CATATAN UNTUK EVA KUSUMA SUNDARI [3]

Selanjutnya, tanggapanbalik terhadap tulisan Eva [yang akan selalu saya lampirkan 
sebagai acuan], saya lakukan dengan menggunakan metode pencermatan alinea demi alinea. 

Pada alinea kedua, Eva menulis:   "Pertama sekali saya ingin berkomentar soal ajakan 
untuk stop bule yang tidak memihak dayak tapi dengan memperluasnya termasuk untuk 
menstop Dayak dan pribumi Jawa yang juga berwatak menindas para marhaen yang dalam hal 
ini adalah indegenous people."

Dari alinea ini saya mengangkat masalah-masalah berikut: [1]. "stop bule yang tidak 
memihak Dayak"; [2]. pribumi; [3]. marhaen; [4]. indegenous people; [5]. penindasan 
yang bangsa dan bangsa sendiri. Bukankah dari aline di atas terdapat masalah-masalah 
tersebut dan Eva memang ingin memperluas lingkup komentarnya ke soal-soal tersebut? 
["..] saya ingin berkomentar ... tapi dengan memperluasnya termasuk untuk menstop 
Dayak dan pribumi Jawa yang juga berwatak menindas  ..."], tulis Eva. Tolong dikoreksi 
jika saya melakukan kesalahan baca.

[1]. Stop Bule Yang Tidak Memihak Dayak.

Singkatnya, untuk menyimpulkan apakah Subud dan bule-bule Subud memilihak Dayak atau 
penduduk lokal atau tidak, diperlukan penjelasan terbuka dari pihak Subud dan 
dicocokkan dengan praktek di lapangan yang mereka lakukan. Atas dasar inilah kemudian 
Masyarakat Adat dan penduduk lokal mengambil sikap terhadap mereka. Selayaknya 
pemerintah daerah pun kalau mau menjadi pemda yang tanggap aspirasi bertindak tidak 
bertentangan dengan kepentingan mayoritas dan bukan berdasarkan kepentingan individu 
atau keluarga. 

Sebelum berbicara tentang soal lain, saya masih ingin berkomentar tentang apa yang 
dinyatakan oleh Eva sebagai semacam "permaafan" terhadap para bule Subud  yang "hidup 
berbeda standar. Tapi mau gimana, mereka tidak doyan ubi, naik angkot, tidak bisa 
ngomong dayak dst yang prinsipnya ukuran bajunya tidak sama dengan kita2. Bukan hanya 
itu, mereka juga membawa gaya hidup dari kampung mereka yang menyakitkan mata orang2 
lokal. Sementara kita mencari duit mereka buang2 duit".

Dalam sejarahnya orang-orang Dayak Kalteng bergaul dan berkenalan dengan orang bule 
bukanlah hal baru. Hal ini secara literatur dibuktikan oleh adanya Kamus Dayak-Jerman, 
dan catatan perjalanan orang-orang Dayak ke Eropa. Di sungai Katingan misalnya sejak 
lama penduduk lokal bergaul dengan bule-bule dari Zending Basel. Bule-bule Basel Swiss 
ini lebih  fasih berbahasa Dayak daripada berbahasa Indonesia. Salah satu contoh 
misalnya seorang lelaki yang oleh orang Katingan disebut Pemuda, Margaret, tuan Flach 
suami-istri yang kongkret membantu penduduk Katingan dengan proyek pendidikan dan 
pertanian sejak berpuluh-puluh tahun. Ketika saya masih di Sekolah Rakyat, saya pun 
sudah mengenal bule-bule Swiss ini sebagai pekerja keras dan tidak berlagak tuan 
sekalipun penduduk memanggil mereka kadang-kadang dengan sebutan Tuan. Hubungan 
anggota misi Zending Basel dengan penduduk sangat baik. Mereka tidak membangun kawasan 
sendiri  dengan segala kemewahan terpisah dari penduduk.  Misi dan visi mereka terbaca 
jelas dan dipahami serta dirasakan langsung kegunaannya oleh penduduk setempat.

Pengalaman lain adalah pengalaman antropolog Swiss Bruno yang melakukan penelitian di 
kalangan Dayak Kayan Kalimantan Utara. Pemerintah Malaysia tidak menyukai Bruno dan 
mengumumkan harga untuk kepala sang antropolog. Tapi Bruno dilindungi oleh orang-orang 
Kayan dengan jiwa raga mereka. Apakah perlindungan terhadap Bruno ini anti bule? Yong 
Tai, baru saya ketahui ia seorang Tionghoa ketika ia meninggalkan Tanah Dayak. Sejarah 
Dayak penuh dengan pergaulan dengan orang-orang asing. Bahkan di Nanking, Republik 
Rakyat Tiongkok, terdapat kuburan seorang tokoh Dayak. Sastra oral "Sansana Bandar", 
"Manen Panduran", "Banama Tingang"  juga melukiskan keluasan pergaulan manusia Dayak 
yang selalu dihina.Sebagai orang yang mengaku diri mengenal Tanah Dayak, semestinya 
semua ini layak dijadikan pertimbangan oleh Eva jika Eva tidak rabun oleh fanatisme 
partisan yangt berbahaya.Fanatisme saya kira bertentangan dengan kemanusiaan, termasuk 
fanatisme etnik dan nasionalisme sempit, tentu saja!

Dari pengalaman dengan anggota misi Zending Basel Swiss dan Bruno di atas, nampak 
bahwa pada masyarakat Dayak tidak ada apriorisme anti bule atau anti penduduk 
pendatang dari manapun. "Sebodoh-bodohnya" manusia Dayak, mereka masih tahu apa siapa 
yang memihak mereka dan apa siapa yang menindas mereka. Mereka punya standar baik 
buruk mereka sendiri. Jika mereka mempertanyakan tentang para pendatang  dan kemudian 
mengambil jarak bahkan terjadi konflik masalahnya bukan karena apriorisme tetapi lebih 
terletak pada kurangnya ada penghormatan dari pihak pendatang terhadap penduduk lokal. 
Penduduk lokal merasa adat dan budaya mereka dilecehkan. Apakah ada yang salah pada 
sikap penduduk lokal berpegang pada adat dan budaya mereka dalam mengatur kehidupan 
bermasyarakat mereka?!Mengapa mereka harus menggunakan standar nilai para pendatang? 
Dari lukisan Eva tentang bule Subud di Tangkiling, saya pertanyakan: Siapa yang 
mengukur baju orang lain dengan bajunya sendiri? Siapa yang memaksakan patokan nilai  
pada orang lain? Dayak atau bule-bule Subud atau Subud secara organisasi? Apa hak 
kalian memaksakan nilai-nilai ini pada orang lokal? Apakah kalian merasa diri sebagai 
patokan kebenaran universal? Pancasila yang Eva sebut-sebut ,saya kira tidak menentang 
kebhinnekaan. Tolong jelasrincikan pandangan Anda. 

Kolonialisme Belanda dengan politik budaya "ragi usang" dan "mengosongkan gelasnya" 
justru ingin menghancurkan adat isitiadat dan budaya Dayak sehingga kolonialisme 
Belanda disebut sebagai "bakara" [kera berbuluh merah], bakei [kera] -- hinaan 
tertinggi diucapkan oleh orang Dayak. Oleh kebencian begini, kontrolir Belanda yang 
pernah ada di Kasongan, sekarang ibukota kabupaten Katingan, terpaksa melarikan diri 
pontang panting karena diancam bunuh oleh penduduk pada zaman Perang Kemerdekaan 1945. 
Serdadu-serdadu Belanda yang datang melakukan operasi pemusnahan gerilya, 
pulang-pulang ke pangkalan dengan membawa mayat serdadu yang terkena sumpitan beracun.

Pemaksaan nilai dengan meminta orang Dayak memahami koloni bule Subud, apa bedanya 
dengan "ragi usang" dan "mengosongkan gelas"?! Bedanya barangkali terletak pada 
isitilah saja. Kalian mengatakan "mensubudkan masyarakat jin". Sekali lagi tolong Eva 
dan komunitas jelaskan pandangan kalian secara terbuka secara jujur atas nama usaha 
memanusiawikan manusia. Tolong jangan tangguhkan. Anda sudah memasuki diskusi yang 
dibuka oleh %Ronny Teguh, mari kita tuntaskan diskusi ini sehingga segalanya jelas.

Melalui perbandingan di atas yang ingin saya tunjukkan bahwa manusia Dayak  tidak 
berangkat dari apriorisme dalam menghadapi pendatang dan bule. Yang ingin saya katakan 
agar para pendatang dan bule harus jelas untuk apa mereka datang. Agar mereka 
bertindak sesuai adat lokal , "di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung". Dengan 
menuntut pemahaman orang lokal terhadap daerah eklusif bule-bule Subud, Eva agaknya 
lupa nasehat tetua kita ini. Saya mencoba memahami Eva, tapi satu-satunya jalan 
pemahaman saya terdapat pada sikap dan pandangan partisan yang ingin memaksakan 
kehendak pada orang lokal. Jika kesan ini benar, lebih baik kalian segera  pergi saja 
dari Kalteng sebelum segalanya memburuk dan diusir paksa. Di Bukit Batu yang terletak 
tak jauh dari Bukit Tangkiling, masih jelas terpampang tulisan pesan Tjilik Riwut , 
pahlawan nasional asal Dayak: "ela sampai tempun petak batana sare" [jangan sampai 
punya tanah berladang di tepi]. Tempun uyah batawah belai, tempun kajang bisa puat 
[Punya garam hambar dirasa, punya atap basah muatan]. Barangkali Eva pernah membaca 
pesan ini di Bukit Batu. 

Saya masih percaya, dengan  segala kekurangannya, manusia Dayak dan generasi muda 
Dayak masih punya harga diri dan tidak ingin "tempun petak batana sare". Kami, manusia 
Dayak, tidak akan memperkenankan siapapun menghina kami dan membuat kami "tempun petak 
batana sare", "tempun uyah batawah belai", "tempun kajang bisa puat". Mataangin bukan 
perbatasan di hati orang Dayak yang ingin hidup sebagai "anak enggang, putera-puteri 
naga" [rengan tingang nyanak jata] di kampung kelahirannya. Sebagai orang yang mengaku 
kenal Tanah Dayak, Eva tentu tahu semangat dan kenyataan ini. Hidup manusiawi hak 
semua anak manusia. Apakah manusia Dayak bisa hidup secara manusiawi tanpa Subud , 
tanpa bule, tanpa  Eva dan belas kasihan siapapun, tanpa menunggu Jakarta? Pertanyaan 
ini saya lontarkan kepada semua manusia Dayak di manapun mereka berada, terutama 
kepada angkatan mudanya.Dayak-Dayak Kalimantan Barat dengan Konsorsium Pancur 
Kasih-nya sudah menjawabnya secara positif: Bisa dan bisa!


[Bersambung....]

Acuan

----- Original Message ----- 
From: eva kusuma 
To: Budhisatwati KUSNI ; Mailinglist Nasional 
Sent: Thursday, June 17, 2004 1:21 PM
Subject: Re: [Nasional] DOKUMEN SUBUD -- UNTUK BAHAN DISKUSI [1]


Kawan2 sekalian,

Saya terdorong merespon diskusi soal Bule Subud dan dayaks berdasar pengetahuan saya 
sebagai orang yang sudah menjadi anggota Subud sejak 1991 dan pernah ke Tengkiling 
walau hampir 10 tahun lalu, tetapi insyallah masih update info soal proyek Subud di 
sana. Apalagi, kakak kandung saya tahun lalu memutuskan kembali ke dunia profan 
setelah terengah mengadakan pendampingan masyarakat di sana selama 10 tahun sebagai 
bagian proyek community developmentnya Subud.

Pertama sekali saya ingin berkomentar soal ajakan untuk stop bule yang tidak memihak 
dayak tapi dengan memperluasnya termasuk untuk menstop Dayak dan pribumi Jawa yang 
juga berwatak menindas para marhaen yang dalam hal ini adalah indegenous people.

Subud memilih Kalteng karena manut penerimaan kejiwaan YM Bp Subuh bahwa Kalteng 
adalah ibukota masa depan RI yang tahun 50an belum diketahui potensi alamnya. YM 
melalui teropong kejiwaan sudah mampu melihat potensi ini tetapi dunia pengetahuan 
belum menyebutkannya. Karena konstalasinya kejiwaan/ spiritual, maka keluarlah sebutan 
'masyarakat jin' soalnya pada tahun 60an Kalteng masih gung lewang lewung, 
transmigrasi saja belum dimulai kan? Sehingga masih kuat getaran 'dunia lain' daripada 
hiruk pikuk material seperti konteks kita menganalisisnya saat ini. Jadi, sungguh 
bukan suatu penghinaan tetapi semata atas pengalaman spiritual yang diterima YM Bp 
Subuh yang antara lain beliau didatangi kepala jin beserta anak pinaknya yang tidak 
keberatan Subud mengembangkan proyek di sana. Istilah itu muncul dari YM Bapak. 
Sayangnya, istilah itu dibaca orang lain tanpa rujukan asal istilah tsb dan apalagi 
bukan orang Subud. Untuk konteks waktu dan komunitas yang berbeda sebutan itu memang 
potensial bikin retak masyarakat Dayak. 

Subud sendiri adalah persaudaraan kejiwaan (banyak sesepuh PNI seperti Ibu Trimurti, 
Bp-Ibu Nasir , dan Dr Widagdo Bandung yang baru lolos caleg DPR dari Bandung adalah 
anggota Subud) yang anggotanya adalah warga dunia asal percaya kepada Tuhan meski 
agamanya beda, nasionalitasnya, bangsa beda dst. Dari catatan yang saya tahu, saat ini 
setidaknya ada national committee Subud tersebar di 97 negara termasuk Poland, Checo, 
Nigeria, Zambia, Moscow, Japan (ini ekspor Indonesia paling berhasil kayaknya)

Subud mempunyai mempunyai community center yang cukup besar di AS, Cilandak, Spanyol, 
Columbia dan yang paling berat untuk berkembang ya justru di Tengkiling-Kalteng itu 
walau YM Bapak merekomendasikan sejak awal untuk digarap. Mandatnya sederhana yaitu 
untuk mendorong integrasi manusia berdasar persaudaraan spritual yaitu sebagai umat 
yang percaya Tuhan.

Subud, karena percaya bahwa ada relasi antara spiritual-material sehingga 
mengembangkan lembaga2 mulai yang sifatnya spiritual hingga enterprise yang 
berorientasi ke bisnis, dan community development yang di Tengkiling dikomandani Prof 
Sayogyo dari IPB. Di badan PBB, Subud juga mempunyai reputasi yang baik karena 
memperoleh ruang khusus di kantor Jenewa dengan fokus menjadi semacam task force 
urusan hak2 kelompok indegeneous.

Saya melihat ketegangan antara bule Subud (kepanjangan dari Susila Budhi Dharma) dan 
kawan2 lokal adalah nggak nyambungnya ekspektasi kedua belah pihak. Jangan lupa pula 
ada ketegangan internal Subud coklat biasanya Jawa-Dayak dengan Subud bule. Antara 
Jawa dan dayak saja ada ketegangan kok. Biasa, benturan budaya dan termasuk menyangkut 
power atas resources. Ini manusiawi bukan? 

Upaya mengembangkan Kalteng (yang termotivasi fatwa YM Bapak) sungguh bagai kawah 
candradimuka. Yang berguguran juga banyak, yang sampai sekarang trauma juga banyak 
sehingga ganti orang yang berdampak ganti strategi, partner adalah cerita sehari-hari. 
Belum lagi gangguan lingkungan, misalkan ada anggota Subud Australia, Holland, 
Portugal yang sudah invest bermilyard-milyard US $ untuk bangun hotel, canopy proyek, 
perumahan untuk antisipasi World Subud Conggres 2001 menjadi stress karena pecah 
konflik Sambas yang merembet hingga perkampungan Subud.

Untuk community development sendiri, setahu saya ada pendampingan untuk petani lokal, 
ada penambangan, ada juga yang mencoba pertanian organik yang sebagian sampai sekarang 
masih berjalan. Ini dikelola kombinasi antara bule (biasanya sbg donor dan konsultan) 
Jawa dan teman-teman Dayak. Untuk persisnya dan lebih detail saya akan kontak mereka 
untuk update info dan kalau masih dianggap perlu, unt bisa saya share ke mailist ini.

Dengan perekonomian nasional yang lagi mengkerut sehingga pengangguran 40 juta, 
enclave 'mewah' bule Subud di Tengkiling memang bisa jadi sumber konflik. Perkampungan 
(pemukiman) itu yang bukan industrial estate bisa jadi tumpahan ketidakpuasan 
penduduk, tetapi tentu saja ini tidak adil. Perkampungan itu bukan MNC dan memang 
menyakitkan melihat para bule hidup berbeda standar. Tapi mau gimana, mereka tidak 
doyan ubi, naik angkot, tidak bisa ngomong dayak dst yang prinsipnya ukuran bajunya 
tidak sama dengan kita2. Bukan hanya itu, mereka juga membawa gaya hidup dari kampung 
mereka yang menyakitkan mata orang2 lokal. Sementara kita mencari duit mereka buang2 
duit. Justru menurut saya, mereka agak eksentrik karena ke Kalteng lebih didorong 
alasan spiritual daripada motive profit. Artinya kalau toh ada yang berbisnis, itu 
lebih coba2 karena sifatnya masih individual investor.

Meski terasa personal saya anggap Subud adalah manifestasi butir2 nilai asli Indonesia 
yang terbukti ampuh dan universal yaitu terbukti dan teruji (nyontek kampanye Mega) 
karena pluralisme tidak saja dijadikan prinsip2 retorika tetapi sudah diwujudkan. 
Istilah kami, Pancasila yang sudah maujud, tidak saja dalam konteks antar suku dan 
agama yang berbeda se Indonesia, tetapi mampu menjadi cross cutting warga dunia. jadi 
keingat bahwa Bung Karno juga terobsesi bikin Pancasila mendunia. Subud sbg bukti? 

Sayangnya, pendirian Subud lebih didorong karena alasan spritual, bukan perkumpulan 
kapital ekonomi sehingga Subud tidak dapat menjawab secara efektif tuntutan material. 
Secara teoritis, Subud percaya bahwa kesempurnaan spritual akan secara otomatis 
diikuti dengan kemajuan material. Bahkan material akan datang sendiri kepada jiwa yang 
spiritualitasnya sudah tinggi karena sang material ingin menyorgakan diri lewat jiwa 
tersebut. Sayangnya, kondisi ideal tersebut saat ini belum teraih para anggota Subud 
baik yang bule maupun yang coklat. Apalagi untuk memberikan kepada lingkungan di luar 
komunitas Subud, meski itu menjadi mandat organisasi. Sayang ya.....

(semoga interpretasi menjadi lebih balance)

Merdeka!
Jakarta, June 17

Eva K Sundari




Budhisatwati KUSNI <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  PENGANTAR:

  Sehubungan dengan diskusi tentang " Koloni Bule Di Kalteng" yang dibuka oleh tulisan 
Ronny Teguh dalam milis Dayaks [15 Juni 2004] , berjudul "Stop Kerajaan Bule di 
Kalteng",  bersama ini saya sampaikan dokumen SUBUD yang dikeluarkan oleh SUBUD 
sendiri yang ada kaitannya dengan masyarakat Dayak. Penyalinan dan penyiaran kembali 
dokumen ini dimaksudkan agar kita mengenal apa-siapa SUBUD  dan tujuannya beroperasi 
di Kalimantan Tengah melalui dokumen SUBUD sendiri. Melalui dokumen ini dan 
dokumen-dokumen SUBUD lainnya kita mendengar SUBUD berbicara tentang dirinya  sendiri 
. Dengan kata lain kita membiarkan SUBUD berbicara tentang SUBUD dan bagaimana SUBUD 
memandang masyarakat Kalteng sebagai "masyarakat Jin". 

  Dokumen ini saya salin sebagaimana adanya, tanpa mengobah titik-koma dan segala 
kesalahan cetak. Mudah-mudahan dokumen ini, yang akan disiarkan secara bersambung, 
bisa dijadikan materi diskusi dan dari diskusi ini masing-masing kita bisa mempunyai 
angka tentang SUBUD dan bagaimana langkah serta sikap nalar menghadapinya sesuai  
kepentingan Masyarakat Dayak sebagai bagian dari kepentingan  kemanusiaan serta usaha 
memanusiawikan manusia. 

  JJ.Kusni



[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke