Dari Catatan Harian Seorang Klayaban: BISAKAH KITA MENOLONG DIRI SENDIRI? [2]
[Cengkerama dengan Adik-adikku: Suraiya, El Camino, Aguk Irawan, Romli dan Aman] "Dear Dayaks Maaf saya sedikit menyampaikan sedikit persoalan yang membuat saya tidak bisa tidur memikirkan hal ini. Dari tgl 10 s/d 20 Juni 2004 ada acara pertemuan Subud di Palangka Raya, sebagai zone baru berdiri dalam aktifitas SUBUD selama ini. Acara di buka oleh Gubernur dengan memaparkan kondisi alam dan potensinya (pemimpin kita lagi berjualan). Entar terpikirkan oleh apa saya mulai memotret sekitar kehidupan di sekitar kerajaan bule ini. Malam tadi saya mulai wawancarai 2 orang pemuda yang ingin mencari kerja kepada saya. Dan saya malah anjurkan mereka masuk CU untuk bisa menolong dirinya mereka sendiri. Kembali kepada hasil wawancara tadi malam, adakah manfaat bagi kalian kehadiran kerajaan bule di daerah kalian, mereka hanya menjawab "kami hanya berenang di komplek dengan membayar Rp 15.000,-". Saya sedih mendengar jawaban tersebut. 2 buah kesimpulan yaitu 1. kerajaan bule tak menghasilkan manfaat bagi orang daerah dan hanya mencaplok perlahan demi perlahan tanah dan SDA orang dayak. 2. Ada udang dibalik batu alias ancaman jangka pendek. Kenapa orang bule ini pilih Kalteng tentu ada alasan baik secara ekonomi, teologis, maupun sosial budaya. Kita hanya sebagai babu alias pesuruh di negeri rumah kita sendiri, sedangkan orang - orang bule ini se-enak udelnya membeli dan membangun koloni di Kalteng. Lambat laun orang Dayak seperti suku Aborigin di Australia, dijadikan pameran dan tersiksa di tanahairnya sendiri. Dayak sebuah identitas yang diberikan oleh orang. Sampai sekarangpun Dayak hanyalah bahan-bahan diskusi oleh orang-orang yang bermuka dua. Di luar negeri, banyak bicara tentang Dayak adalah suku primitif, tapi setelah di Kalimantan bicara dengan dialek yang ramah, dayak adalah pemaaf dan Dayak adalah penduduk yang ramah. saya tidak anti bule, tapi kenyataan di lapangan akan berkata lain, koloni bule terbentuk di Kalteng, lambat laun akan memenuhi daerah Dayak dan...... akhirnya (kata orang Katingan, endingnya) "orang Dayak adalah suku yang benar terpinggirkan di daerahnya sendiri". "STOP BULE" yang tak berpihak ke Dayak." Ronny [Sumber: ronny teguh [EMAIL PROTECTED] Tuesday, June 15, 2004 8:02 AM Subject: [dayaks] STOP Kerajaan Bule Di Kalteng] Apa yang ditunjukkan oleh surat Ronny di atas? Banyak! Banyak sekali dan cukup rumit. Tulisan Ronny ini juga sesungguhnya menegur kita untuk kembali membuka halaman-halaman sejarah Dayak, sejarah penindasan dan perlawanan mereka, bagaimana masyarakat Dayak diporak-porandakan oleh kekuatan penindas dan penghisap, baik dari luar maupun dari dalam negeri sendiri, bagaimana kita dipecahbelah, dibeli dan ada yang sanggup menjadi pengkhianat serta bagaimana kita mencoba tidak menyerah melanjutkan perlawanan dan membela harkat serta martabat kemanusiaan kita. Perjuangan yang sampai sekarang masih berlanjut. Tapi yang ingin saya angkat terutama masalah-masalah berikut: [1]. Kemampuan kita membaca situasi, mengenal di mana kita berada dan bagaimana keadaan kita sekarang. [2].Di hadapan keadaan demikian, bagaimana kita bersikap. Nyatanya bagaimana dan semestinya bagaimana? Ke mana dan bagaimana mencapai ke mana? [1]. MEMBACA MENGENAL SITUASI: Mengenal situasi, berhakekatkan mengetahui keadaan kita sekarang, di mana kita berada. Pengenalan ini selayaknya merupakan pengenalan yang relatif padan.Untuk bisa mengenal situasi atau membaca situasi secara cermat diperlukan pengetahuan sehingga kita mengenal keadaan itu seperti kita mengenal garis-garis telapak tangan kita, sehingga dengan demikian kita bisa menetapkan apa yang harus dilakukan untuk keluar dari permasalahan. Permasalah hadir untuk dipecahkan bukan untuk dihindari.Jalan keluar yang bukan kira-kira tapi berdasarkan peta keadaan kongkret.Sebab kalau berdasarkan rekaan atau kira-kira kita bisa dengan gampang terperosok ke jalan keliru yang lebih lebih mencelakakan lagi. Untuk bisa membaca peta keadaan , kita dituntut belajar: belajar dari pengalaman orang lain, belajar dari sejarah, belajar memperkaya acuan sehingga kita tidak berada di bawah tempurung kecil yang cupet. Pandai mentolerir sesuatu yang masih bisa ditoleransi dan keras melawan yang melampaui batas sesuai prinsip. Prinsip adalah wawasan alias konsep integral tentang masyarakat manusiawi yang kita inginkan. Bukan secara umum tapi sampai kepada rincian pelaksanaannya. Punyakah kita hal ini ataukah kita sibuk dengan rataptangis kemiskinan dan kepapaan, membayangkan uang sang raja memungut kita jadi budaknya, merindukan diri jadi bernama? Ketika Ronny Teguh dalam tulisannya "Stop Kerajaan Bule di Kalteng", "(pemimpin kita lagi berjualan)", "STOP BULE" yang tak berpihak ke Dayak", "kenyataan di lapangan akan berkata lain, koloni bule terbentuk di Kalteng, lambat laun akan memenuhi daerah Dayak dan...... akhirnya (kata orang Katingan, endingnya) "orang Dayak adalah suku yang benar terpinggirkan di daerahnya sendiri", "Kita hanya sebagai babu alias pesuruh di negeri rumah kita sendiri, sedangkan orang - orang bule ini se-enak udelnya membeli dan membangun koloni di Kalteng. Lambat laun orang Dayak seperti suku Aborigin di Australia, dijadikan pameran dan tersiksa di tanahairnya sendiri", Ronny dengan pernyataan-pernyataan ini sesungguhnya telah mengetengahkan hasil bacaannya atas peta situasi kampung-halamannya. Kalau ada ada yang berkomentar, bahwa Ronny seakan bersikap penuh kecurigaan, saya kira si pengomentar bisa berkata demikian karena tidak mengenal lapangan dan asal omong serta tidak merasakan bagaimana menjadi manusia Dayak yang sejarahnya penuh dengan riwayat penyingkiran, perampokan dan penindasan, bisa juga si pengomentar memang mengambil posisi yang berpihak pada penindasan dan penghisapan. Lebih celaka lagi jika hanya iseng seperti yang pernah dikatakan tanpa malu-malu oleh seorang komentator puisi di sebuah milis.Sang komentator dengan komentar isengnya sebenarnya tidak menghargai diri sendiri dan telah mempertontonkan dirinya sendiri ke hadapan khalayak. Tapi dari segi bacaan, yang pasti, pendapat-pendapat begini sesungguhnya memperlihatkan adanya perbedaan dalam membaca peta keadaaan. Tapi jika ada yang rela mengalami Aborigin Australia atau Amerindian, hal ini selain memperlihatkan perbedaan dalam membaca juga mencerminkan pola pikir dan sikap mental yang membudak [slavisme] dan mengajak bunuh diri kolektif. Yang berkata begini saya kira tidak mengenal sejarah Aborigin dan Amerindian, tidak mengenal sejarah kolonialisme, tidak mengenal sejarah etnik dan bangsanya, manusia yang hidup asal hidup, manusia yang sebenarnya sudah mati sekalipun masih bernafas dan darah masih mengalir di nadi-nadinya. Jika masih menyebut diri Dayak, manusia jenis ini tidak mengenal apa bagaimana budaya Dayak dan pandangan hidup mati seorang Dayak. Tidak mengenal sejarah Dayak dan etnik-etnik lain di negeri ini. Menjadi manusia yang manusiawi adalah tuntutan wajar bagi siapapun di planet kecil kita. Menjadi "babu", menjadi "pesuruh di negeri rumah kita sendiri", apakah suatu kehidupan manusiawi? Sejarah lahirnya propinsi Kalteng sendiri menyanggah keras pendapat, pola pikir dan mentalitas begini. Adanya pendapat, pola pikir dan mentalitas begini sesungguhnya tidak lain kembali membuktikan betapa parahnya keadaan kita sebagai manusia Dayak. Berbicara tentang Dayak, tidak berarti kita berbicara tentang separatisme, ethnosentrisme tapi berbicara tentang hak untuk hidup sebagai manusia yang manusiawi.Keindonesiaan dan menjadi Indonesia , saya kira tidak lepas dari hak menjadi manusia yang manusiawi. Republik dan nilai republiken adalah paralel dengan tujuan begini. Siapapun di negeri ini tidak memerlukan Indonesia yang tidak memanusawikan manusia yang hakekatnya adalah hakekat nurani -- jika kita masih punya nurani. Tentang kecurigaan? Apa salahnya dengan kecurigaan yang tidak lain dari pertanyaan dan waspada? Hidup yang garang mewajibkan kita curiga, selalu bertanya dan waspada untuk tidak terjaring jala kekonyolan ditebarkan oleh intrik uang, sang raja. Tapi saya pribadi merasa senang bahwa orang-orang telah berani mengungkapkan pendapat secara terus-terang, tanpa kompleks. Setuju dan tidak setuju, sesuai kenyataan atau tidak, adalah soal lain, sama lainnya dengan tujuan yang menjadi pilihan masing-masing. Seseorang berhak memilih jadi "babu", "jadi pesuruh di kampung halaman sendiri", memilih nasib Aborigin Australia, sama berhaknya untuk menjadi manusia yang manusiawi. Dan di sinilah, saya kira, pentingnya debat ide, keterbukaan dan perlunya perjuangan ide. Karena bagi saya, segalanya berpusat, mulai dan terpulang kepada manusia. Kehidupan manusia yang manusiawi hanya bisa diujudkan oleh manusia yang mendukung ide ini dan tidak mungkin didukung oleh manusia-manusia berjiwa budak. [Bersambung....] [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70 http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

