Dear Rekan2 milis, Tertangkapnya tiga tokoh pentolan GAM utama, termasuk Hasan Di Tiro, telah memberi harapan masa depan cerah bagi NKRI Indonesia. Tak bisa dipungkiri, GAM menjadi duri dalam daging terciptanya NKRI yg kokoh. Terutama karna para tokohnya selama ini sulit tersentuh hukum dan menjadi warga negara lain.
dg kooperasi dari pemrintah swedia kali ini, kita bisa berharap banyak bahwa GAM akan segera rooted-out eksistensinya. Namun, pada waktu yg sama, pemerintah hendaknya mengambil pelajaran berharga dari fenomena GAM ini: bahwa selagi ketidakadilan dan penindasan pada salah satu komponen bangsa mash terus berlanjut, GAM-GAM yg lain akan bermunculan di kemudian hari. Pemerintah indonesia, bermawas dirilah. mari kita dengarkan inner-voice kita dalam mengatur negara. Bukan suara2 syetan KKN yg selalu menggoda dalam keseharian nafsu loba dan tamak kita. (mario) Kamis, 17 Juni 2004, Swedia Tangkap Tiga Tokoh GAM Oleh Denny J.A. * Di tengah kampanye pemilu presiden yang semakin sepi dan lesu, berita seru datang dari Swedia. Tiga pentolan GAM (Gerakan Aceh Merdeka) yang sudah menjadi warga negara asing kini ditahan pemerintah Swedia. Mereka adalah Hasan Tiro, Zaini Abdullah, dan Malik Mahmud. Untuk yang pertama pentolan GAM itu tersentuh hukum. Ribuan warga Aceh menderita dan mati karena GAM. Ratusan militer dan polisi Indonesia juga sudah bertempur sampai titik darah penghabisan. Begitu banyak warga negara Indonesia lainnya yang menderita lahir dan batin akibat konflik di Aceh yang sangat panjang, lama, serta tak pasti tersebut. Ibarat gadis, Aceh sudah menangis tersedu. Konflik tak kunjung selesai. Presiden sudah berganti beberapa kali. Namun, air mata, darah, serta kekecewaan terus berbaur menjadi satu di tanah Aceh. Begitu banyak keluarga yang hidup mencekam, bahkan mengungsi. Begitu banyak ibu yang kehilangan anak, istri kehilangan suami, dan anak-anak kehilangan orang tua. Namun, pentolan GAM hidup sejahtera di luar negeri karena mereka memang tidak terjangkau hukum Indonesia. Konflik di Aceh seperti mobil "bom-bom car" yang mereka gerakkan menggunakan remote control melalui Swedia. Kini, ketiga pentolan itu sudah dijangkau hukum negara barunya sendiri, Swedia. Masih belum diketahui ujung proses hukum tersebut. Namun, proses hukum terhadap ketiga pentolan GAM itu merupakan langkah yang sangat maju. Jika mereka bertiga diputus bersalah, secara moral, GAM akan semakin jatuh. Jauh lebih mudah menjinakkan ular jika kepalanya sudah dikuasai. Yang penting bagi Aceh sebenarnya adalah bagaimana masyarakatnya bisa tumbuh sejahtera dan aman. Kita sangat mengetahui bahwa konflik Aceh hanya bisa diselesaikan jika GAM tidak hanya ditundukkan secara militer. Pikiran dan hati penduduk Aceh juga harus disentuh serta direbut. Selain terus memonitor proses hukum di Swedia, pemberdayaan masyarakat Aceh sudah harus dimulai. *** Tampaknya, di situlah penyebab kegagalan berbagai metode yang selama ini digunakan untuk menyelesaikan konflik serta persoalan di Aceh. Yakni, absennya kelompok masyarakat yang besar dan mengakar di Aceh yang hati serta pikirannya berjuang untuk NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Di manakah civil society di Aceh yang pro-NKRI, yang menggelorakan bendera Merah Putih, dan yang mempengaruhi penduduk Aceh lainnya untuk cinta tanah air Indonesia bersembunyi? Dari civil society di Aceh, yang sering terdengar hanya GAM dan SIRA. Kita tahu, GAM mempunyai agenda politik yang berbeda. Kelompok tersebut justru ingin mempengaruhi penduduk Aceh agar lepas dari NKRI dan terpisah menjadi negara merdeka. Sedangkan SIRA lebih moderat. Kelompok itu selalu mendengungkan referendum agar rakyat Aceh menentukan masa depannya sendiri, ingin bergabung dengan NKRI atau merdeka. Kita tak mendengar hadirnya civil society di Aceh yang menjadi lawan setanding untuk menghadapi GAM dan SIRA. Kita tak merasakan munculnya kelompok masyarakat yang cukup terorganisasi di Aceh yang berkampanye sebaliknya. Kelompok itu, misalnya, mempropagandakan sepenuh hati dan sepenuh pikiran bahwa masa depan Aceh ada bersama NKRI. Aceh tak perlu merdeka. Bahkan, Aceh tak perlu referendum. Aceh tak bisa dimenangkan hanya melalui organ pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Aceh hanya selesai jika ada pula civil society yang kuat serta mengakar, lalu bersama-sama pemerintah pusat dan Pemprov Aceh berjuang untuk NKRI. *** Pertanyaannya, mengapa civil society pro-NKRI tidak tumbuh kuat di Aceh? Ada dua kemungkinan. Pertama, pemerintah salah menduga politik GAM. Dengan diisolasinya GAM secara militer, pemerintah mungkin menduga akan ada recovery publik Aceh secara otomatis. Bukankah GAM adalah kelompok yang paling terorganisasi di Aceh? Apalagi, kelompok tersebut bersenjata. Jika GAM ditundukkan, habis perkara. Pemerintah mungkin merasa tak lagi perlu memobilisasi atau memfasilitasi secara signifikan tumbuhnya civil society di Aceh yang pro-NKRI. Apalagi, sudah ada pemerintah daerah Aceh yang bertugas di sana. Tanpa civil society di Aceh yang secara pikiran dan hati pro-NKRI, toh pelan-pelan proses damai menuju otonomi khusus dianggap akan terjadi juga. Kemungkinan kedua, pemerintah sudah memobilisasi dan memfasilitasi sebisanya agar lahir civil society di Aceh yang pro-NKRI. Namun, kondisi di lapangan sudah amat sulit. Kemarahan kepada pemerintah pusat sudah sedemikian tinggi. Bahkan, pemerintah daerah Aceh, mulai gubernur sampai bupati, dianggap sebagai antek kolonialisme Jawa. Secara sporadis, mungkin ada kelompok kecil yang longgar di Aceh yang mencoba berkampanye melawan GAM dan SIRA. Namun, kelompok tersebut segera padam karena tekanan lingkungan. Kelompok itu segera bertabrakan dengan mainstream dan dianggap pengkhianat. Akibatnya, civil society di Aceh yang menantang GAM atau SIRA tak pernah tumbuh kuat dan terorganisasi. Kondisi itu sudah berada di luar kemampuan pemerintah RI. Kita tak tahu mana di antara dua kemungkinan tersebut yang benar. Atau, bisa juga gabungan kedua kemungkinan itu. Tapi, setidaknya pemerintah semakin memiliki pengalaman yang bertambah kaya. Dengan belajar dari kesalahan dan kegagalan aneka metode sebelumnya, harus mulai dipikirkan metode baru untuk memobilisasi civil society pro-NKRI. Aceh tak pernah bisa dimenangkan hanya lewat penaklukan militer. Namun, penaklukan militer tentu perlu dilakukan untuk memperlemah gerakan bersenjata yang ingin memisahkan diri dari Indonesia. Untuk menaklukkan Aceh, pemerintah perlu memenangkan the hearts and the minds penduduk Aceh. Namun, pemerintah pusat atau pemerintah daerah, apalagi militer, mustahil bisa memenangkan the heart and the minds penduduk Aceh. Siapa yang bisa memenangkannya? Tak lain dan tak bukan adalah civil society pro-NKRI yang terdiri atas orang-orang Aceh. Kelompok itulah yang akan mengampanyekan atau membujuk penduduk Aceh lainnya bahwa masa depan Aceh berada dalam pangkuan NKRI. Pemerintah bisa mulai mengumpulkan tokoh masyarakat Aceh yang moderat untuk mulai membangun civil society itu.*** * Denny J.A., direktur eksekutif Lembaga Survei Indonesia (LSI) http://www.jawapos.com/index.php?act=detail_c&id=112781 ===== Mario Gagho Political Science, Agra University, India __________________________________ Do you Yahoo!? Yahoo! Mail - You care about security. So do we. http://promotions.yahoo.com/new_mail ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70 http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

