7 Alasan kenapa Saya tidak memilih SBY
> 1. Tidak memegang teguh amanat
> Seperti diketahui, SBY sudah bersumpah atas nama Tuhan
> saat dilantik sebagai Menko Polkam untuk bekerja
> sebaik-baiknya.
> Tetapi karena lebih mementingkan ambisi pribadinya, ia
> mengundurkan
> diri. Justru disaat negara sedang mempersiapkanhajatan
> nasional,
> pemilu legislatif.
>
> 2. Tidak dapat mewujudkan keamanan
> Sesuai tanggungjawabnya sebagai Menkopolkam, seharusnya
> beliau bisa
> menciptakan keamanan di seluruh Indonesia. Tetapi
> prestasinya tidak
> seperti yang diharapkan.
> Darurat militer di Aceh tidak berhasil menangkap tokoh
> kunci GAM.
> Kerusuhan Ambon & Poso, tidak dapat dituntaskan, sehingga
> sering
> terjadi insiden2 lanjutan.
> Kasus-kasus kejahatan, narkotik, peledakan bom dan
> terorisme yang
> marak.
>
> 3.Melakukan kebohongan publik
> Untuk mendapatkan simpati, Ia mengaku telah dikucilkan
> dari kabinet.
> Tetapi simaklah kesaksian Agum Gumelar berikut :
> ..............................
>
> Dalam kesempatan itu Agum juga membantah isu
> pengucilan terhadap bekas Menko
> Polkam Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Sebaliknya,
> lanjut Agum, SBY adalah
> orang kepercayaan Megawati. "Menurut analisis saya,
> tidak ada pengucilan terhadap SBY. Saya melihat dia
> sebagai orang kepercayaan ibu Megawati. Statemen Pak
> Taufiq mengopinikan dia seolah-olah teraniaya. Itu
> yang terjadi. Sekarang dia (SBY) sudah menjadi
> figur yang populer," ujar Agum.
> ................................
>
> 4. Manfaatkan jabatan untuk kepentingan pribadi
> Beberapa saat sebelum pemilu. Ia membuat iklan layanan
> masyarakat
> mengenai pemilu. Hal ini tidak pernah dilakukan oleh
> seorang
> Menkopolkam di jaman
> Habiebie dan Soeharto. Ini sungguh mengherankan, karena
> boleh dikata
> saat pemilu 1999 keadaanya lebih mengkhawatirkan dibanding
> sekarang.
>
> 5.Tidak Jujur
> SBY selalu menunjukan seolah-olah tidak berniat menjadi
> presiden.
> Dalam suatu kesempatan, dia bersedia jika ada beberapa
> partai yang
> mencalonkannya.
> Ambisi menjadi presiden beliau berhasil ditutupi dengan
> sangat rapi.
> Tetapi simaklah pengakuan S. Budhisantoso, Ketua Umum
> Partai
> Demokrat berikut :
> ...........
> SBY akhirnya diajak untuk ikut serta merencanakan dan
> mempersiapkan kelahiran parpol tersebut. Kejadinya,
> selepas SBY gagal bertarung dalam memperebutkan kursi
> wakil presiden yang ditinggalkan Mega pada tahun 2001.
> Sidang Istimewa MPR yang menurunkan Gus Dur dan
> menaikan Mega itu, memilih Hamzah Haz sebagai wakil
> presiden. ''Nah, saat pendirian itu, beliau (SBY, red)
> sendiri ikut merencanakan, mempersiapkan partai ini.
> Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga dirancang
> oleh beliau.''
> ..........
> (keterangan : SBY kalah dengan Hamzah Haz dalam pemilahan
> Wapres
> oleh MPR)
>
> 6. Tidak mempunyai konsep jelas dalam mengelola negara
> SBY bilang dia bertemu Nurcholis Majid untuk meminjam
> konsepnya.
>
> 7. Mantan ABRI/ TNI
> Sebenarnya bukan masalah mantan militernya. Tetapi karena
> belum
> adanya penyelesaian yang jelas dari masalah-masalah HAM,
> penyalahgunaan wewenang dan korupsi yang dilakukan oleh
> oknum
> militer semasa Orde Baru sampai sekarang. Penyelewengan
> tersebut
> termasuk penguasaan HPH, pengkaplingan laut seperti
> pengerukan pasir
> di Batam, pembekingan cukong-cukong kayu, dll.
> Saat ini banyak bekas pejabat militer Orde Baru yang
> menjadi tim
> kampanyenya. Tentu akan menambah kesungkanan untuk
> mengusut senior-
> seniornya di militer.
>
> **********************************************************
> Dokumentasi asli:
>
> ------------------------------------------
>
> Minggu, 18 April 2004
> Subur Budhi Santoso; Sosok dan Kiprahnya
> Pernah Jadi Pengurus Golkar di Jaman Orba
>
>
> PAMOR Partai Demokrat (PD) melesat bagaikan meteor,
> terutama karena keterkaitanya yang sangat erat dengan
> Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Sosok Ketua Umum
> Partai Demokrat Subur Budhisantoso seolah tenggelam
> dan tak memiliki peran yang cukup signifikan dalam
> mengendalikan parpol tersebut.
>
> Budi sebagai ketua umum parpol berlambang mirip
> berlian itu, seolah hanya sebagai pajangan saja. Latar
> belakangnya sebagai seorang cendekiawan -antropolog-
> seringkali dinilai kurang memadai untuk memimpin
> sebuah parpol. Apalagi, saat pendirian Partai
> Demokrat, yang muncul ke permukaan memang banyak sosok
> cendekiawan, seperti Prof Irzan Tandjung dan Sri
> Soemantri.
>
> Bersama para cendekiawan lainya, Budhi mengaku
> mendirikan Partai Demokrat karena kepedulian sebagai
> sarjana (schoolar). Saat itu, dia sebagai seorang
> cendekiawan banyak ditugaskan untuk meliput
> masalah-masalah sosial politik di Indonesia. ''Kami
> merasa terpanggil in step of (melangkah,red) dari
> pengamat menjadi pelaku untuk berpatisipasi
> memperbaiki keadaan di Indonesia,'' ungkapnya.
>
> Meski begitu dunia politik praktis pernah dialami
> Budhi. Dia mengakui memang pernah aktif di Golongan
> Karya (Golkar) saat rejim Orde Baru berkuasa. Namun
> dia berkilah, keikutsertaanya di Golkar hanya sebatas
> kewajiban sebagai pegawai negeri sipil (PNS). Sebagai
> Direktur Sejarah dan Nilai Tradisional di Departemen
> Pendidikan dan Kebudayaan, dia tak bisa mengelak untuk
> aktif bernaung di bawah organisasi berlambang pohon
> beringin itu.
>
> Gara-gara pernah aktif di Golkar itu, pendirian Partai
> Demokrat sempat dikesankan banyak mengusung
> orang-orang lama yang ingin kembali aktif di politik.
> Seketika juga, kesan itu langsung dibantah Budhi.
>
> Namun Budhi mengakui, memang ada orang-orang lama yang
> duduk di jajaran DPP. Tapi jumlahnya sangat minim.
> Yang masuk jajaran kepengurusan pusat, sebagian besar
> adalah orang-orang baru. ''Malah kayak-nya (orang lama
> aktif kembali, red) tidak ada. Yang ada adalah
> teman-teman mantan pegawai negeri, karyawan BUMN,
> pengusaha dan cendekiawan serta ulama,'' bantah
> antropolog kelahiran Garut itu.
>
> Bagaimana sebenarnya Budhi bisa terlibat dalam
> pendirian Partai Demokrat? Ayah dari tiga putra itu
> kemudian menceritakan sedikit latar belakang pendirian
> Partai Demokrat. Sebelum mendirikan Partai Demokrat,
> dia ditugasi oleh Dewan Pertahanan Nasional (Wantanas)
> untuk menghimpun partai-partai politik (parpol) kecil
> yang gagal memperoleh suara hingga mencapai electoral
> threshold.
>
> Parpol-parpol gurem itu disatukan untuk mengantisipasi
> kemungkinan terjadinya pembatalan Pemilihan Umum
> (Pemilu) 1999 karena alasan maraknya politik uang
> (money politic). Kejadianya persis seperti tuntutan
> pembatalan pemilu yang dilakukan Gus Dur dan
> kawan-kawanya saat ini. ''Kalau pemilu dibatalkan,
> maka partai-partai kecil itulah yang akan kita
> aktifkan jangan sampai terjadi kekosongan parlemen,''
> urai Budhi.
>
> Langkah kongkret penyatuan parpol kecil itu, Budhi
> bersama Sri Soemantri, Irzan Tandjung dan beberapa
> temanya, mendirikan apa yang disebut dengan Gerakan
> Mengembalikan Kedaulatan Rakyat. Gerakan itu disingkat
> menjadi Gema Karsa.
>
> Dengan pengalaman itu, Budi merasa terangsang untuk
> mendirikan partai politik juga. Akhirnya, ketika ada
> tawaran untuk memimpin Partai Demokrat, maka dia
> menyambutnya dengan suka cita.
>
> Sejak awal, partai yang dipimpin Budhi itu memang
> dipersiapkan sebagai kendaraan politik bagi SBY untuk
> meraih kursi kepresidenan. Namun, sebenarnya tak
> menutup seratus persen bagi tokoh-tokoh lainnya.
>
> Partai Demokrat sempat melihat-lihat orang-orang yang
> bisa diajukan untuk memimpin ke depan. Salah satunya,
> sempat melirik Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia
> (HKTI) Siswono Yudhohusosodo. Tapi, karena Siswono
> ternyata telah membikin partai sendiri, maka Partai
> Demokrat tetap pada pilihan pertama yaitu SBY. ''Jadi,
> Partai Demokrat memang untuk kendaraan politik SBY,''
> tandas Budhi tegas.
>
> SBY akhirnya diajak untuk ikut serta merencanakan dan
> mempersiapkan kelahiran parpol tersebut. Kejadinya,
> selepas SBY gagal bertarung dalam memperebutkan kursi
> wakil presiden yang ditinggalkan Mega pada tahun 2001.
> Sidang Istimewa MPR yang menurunkan Gus Dur dan
> menaikan Mega itu, memilih Hamzah Haz sebagai wakil
> presiden. ''Nah, saat pendirian itu, beliau (SBY, red)
> sendiri ikut merencanakan, mempersiapkan partai ini.
> Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga dirancang
> oleh beliau.''
>
> Dalam Pemilu legislatif 5 April 2004 lalu, Partai
> Demokrat memperoleh suara signifikan. Hanya saja
> muncul keraguan dengan sumberdaya manusianya yang
> duduk di kursi legislatif. Dikhawatirkan, mereka tak
> mampu menopang kinerja pemerintahan, jika SBY mampu
> memenangkan kursi kepresidenan.
>
> Bagi Budi, Partai Demokrat memang harus belajar dari
> sejarah. Partai Demokrat tak mungkin menjadi partai
> kemudian menggaet orang-orang pintar semuanya. Jika
> hal itu dilakukan, dikhawatirkan akan penuh dengan
> kutu loncat dari parpol-parpol lain. Karena itu, PD
> sengaja mengisinya dengan orang-orang baru dalam
> politik. ''Kita menyadari kekurangan-kekurangan SDM
> itu, tapi kita juga berusaha mengatasinya dengan
> mengadakan penataran-penataran dan pendidikan
> politik,'' ujarnya.
>
> Untuk mengatasi kekurangan sumberdaya manusia itu,
> Budhi juga membuka peluang bagi orang lain untuk
> bekerjasama. Partai Demokrat tidak akan memonopoli
> orang-orang di eksekutif dan macam-macam kegiatan
> lainya. Partai Demokrat akan merangkul semua orang
> yang kira-kira masih bisa diajak bekerjasama, terutama
> yang relatif bersih dari korupsi, kolusi dan
> nepotisme. ''Itu kita ajak kerjasama, sehingga nanti a
> akan memperkuat Partai Demokrat itu sendiri,''
> tandasnya.(nur budi hariyanto)
>
> *******************
>
> www.rakyatmerdeka.co.id
> ------------------------
> Selasa, 25 - Mei - 2004
>
> Wiranto Diinterupsi, Agum Curhat...
>
>
> Jakarta,RM Talkshow calon presiden (capres) RI yang
> menghadirkan Wiranto sebagai nara sumber utama, di
> Gedung Pusat Kegiatan Penelitian Unhas, kemarin
> diwarnai 'hujan' interupsi dari kelompok mahasiswa
> yang tergabung dalam Forum Badan Eksekutif Mahasiswa
> (BEM) se Universitas Hasanuddin (Unhas).
>
> Interupsi itu berawal dari kebijakan panitia melalui
> moderator Irwan, bekas ketua BEM Fakultas Teknik
> Unhas, yang tidak memberi kesempatan pada Forum BEM
> se-Unhas, menyampaikan sembilan visi kebangsaan yang
> dirumuskan forum ini. Padahal Forum BEM se Unhas sejak
> jauh hari sudah mempersiapkan rumusan visi kebangsaan
> yang terangkum dalam sembilan item, untuk disampaikan
> pada capres Wiranto.
>
> "Kami sangat kecewa atas kejadian ini. Bukan apa-apa,
> kita sudah ada kesepakatan bersama dengan panitia
> untuk menyampaikan visi-misi kami yang termuat dalam
> sembilan visi kebangsaan. Tapi kenyataannya, moderator
> tidak memberikan kesempatan," ujar Dewi Hastuti S,
> bekas presiden BEM Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM)
> Unhas, periode 2002-2003.
>
> Memang, begitu Wiranto usai menyampaikan gagasannya,
> tidak ada kesempatan yang diberikan oleh moderator
> kepada floor. Sebaliknya, moderator hanya memberi
> kesempatan pada tiga panelis, masing-masing Ishak
> Ngeljaratan, Dr Marzuki DEA, dan seorang dari unsur
> mahasiswa.
>
> Terlepas dari kekecewaan mahasiswa yang tergabung
> dalam Forum BEM se Unhas itu, dalam pemaparannya
> Wiranto sempat mengklarifikasi sejumlah hal. Antara
> lain, kesediaannya untuk hanya menjadi presiden dalam
> satu periode. Intinya, dia menyatakan hanya akan
> menjadi presiden (jika terpilih) pada periode
> 2004-2009.
>
> Pada kesempatan itu, Wiranto menjelaskan pula tentang
> visi dan misinya dalam membangun Indonesia. Dikatakan,
> Indonesia dahulu merupakan wadah yang berisi
> cita-cita, semangat dan ikatan-ikatan yang sedemikian
> kuatnya.
>
> "Namun selama lima tahun belakangan ini, kita terjebak
> dalam suasana yang saling menyalahkan. Hal ini membawa
> Indonesia masuk dalam suasana disharmoni, sehingga
> tidak jelas arah yang dituju. Ini bermuara pada
> ancaman disintegrasi bangsa," Wiranto mengingatkan.
>
> Wiranto juga menyatakan bahwa pada awal masa reformasi
> dirinya sebetulnya berpeluang menjadi presiden. Itu,
> andaikan dirinya ambisius dan mau memanfaatkan
> situasi. "Tapi karena saya menyadari kepentingan
> bangsa dan negara, ya saya menyerahkannya pada
> mekanisme konstitusi dan keinginan reformasi," kilah
> capres bernomor urut satu ini.
>
> Kalau Wiranto ke Makassar, Cawapres Agum Gumelar
> disibukkan oleh berita penonaktifan dirinya dari
> posisi Menteri Perhubungan. Kemarin, Sekretaris Negara
> Bambang Kesowo memastikan, surat penonaktifan Agum
> dari posisi Menteri Perhubungan sudah ditandatangani
> Presiden Megawati. Menurutnya, penonaktifan Agum yang
> bekas Danjen Kopasus ini dituangkan dalam keputusan
> presiden (keppres). Hanya saja, Bambang tidak mau
> mengungkapkan nomor berapa Keppres tersebut. Dia
> mengaku lupa nomornya. Alasannya, keppresnya masih
> berada di meja Presiden Megawati. ''Pokoknya, Ibu
> Presiden telah menandatangi Keppres pada dua tiga jam
> yang lalu,'' kata Kesowo.
>
> Penonaktifan Agum, lanjut Kesowo, bukan berdasarkan
> permintaan dari menteri yang bersangkutan. Tapi,
> berdasarkan keputusan KPU yang menyatakan Agum menjadi
> salah satu cawapres pada pilpres mendatang. ''Sampai
> saat ini tidak ada surat permintaan (resmi) dari Pak
> Agum. Penonaktifan hanya berdasarkan peraturan KPU,''
> jelasnya.
>
> Agum sendiri sampai kemarin, masih menjalankan
> tanggungjawabnya sebagai Menteri Perhubungan. Menurut
> Kabiro Hukum dan Humas Departemen Perhubungan
> Swihandoyo, kemarin, Agum masih ngantor seperti
> biasanya. "Pak Agum tetap masuk kantor seperti
> biasanya. Malahan, kita belum tahu Pak Agum sudah non
> aktif apa tidak," ungkapnya.
>
> Entah apa sebabnya, saat berada di Bandung kemarin,
> Agum yang juga cawapres PPP tiba-tiba curhat. Isinya,
> mulai soal perkenalannya dengan Megawati sampai isu
> pengucilan SBY.
> Curahan hati itu disampaikan Agum saat berbicara dalam
> acara Pemantapan
> Program Kerja Sektor Perhubungan, di Pusat Pendidikan
> dan Latihan PT KAI, Bandung.
>
> Dia mengawalinya dengan kisah perkenalan dirinya
> dengan
> Presiden Megawati. Dikatakan Agum, dirinya mengenal
> Megawati pada tahun 1993.
> Saat itu Agum menjabat sebagai Danjen Kopassus.
>
> "Sebagai Danjen Kopassus, saya diminta oleh Panglima
> TNI, untuk mengamankan
> Kongres PDI tahun 1993 di Medan. Mendapat perintah itu
> saya harus memotret apa
> kondisi sebenarnya, dan itu hanya bisa diperoleh lewat
> kejujuran," tutur Agum.
>
> Agum kemudian bergerak, mencari tahu kondisi
> sebenarnya di lapangan. Hasilnya,
> kata Agum, dirinya menemukan fakta 95 persen peserta
> kongres PDI menginginkan
> Megawati menjadi Ketua Umum. "Dalam hati saya
> bertanya, untuk apa melakukan intervensi. Dan akhirnya
>
>
> terpilihlah Ibu Megawati sebagai Ketum PDI. Itu
> pertama kali saya mengenal Ibu
> Megawati," ungkap Agum.
>
> "Apa hadiahnya untuk saya? Saya dipukul oleh stick
> nomor satu. Saya harus
> meninggalkan anak buah saya, meninggalkan Baret Merah,
> dan bertugas di Bukit
> Barisan (Kasdam Bukit Barisan)," kata Agum.
>
> Semenjak itu, hubungan Agum dengan Megawati kian
> dekat. Agum bahkan mengaku
> sempat memberikan masukan kepada Megawati, termasuk
> soal perpecahan di tubuh
> PDI.
>
> "Pada September 2003, saya berkesempatan berbicara
> dengan Ibu Megawati. Saya
> bilang, saya bukan orang PDIP, tapi saya sedih melihat
> gontok-gontokan di
> tubuh PDIP. Kalau terus begini, saya yakin PDIP akan
> kalah di Pemilu 2004 oleh
> Golkar," ungkap Agum.
>
> "Saya juga mendengar bahwa Golkar akan memajukan
> Wiranto sebagai capres, maka
> Ibu Megawati perlu pendamping yang tepat, yang bisa
> menguatkan posisi Ibu
> Megawati. Saya katakan ada dua nama, pertama SBY dan
> Jusuf Kalla.
> Itu yang saya sampaikan kepada Ibu Megawati 8 bulan
> lalu," tambah Agum.
>
> Namun kenyataan berkata lain, SBY memilih maju sendiri
> sebagai capres lewat
> Partai Demokrat. Agum mengaku tidak tahu apa yang
> melatarbelakangi langkah SBY
> ini. "Saya tidak tahu kenapa, tapi SBY kini menjadi
> capres. Dan dalam saat ini,
> Jusuf Kalla terpukau oleh SBY dan meninggalkan
> kabinet," tukas Agum.
>
> Dalam kesempatan itu Agum juga membantah isu
> pengucilan terhadap bekas Menko
> Polkam Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Sebaliknya,
> lanjut Agum, SBY adalah
> orang kepercayaan Megawati. "Menurut analisis saya,
> tidak ada pengucilan terhadap SBY. Saya melihat dia
> sebagai orang kepercayaan ibu Megawati. Statemen Pak
> Taufiq mengopinikan dia seolah-olah teraniaya. Itu
> yang terjadi. Sekarang dia (SBY) sudah menjadi
> figur yang populer," ujar Agum. (RMA/JPNN)
>
---------------------------------
Do you Yahoo!?
Yahoo! Mail is new and improved - Check it out!
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/