analisa indra piliang ini cukup bagus menyangkut equasi kekuasaan di indo pasca pemilu capres mendatang. selamat mengikuti (kr)
Posisi Presiden dan DPR Pascapemilu http://www.kompas.com/kompas-cetak/0406/18/opini/1060576.htm Oleh Indra J Piliang HASIL pemilihan umum legislatif 5 April 2004 menunjukkan tidak ada satu kekuatan politik pun yang dominan di DPR. Partai Golkar hanya meraih 128 kursi, tidak sampai seperempat dari 550 kursi DPR. Dari sisi pemilih, Partai Golkar juga ditolak hampir 80 persen pemilih yang menggunakan hak pilihnya. Begitu pula bagi PDI Perjuangan yang hanya memperoleh 109 kursi, kurang 1 kursi dari 20 persen kekuatan di DPR. Akan sangat sulit bagi PDI-P untuk menyalurkan aspirasi partainya, terutama yang berkaitan dengan program kerja dan janji kampanye yang telanjur dikeluarkan. Tak adanya partai politik mayoritas ini akan menyulitkan bagi pengambilan keputusan di parlemen kelak, baik menyangkut hak legislasi, anggaran, sampai pengawasan atas eksekutif. Partai-partai politik lain nasibnya lebih mengenaskan. PPP memperoleh 58 kursi dan Partai Demokrat sebagai pendatang baru memperoleh 57 kursi, sementara PAN dan PKB berbagi sama masing-masing 52 kursi. Bersama PKS yang memperoleh 45 kursi, enam partai politik tadi-kita sebut saja partai papan atas- akan menentukan arah perkembangan politik di DPR. Dari komposisi perolehan suara, kenyataannya partai-partai politik yang mengembangkan semangat pluralisme dan nasionalisme, baik yang minimalis atau yang ultranasionalis, ternyata lebih didukung pemilih. Sekalipun PPP, PKB, PAN, dan PKS dikenal dengan basis Islam modern dan tradisionalnya, program kerja yang dijanjikan dalam pemilu lalu terlihat tidak lagi bersifat sektarian, terutama dikaitkan dengan konsep negara Islam atau mengusung wacana syariat Islam. Partai-partai itu makin dikemas dengan program-program yang lebih pragmatis, terutama peningkatan kesejahteraan rakyat, pendidikan murah, dan pengentasan pengangguran. FRAGMENTASI suara yang kian cair justru dialami oleh partai-partai yang mendapatkan kursi lebih sedikit, yakni Partai Bintang Reformasi (13 kursi), Partai Damai Sejahtera (12), dan Partai Bulan Bintang (11). Ketiga partai papan tengah ini sama-sama kental dengan semangat religiusnya, baik Islam maupun Kristen. Gabungan kursi ketiganya tidak banyak memengaruhi arah perkembangan politik mengingat jumlahnya yang tidak signifikan. Partai-partai yang berada pada papan bawah keadaannya lebih mengenaskan, yakni Partai Persatuan Demokrasi Kebangsaan (5), Partai Karya Peduli Bangsa (2), Partai Pelopor (2), PNI Marhaenisme (1), PPDI (1), PNBK (1), dan PKPI (1). Suara partai-partai ini tampaknya hanya menjadi unsur yang ikut-ikutan dalam pengambilan kebijakan di parlemen. Suara yang diperoleh partai-partai ini kemungkinan berasal dari kalangan nasionalis yang pindah dari Partai Golkar dan PDI-P. Perolehan komposisi suara seperti itulah yang akan melatari pasangan presiden-wakil presiden dan kabinet presidensial terpilih nantinya dalam bekerja. Desain UUD pasca-amandemen menempatkan lembaga legislatif mempunyai pengaruh yang sangat besar atas lembaga kepresidenan (legislative heavy). Siapa pun pasangan presiden dan wapres yang terpilih nantinya akan membutuhkan lebih dari empat partai politik di papan atas, sesuatu yang tampaknya sulit apabila Partai Golkar dan PDI-P berhadap- hadapan dalam pemilihan presiden dan wapres pada putaran kedua nantinya. Keadaan ini sepertinya kurang disadari oleh para kontestan pemilu presiden dan wapres. Dari lima pasangan presiden dan wapres yang lolos verifikasi Komisi Pemilihan Umum (KPU), terlihat segmentasi yang kian lebar apabila dibandingkan antara jumlah kursi partai-partai pendukung terhadap pasangan capres-cawapres yang diusung. Secara hipotetis, pasangan Wiranto-Salahuddin Wahid akan didukung oleh 187 kursi (Partai Golkar, PKB, PPDK, dan PKPB), pasangan Megawati Soekarnoputri-Hasyim Muzadi didukung 121 kursi (PDI-P dan PDS), pasangan Amien Rais-Siswono Yudo Husodo didukung 115 kursi (PAN, PKS, PBR, Partai Pelopor, PNI Marhaenisme, PPDI, dan PNBK), pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla didukung 69 kursi (Partai Demokrat, PBB, dan PKPI), dan pasangan Hamzah Haz- Agum Gumelar didukung 58 kursi (PPP). Di sinilah letak dilemanya ketika masing-masing pasangan mempunyai ambisi untuk menang dalam putaran pertama karena siapa pun yang menang tidak mempunyai dukungan signifikan di parlemen. Sekalipun mendapatkan popular votes yang signifikan, kenyataannya tidak banyak membantu bagi "aksi pembantaian" pemerintah oleh politisi dalam sidang-sidang DPR, baik sidang fraksi atau komisi, termasuk dalam panitia anggaran yang menentukan alokasi anggaran. Dengan komposisi kursi yang seperti itu pula, masing-masing kontestan sebetulnya mempunyai peluang sama untuk maju pada putaran kedua, lantas mendapatkan dukungan dari minimal dua pasangan lain yang kalah pada putaran pertama. Skenario adanya partai oposisi yang relatif lebih kuat di parlemen dari era sebelumnya juga menjadi masuk akal, terutama apabila yang melakukan itu satu atau lebih partai-partai politik papan atas. DINAMIKA hubungan antara pasangan presiden dan wapres terpilih nantinya akan sangat berbeda dengan era sebelumnya. Apalagi masing-masing pasangan yang maju dalam putaran pertama tidak berkolaborasi sejak awal. Patut dicurigai bahwa dengan diambilnya kandidat "independen" atau "nonpartai" oleh masing-masing partai yang bersangkutan, sesungguhnya menyimpan kuatnya oligarki kepartaian. Pengaruh dari ketua umum masing-masing partai politik akan terus mewarnai pergulatan politik periode 2004-2009. Sekalipun begitu, terdapat peluang bagi bangkitnya generasi baru di tubuh masing-masing partai politik. Sebab, dalam lima tahun ke depan, dipastikan akan memensiunkan Akbar Tandjung, Amien Rais, Megawati Soekarnoputri, Abdurrahman Wahid, dan Hamzah Haz dari posisi mereka sebagai penentu utama dalam tubuh partai masing-masing. Apabila masing-masing partai politik melewati suksesi internalnya dengan baik dan lancar, dipastikan angin segar pembaruan politik terjadi. Dengan demikian, Pemilu 2009 lebih memberikan gairah baru akan adanya regenerasi kepemimpinan nasional. Semoga. Indra J Piliang Analis Politik Center for Strategic and International Studies (CSIS), Jakarta Khairur Razi Aligarh Muslim University Uttar Pradesh, India -- India.com free e-mail - www.india.com. Check out our value-added Premium features, such as an extra 20MB for mail storage, POP3, e-mail forwarding, and ads-free mailboxes! Powered by Outblaze ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70 http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

