Ambon <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0405/10/opini/1014481.htm
Senin, 10 Mei 2004

Tentara Nasional Indonesia, antara Pengamat dan Pemilih
Roch Basoeki Mangoenpoerojo

JAJARAN pengurus Golkar lebih banyak memilih Wiranto. Partai Demokrat meraih
suara cukup banyak dalam pemilu karena tampilnya Susilo Bambang Yudhoyono
(SBY). Wiranto dan SBY adalah mantan perwira TNI dan menjadi calon presiden
RI. Hebatkah mereka? Dan para pengamat serta pencinta civil society waswas.
Keadaan seperti ini pernah terjadi tahun 1958-1968, saat situasi negara
tidak menentu. Lalu Presiden menyebut, TNI adalah Golongan Fungsional, dan
dibentuklah Sekber Golkar yang mengantar Soeharto menjadi presiden. Saat itu
hampir seluruh rakyat menempatkan TNI seperti dewa. Bedanya, saat itu tidak
ada yang waswas, namun banyak yang ketakutan dianggap sebagai "musuh
negara".
Kini tak ada lagi pihak yang perlu merasa takut karena semuanya berjalan
lewat proses demokrasi yang relatif transparan (bahkan dalam Konvensi Golkar
amat terbuka). Tetapi mengapa pencinta civil society waswas? Pertanyaan lain
yang tidak mengemuka adalah, apakah kenyataan ini akan menjebak TNI
mengulangi masuk ke "jurang kezaliman" yang lain? Kini, kita sedang masuk
"dunia kebenaran Indonesia".
Sadar politik
Pertanyaannya, apakah dalam mencari pemimpin (seperti layaknya masyarakat
terjajah), para pemilih sadar politik yang cinta tanah air? Sebaliknya, para
jenderal yang tampil meyakinkan, apakah mereka sadar politik atau sekadar
sadar kekuasaan (bahwa bernegara harus ada kekuasaan)? Di sinilah para
pengamat ragu melihat tren populernya kaum militer.
Para pengamat khawatir akan masa depan bangsa karena dari konsep berpikir
yang mereka tekuni menunjukkan, watak militer di negara mana pun tidak ada
bedanya, yaitu militeristik/otoriter. Mereka khawatir, bangsa akan dikelola
secara top-down, melalui kekuasaan, bila perlu dengan kekerasan.
Saya yang bukan pengamat bisa menerima kenyataan itu berdasar pengalaman 32
tahun Orde Baru (Orba). ABRI (bukan TNI) saat itu tanpa sadar telah tersedot
untuk menikmati kekuasaan dan hanyut dalam pola pikir nilai-nilai militer
universal versi AS. Sampai akhirnya ramai-ramai dihujat, seolah merekalah
penanggung jawab atas kezaliman penguasa Orba.
Penolakan pengamat atas pembinaan teritorial oleh TNI dianggap sebagai biang
segala kemerosotan jati diri TNI. Para pengamat membombardir asas itu dan
ditangkap dengan baik oleh intelektual TNI eks AS, dan memorakporandakan
pola pikir TNI (salah satunya penghapusan komando daerah militer/kodam).
Apalagi ketika para analis politik selalu menghitung "kepentingan TNI" dalam
agendanya. Ini merangsang institusi TNI membangun "kepentingan subyektif".
Selama Orba berkuasa, nilai dwifungsi disulap jadi kebijakan kekaryaan.
Mereka adalah ABRI karena dalam sejarah TNI tidak pernah punya kepentingan,
kecuali kepentingan nasional.
ABRI adalah tentara kekuasaan. Dibentuk oleh dan untuk kekuasaan di tahun
1968, yaitu "memenangkan Orba" (ingat kampanye pemilu sejak 1971). Dan itu
bukan jati diri TNI yang terbentuk oleh keinginan masyarakat untuk
mempertahankan kedaulatan negara. Masyarakatlah pembentuknya, dan masyarakat
pula yang memenangi perang melawan penjajah.
Jiwa itu terkemas dalam sistem pertahanan dan keamanan rakyat semesta
(sishankamrata), dipagari janji murni Sapta Marga. Di tingkat implementasi,
dijabarkan dalam "TNI Wajib" yang antara lain berisi "anggota TNI harus
membantu yang lemah dan menghormati wanita" (jauh dari semangat berkuasa).
Operasionalisasinya lewat pembinaan teritorial, oleh kepala staf teritorial
dengan kodam sampai babinsa (bintara pembina desa).
Rasa aman
TNI adalah anak-anak Soekarno, paham benar tentang nation and character
building. Melalui pembinaan teritorial (binter) dalam kerangka sishankamrata
adalah konsep TNI untuk memberdayakan rakyat agar sadar cinta tanah air
(politik). TNI tak akan berkuasa, tak boleh menggunakan kekuatan yang
dimilikinya untuk kepetingan kekuasaan. Kekuatan TNI hanya digunakan untuk
memperkuat kekuatan rakyat agar seluruh rakyat mampu mempertahankan negara
dengan TNI sebagai kekuatan intinya. Konsep ini tidak masuk akal di benak
pemegang kekuasaan, yang menolak bambu runcing sebagai "teknologi pembebas
bangsa" dari tangan penjajah.
Pilihan rakyat atas TNI tidak lepas dari kebutuhan akan rasa aman dalam
masyarakat. Itu tak akan terjadi karena kehadiran ABRI dengan senjatanya.
Dan kemanunggalan TNI-rakyat diharapkan memberi rasa aman. Dalam
kemanunggalan itu ada rasa adil yang merupakan prioritas kebutuhan. Rasa
adil itu tidak mungkin hadir selama TNI belum berpihak kepada rakyat. Alasan
apa pun sulit diterima apabila TNI ada di belakang konglomerat, bandar
judi/narkoba, dan seterusnya
Agar TNI terangsang untuk berpihak kepada rakyat, pembangunan TNI amat
mutlak. Itu bukan berarti TNI membutuhkan dana yang tidak pernah cukup. Yang
dibutuhkan adalah keadilan dalam APBN, yaitu persentase tertentu yang
disepakati DPR RI.
Wiranto, SBY, atau siapa pun anggota TNI yang maju menjadi calon presiden
adalah mantan militer yang tidak boleh dikait-kaitkan dengan institusi TNI,
apalagi persenjataannya. Namun, sebaliknya, mereka tetap terikat marga 1, 2,
dan 3 dari Sapta Marga (sebagai warga negara, ksatria, dan patriot). Dalam
marga itu sudah termasuk seluruh isu di dunia, namun harus disesuaikan
dengan nilai-nilai Indonesia. Karena itu, mereka harus selalu dinilai rakyat
dengan ukuran itu. Dan khusus bagi pemilih, mereka harus berani melakukan
penilaian itu dengan amat keras.
Sebaliknya kepada calon presiden dan calon wakil presiden yang nontentara,
tim sukses, dan pengamat, tidak ada alasan untuk mendikotomi mereka. Pemilu
adalah milik seluruh warga negara tanpa terkecuali. Mendikotomi
militer-nonmiliter, lantas curiga, mengembangkan prasangka politik, hanya
akan mengerdilkan kehidupan berbangsa.
Roch Basoeki Mangoenpoerojo Pemerhati Militer; Penulis Buku Bangsaku




***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]

Yahoo! Groups Links






Yahoo! India Matrimony: Find your partner online.

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke