http://www.jurnalperempuan.com/yjp.jpo/?act=artikel%7C-13%7CX
Rabu, 23 Juni 2004
Mengkampanyekan Nurani dan Logika 


Oleh R. Valentina Sagala 


Pertanyaan besar di kepala sebagian besar orang tentang kampanye pemilihan 
capres-cawapres yang berlangsung �resminya� tanggal 1 Juni adalah visi dan program 
masing-masing. Bak perusahaan swasta, pasangan capres-cawapres ini akan mencitrakan 
diri mereka, serupa �produk�, agar mata calon konsumen tidak hanya melirik, melainkan 
tergerak merogoh kocek untuk mengonsumsi. Ibarat seorang laki-laki yang hendak 
menjerat pasangan idamannya, berbagai persiapan mulai dari rayuan, hadiah mewah, 
ajakan nonton bioskop, hingga janji gombal disiapkan. 

Dalam soal advertising atau rayu merayu, konon menangkap akal sehat adalah kiat yang 
paling jarang dilakukan. Apalagi kalau sasarannya bukanlah tipe kategorial yang 
rasional. Sebagian kecil dari kita menertawakan sejumlah tayangan iklan shampo 
mengubah rambut dalam hitungan hari menjadi hitam, kuat, bersinar; juga iklan pemutih 
kulit, atau minuman pelangsing. Tetapi toh, tetap saja, percaya tidak percaya, ribuan 
orang mengonsumsi produk tersebut setiap harinya. 

Maka kampanye capres-cawapres yang kita hadapi kini juga sedikit banyak serupa dengan 
gencaran iklan atau rayuan diatas. Sejumlah tema, icon, hingga jargon, pastilah telah 
disiapkan capres-cawapres bersama tim suksesnya. Mulai dari menciptakan pemerintahan 
yang kuat, menata kembali Indonesia, dsb. Sejumlah program seperti anti KKN, biaya 
pendidikan murah untuk rakyat, penegakan HAM, hingga isu perempuan, jelas akan 
�terangkat� menjadi isu besar (big issue) di hari-hari kampanye ini. 

Bagi mereka yang hendak dirayu, jelas dibutuhkan tidak saja akal yang sehat, tetapi 
juga nurani yang jernih, dan tentu saja iman yang kuat. Akal sehat dibutuhkan untuk 
menangkap informasi yang logis dan benar dari kampanye, menyaring, dan menganalisanya. 
Nurani yang jernih diperlukan untuk menukik kedalaman ketulusan dan pengabdian para 
capres-cawapres pada rakyat miskin dan menderita yang teramat sering menjadi korban 
kekuasaan. Iman yang kuat meneguhkan keyakinan kita untuk memutuskan pilihan. Semua 
ini menjadi saringan yang jitu agar mereka yang menjadi sasaran kampanye, tidak mudah 
terseret untuk melakukan hal yang kelak justru akan disesali. 

Pemilihan 5 Juli mendatang bagaimanapun adalah hajat besar bagi kita semua. Maka 
pertanyaan sebelum menuju hari besar itu adalah pertanyaan menyangkut nurani dan 
logika rakyat. 

Bicara logika, total utang luar negeri Indonesia saat ini sudah sampai tingkat yang 
mengkhawatirkan, yaitu mencapai kisaran US$ 149.903 Juta (atau sekitar Rp. 150 
triliun) yang terbagi US$ 85.608 juta utang pemerintah dan US$ 55.195 juta utang 
swasta. Beban utang perusahaan swasta menduduki komponen terbesar untuk sektor swasta. 
Jumlah utang dalam negeri melalui skenario obligasi yang belakangan ini gencar 
dilakukan meroket mencapai Rp. 6000 triliun dalam waktu hanya kurang dari lima tahun. 
Sementara jika dibedah, anggaran pendapatan (income) dalam APBN kita rata-rata hanya 
Rp. 300 triliun per tahun (debtwatch Indonesia, 2004). 

Beban pembayaran cicilan utang luar negeri tersebut pastinya akan memberatkan APBN, 
karena hampir 1/3 anggaran negara dipakai untuk membayar cicilan utang luar negeri. 
Bahkan Indonesia telah masuk dalam jebakan utang (debt-trap), karena jumlah utang luar 
negeri yang didapat lebih kecil daripada kewajiban membayar cicilan utang. Sebagai 
gambaran untuk APBN 2001, --pada saat Megawati menjadi Presiden RI--, Indonesia 
mendapat utang baru sebesar Rp. 35,9 triliun, sementara kewajiban untuk membayar 
cicilan pokok dan bunga utang mencapai Rp. 38,8 triliun. Dan yang lebih menyesakkan 
utang yang dibuat swastapun pada akhirnya menjadi beban negara lewat skema penalangan 
(bail-out), terutama restrukturisasi perbankan. 

Sebelum masuk pada visi dan program, pertanyaan sederhana bagi para capres-cawapres 
adalah, dengan kondisi macam ini, apa gerangan yang bisa dilakukan terhadap berbagai 
persoalan yang sedang dihadapi bangsa kita? 

Sebab bukankah bicara pembangunan sebagai payung isu pengentasan kemiskinan, pekerjaan 
dan penghidupan yang layak, pendidikan murah, kesejahteraan, kemakmuran bagi petani, 
guru, buruh, rakyat miskin, adalah juga berkait dengan APBN? Maka segala program dan 
visi capres-wapres jelas menjadi anti logika, tanpa pandangan yang jelas mereka 
tentang persoalan utang-utang luar negeri dan dalam negeri kita saat ini. 

Hingga kini, meski telah lahir UU Keuangan Negara, entah mengapa belum ada suatu 
peraturan perundangan yang mengatur soal pinjaman luar negeri maupun akuntabilitas 
negara dalam pengelolaannya. Utang-utang negara barulah kita ketahui ketika menjadi 
telah berupa utang yang mau tidak mau mesti kita tanggung. Lantas, sampai kapan dana 
pembangunan kita akan digerogoti segelintir orang yang mengeruk keuntungan besar lewat 
mekanisme yang �bolong-bolong� ini? Apa kira-kira platform capres-cawapres kita 
terhadap persoalan ini? 

Bicara tentang nurani kemudian kita sandarkan pada political will dan komitmen para 
capres-cawapres. Teramat sering isu-isu kemanusiaan seperti angka kematian ibu, 
kekerasan terhadap perempuan dan anak, subsidi kesehatan, penghentian penggusuran, 
perlindungan TKI/TKW menjadi agenda �nomor sepatu� di pemerintahan. 

Kita baru terhentak ketika korban-korban berjatuhan. Ketika ratusan perempuan dari 
pantura mengais-ngais sisa sayur-sayuran di pasar Cibinong karena kemiskinan yang tak 
berkesudahan (Kompas, 6 Oktober 2004). Ketika Nirmala Bonat (19th), TKW asal NTT 
mendapat penyiksaan yang sangat buruk dari majikannya di Malaysia. Ketika anak-anak 
kita gantung diri karena kemiskinan yang mencekik. Ketika anak-anak perempuan kita 
terjebak dilacurkan di luar negeri karena bujuk rayu calo dan janji atas hidup yang 
lebih baik ketimbang di desa. Ketika keluarga korban kekerasan militer, mulai dari 
Tanjung Priok, Aceh, Trisakti, Semanggi, 12-13 Mei, teguh berjuang memohon keadilan. 
Ketika korban penggusuran menginap di halaman kantor Komnas HAM. 

Komitmen pada agenda kemanusiaan, sekali lagi adalah sebuah tantangan nurani bagi 
capres-cawapres kita. Tapi persoalannya, pertanyaan tentang nurani itu bukan baru 
sehari dua hari disuarakan rakyat. Hampir jenuh rasanya media cetak dan elektronik 
menceritakan kisah-kisah pedih yang membuat hati nurani kita tersentak. Tapi tetap, 
tak banyak dari mereka yang berkuasa mau bergegas mengambil langkah untuk 
menyelesaikannya. 

Pertanyaan sederhana pula rasanya yang bisa kita ajukan kepada para capres-cawapres 
kita, untuk segala yang bisa dikerjakan sejak kemarin, mengapa mesti menunggu 5 Juli? 
Bukankah dari semua capres-cawapres yang tampil saat ini, mereka bukanlah 
�pemain-pemain baru� di blantika kekuasaan dan kewenangan? Dari kekuasaan yang pernah 
mereka pegang, adakah mereka mengabdikan kekuasaan itu bagi rakyat yang miskin dan 
menderita, bagi para korban pembangunan? Adakah keberanian mereka, dalam hal yang 
sederhana misalnya, menolak �jatah uang belanja� yang dirasa berlebih, menolak jalan 
kekerasan, atau memilih menggunakan kendaraan umum ketimbang mobil dinas? 

Dengan pertanyaan-pertanyaan logis dan menyentuh hati nurani demikian, rasanya, isu 
perempuan sebagai lebih dari 50% pemilih mendatang tidaklah tepat ditarik ke isu 
presiden dengan identitas jenis kelamin tertentu. Sebab toh, komitmen dan keteguhan 
hati memperjuangkan nasib kaum perempuan dan rakyat kecil terbukti kerap 
tertunda-tunda. 

Sejumlah RUU menyangkut perempuan dan anak adalah saksi nyata dari fragmen sedih itu, 
seperti RUU Perlindungan Buruh Migran dan Anggota Keluarganya, RUU Anti Perdagangan 
Perempuan dan Anak, RUU Perlindungan Saksi dan Korban. Saat ini meski DPR telah 
mengambil inisiatif RUU Anti Kekerasan dalam Rumah Tangga (Anti KDRT), presiden 
Megawati, yang juga adalah salah seorang capres, belum mengeluarkan Amanat Presiden 
yang menunjuk leading sector untuk membahas RUU ini bersama DPR. 

Akh, saya membayangkan beberapa waktu setelah capres-cawapres terpilih berkuasa. Waktu 
kemungkinan besar terasa bergerak dengan cepat. Tiba-tiba tanpa terasa, mereka yang 
tadinya pernah berteriak soal keadilan, lupa ingatan pada teriakannya. Bak pengusaha 
rakus yang keburu menyiapkan �argumen hukum positif� untuk menyanggah tuntutan 
konsumen atas penipuan iklannya. Seperti kekasih yang tadinya berjanji hal yang 
indah-indah, tiba-tiba tak mengenal lagi belahan jiwanya saat berjumpa. 

Semoga saja kita yang memilih, menancapkan kuat hari-hari kampanye ini dalam ingatan 
kita, logika kita, nurani kita... 







*R. Valentina Sagala, adalah Direktur Eksekutif Institut Perempuan. Tulisan ini pernah 
dimuat di kolom Forum, Harian Pikiran Rakyat, 5 Juni 2004. 






------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke