Syalom Hidupkan dialog, jauhi konflik:
http://www.yesusakankembali.com/index2.html http://www.secretbeyondmatter.com/beyondmatter.html Question, bahkan jahudi juga mengharamkan riba: I have been advised that one Jew (the lender) forced another Jew (the borrower) to sign a document which permitted the lender to charge interest to the borrower on the loan. What is the law on charging interest to a fellow Jew. Secondly, I believe the document was called a "heter iska" and it may have been signed or witnessed by a rabbi. Is this normal and what is the significance of this document? Answer The Torah states that it is forbidden for Jews to charge interest from fellow Jews (Leviticus 25:37). Maimonides comments on this passage that the highest form of charity is to prevent a person from becoming poor, by offering a loan or employment, investing in his business, or any other form of assistance that will avoid poverty. "Interest" is any time a person gets back more than they loaned, whether it was pre-arranged or not. Not only is it forbidden for the Borrower to give the Lender back more money than what was loaned, but he must not give anything extra as a result of the loan. What about business loans? There is a certain kind of a loan in which Mr. A gives, let's say, 100 dollars to Mr. B, of which 50 are a loan and 50 are an investment, in order that Mr. B take all of the money (all 100) and do business with it. The profits will then be split 50-50. This is permitted under certain conditions, even though the only reason why Mr. B is doing business for Mr. A is because he loaned him the money (which apparently, is forbidden because it is interest). Two possibilities in which it is permitted are: If Mr. A pays Mr. B a set amount for doing business for him. Or: They agree that Mr. B has a choice to either pay Mr. A a set amount for whatever profit is made and Mr. B can keep the rest -- or just give Mr. A half of the total profit. This latter condition is mostly used today. It is proper to write up this agreement in what is called a "Shtar Iska." A copy of this text can be found in the Kitzur Shulchan Aruch, chapter 66. A Shtar Iska is displayed in most banks in Israel. In any case it is permitted to borrow and/or lend from a non-Jew with interest, so many observant Jews prefer using banks that are owned by non-Jews for this matter. There are also rabbinic authorities who say there is no prohibition of taking/giving interest from a corporation, only from individuals. Some people rely on this in case of great necessary. Please note: Since the laws of "interest" in the Torah are very complex, please do not rely on this information in actual cases that may arise without consulting your local rabbi. With blessings from Jerusalem, Rabbi Shraga Simmons In [EMAIL PROTECTED], "amartien" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Sdr. A. Fatih Suyud, > > Saya hanya ingin meluruskan kejadian di jaman baheula yang di sebut di artikel anda tsb. yaitu: > > "Dalam realitasnya, kalangan Crusader > menghancurkan kaum Yahudi di Prancis dan Jerman, > memerangi umat Kristen di Byzantine dan menaklukkan > umat Islam di Palestina." > > Saya sering melihat di sebutnya peperangan yang di lakukan oleh orang2 yang disebut "Crusader" tetapi tidak melihat di sebutnya mengapa mereka berperang tsb. > > Sebelum Islam mulai dengan penyerangannya dan kemudian menaklukan sebagian Eropa, termasuk Spanyol bag. selatan, tidak ada orang Eropa yang mempunyai pikiran utk berperang, mana lagi ke timur tengah. Mereka hanya mulai dengan crusade mereka tsb. sesudah Islam sudah dekat dengan perbatasan Perancis dalam rangka menuju Itali, pusat agama Katolik/Kristen, > > Jadi kalau Islam tidak ekspansionis, maka tidak akan ada orang2 crusader tsb. > > > > --- On Thu 06/24, A Fatih Syuhud < [EMAIL PROTECTED] > wrote: > From: A Fatih Syuhud [mailto: [EMAIL PROTECTED] > To: [EMAIL PROTECTED] > Date: Thu, 24 Jun 2004 00:58:51 -0700 (PDT) > Subject: [ppiindia] Koran Waspada : Mitos Lintas Paradigma Islam- Barat > > 19 Jun 04 02:43 WIB<br>Realitas Di Balik Mitos Lintas Paradigma Islam-Barat<br><br>http://www.waspada.co.id/opini/artikel/artikel.php? article_id=46249<br> <br>Oleh A Fatih Syuhud *<br><br>Saat ini sedang terjadi pergulatan spektrum dan visi<br>di horizon intelektual dan pola pikir. Di permukaan,<br>ia tampak dalam wujud pergulatan antara barat dan blok<br>Islam untuk merebut dominasi dunia. Dalam realitas,<br>pemeran antagonis dalam konflik yang tampak antara<br>Barat dan Islam berada pada sisi yang sama. Mereka<br>semua adalah pemeran protagonis dari struktur kekuatan<br>yang bersatu. Mereka sama-sama mengadvokasi penggunaan<br>kekuatan sebagai penentu dalam hubungan internasional.<br><br>Memang, selalu terdapat perbedaan antara persepsi dan<br>realitas dalam konflik antara berbagai sistem<br>kepercayaan. Perang Suci (Crusade), sebagai contoh,<br>digambarkan sebagai perang yang dilakukan antara<br>Kristen dan Yahudi di satu sisi, dan melawan Muslim di<br>sisi yang lain. Dalam realitasnya, kalangan Crusader<br>menghancurkan kaum Yahudi di Prancis dan Jerman,<br>memerangi umat Kristen di Byzantine dan menaklukkan<br>umat Islam di Palestina. Kesimpulannya, ia hanyalah<br>permainan kekuasaan, yang tidak berkaitan dengan<br>prinsip kepercayaan apapun.<br><br>Respons dari Bush-Blair pada tragedi 11-9 memfokuskan<br>diri dengan menyerang negara-negara yang sedang<br>menderita asimetri kekuasaan yang lebar, semacam<br>Afghanistan dan Irak. Di sisi lain, AS membujuk Korea<br>Utara, dengan senjata pemusnah massalnya, dan Saudi<br>Arabia, dengan besarnya cadangan minyaknya. Oleh<br>karena itu, dengan memerangi sejumlah negara yang<br>lemah, dan bernegosiasi dengan negara-negara yang<br>memiliki level kekuatan tertentu, AS telah menentukan<br>aturan baru di mana superioritas kekuatan (militer<br>atau non-militer) akan menjadi basis utama dalam<br>hubungan internasional.<br><br>Pada sisi lain dari spektrum itu, kalangan ekstremis<br>Islam menjustifikasi penggunaan kekuatan dalam bentuk<br>teror. Tindak kekerasan mereka tidak jarang bermuara<br>dari niat "murni" untuk menyuarakan penderitaan rakyat<br>lokal, korupsi dan penindasan. Setelah itu mereka<br>mulai mengadvokasi teokrasi, sistem penyatuan negara<br>dan agama; sebuah sistem di mana mereka akan dapat<br>menjadi elit penguasa dan tanpa mengindahkan nilai<br>moral apapun merekrut dan mengeksploitasi anak- anak<br>muda pengangguran sebagai pasukan bergaji murah.<br><br>Saat ini, terdapat 10 juta pemuda pengangguran dengan<br>kelompok usia antara 15-35 tahun di kawasan "pusat<br>instabilitas" � Afghanistan, Irak, Iran, Pakistan dan<br>Saudi Arabia. Di samping itu, terdapat sejumlah sinyal<br>adanya versi ekstrim Islam yang semakin mendapat<br>popularitas di kawasan Afrika dan Asia Tenggara,<br>termasuk di Indonesia, di mana antara 10 sampai 20<br>juta pemuda menganggur atau bergaji sangat rendah.<br>Dengan demikian, sejumlah besar kalangan muda terdidik<br>tetapi menganggur dan teralienasi sudah tersedia untuk<br>direkrut kelompok ekstremis.<br><br>Doktrin pre-emptive Amerika tidak mengindahkan<br>kedaulatan. Begitu juga, terorisme agama tidak<br>memperdulikan kedaulatan negara. Oleh karena itu,<br>sosok antagonis dari kedua belah pihak menawarkan<br>proposisi nilai yang sama � sebuah visi kesatuan dunia<br>yang diatur oleh satu pusat kekuasaan, dari Washington<br>atau dari markas seorang Khalifah � sebagai ganti dari<br>sistem kedaulatan negara Westphalia.<br><br>Apabila rivalitas antara kedua advokat sistem kesatuan<br>dunia yang sedang berkompetisi itu terus berlanjut<br>tanpa hambatan, maka akan terdapat resiko tragedi<br>nuklir. NPT (Non Proliferation Treaty) mengawasi<br>dengak ketat proliferasi atau penyebaran senjata<br>nuklir di berbagai negara tetapi tidak dapat mencegah<br>terjadinya penyelundupan teknologi dan material dari<br>suatu negara ke aktor non-negara. <br><br>International Atomic Energy Agency (IAEA) telah<br>melaporkan 18 kasus penyelundupan uranium atau<br>plutonium antara tahun 1993 � 2003. Ini terjadi<br>sebelum mengemukanya episode Abdul Qadir Khan, bapak > <br>nuklir Pakistan yang konon telah menyelundupkan<br>bahan-bahan nuklir ke sejumlah negara Arab. Ini<br>menunjukkan bahwa sejumlah besar bahan persenjataan<br>tidak diproteksi secara efisien. <br><br>Kelompok pasukan bunuh diri yang sudah memiliki<br>sebagian dari bahan nuklir itu bisa saja tidak<br>memiliki sistem peluncuran untuk menggunakan bom<br>buklir tetapi tetap saja mereka dapat menanam bom-bom<br>itu di sejumlah kota di dunia. Lebih buruk lagi,<br>mereka dapat bergabung dalam sebuah koalisi pasukan<br>ekstremis guna mengambil alih sebuah negara nuklir.<br>Apabila skenario ini terjadi, maka inilah awal dari<br>sebuah akhir sejarah kemanusiaan.<br><br>Guna menghentikan berkembangnya sebuah sistem yang<br>berdasarkan pada doktrin kekuatan, maka sangatlah<br>penting untuk membuang pemicu mitos konflik antara<br>Barat dan Islam. Kalangan tokoh berpengaruh dan<br>tercerahkan dari kedua pihak perlu untuk bersatu guna<br>merekonstruksi sebuah arsistektur baru keamanan<br>global.<br><br>Penting kiranya mengembangkan sebuah konsensus<br>internasional dalam soal terorisme. Saat ini,<br>departemen luar negeri AS mempublikasikan daftar<br>sejumlah kelompok teroris yang merefleksikan prioritas<br>satu negara. Kita membutuhkan sebuah mekanisme<br>internasional dengan perwakilan dari Barat,<br>negara-negara Islam dan negara-negara lain yang<br>terkena dampak terorisme seperti Indonesia, Filipina,<br>India, dan lain- lain, guna menyiapkan sebuah indeks<br>komposisi terorisme. Badan- badan dunia dapat<br>memanfaatkan indeks tersebut secara reguler guna<br>mengetahui kelompok teroris mana yang perlu<br>diprioritaskan untuk ditangani. <br><br>Selain itu, diperlukan juga sebuah sistem operasional<br>baru guna melengkapi sistem NPT yang memfokuskan diri<br>pada pencegahan penyebaran senjata pemusnah massal<br>dari negara ke unsur non-negara. Diperlukan juga<br>konsensus global baru dengan aturan yang adil untuk<br>penggunaan kekuatan oleh negara � berdasarkan preseden<br>perang Irak � sebagaimana juga perlunya janji<br>kesepakatan global atas resolusi konflik.<br><br>Negara- negara Islam, khususnya, perlu mengkaji<br>kemungkinan prospek dibentuknya sebuah Dewan Syura<br>Internasional Cendekiawan Muslim guna menentukan<br>sangsi agama (fatwa) yang mesti dikeluarkan atas<br>tindak kekerasan yang dilakukan kalangan ekstremis.<br>Hal ini akan memungkinkan opini mainstream muslim<br>mempengaruhi agenda umum, bukan dengan membiarkan<br>kalangan ekstremis marjinal itu mengambil alih opini<br>umum seperti yang selama ini terjadi.<br><br>Pertanyaan penting adalah: Siapa yang akan memulai<br>berinisiatif? Indonesia menikmati hubungan baik dengan<br>dengan dunia Islam dan barat. Mungkin Indonesia dapat<br>memulai dengan mendekati negara kuat dengan populasi<br>muslim terbesar kedua yaitu India. Pada tahun 1996,<br>India pernah mengambil inisiatif untuk terbentuknya<br>konvensi komprehensif PBB tentang terorisme, akan<br>tetapi tidak terlalu berhasil pada saat itu karena<br>kurangnya dukungan. <br><br>Kita memiliki pengalaman cukup dalam berhubungan<br>dengan barat dan nilai-nilai Islam. Sebagai rumah dari<br>populasi muslim terbesar di dunia, Indonesia telah<br>menunjukkan bahwa kebanyakan masyarakat awam, tanpa<br>melihat agama dan kepercayaannya, lebih memilih sistem<br>demokrasi dan pluralisme dibanding sistem alternatif<br>politik yang lain. Indonesia dapat bekerja sama dengan<br>negara lain guna mengenalkan aturan main yang baru,<br>guna membebaskan diri dari konstruksi teror dan<br>membangun perdamaian.<br><br>* Penulis adalah mahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik<br>Agra University dan Research Associate di Zakir<br>Hussein Institute of Islamic Studies New Delhi, India.<br><br><br><br><br> <br>__________________________________<br>Do you Yahoo!?<br>Yahoo! Mail is new and improved - Check it out! <br>http://promotions.yahoo.com/new_mail<br><br><br>------------------ ------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> <br>Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70<br>http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM<br> ----------- > _______________________________________________ > No banners. No pop-ups. No kidding. > Make My Way your home on the Web - http://www.myway.com ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70 http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

