CATATAN UNTUK EVA KUSUMA SUNDARI [1]; Menyusul surat pendek Ronny Teguh dalam milis [EMAIL PROTECTED] [15 Juni 2004] yang kemudian saya kirimkan ke berbagai milis, Eva Kusuma Sundari "sebagai orang yang sudah menjadi anggota Subud sejak 1991 dan pernah ke Tengkiling walau hampir 10 tahun lalu", telah memberikan tanggapan dengan harapan bahwa melalui tanggapannya "semoga interpretasi menjadi lebih balance). Sebagai orang yang menyebarluaskan surat pendek Ronny Teguh berjudul "Stop Kerajaan Bule di Kalteng", saya merasa turut bertanggungjawab dan lebih-lebih lagi karena saya memang seorang Dayak yang dilahirkan dan melalui masa kanak di daerah yang sedang dibicarakan itu, kemudian beberapa tahun lalu kembali bekerja di daerah terkait, berkenalan dengan Subud dan sementara orang yang disebutkan oleh Eva Kusuma Sundari [selanjutnya saya sebut Eva]. Dengan latarbelakang pribadi demikian saya mempunyai alasan, lebih dari siapapun, termasuk lebih dari Eva Kusuma untuk menaruh perhatian terhadap daerah kelahiran saya ini. Juga dari segi pengenalan daerah dan manusia daerahnya saya sanggup tukar-informasi dengan Eva dan "kakak kandung" Eva. Dari segi apapun. Tanggapan ini tentu saja saya hargai sebagai suatu perhatian dan kalau bacaan saya benar, pada Eva ada niat mencari obyektivitas yang diungkapkan dengan istilah "semoga interpretasi menjadi menjadi lebih balance". Semangat mencari obyektivitas ini penting karena berarti masing-masing dituntut untuk mengatakan sesuatu sebagaimana adanya. Menghatakan hitam pada yang hitam dan putih pada yang putih. Dengan semangat ini masing-masing dituntut untuk melepaskan pembelaan membuta sebagai seorang fanatik, menyingkirkan sebisa mungkin perasaan sebagai partisan atau anggota komunitas yang sering merabunkan pandang. Mata yang rabun tidak jelas melihat obyek dan obyektivitas yang diharapkan pun agar sulit dicapai. Jika obyek sudah rabun di depan mata, sulit diharapkan untuk membaca keadaan dan lebih sulit lagi menjawab pertanyaan: Bagaimana yang disusun dalam taktik dan strategi atau visi dan misi yang tanggap serta aspiratif . Titik tolak Eva ini sangat saya sokong sebagai dasar dialog.
Sebelum memasuki masalah yang dimunculkan oleh Eva melalui tanggapannya kepada Ronny, saya ingin mencatat bahwa di Kalimantan Tengah, orang Dayak tidak menyebut daerah di mana sekarang Subud berpusat dengan Tengkiling tapi Tangkiling. Tengkiling mengingatkan saya kepada nama hewan pemakan ikan. Kecil mungkin masalah ini, tapi dari penyebutan dan pengobahan nama begini nampak beberapa soal: [1]. tingkat pengenalan ; [2]. kesewenang-wenangan merobah nama lokal secara subyektif. Kalau Eva mengatakan dirinya pernah di Kalimantan Tengah atau mengenal Kalimantan, maka Eva akan ingat betapa banyak desa diberikan nama-nama Jawa, bagaimana situasi mendorong orang lokal menggunakan nama Jawa berharap kelak dengan nama Jawa, penyandang nama akan tidak memperoleh kesulitan dalam mencari pekerjaan, bagaimana lembaga-lembaga adat dihancurkan dan diganti dengan sistem yang berlaku di Jawa. Jika diusut lebih jauh ke belakang, maka soal begini, dilakukan sejak zaman kolonialis Belanda dengan politik budaya "ragi usang" , "mengosongkan gelas" dan yang oleh Orde Baru secara lebih sistematik dan brutal dilakukan.Saya bisa memberikan banyak contoh. Dayak diidentikkan sama dengan segala keburukan, keterbelakangan dan kejahatan. Apakah Eva bebas dari dampak politik ini? Nanti akan saya tunjukkan dengan mengurai kalimat per kalimat Eva dalam tanggapannya yang bersemangat. Berkelebihankah berharap korek dalam penyebutan nama termasuk cara penulisan apalagi bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional mempunyai kaidah-kaidahnya sendiri sebagai bahasa. Andaikan Eva dipanggil Evi , apakah Eva akan suka dan menoleh? Pada nama ada semacam kesepakatan sosial, ada nilai dan harapan tertentu dikandungnya. Bahkan di Tanah Dayak nama dipandang sakral sampai diadatkan tidak boleh menyebut nama orangtua. Merobah nama seseorang dengan sekehendak hati, digolongkan sebagai tidak beradat. Paling tidak kurang beradat dan tidak menghormati sesama. Soal lain tentang harapan Eva "semoga interpretasi menjadi lebih balance". Pernyataan ini bagi saya mengandung pertanyaan: Pernahkah interpretasi itu balance? Namanya saja interpretasi, kalau tidak salah bahasa Indonesianya adalah tafsiran. Kalau bahasa Indonesia saya benar.Tapi Kamus Besar Bahasa Indonesia [terbitan Departemen Pendidikan Kebudayaan & Balai Pustaka, Jakarta, 1988, hlm.882] merumuskan "tafsir, menafsirkan" sebagai : "mengartikan ;menangkap maksud perkataan[kalimat dsb] tidak menurut apa adanya saja , melainkan diterangkan juga apa yang tersirat [dengan mengutarakan pendapatnya sendiri] desivilisasi. Kalau sepakat dengan pengertian "Kamus Besar Bahasa Indonesia" ini, maka tafsiran mengandung banyak unsur subyektif. Jika demikian bagaimana tafsiran bisa balance [imbang]? Tafsiran umumnya dilakukan atas dasar data. Data-data ini yang barangkali bisa seimbang. Makin kaya kita memperoleh data, makin tanggap dan aspiratif pendapat kita. Tapi data-data yang sama bisa ditafsirkan berbeda-beda, sesuai pandangan hidup dan kepentingan penafsir, terutama kepentingan politik dan ekonomi. Soal lain, yang menarik perhatian saya adalah pekikan "Merdeka" yang diteriakkan oleh Eva pada penutupan tanggapannya. "Merdeka" menurut "Kamus Besar Bahasa Indonesia" adalah sebuah kata sifat tapi sekaligus menggambarkan suatu konsep keadaan. Keadaan siapa gerangan yang mau dilukiskan oleh Eva? Keadaan di Tanah Dayak dan manusia Dayak? Jika demikian mengapa dalam tanggapannya Eva menyinggung soal "kakak kandung saya tahun lalu memutuskan kembali ke dunia profan setelah terengah mengadakan pendampingan masyarakat di sana selama 10 tahun sebagai bagian proyek community developmentnya Subud". Apakah suasana "kemerdekaan" yang dituturkan oleh kalimat ini? Barangkali Eva perlu menjelas-rincikan pandangannya tentang kemerdekaan dan bagaimana kemerdekaan di Tanah Dayak yang ia kenal. Apa peranan Subud dalam usaha "memerdekakan" manusia di Kalteng ? Apa konsep Subud tentang "kemerdekaan"? Tolong umumkan secara terbuka di koran-koran nasional dan lokal agar masyarakat, terutama masyarakat Kalteng menjadi jelas dan tidak bertanya-tanya. [Bersambung....] Acuan ----- Original Message ----- From: eva kusuma To: Budhisatwati KUSNI ; Mailinglist Nasional Sent: Thursday, June 17, 2004 1:21 PM Subject: Re: [Nasional] DOKUMEN SUBUD -- UNTUK BAHAN DISKUSI [1] Kawan2 sekalian, Saya terdorong merespon diskusi soal Bule Subud dan dayaks berdasar pengetahuan saya sebagai orang yang sudah menjadi anggota Subud sejak 1991 dan pernah ke Tengkiling walau hampir 10 tahun lalu, tetapi insyallah masih update info soal proyek Subud di sana. Apalagi, kakak kandung saya tahun lalu memutuskan kembali ke dunia profan setelah terengah mengadakan pendampingan masyarakat di sana selama 10 tahun sebagai bagian proyek community developmentnya Subud. Pertama sekali saya ingin berkomentar soal ajakan untuk stop bule yang tidak memihak dayak tapi dengan memperluasnya termasuk untuk menstop Dayak dan pribumi Jawa yang juga berwatak menindas para marhaen yang dalam hal ini adalah indegenous people. Subud memilih Kalteng karena manut penerimaan kejiwaan YM Bp Subuh bahwa Kalteng adalah ibukota masa depan RI yang tahun 50an belum diketahui potensi alamnya. YM melalui teropong kejiwaan sudah mampu melihat potensi ini tetapi dunia pengetahuan belum menyebutkannya. Karena konstalasinya kejiwaan/ spiritual, maka keluarlah sebutan 'masyarakat jin' soalnya pada tahun 60an Kalteng masih gung lewang lewung, transmigrasi saja belum dimulai kan? Sehingga masih kuat getaran 'dunia lain' daripada hiruk pikuk material seperti konteks kita menganalisisnya saat ini. Jadi, sungguh bukan suatu penghinaan tetapi semata atas pengalaman spiritual yang diterima YM Bp Subuh yang antara lain beliau didatangi kepala jin beserta anak pinaknya yang tidak keberatan Subud mengembangkan proyek di sana. Istilah itu muncul dari YM Bapak. Sayangnya, istilah itu dibaca orang lain tanpa rujukan asal istilah tsb dan apalagi bukan orang Subud. Untuk konteks waktu dan komunitas yang berbeda sebutan itu memang potensial bikin retak masyarakat Dayak. Subud sendiri adalah persaudaraan kejiwaan (banyak sesepuh PNI seperti Ibu Trimurti, Bp-Ibu Nasir , dan Dr Widagdo Bandung yang baru lolos caleg DPR dari Bandung adalah anggota Subud) yang anggotanya adalah warga dunia asal percaya kepada Tuhan meski agamanya beda, nasionalitasnya, bangsa beda dst. Dari catatan yang saya tahu, saat ini setidaknya ada national committee Subud tersebar di 97 negara termasuk Poland, Checo, Nigeria, Zambia, Moscow, Japan (ini ekspor Indonesia paling berhasil kayaknya) Subud mempunyai mempunyai community center yang cukup besar di AS, Cilandak, Spanyol, Columbia dan yang paling berat untuk berkembang ya justru di Tengkiling-Kalteng itu walau YM Bapak merekomendasikan sejak awal untuk digarap. Mandatnya sederhana yaitu untuk mendorong integrasi manusia berdasar persaudaraan spritual yaitu sebagai umat yang percaya Tuhan. Subud, karena percaya bahwa ada relasi antara spiritual-material sehingga mengembangkan lembaga2 mulai yang sifatnya spiritual hingga enterprise yang berorientasi ke bisnis, dan community development yang di Tengkiling dikomandani Prof Sayogyo dari IPB. Di badan PBB, Subud juga mempunyai reputasi yang baik karena memperoleh ruang khusus di kantor Jenewa dengan fokus menjadi semacam task force urusan hak2 kelompok indegeneous. Saya melihat ketegangan antara bule Subud (kepanjangan dari Susila Budhi Dharma) dan kawan2 lokal adalah nggak nyambungnya ekspektasi kedua belah pihak. Jangan lupa pula ada ketegangan internal Subud coklat biasanya Jawa-Dayak dengan Subud bule. Antara Jawa dan dayak saja ada ketegangan kok. Biasa, benturan budaya dan termasuk menyangkut power atas resources. Ini manusiawi bukan? Upaya mengembangkan Kalteng (yang termotivasi fatwa YM Bapak) sungguh bagai kawah candradimuka. Yang berguguran juga banyak, yang sampai sekarang trauma juga banyak sehingga ganti orang yang berdampak ganti strategi, partner adalah cerita sehari-hari. Belum lagi gangguan lingkungan, misalkan ada anggota Subud Australia, Holland, Portugal yang sudah invest bermilyard-milyard US $ untuk bangun hotel, canopy proyek, perumahan untuk antisipasi World Subud Conggres 2001 menjadi stress karena pecah konflik Sambas yang merembet hingga perkampungan Subud. Untuk community development sendiri, setahu saya ada pendampingan untuk petani lokal, ada penambangan, ada juga yang mencoba pertanian organik yang sebagian sampai sekarang masih berjalan. Ini dikelola kombinasi antara bule (biasanya sbg donor dan konsultan) Jawa dan teman-teman Dayak. Untuk persisnya dan lebih detail saya akan kontak mereka untuk update info dan kalau masih dianggap perlu, unt bisa saya share ke mailist ini. Dengan perekonomian nasional yang lagi mengkerut sehingga pengangguran 40 juta, enclave 'mewah' bule Subud di Tengkiling memang bisa jadi sumber konflik. Perkampungan (pemukiman) itu yang bukan industrial estate bisa jadi tumpahan ketidakpuasan penduduk, tetapi tentu saja ini tidak adil. Perkampungan itu bukan MNC dan memang menyakitkan melihat para bule hidup berbeda standar. Tapi mau gimana, mereka tidak doyan ubi, naik angkot, tidak bisa ngomong dayak dst yang prinsipnya ukuran bajunya tidak sama dengan kita2. Bukan hanya itu, mereka juga membawa gaya hidup dari kampung mereka yang menyakitkan mata orang2 lokal. Sementara kita mencari duit mereka buang2 duit. Justru menurut saya, mereka agak eksentrik karena ke Kalteng lebih didorong alasan spiritual daripada motive profit. Artinya kalau toh ada yang berbisnis, itu lebih coba2 karena sifatnya masih individual investor. Meski terasa personal saya anggap Subud adalah manifestasi butir2 nilai asli Indonesia yang terbukti ampuh dan universal yaitu terbukti dan teruji (nyontek kampanye Mega) karena pluralisme tidak saja dijadikan prinsip2 retorika tetapi sudah diwujudkan. Istilah kami, Pancasila yang sudah maujud, tidak saja dalam konteks antar suku dan agama yang berbeda se Indonesia, tetapi mampu menjadi cross cutting warga dunia. jadi keingat bahwa Bung Karno juga terobsesi bikin Pancasila mendunia. Subud sbg bukti? Sayangnya, pendirian Subud lebih didorong karena alasan spritual, bukan perkumpulan kapital ekonomi sehingga Subud tidak dapat menjawab secara efektif tuntutan material. Secara teoritis, Subud percaya bahwa kesempurnaan spritual akan secara otomatis diikuti dengan kemajuan material. Bahkan material akan datang sendiri kepada jiwa yang spiritualitasnya sudah tinggi karena sang material ingin menyorgakan diri lewat jiwa tersebut. Sayangnya, kondisi ideal tersebut saat ini belum teraih para anggota Subud baik yang bule maupun yang coklat. Apalagi untuk memberikan kepada lingkungan di luar komunitas Subud, meski itu menjadi mandat organisasi. Sayang ya..... (semoga interpretasi menjadi lebih balance) Merdeka! Jakarta, June 17 Eva K Sundari Budhisatwati KUSNI <[EMAIL PROTECTED]> wrote: PENGANTAR: Sehubungan dengan diskusi tentang " Koloni Bule Di Kalteng" yang dibuka oleh tulisan Ronny Teguh dalam milis Dayaks [15 Juni 2004] , berjudul "Stop Kerajaan Bule di Kalteng", bersama ini saya sampaikan dokumen SUBUD yang dikeluarkan oleh SUBUD sendiri yang ada kaitannya dengan masyarakat Dayak. Penyalinan dan penyiaran kembali dokumen ini dimaksudkan agar kita mengenal apa-siapa SUBUD dan tujuannya beroperasi di Kalimantan Tengah melalui dokumen SUBUD sendiri. Melalui dokumen ini dan dokumen-dokumen SUBUD lainnya kita mendengar SUBUD berbicara tentang dirinya sendiri . Dengan kata lain kita membiarkan SUBUD berbicara tentang SUBUD dan bagaimana SUBUD memandang masyarakat Kalteng sebagai "masyarakat Jin". Dokumen ini saya salin sebagaimana adanya, tanpa mengobah titik-koma dan segala kesalahan cetak. Mudah-mudahan dokumen ini, yang akan disiarkan secara bersambung, bisa dijadikan materi diskusi dan dari diskusi ini masing-masing kita bisa mempunyai angka tentang SUBUD dan bagaimana langkah serta sikap nalar menghadapinya sesuai kepentingan Masyarakat Dayak sebagai bagian dari kepentingan kemanusiaan serta usaha memanusiawikan manusia. JJ.Kusni [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70 http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

