Selasa, 22 Juni 2004

Masalah Kedaulatan 

Oleh : Ahmad Syafii Maarif 


Dibandingkan dengan Malaysia yang jumlah penduduknya 1/10 kita, dalam masalah 
kedaulatan negara berhadapan dengan kekuatan luar terasa bahwa negara jiran itu lebih 
dihormati. Setidak-tidaknya ada dua faktor mengapa demikian. Pertama, fundamental 
ekonominya jauh lebih kokoh dibandingkan kita setelah sama-sama diterpa krisis sejak 
1998. Oleh sebab itu, pergantian kepemimpinan di sana tidak menimbulkan keguncangan 
apa-apa. 

Bahkan, Abdullah A Badawi mendapat dukungan yang lebih dahsyat dalam pemilu yang 
diselenggarakan belum lama ini, melebihi dukungan terhadap Mahathir Mohamad, yang 
selama ini diberi gelar sebagai orang kuat Malaysia. Mahathir yang menyadari bahwa 
matahari kariernya semakin turun telah mengambil keputusan tepat: meletakkan jabatan 
sebagai perdana menteri yang telah dipegangnya selama lebih dua dasawarsa. Badawi yang 
mewarisi fundamental ekonomi yang relatif solid itu tidak banyak menghadapi kesulitan 
ditinggal Mahathir. Sekalipun Badawi tidak selantang Mahathir dalam mengkritik politik 
luar negeri Amerika yang imperialistik, kedaulatan negara Malaysia tetap dihormati 
pihak manapun.

Kedua, menghadapi isu tentang korupsi. Malaysia bukanlah negara tanpa korupsi. 
Birokrasinya tidaklah imun dari penyakit sosial ini, tetapi hukum diupayakan secara 
nyata untuk ditegakkan, tidak peduli siapa pun yang melakukan. Dengan demikian, rakyat 
melihat bahwa pemerintah punya kemauan politik untuk menegakkan hukum, sekalipun di 
sana tidak ada Komisi Pemberatasan Korupsi (KPK) seperti halnya di Indonesia. 

Memang, perlakuan terhadap Anwar Ibrahim masih dirasakan sebagai sesuatu yang tidak 
wajar, kebanyakan rakyat Malaysia, seperti halnya rakyat Indonesia, tampaknya bersikap 
pragmatis saja dalam masalah ini. Badawi akan lebih populer lagi sekiranya berani 
mengambil sikap berbeda dengan Mahathir dalam kasus Anwar ini. Persamaan sikap 
Mahathir-Badawi dalam masalah ini patut disayangkan, dan ini merupakan salah satu 
bintik hitam dalam sejarah politik Malaysia. Namun, semuanya ini tidak mengurangi 
hormat negara lain terhadap kedaulatan negara jiran itu. Kekuasaan memang dalam sistem 
demokrasi pada akhirnya ditentukan oleh dukungan mayoritas rakyat. Perkara ada aspek 
kebijakan pemerintah yang menyakitkan sebagian masyarakat biasanya diabaikan begitu 
saja.

Indonesia dengan jumlah penduduk 10 kali Malaysia berhadapan dengan pihak luar, 
khususnya Amerika Serikat, terasa sudah lama kehilangan taring. Ambillah contoh 
tentang kasus Ba'asyir yang berlarut-larut tidak lepas dari peran Amerika seperti 
pernah saya rekamkan dalam Resonansi beberapa waktu yang lalu. Sebelum itu, Amerika 
tetap saja bersikukuh tidak mau mengekstradisi Al-Faruq dan Hambali ke Indonesia untuk 
dikonfrontasi dengan pihak-pihak yang dituduh melakukan teror di Indonesia. Anehnya 
Al-Faruq yang ditangkap di Indonesia diserahkan begitu saja kepada Amerika sehingga 
pertanyaan yang muncul adalah: di mana kedaulatan kita? Kemudian Hambali yang 
ditangkap di Thailand oleh negara yang bersangkutan juga diserahkan kepada Amerika, 
tidak kepada Indonesia.

Duta besar Thailand yang baru sewaktu menemui saya di PP Muhammadiyah baru-baru ini 
hanyalah tersenyum kecut sewaktu masalah Hambali ini saya tanyakan. Jangankan Thailand 
yang punya hubungan tradisional akrab dengan Amerika, Indonesia di bawah Soekarno dulu 
melalui hentakan ''go to hell with your aid'' dalam menantang negara adikuasa itu, 
sekarang sampai batas-batas tertentu telah mengikuti langkah Thailand. Maka, tidaklah 
mengherankan mengapa fondasi kedaulatan kita semakin rapuh, sementara tokoh keturunan 
langsung Soekarno yang berkuasa sekarang memang bukanlah bapaknya, atau sejauh ini 
tidak berani bersuara sedikit keras dalam menghadapi tekanan Amerika.

Akhirnya, perlu ditambahkan mengapa kedaulatan kita sulit dipertahankan secara utuh 
adalah karena utang luar negeri kita yang terus saja membengkak dari waktu ke waktu, 
sementara dengan otonomi daerah yang bertujuan mulia itu, ternyata efek sampingnya 
yang buruk adalah terjadinya proses desentralisasi korupsi secara besar-besaran tanpa 
malu-malu. Saya tidak tahu apakah janji-janji yang dilontarkan oleh para 
capres/cawapres dalam musim kampanye sekarang ini untuk melawan korupsi akan ada 
buktinya nanti, sulit sekali kita katakan sekarang. Tetapi, sudahlah pasti bahwa hari 
depan Indonesia akan sangat tergantung pada sikap kepemimpinan nasional yang akan 
datang, apakah punya nyali atau tidak untuk melakukan dua tugas ganda ini: memulihkan 
kedaulatan bangsa dan melawan korupsi melalui penegakan hukum secara tegas dan berani.



Khairurrazi
Aligarh Muslim University
Uttar Pradesh, India

-- 
India.com free e-mail - www.india.com. 
Check out our value-added Premium features, such as an extra 20MB for mail storage, 
POP3, e-mail forwarding, and ads-free mailboxes!

Powered by Outblaze


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke