dear guys,

menurut eki syahruddin (dubes kita di kanada), pendidikan di kanada itu gratis dari sd 
- sma. dan cara berpolitik rakyat umum pun lebih 'beradab' tp kritis.

saya tidak mengharap terlalu muluk bahwa negara kita akan menggratiskan seluruh biaya 
pendidikan sd-sma. saya tau diri, kekayaan kita itu tidak seberapa dibanding kanada. 
akan tetapi adanya wacana para capres untuk menggratiskan biaya studi itu setidaknya 
membuat bidang pendidikan menjadi sorotan dan mendapat 'sedikit' apresiasi which it 
deserves and long time overdue. 

kepedulian pemerintah pd bidang pendidikan dan para pelajar sangat2 kurang selama ini: 
dari sejak era suharto sampai era megawati. sikap para pejabat pada para 
pelajar/mahasiswa juga kurang apresiatif. terbukti masih dipersulitnya berbagai 
prosedur yg ada kaitannya dg pendidikan. para birokrat sama sekali tidak menunjukkan 
adanya rasa respek yg semestinya pada pelajar/mahasiswa yg notabene merupakan pembawa 
estafet kontinuitas bangsa. ini berbeda umpama dg malaysia dan to some extent india. 

sebagai contoh, ketika saya sampai di bandara new delhi, di bagian imigrasi, spt biasa 
kita diperiksa dokumen paspor, dll. tapi begitu tau kita itu pelajar (dari visa kita), 
pejabat imigrasi langsung berubah total: dari wajah yg dingin kecapean menjadi ramah 
dan penuh senyum sambil ngajak ngobrol ttg napa saya tertarik belajar di india, dll. 
hal ini berbeda banget ketika saya hendak berangkat dari bandara cengkareng, waktu 
saya sudah bayar uang fiskal, pegawai kasir masih nanya dg muka yg sangat menjijikkan: 
mana uang untuk saya? padahal dia tau saya mau studi.

semoga sikap2 begini ini akan berubah kelak.
oh ya, karna pak eki syahruddin juga jadi member di milis ini, barangkali beliau 
berkenan ngasi komentar ttg masa depan pendidikan kita. terima kasih.

namaskar,
khairurrazi (putra riau)

Senin, 21 Juni 2004

Perang Pikiran dalam Pemilu Kanada 

Oleh : Eki Syachrudin
Dubes RI di Ottawa, Kanada
http://www.republika.co.id/ASP/kolom_detail.asp?id=164359&kat_id=16

Berbeda dengan kita, menjelang pemilu di Kanada pada 28 Juni ini, tak pernah saya 
menyaksikan iring-iringan bus dan truk dengan bak terbuka yang membawa massa yang 
bersemangat dan bergelora seolah-olah menuju medan laga. Saya juga tak pernah 
menyaksikan iring-iringan anak-anak muda bersepeda motor yang bagaikan ular raksasa 
meliuk-liuk menelusuri ruas-ruas jalan-jalan raya, lengkap dengan bendera di tangan 
dan suara klakson bertalu-talu. Pendeknya suasana perjuangan dan pengerahan massa yang 
terkonsentrasi di lapangan-lapngan terbuka bahkan stadion-stadion dengan fenomena yang 
pada tempo doeloe sering disebut dengan istilah macht vertoon dan macht anwending, tak 
pernah saya saksikan selama tiga tahun bertugas di Kanada.

Apakah rakyat Kanada memble dalam kehidupan politik, khususnya menghadapi pemilu? 
Mengapa dalam menghadapi pemilu mereka tampak adem-ayem saja dan tak bergelora dan 
kalah dinamik dibanding massa Indonesia yang progresif-revolusioner?

Pada mulanya saya berbangga hati, bahwa kesadaran politik rakyat kita lebih tinggi 
ketimbang rakyat Kanada. Mungkin karena mereka sudah hidup enak dan oleh kerena itu 
keenakan. Ternyata kesimpulan itu salah. Rakyat Kanada juga sangat bergelora, namun 
bukan dalam bentuk arak-arakan massa, apalagi berupa tawuran yang terjadi di setiap 
tikungan, tapi dalam bentuk 'perang pikiran' yang terjadi hampir setiap hari, baik di 
radio, surat kabar, majalah, apalagi di TV.

Tak ada hari tanpa 'perang argumen' antara pihak-pihak yang bersaing dalam pemilu. 
Peperangan itu terjadi antara rakyat pengikut partai, antara para pengurus partai 
melawan pengurus partai lainnya, dan antara calon perdana menteri yang satu melawan 
calon perdana menteri yang lain. Masing-masing pihak saling beradu akal, bukan okol, 
untuk menguji kesahihan materi-materi kampanye yang 'dijual' para kontestan, yaitu 
program dan bukan janji. Tema-tema atau isu-isu seperti kesehatan, lingkungan 
(environment), pendidikan, pajak, belanja pertahanan, hubungan luar negri, sikap 
terhadap Amerika, kebijakan imigrasi, perlakuan terhadap kelompok minoritas, aborsi, 
dan bahkan soal-soal kawin sejenis. Juga diperdebatkan bagaimana mendapatkan 
kesejahteraan anak (child care), kesejahteraan para orang tua dan jompo, termasuk kaum 
cacat, besarnya bea-siswa bagi anak-anak yang masuk pendidikan tinggi.

Gratis
Seperti diketahui sampai dengan sekolah menengah tingkat atas (high-school) pendidikan 
di Kanada gratis bagi seluruh warga negaranya lengkap dengan bus antar-jemput bagi 
yang memerlukannya. Warga asing yang belajar di high school harus membayar delapan 
ribu dolar Kanada. Juga kesehatan terjamin bagi seluruh warga dan rakyat -- gratis 
untuk mendapat pengobatan, termasuk biaya operasi yang mahal-mahal. Seorang istri 
pegawai kedutaan (local-staff) di KBRI Ottawa tak mengeluarkan biaya satu sen pun 
ketika mengalami operasi bedah-otak yang biayanya hampir 30 ribu dolar Kanada atau Rp 
180 juta. Ia ditanggung oleh program asuransi kesehatan. Apalagi untuk 
pengobatan-pengobatan ringan seperti sakit gigi, THT, pening, melahirkan, dan 
sebagainya.

Segala kesejahteraan yang diterima warga, berkat kerja keras pemerintahan Partai 
Liberal selama 10 tahun terakhir, yang menjadikan Kanada sebagai sebuah negeri yang 
paling stabil keadaan sosial dan ekonominya dibanding dengan seluruh negeri kaya G-8, 
tak menjadikan mereka pasif dalam politik. Mereka justru sangat aktif dan kritis 
terhadap pemerintah dan juga terhadap partai yang mencoba-coba ingin memerintah. 
Pertanyaan demi pertanyaan pasti akan diajukan oleh anggota masyarakat dari segala 
lapisan. Rakyat akan bertanya apakah pemerintah yang sedang berjalan sekarang bisa 
menangkis serangan kaum oposisi bahwa mereka korup dalam pengelolaan uang publik, 
seperti dituduhkan oleh Stephen Harper dari Partai Konservatif, atau Jack Layton dari 
partai kiri NDP, dan Gilles Duceppe dari partai lokal Quebec.

Konservatif menyerang pemerintah Liberal sebagai tak mampu berhubungan secara baik 
dengan tetangganya Amerika, padahal 84 persen atau 1 miliar dolar per hari perdagangan 
Kanada justru dengan negeri tetangga itu. Dengan hubungan yang buruk itu tidak heran 
kalau Amerika 'mengganggu' perdagangan Kanada, melalui peningkatan tarif masuk 23,4 
persen untuk kayu dan pelarangan ekspor sapi Kanada ke Amerika. Berapa banyak kerugian 
Kanada gara-gara tak mampu merakit hubungan dengan tetangga di selatan.

Sebaliknya Partai Konservatif diserang partai kiri NDP, sebagai kekuatan yang akan 
'menjual-diri' kepada Amerika. NDP juga tak menggubris ketegaran pemerintah yang 
sekarang yang begitu independen kepada Amerika, termasuk misalnya tak ikut perang di 
Irak. Kami, kata PM Kanada yang juga Ketua Partai Liberal Paul Martin, tetap 
berhubungan diplomatik dan ekonomi dengan negeri komunis Kuba, walaupun dilarang 
Amerika. Katanya, kami juga berseberangan dengan Amerika dalam soal pemeliharaan 
kebersihan lingkungan global. Kanada, katanya, ikut bersama negeri-negeri berkembang 
untuk menandatangani Protokol Kyoto. Menurutnya, prinsip tak bisa ditukar dengan uang. 
NDP ingin menghilangkan kesan bahwa Partai Liberal telah bebas dari pengaruh Amerika, 
untuk itu ia bertanya kepada Paul Martin, kenapa Anda ikut program pertahanan udara 
wilayah Amerika Utara bersama Amerika, padahal tak ada ancaman dari luar terhadap 
Kanada? Kita, kata NDP, berbeda dengan Amerika yang banyak musuhnya.

Tak ada beda
Sebetulnya tak ada beda antara Partai Liberal dengan Stephen Harper dari Partai 
Konservatif dalam mengabdi kepada kepentingan Amerika. Kalau Kanada ingin memiliki 
pemerintahan yang berdaulat terhadap Amerika, tak ada jalan lain, pilihlah NDP, begitu 
ia menjual kecapnya. Tentu saja Paul Martin menunjukkan bukti-bukti kemerdekaannya 
terhadap kemauan Amerika. Stephen Harper sebagai calon PM dari Partai Konservatif, 
yang secara kultural dan historis dekat dengan Amerika menembak balik kepada keduanya, 
dengan mengatakan, janganlah kita menjadi demagog. Katanya, yang perlu dicari adalah 
seorang pemimpin yang bisa mengabdi kepada kepentingan kedaulatan Kanada, sambil 
kepentingan dagangnya dengan Amerika tak terganggu. Ini pasti bukan soal mudah, untuk 
menakar mana yang lebih benar.

Stephen Harper kemudian beralih topik untuk membujuk publik agar memilihnya. Katanya, 
bila ia menang, biaya untuk kesehatan (health-care, medicare, child-care) akan 
ditingkatkan 3 miliar dolar lebih tinggi dari rencana anggaran Partai Liberal. Paul 
Martin bertanya, dari mana uang itu akan Anda dapatkan bila Anda membujuk rakyat 
dengan mengatakan akan meningkatkan biaya kesehatan masyarakat, sementara pajak 
dikurangi, tapi biaya militer akan tingkatkan? Dari mana uangnya? Kesejahteraan rakyat 
hanya bisa dicapai bila belanja militer dikurangi. ''Saya telah menekan belanja 
militer sehingga Kanada biar pun sebuah negara besar, namun dibanding seluruh anggota 
NATO, kita termasuk paling kecil. Mana bisa kita menyejahterakan rakyat namun 
meningkatkan belanja militer. Jangan gombal,'' kata Martin.

Partai Liberal sebagai pemangku kekuasaan yang sekarang, mendapat serangan gencar dari 
ketiga lawannya, sementara di antara ketiga partai itu juga saling menyerang, untuk 
membuktikan kepada publik, bahwa partainyalah yang paling patut memerintah dan 
menjawab segala kesulitan yang ada dan yang akan datang. Sungguh merupakan suatu 
peperangan pikiran yang mengasyikkan yang terjadi hampir setiap hari. Konservatif 
menyerang kaum Liberal dalam soal aborsi. Pemerintah dituduh tak mampu menyelamatkan 
makhluk hidup dalam kandungan. Aborsi harus dilarang, katanya berapi-api. Paul 
menangkis, dengan tuduhan balik, bahwa kaum Konservatif telah melanggar hak asasi 
wanita (kaum ibu) untuk menentukan kehendaknya sendiri secara bebas. Ini hak yang 
dijamin konstitusi, katanya. ''Janganlah kita keluar dari human rights charter yang 
telah diadopsi konstitusi kita,'' kata Martin. Katanya, awas ada kekuatan yang ingin 
mengganti konstitusi. Harper bergeming, bahkan dengan lantang ia berkata pihakny
 a pro-life, bukan anti konstitusi.

Begitulah aneka perang kata-kata, bukan perang massa, namun perang makna, berupa 
perang paradigma, idiologi, filosofi, kebijakan, dan program-program yang dikemas 
dalam untaian kalimat yang logis dan indah, namun cepat sehingga tampak kecerdasannya 
di samping tampilan data-data peraturan, pasal-pasal, angka inflasi, defisit, surplus, 
angka pengangguran, angka penyerapan kerja akibat investasi, dan sebagainya. Tampak 
sekali keterpelajaran dan luasan wawasan pemimpin yang bersaing itu. Rakyat 
betul-betul menjaga jarak bahkan sangat kritis terhadap pemerintah ataupun calon-calon 
pemerintah. Hampir tak ada waktu bagi anggota masyarakat untuk mendekat-dekatkan diri 
ke dalam 'ketiak' salah satu kontestan, sekadar untuk mendapatkan 'sangu' atau 
'sembako'. 

Seluruh anggota masyarakat, seolah-olah bersikap sebagai calon pembeli dari ide-ide, 
program-program, dan kebijakan-kebijakan yang dijual oleh partai-partai. Batas antara 
rakyat sebagai konsumen dan partai sebagai produsen begitu jelas. Sikap mereka kepada 
semua partai sangat kritis agar mereka bisa membeli yang terbaik. 

Seperti dalam perdagangan selalu ada agen atau perantara atau mak-comblang, maka 
transaksi jual-beli dalam pasar politik di Kanada mak-comblang adalah pers. Pers telah 
menjadi mak-comblang yang independen, jujur, dan tak terbeli.

Mereka tak berpihak dan semata-mata hanya bertindak demi kepentingan calon pembeli, 
itulah kode etiknya. Insan pers-lah yang mempertemukan rakyat dengan rakyat, tokoh 
dengan tokoh, partai dengan partai. Itu dilakukan melalui rangkaian pertanyaan 
(wawancara) dan juga penghadapan atau penentangan model Sokrates. Para wartawan 
jugalah yang 'mengadu' (tesis-anti tesis) semua pihak secara horizontal dan vertikal 
untuk mengeluarkan pendapatnya bahkan unek-uneknya.

Dalam setiap arena perang pikiran itu baik di podium, koran, radio, apalagi di TV, 
empat ketua partai, Paul Martin, Stephen Harper, Jack Layton, dan Gilles Duceppe, 
tampil tak dibantu siapapun.

Pada 28 Juni nanti rakyat Kanada akan menunjukkan diri bahwa merekalah yang 
menentukan. Partai boleh berganti, pemimpin boleh datang dan pergi, namun rakyat 
jualah yang berdaulat. Rakyat di negeri kita pun pada 5 Juli nanti akan membuktikan 
diri sebagai yang berdaulat. Uang memang berada di tangan cukong, tapi suara untuk 
membeli sebuah pemerintahan berada di tangan rakyat. Meminjam slogan sebuah iklan, 
saya hanya akan berkata, ''Selanjutnya terserah Anda''.


Khairurrazi
Aligarh Muslim University
Uttar Pradesh, India

-- 
India.com free e-mail - www.india.com. 
Check out our value-added Premium features, such as an extra 20MB for mail storage, 
POP3, e-mail forwarding, and ads-free mailboxes!

Powered by Outblaze


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke