasi". Tentu "demokrasi" ala 
kraton dalam budaya feodal Jawa. 

Sesungguhnya, kalau sebuah republik yang sebenarnya REPUBLIK murni, 
seorang calon pemimpin untuk rakyat, harus orang yang bersih dari 
segala noda kejahatan yang pernah dibuatnya terhadap rakyat. Celakanya 
"Republik Indonesia" tidak mengenal hukum yang mengadili seseorang 
yang bertanggung jawab atas berbagai peristiwa kejahatan terhadap 
rakyat yang muncul sejak masa Oktober 1965, lalu pelbagai peristiwa 
sepanjang masa ORBA hingga kini di Aceh, Papua, Poso, Kalimantan, dan 
tempat lainnya. 

Media massa (namanya saja sudah MEDIA MASSA!) sebagai pembawa suara 
masyarakat, seharusnya secara moral kerakyatan harus menjelaskan masalah 
seperti itu kepada masyarakat, sehingga masyarakat tidak jadi korban 
kelak, karena telah memilih calon yang tidak mewakili kepentingannya. 
Ini bukan masalah akan memperkeruh situasi, melainkan untuk mewujudkan 
demokrasi dan reformasi bagi kepentingan rakyat, bukan bagi kepentingan 
pemburu kekuasaan yang tidak menunjukkan programnya yang langsung 
menyangkut kepentingan rakyat. Sikap menjelaskan hal itu juga merupakan 
pentrapan demokrasi bagi kepentingan mayoritas masyarakat. 

Apa itu kepentingan rakyat? Ambil masalah AGRARIA. Pemerintah Sukarno 
pernah mengeluarkan Undang-undang Perubahan Agraria (UUPA) dan 
Undang-undang Bagi Hasil (UUPA). Masalah ini menyangkut kepentingan 
mayoritas penduduk Nusantara yang berlogo "NKRI". Sepanjang kekuasaan 
ORBA hingga sekarang, sengketa di bidang agraria terus terjadi, dan yang 
jadi korban dan dirugikan selalu rakyat biasa, kaum tani, nelayan, pen-
duduk miskin, etnis di seluruh Nusantara. Megawati saja membiarkan 
Satiyoso, Gubernur Jakarta Raya menggusur rumah-rumah kaum miskin kota di 
Jakarta. Baru saja diperintahkannya pengusutan kejahatan militer 17 Juni. 
Padahal yang terlibat capres. Jadi yang penting keselamatan kekuasaan, 
bukan penegakkan hukum dan keadilan yang menusiawi. 

Lalu program apa untuk membasmi KKN dan pengusutan secara hukum 
terhadap pelanggar HAM. Terhadap dua masalah ini, tak satupun capres 
dan cawapres mau menyinggung akan menyeret embahnya pelanggar HAM 
dan embahnya KKN - Jenderal Besar TNI Angkatan Darat Haji Muhammad 
Suharto. 

Seharusnya dalam menghadapi kampanye pemilihan presiden dan wakil 
presiden sekarang ini, para pembela HAM, pejuang rakyat, media massa, 
orang yang berniat menegakkan demokrasi dan menjalankan reformasi 
membangkitkan kesadaran dan kewaspadan rakyat untuk menuntut 
kepada para capres dan cawapres mengumunkan programnya yang jelas 
gamblang tentang hal-hal tersebut di atas itu. Para capres dan cawapres 
yang tak punya program seperti itu, hanya mulutnya berbuih menyatakan 
diri "calon pemimpin bangsa" namun qalbunya (dengan hurug "q", bukan 
"k") diragukan manusiawi. 

Yang tampak menonjol wajah politik sekarang ini adalah teater yang 
menggelarlkan ekspresi kapitulasionisme, oportunisme dan pelacuran 
politik. Sangat disayangkan Salahuddin yang diharapkan berkukuh dalam 
badan pembela HAM, terseret dalam lumpur berpasangan dengan jagonya 
pelanggar HAM berat. Abdurrahman Wahid pun tak luput menghanyutkan diri 
dalam arus busuk itu. Begitu banyak para kiyai yang diragukan keulamaannya 
karena bermain mata dengan orang-orang bernoda pelanggaran HAM dan KKN. 

GELALA-GEJALANYA , untuk sampai ke ambang REPUBLIK yang sebenarnya, rakyat 
se-Nusantara masih harus berjuang bergenerasi dulu, bukan dalam masa lima 
tahun mulai kini. Karena syarat manusia yang berpacu ke kursi kekuasaan, 
belum membuktikan diri sebagai manusia rakyat dalam arti sesungguhnya. 




Perkelanaan,14 Juni 2004. 


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke