--- In [EMAIL PROTECTED] Minggu, 13 Juni 2004 Ternyata, Nilai UAN Dikatrol
Terungkap, setelah Dibongkar SMA Swasta SURABAYA - Besok, siswa SMA di Jatim bisa melihat nilai-nilai UAN (ujian akhir nasional)-nya. Tapi, jangan kaget, jika nilai yang diumumkan besok itu, bukanlah nilai asli para siswa. Tapi, semuanya sudah dikonversi (diubah). Ada yang didongkrak, dan ada juga yang dikurangi. Lho? Soal mendongkrak dan mengurangi nilai-nilai UAN ini kemarin diungkap beberapa SMA swasta di Surabaya dan Malang. Di antaranya SMAK St Louis 1 Surabaya, SMA Kr Petra 2 Surabaya, dan SMAK Santo Yusup Malang. Awalnya, perwakilan sekolah swasta ini merasa janggal dengan nilai UAN para siswanya. Hampir tidak ada siswanya yang nilainya bagus. Sebaliknya, di sekolah-sekolah pinggiran, banyak siswa yang nilainya naik tajam. Karena penasaran, mereka melakukan cross check ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (P dan K) Jawa Timur, Jumat lalu. Di kantor ini, oleh staf Kurikulum Lukito, mereka diajak melakukan scanning ulang terhadap beberapa LJK (Lembar Jawab Komputer) UAN. Di sinilah terungkap adanya kebijakan dari Depdiknas Pusat, tentang konversi nilai UAN. Seperti apa konversi tersebut? Menurut Drs Hamzah Sugianto, guru SMAK Santo Yusup Malang, jika siswa yang memiliki jawaban benar kurang dari separo dari jumlah soal, maka nilainya akan dikatrol. Sebaliknya, siswa yang mampu menjawab benar lebih dari separo dari jumlah soal, nilainya akan dikurangi. "Mereka tidak tahu alasan konversi ini. Tapi, ini merupakan kebijakan yang tidak adil dan mencoreng dunia pendidikan," kata Hamzah, kemarin. Sebagai contoh, untuk UAN Matematika, jumlah soalnya ada 40 butir. Jika nilai maksimal 10,00 maka, satu jawaban benar mendapat poin 0,25. Sehingga untuk bisa memenuhi standar kelulusan 4,01, siswa harus mampu menjawab 17 soal dan mendapat nilai 4,25. Tapi, dengan model konversi, peserta UAN hanya butuh menjawab 10 soal dengan benar, dari 40 soal yang ada. Dengan menjawab 10 soal dengan benar, siswa sudah mendapat nilai 4,01 (lihat grafis). "Padahal, jika tidak dikonversi nilainya hanya 2,50," katanya. Diknas tampaknya sengaja mengonversi nilai UAN untuk mengurangi jumlah siswa yang tidak lulus UAN. Jika memakai nilai standar, sudah pasti siswa yang tidak lulus akan membeludak. Kalau di Surabaya, sebelumnya terungkap ada 566 siswa SMA yang tidak lulus, maka itu merupakan hasil katrolan nilai akibat konversi. Kalau mau dinilai secara jujur tanpa konversi, maka jumlah siswa yang tidak lulus pasti jauh lebih besar dari angka tersebut. Sebaliknya, bagi siswa yang pandai, kebijakan konversi ini merugikan. Wakasek Kurikulum SMAK St Louis Bernardus Widodo mengaku sempat heran mengapa siswanya yang biasanya mendapat nilai 9 atau 8, dalam UAN rata-rata nilainya berkisar antara 6 sampai 7. Dia mencontohkan, untuk siswa yang mampu mengerjakan 32 soal dengan benar, seharusnya mendapat nilai 8,00. Tapi, dengan model konversi, nilai 8,00 itu menjadi 6,73. Begitu juga untuk siswa yang menjawab 36 soal dengan benar, harusnya mendapat nilai 9,00. Tapi, ternata malah dikurangi menjadi 7,70. "Jangan heran, kalau rata-rata nilai UAN sekolah kami turun," katanya. Bagi Hamzah maupun Widodo, konversi nilai ini jelas merupakan kebijakan yang tidak fair. "Sangat tidak mendidik. Katanya UAN untuk mengukur kualitas. Ternyata Diknas tidak konsisten dengan kebijakannya sendiri," kata Widodo. Selama ini, sekolah-sekolah tidak tahu dan tidak pernah ada sosialisasi mengenai konversi nilai UAN ini. Kebetulan saja, tahun ini terungkap. Sebab, selama ini model koreksi yang dilakukan Diknas sangat dirahasiakan. Sementara itu, Kepala Dinas P dan K Jatim Drs H. Rasiyo Msi ketika dikonfirmasi mengatakan, konversi nilai ini dilakukan oleh Balai Litbang Puspendik (Pusat Penerangan Pendidikan) yang ada di Depdiknas Pusat. Pihaknya, kata Rasiyo hanya melakukan scanning terhadap LJK peserta UAN. Hasil scanning LJK itu dibawa ke Jakarta untuk diberi nilai oleh panitia UAN pusat. "Kami sama sekali tidak tahu menahu soal konversi nilai UAN ini," kata Rasiyo. Bahkan, kata Rasiyo, pihaknya juga tidak pernah diberitahu oleh Mendiknas maupun Dirjen Dikdasmen mengenai konversi nilau UAN. "Saya juga kaget kok," ungkapya.(tom) Thks and Best Rgds, Ris --- End forwarded message --- ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70 http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

