19 Jun 04 02:43 WIB
Realitas Di Balik Mitos Lintas Paradigma Islam-Barat
http://www.waspada.co.id/opini/artikel/artikel.php?article_id=46249
Oleh A Fatih Syuhud *
Saat ini sedang terjadi pergulatan spektrum dan visi
di horizon intelektual dan pola pikir. Di permukaan,
ia tampak dalam wujud pergulatan antara barat dan blok
Islam untuk merebut dominasi dunia. Dalam realitas,
pemeran antagonis dalam konflik yang tampak antara
Barat dan Islam berada pada sisi yang sama. Mereka
semua adalah pemeran protagonis dari struktur kekuatan
yang bersatu. Mereka sama-sama mengadvokasi penggunaan
kekuatan sebagai penentu dalam hubungan internasional.
Memang, selalu terdapat perbedaan antara persepsi dan
realitas dalam konflik antara berbagai sistem
kepercayaan. Perang Suci (Crusade), sebagai contoh,
digambarkan sebagai perang yang dilakukan antara
Kristen dan Yahudi di satu sisi, dan melawan Muslim di
sisi yang lain. Dalam realitasnya, kalangan Crusader
menghancurkan kaum Yahudi di Prancis dan Jerman,
memerangi umat Kristen di Byzantine dan menaklukkan
umat Islam di Palestina. Kesimpulannya, ia hanyalah
permainan kekuasaan, yang tidak berkaitan dengan
prinsip kepercayaan apapun.
Respons dari Bush-Blair pada tragedi 11-9 memfokuskan
diri dengan menyerang negara-negara yang sedang
menderita asimetri kekuasaan yang lebar, semacam
Afghanistan dan Irak. Di sisi lain, AS membujuk Korea
Utara, dengan senjata pemusnah massalnya, dan Saudi
Arabia, dengan besarnya cadangan minyaknya. Oleh
karena itu, dengan memerangi sejumlah negara yang
lemah, dan bernegosiasi dengan negara-negara yang
memiliki level kekuatan tertentu, AS telah menentukan
aturan baru di mana superioritas kekuatan (militer
atau non-militer) akan menjadi basis utama dalam
hubungan internasional.
Pada sisi lain dari spektrum itu, kalangan ekstremis
Islam menjustifikasi penggunaan kekuatan dalam bentuk
teror. Tindak kekerasan mereka tidak jarang bermuara
dari niat �murni� untuk menyuarakan penderitaan rakyat
lokal, korupsi dan penindasan. Setelah itu mereka
mulai mengadvokasi teokrasi, sistem penyatuan negara
dan agama; sebuah sistem di mana mereka akan dapat
menjadi elit penguasa dan tanpa mengindahkan nilai
moral apapun merekrut dan mengeksploitasi anak-anak
muda pengangguran sebagai pasukan bergaji murah.
Saat ini, terdapat 10 juta pemuda pengangguran dengan
kelompok usia antara 15-35 tahun di kawasan �pusat
instabilitas� � Afghanistan, Irak, Iran, Pakistan dan
Saudi Arabia. Di samping itu, terdapat sejumlah sinyal
adanya versi ekstrim Islam yang semakin mendapat
popularitas di kawasan Afrika dan Asia Tenggara,
termasuk di Indonesia, di mana antara 10 sampai 20
juta pemuda menganggur atau bergaji sangat rendah.
Dengan demikian, sejumlah besar kalangan muda terdidik
tetapi menganggur dan teralienasi sudah tersedia untuk
direkrut kelompok ekstremis.
Doktrin pre-emptive Amerika tidak mengindahkan
kedaulatan. Begitu juga, terorisme agama tidak
memperdulikan kedaulatan negara. Oleh karena itu,
sosok antagonis dari kedua belah pihak menawarkan
proposisi nilai yang sama � sebuah visi kesatuan dunia
yang diatur oleh satu pusat kekuasaan, dari Washington
atau dari markas seorang Khalifah � sebagai ganti dari
sistem kedaulatan negara Westphalia.
Apabila rivalitas antara kedua advokat sistem kesatuan
dunia yang sedang berkompetisi itu terus berlanjut
tanpa hambatan, maka akan terdapat resiko tragedi
nuklir. NPT (Non Proliferation Treaty) mengawasi
dengak ketat proliferasi atau penyebaran senjata
nuklir di berbagai negara tetapi tidak dapat mencegah
terjadinya penyelundupan teknologi dan material dari
suatu negara ke aktor non-negara.
International Atomic Energy Agency (IAEA) telah
melaporkan 18 kasus penyelundupan uranium atau
plutonium antara tahun 1993 � 2003. Ini terjadi
sebelum mengemukanya episode Abdul Qadir Khan, bapak
nuklir Pakistan yang konon telah menyelundupkan
bahan-bahan nuklir ke sejumlah negara Arab. Ini
menunjukkan bahwa sejumlah besar bahan persenjataan
tidak diproteksi secara efisien.
Kelompok pasukan bunuh diri yang sudah memiliki
sebagian dari bahan nuklir itu bisa saja tidak
memiliki sistem peluncuran untuk menggunakan bom
buklir tetapi tetap saja mereka dapat menanam bom-bom
itu di sejumlah kota di dunia. Lebih buruk lagi,
mereka dapat bergabung dalam sebuah koalisi pasukan
ekstremis guna mengambil alih sebuah negara nuklir.
Apabila skenario ini terjadi, maka inilah awal dari
sebuah akhir sejarah kemanusiaan.
Guna menghentikan berkembangnya sebuah sistem yang
berdasarkan pada doktrin kekuatan, maka sangatlah
penting untuk membuang pemicu mitos konflik antara
Barat dan Islam. Kalangan tokoh berpengaruh dan
tercerahkan dari kedua pihak perlu untuk bersatu guna
merekonstruksi sebuah arsistektur baru keamanan
global.
Penting kiranya mengembangkan sebuah konsensus
internasional dalam soal terorisme. Saat ini,
departemen luar negeri AS mempublikasikan daftar
sejumlah kelompok teroris yang merefleksikan prioritas
satu negara. Kita membutuhkan sebuah mekanisme
internasional dengan perwakilan dari Barat,
negara-negara Islam dan negara-negara lain yang
terkena dampak terorisme seperti Indonesia, Filipina,
India, dan lain-lain, guna menyiapkan sebuah indeks
komposisi terorisme. Badan-badan dunia dapat
memanfaatkan indeks tersebut secara reguler guna
mengetahui kelompok teroris mana yang perlu
diprioritaskan untuk ditangani.
Selain itu, diperlukan juga sebuah sistem operasional
baru guna melengkapi sistem NPT yang memfokuskan diri
pada pencegahan penyebaran senjata pemusnah massal
dari negara ke unsur non-negara. Diperlukan juga
konsensus global baru dengan aturan yang adil untuk
penggunaan kekuatan oleh negara � berdasarkan preseden
perang Irak � sebagaimana juga perlunya janji
kesepakatan global atas resolusi konflik.
Negara-negara Islam, khususnya, perlu mengkaji
kemungkinan prospek dibentuknya sebuah Dewan Syura
Internasional Cendekiawan Muslim guna menentukan
sangsi agama (fatwa) yang mesti dikeluarkan atas
tindak kekerasan yang dilakukan kalangan ekstremis.
Hal ini akan memungkinkan opini mainstream muslim
mempengaruhi agenda umum, bukan dengan membiarkan
kalangan ekstremis marjinal itu mengambil alih opini
umum seperti yang selama ini terjadi.
Pertanyaan penting adalah: Siapa yang akan memulai
berinisiatif? Indonesia menikmati hubungan baik dengan
dengan dunia Islam dan barat. Mungkin Indonesia dapat
memulai dengan mendekati negara kuat dengan populasi
muslim terbesar kedua yaitu India. Pada tahun 1996,
India pernah mengambil inisiatif untuk terbentuknya
konvensi komprehensif PBB tentang terorisme, akan
tetapi tidak terlalu berhasil pada saat itu karena
kurangnya dukungan.
Kita memiliki pengalaman cukup dalam berhubungan
dengan barat dan nilai-nilai Islam. Sebagai rumah dari
populasi muslim terbesar di dunia, Indonesia telah
menunjukkan bahwa kebanyakan masyarakat awam, tanpa
melihat agama dan kepercayaannya, lebih memilih sistem
demokrasi dan pluralisme dibanding sistem alternatif
politik yang lain. Indonesia dapat bekerja sama dengan
negara lain guna mengenalkan aturan main yang baru,
guna membebaskan diri dari konstruksi teror dan
membangun perdamaian.
* Penulis adalah mahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik
Agra University dan Research Associate di Zakir
Hussein Institute of Islamic Studies New Delhi, India.
__________________________________
Do you Yahoo!?
Yahoo! Mail is new and improved - Check it out!
http://promotions.yahoo.com/new_mail
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/