Surat Kembang Kemuning:

AMAK DARE KATINGAN

Amak, dalam bahasa Dayak Katingan, Kalimantan Tengah, berarti tikar dan bahannya bisa 
dari batang purun, sejenis tumbuh-tumbuhan rawa, bisa juga dari rotan. Sedangkan dar�  
menunjukkan kepada lukisan dianyamkan di atas tikar, terutama yang terbuat dari rotan. 
Amak purun jarang sekali didar� karena itu amak dar� umumnya langsung mengacu kepada 
amak yang dibuat dari rotan. Perbedaan bahan kedua jenis amak ini membuat daya tahan 
mereka berbeda sehingga dari perbedaan ini, langsung atau tidak langsung  membuat  
fungsi mereka pun  berbeda. Amak purun umumnya digunakan untuk keperluan sehari-hari 
seperti menjemur padi, kopi, alas lantai dan keperluan sehari-hari lainnya yang 
mungkin menyebabkan amak purun itu cepat rusak. Pemakai tidak  hirau akan kerusakannya 
karena purun jauh lebih murah dari segi harga dan waktu pembuatannya. Berbeda dengan 
amak dar� dari rotan. 

Sebelum dianyam, rotan harus diolah melalui suatu proses yang panjang, jauh lebih lama 
dan rumit dari pengolahan  purun. Setelah diambil dari kebun [orang di Jakarta tidak 
bisa paham bahwa rontan itu kebun. Ketidak pahaman yang menimbulkan penderitaan 
petani-petani rotan Kalteng]  , rotan harus dirutih [membuang selaput pelapis] 
kemudian dijemur sampai tingkat kekeringan tertentu. Setelah itu untuk dijadikan 
tikar, topi, keranjang, tas, dan lain-lain, rotan itu dibelah dengan alat tertentu 
kemudian dibelah lebih kecil-kecil  lagi dengan alat khusus yang disebut jangat.  Jika 
ingin membuat amak dar� berwarna, rotan yang yang sudah dijangat ini diberi warna. 
Untuk mendapatkan warna hitam yang tidak luntur , rotan jangatan itu masih harus 
ditanam ke dalam lumpur untuk waktu tertentu. Sedangkan warna merah diperoleh dari 
kasumba , sejenis tanaman pewarna yang sekarang seperti halnya dengan tanaman 
obat-obatan tradisional Dayak sudah banyak hilang seiring dengan pembabatan 
membabibuta hutan pulau. Warna-warna yang umum digunakan adalah warna-warna dasar: 
hitam, merah dan kuning -- warna-warna alami . Amak dar� dari segi waktu, enerji 
pembuatan dan  keindahan jauh lebih tinggi daripada amak purun karena itu amak dar� 
mempunyai fungsi berbeda dengan amak purun.

Sesudah proses persiapan ini, dilalui baru amak di dar� pada waktu senggang yang 
tersedia di antara waktu berladang, berkebun atau mencari ikan. Biasanya seperti 
halnya kegiatan anyam-anyaman lainnya dilakukan oleh para perempuan. Keterampilan 
mandar� dipandang sebagai salah satu keterampilan yang harus dikuasai oleh para 
perempuan sebelum mereka membangun keluarga. Sedangkan para lelaki muda dianjurkan 
menguasai seni bela diri [pencak silat] atau kuntau  dan memiliki aji-aji tertentu 
bertolak dari pandangan agar mampu menjadi tuan di bumi kehidupan dan memanusiawikan 
diri di tengah kehidupan yang tidak ramah sebagai "rengan tingang nyanak jata" [anak 
enggang, putera-puteri naga], konsep hidup dan mati manusia Dayak. Seperti halnya 
enggang [tingang], dalam konsep manusia Dayak yang juga tercermin dalam sastra lisan 
mereka, tidak ada konsep tinggal di bawah tempurung langit kampung yang sempit. Hidup 
sering dipandang sebagai tamuei [kisah perantauan atau perjalanan] guna memberikan 
makna maksimal kepada waktu dan ruang. Ini nampak misalnya dari cerita Sansana Bandar, 
Panimba Tasik [Menimba Laut], Panetek Gunung [Pemengal Gunung], Sansana Kayau Pulang, 
Banama Tingang [Perahu Enggang],dan lain-lain.... Tamuei ini dijelujuri oleh semangat 
"isen mulang" [pulang dengan kemenangan] sebagai ujud dari harkat dan martabat 
kemanusiaan diri. Garangnya kehidupan dilambangkan antara lain melalui upacara 
"manetek patan"  [memotong rintangan].

Penggunaan warna-warna dasar bahkan terkadang hanya hitam putih yang dipakai dalam 
mandar�, selain dibatasi oleh tingkat tekhnologie, juga bisa ditafsirkan sebagai 
pencerminan kepolosan dan kejujuran manusia Dayak. Kata yang diucapkan manusia Dayak 
setara dengan mantera. Kata adalah terjemahan dari pikiran, perasaan dan jiwa terdalam 
mereka. Karena itu hukum adat yang diberlakukan terhadap tindak kriminal relatif 
sangat ringan dan hanya akan menjadi sangat berat jika terjadi pelanggaran kedua kali. 
Inilah yang dicerminkan oleh hukum adat: sumpah "memotong rotan" [manetek uei], atau 
menabur beras kuning merah garam berabu. Pembohong dan keisengan, banditisme, 
caci-maki dipandang sebagai tindak tidak beradat yang tidak mempunyai tempat dalam 
komunitas rumah betang [rumah panjang].  Warna-warna dasar jadinya bisa ditafsirkan 
sebagai kemurnian jiwa. Tapi agaknya "warna-warna dasar" ini pula yang  banyak 
mencelakakan komunitas Dayak sendiri dan dari sini pulalah konflik dengan pihak luar 
yang melanggar adat sering terjadi. Manusia Dayak seperti kurang luwes dengan 
kejujuran "dasar" mereka dalam menanggap kerumitan. Mereka belum sepenuhnya bisa 
melepaskan diri sebagai anak betang dan putera-puteri alam sehingga mereka ternganga 
bingung melihat hutan rimbunnya tiba-tiba jadi padang pasir dan sungai serta langitnya 
berbau airraksa. Padahal mereka sendiri menganggap sejak lama hidup bukanlah berwarna 
"hitam putih" semata.  Kerumitan hidup juga telah mereka lukiskan dalam bentuk pohon 
kehidupan atau "batang garing" yang banyak menghiasi amak dar�. Dari pengalaman ini, 
saya melihat bahwa perkembangan dasar sosial-ekonomi, kongkretnya dasar sosial-ekonomi 
 betang yang diporak-porandakan secara sistematik oleh Negara membuat manusia Dayak 
kehilangan diri dan lupa . Paling tidak mempunyai ingatan pendek [memoire court] dan 
buta sejarah. Barangkali ini pulalah dasar sebab mengapa seni lukis kurang berkembang 
di kalangan Dayak  Kalteng. Jika dibandingkan dengan angkatan sekarang yang tidak 
segan-segan  melakukan otopraklalamasi sebagai penyair dan sastrawan, saya sering 
heran dan tak habis pikir betapa tidak beradabnya mereka, sampai bisa  menganggap 
cacimaki sebagai karya dan sikap berbudaya seorang penyair dan sastrawan. Sungguh 
sikap ini menarik untuk diteliti dari segi antropologi mentalitas Indonesia: Kekinian: 
Bagaimana mungkin kebiadaban dipandang sebagai peradaban!?  Keadaan ini akan lebih 
parah lagi jika kita menjalarkannya ke dunia politik politisi.

Dari amak dar� yang diproduksikan sekarang, yang dipajangkan sebagai hiasan dinding 
tidak nampak ada kreativitas selain repitisi tanpa penasfiran dan pengembangan 
tekhnis. Amak dar� dewasa ini diproduksi tidak lebih dari melayani kepentingan turisme 
dan sesuai permintaan tengkulak yang menjual eksotisme Dayak.  Ketika bekerja di 
Kalteng, saya telah mencoba melakukan apa yang bisa saya lakukan untuk mengembangkan 
seni kerajinan Dayak termasuk amak dar�, tapi dengan segala sesal, usaha yang memberi 
harapan ini terpaksa terpenggal karena  saya harus meninggalkan Indonesia dan kampung. 
Dari pengalaman ini saya berani mengatakan bahwa sangat mustahil jika lulusan 
universitas hanya menambah barisan pengangguran sementara tantangan dan pekerjaan 
begitu banyak menantang. Dari segi ini saya mengangkat topi kepada Ronny Teguh, 
sarjana komputer yang memilih pulang tanpa tergiur pada posisi berduit di Jawa, di 
Singapura dan tempat-tempat lain. Hormat inipun saya sampaikan kepada mantan walikota 
Palangka Raya, Kolonel intelijen Angkatan Darat RI, Salundik Gohong yang memilih 
pulang membangun kampung daripada tinggal nyaman di Bandung. Kalau Salundik Gohong 
tersingkir dalam pemilihan walikota selanjutnya saya tidak menganggapnya sebagai 
kekalahan fatal. Ia dikalahkan intrik uang tapi sebagai manusia ia tidak kalah. 
Salundik Gohong mengajarkan saya untuk tidak anti militer tapi tetap anti militerisme. 
Orang militer dan militerisme adalah dua hal berbeda. Salundik pun paham akan hal ini. 
Seumur hidup saya akan mengenangkan persahabatan kami.  Tema-tema seperti ini dalam 
tingkat artis pengrajin Dayak seperti sekarang sulit diharapkan muncul dalam amak 
dar�. Konsep hidup mati Dayak pun mereka tidak paham. Amak dar� dan segala bentuk 
kerajinan tangan Dayak dewasa ini, saya lihat sangat tidak kreatif dan produksi yang 
dilemparkan ke pasar turisme saya baca sebagai produk para buruh yang ditampung para 
tengkulak. Dari praktek terpenggal yang saya coba lakukan di Kalteng, saya melihat 
jika kerajinan tangan ini ditumbuhkembangkan secara sadar, kita bisa memberikan 
pekerjaan kepada para ibu rumahtangga  di seluruh propinsi bahkan juga bisa 
menciptakan pekerjaan bagi paara pengrajin di pulau lain seperti di Jawa Tengah 
misalnya. 

Yang ingin saya katakan melalui "SuratKembang Kemuning" ini, terutama masalah betapa 
Indonesia itu adalah gunung kerja dan tantangan kepada kita semua, terutama kepada 
para yang berkesempatan mengenyam sekolah tinggi.Gunung kerja dan tantangan itu berada 
di lapisan mayoritas yaitu masyarakat yang berada di hulu, di pedalaman, di 
kampung-kampung, di desa-desa terpencil di kaki gunung. Harapan dan haridepan bisa 
dibangun dari bawah.Pudarnya dan ketidaktahuan kita tentang amak dar� hanyalah salah 
satu  lambang dari ketidakacuhan dan adanya lupa serta berkembangnya 
individualisme.Berapa banyak saya sudah membantu orang belajar di luar negeri sampai 
memperoleh gelar S3, akhirnya mereka tidak pulang dan bangga dengan selaksa dalih 
menolak pulang. Sedangkan saya? Untuk pulangpun tidak gampang bahkan terpaksa 
meninggalkan kampughalaman! Ironi Republik bernama Indonesia, ironi yang menolak cinta 
dan anti kebenaran . Barangkali saya yang memang sudah terlalu ketinggalan zaman 
dengan segala mimpi. Di hadapan keadaan begini, saya selalu teringat ucapan sobat 
dekat tak pernah hilang saya Arief Budiman: "Jalan pemimpi yang kita tempuh memang 
jalan sepi, Kusni!". Sedangkan almarhum Karcono, mantak aktivis LSM dan dosen 
Universitas 17 Agustus Jakarta, berpesan: "Jangan berbalik dan jangan mundur. Mundur 
adalah kesia-siaan".  Amak dar� Katingan lambang marjinalisasi hari ini kudengar 
seperti suara nyaring berseru. Kau dengar jugakah seruannya ?!  

Paris, Juni 2004.
---------------
JJ.Kusni



[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke