19 Jun 04 02:42 WIB
Derita Dua Bangsa Di Ranah Ibrahim
WASPADA Online
http://www.waspada.co.id/opini/artikel/artikel.php?article_id=46248
Oleh A Fatih Syuhud *
Palestina dan Irak, dua tanah leluhur yang memiliki
kaitan historik sangat erat � Nabi Ibrahim, nenek
moyang dari tiga agama langit yaitu Yahudi, Kristen
dan Islam, bermigrasi dari Mesopotamia menuju apa yang
sekarang disebut dengan Palestina, 4000 tahun yang
lalu � berada dalam kondisi kacau balau. Keduanya
terbakar, menderita dari kekerasan dan terorisme yang
ekstrim. Pasukan koalisi di Irak dan pasukan
pertahanan Israel di Palestina tampak sedang
berkompetisi satu sama lain dalam menimbulkan
kerusakan maksimum atas perlawanan resistansi untuk
kemerdekaan tanah mereka. Lebih mengkhawatirkan lagi
adalah kenyataan bahwa tidak ada seorangpun dalam
posisi pembuat kebijakan di kedua tempat itu yang
memiliki ide sekecil apapun tentang bagaimana harus
menghentikan kekacauan dan kembali ke jalan damai dan
memecahkan isu-isu kompleks yang ada.
Di antara reruntuhan rumah-rumah yang dihancurkan di
Jalur Gaza dan di kawasan lain di Palestina terletak
puing-puing rencana perdamaian yang dikenal dengan
road map (peta jalan). Karena peta jalan merupakan
satu-satunya harapan bagi Palestina, maka cukup pantas
apabila mereka merasa frustrasi atas kematiannya. Akan
tetapi, bagi Israel selalu terdapat banyak opsi dan
sedikitnya warga Yahudi di Israel tidak akan
meneteskan air mata atas runtuhnya proses damai yang
memang tidak pernah eksis itu. Ini bukan berarti bahwa
rakyat Israel tidak menghendaki perdamaian. Mereka
ingin hidup dalam kondisi di mana mereka tidak merasa
ketakutan setiap kali mereka menaiki bis dan memasuki
restoran. Tetapi mereka memiliki negara sendiri dan
mempunyai dukungan dari negara terkuat dunia. Mereka
menikmati standar hidup layak yang tidak kalah dengan
mereka yang tinggal di negara-negara paling makmur di
Eropa. Mungkin mereka merasa bahwa mereka dapat
menunggu proposal damai berikutnya.
Di sisi lain, rakyat Palestina harus hidup dari satu
rancangan damai ke rancangan damai berikutnya � dari
perdamaian Reagan, kesepakatan Oslo, perdamaian
Clinton, peta jalan damai-nya Bush, penarikan mundur
pasukan Israel dari Gaza (Gaza disengagement) sampai
usaha damai berikutnya yang untuk itu mereka harus
menunggu terpilihnya presiden Amerika berikutnya.
Sementara Israel dan AS menyalahkan Palestina karena
tidak mengimplementasikan kewajiban dalam berbagai
rancangan damai tersebut, rencana penarikan mundur
Israel dari Gaza merupakan kebijakan unilateral
pemerintah Israel. Implementasinya sama sekali tidak
terikat dengan apapun yang dilakukan oleh Palestina.
Karena pemerintahan AS di Washington saat ini,
berkoordinasi dengan pemerintah Israel, memiliki
rencana demokratisasi Timur Tengah, maka pantas
disebut di sini bahwa pemerintah kedua negara ini
memiliki sebuah penafsiran demokrasinya sendiri. Di
Israel, rencana penarikan Israel dari Gaza diveto oleh
partai Likud, partainya Perdana Menteri Ariel Sharon.
Dari anggota Likud, hanya 40 persen yang setuju sedang
60 persen menolak.
Ini artinya kurang dari 1,3 persen rakyat Israel
sepakat dan kurang dari 1 persen menolak! Sekalipun
menurut perkiraan Israel dan Amerika, mayoritas
populasi Israel mendukung rencana itu. Menlu AS, Colin
Powell, bahkan menyinggung asumsi ini dalam jumpa
persnya di Markas PBB beberapa minggu lalu menyusul
pertemuan kelompok yang disebut Quartet. Akan tetapi
karena pandangan khusus tentang demokrasi, Sharon
memilih untuk meminta pendapat dari 2 persen rakyat
Israel. Tentunya akan lebih demokratik apabila
berkonsultasi dengan seluruh rakyat Israel.
Sharon menyatakan secara publik bahwa motivasinya di
balik rancangan Gaza itu bukanlah sebagai langkah
pertama menuju implementasi peta jalan; tetapi hanya
bertujuan untuk mengurangi teror dan menjamin keamanan
maksimum bagi warga Israel. Dia menambahkan bahwa
tujuannya adalah untuk �memberi pelajaran� pada
Palestina dan mengakhiri mimpi terbentuknya negara
Palestina.
Yasser Arafat tidak begitu gemilang dalam bernegosiasi
sebelum menyepakati perjanjian Oslo; dia sebenarnya
dan semestinya dapat melakukan bargaining yang lebih
baik. Arafat telah mencoba hal itu ketika kesepakatan
pertama rampung untuk implementasi Oslo. Israel
menawarkan penarikan mundur hanya dari Gaza pada fase
pertama, tetapi Arafat bersikeras agar Israel menarik
mundur dari sedikitnya satu kota di Tepi Barat. Inilah
bagaimana kesepakatan dicapai dalam soal Gaza plus
Jericho.
Pembunuhan baru-baru ini atas dua belas tentara Israel
merupakan hal yang menyedihkan tetapi menjadi alasan
kuat mengapa Israel ingin cepat hengkang dari Jalur
Gaza. �Gaza pertama dan terakhir� menjadi solusi
pilihan Israel. Sambil menyambut penarikan mundur itu,
tidak ada respons positif dari pihak Palestina.
Tuntutan agar Arafat mengundurkan diri makin lama
semakin vokal. Arafat sebenarnya dapat memenej kawasan
yang berada di bawah pengawasannya dan sekaligus
proses negosiasi dengan Israel. Barangkali akan lebih
baik kalau seandainya dia bereaksi berbeda pada
tawaran damai Bill Clinton. Sekalipun setelah itu ia
harus mengesahkan Inisiatif Geneva (IG), sedikitnya
sebagai basis negosiasi berikutnya. Bagaimanapun, IG
dinegosiasikan oleh salah satu sejawat dekatnya dengan
Yossi Beillin, seorang juru damai Israel, yang telah
menyusun kerangka kerja sebelumnya untuk sebuah solusi
berbagai isu yang kompleks dan emosional dengan Abu
Mazen, Perdana Menteri pertama Otoritas Palestina.
Arafat memang belum menampakkan kualitas seorang
negarawan. Akan tetapi mengacuhkan relevansi Arafat
dan hendak mengeliminasinya secara fisik juga bukanlah
tindakan seorang negarawan. Arafat, bagaimanapun,
merupakan sebuah fakta realitas dalam konteks politik
kawasan itu; ia hendaknya dibuat sebagai bagian dari
solusi bukan diperlakukan sebagai bagian dari masalah.
Tentang Sharon, setelah memperoleh deklarasi Balfour
kedua dari Bush dalam bentuk sebuah surat, dia merasa
sangat bebas untuk bertindak semaunya. Sikap
penentangan ringan dari sekutu Amerika-nya sama sekali
tidak membuatnya merasa terganggu.
Di Irak, otoritas pendudukan berusaha keras mencari
jalan pulang yang bermartabat. Ini bukanlah soal
menghentikan kerugian dan kehilangan. Akan tetapi
berlanjutnya pendudukan telah merubah Irak menjadi
pusat terorisme global. Pasaran minyak menjadi rentan.
Penarikan mundur akan disoraki kalangan teroris
sebagai sebuah kemenangan akan tetapi di sisi lain
meneruskan pendudukan akan memakan biaya lebih mahal
dalam segi jumlah korban tentara koalisi, mengikis
posisi politik mereka di kawasan itu dan memperkuat
terorisme. Saat ini, tidak ada indikasi bahwa Amerika
sudah siap untuk mengalihkan kedaulatan penuh pada
rakyat Irak, antara lain karena alasan gengsi dan
adanya kenyataan bahwa tidak adanya pemimpin Irak,
yang dapat diterima oleh seluruh rakyat Irak, kepada
siapa kedaulatan itu dapat diserahkan. Tidak jelas
bagaimana tokoh PBB sekaliber Lakhdar Brahimi akan
berhasil menyatukan berbagai kelompok di Irak dalam
sebuah pemerintahan transisi yang akan memimpin negara
itu dengan kredibilitas tinggi.
Adalah krusial bagi otoritas pendudukan untuk
melepaskan semua ambisinya guna melegitimasi kehadiran
mereka di Irak, baik secara militer maupun politis,
apabila mereka memang serius untuk mengalihkan
kedaulatan dan, konsekuensinya, dalam memperoleh kesan
penarikan mundur yang bermartabat bagi mereka sendiri.
Berbagai usaha membujuk pemerintah transisi untuk
menandatangani sebuah perjanjian dengan AS dan
Inggris, meminta mereka untuk tetap tinggal di Irak,
akan dilihat sebagai pendudukan dengan nama baru.
Bahkan, pemerintahan transisi tidak akan mendapatkan
legitimasi di mata rakyat Irak apabila pasukan koalisi
memperpanjang tinggalnya di Irak dengan berbagai cara
dan alasan. PBB harus tegas dan waspada agar tidak
terperangkap pada manuver semacam itu. Apabila Irak
memerlukan bantuan luar dalam bidang keamanan, hal itu
hendaknya diberikan oleh sebuah kelompok negara-negara
baru yang tidak termasuk anggota koalisi yang ada saat
ini.
* Penulis adalah mahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik
Agra University, India.
(bps)
=====
Mario Gagho
Political Science,
Agra University, India
__________________________________
Do you Yahoo!?
New and Improved Yahoo! Mail - 100MB free storage!
http://promotions.yahoo.com/new_mail
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/