24.04.2004 

Kemerosotan nilai Rupiah dan ancamannya kepada dunia
usaha  
   
  
Gejolak nilai tukar mata uang Rupiah akhir-akhir ini
amat mengkawatirkan. Dalam waktu tidak terlalu lama,
nilai tukar Rupiah merosot sekitar 12%.

Bayangkan sampai menjelang penyelenggaraan pemilihan
legislatiif pekan pertama bulan April lalu rupiah
relatif stabil pada kisaran Rp. 8450 untuk 1 dollar
AS, akan tetapi selanjutnya rupiah terus merosot
hingga menembus angka 9500 untuk 1 dollar. Dalam waktu
yang tak terlalu lama rupiah terdepresiasi sekitar 12%
yang membuat banyak pihak terkejut. Terbayang oleh
pengalaman buruk yang terjadi pada pertengahan 1997
hingga 1998, dampaknya segera terasa si berbagai
sektor ekonomi. Para pedagang komputer di kawasan
Glodok Jakarta, misalnya, dibuat kalang kabut dalam
menentukan harga dagangannya. Para calon pembeli
terpaksa berpikir ulang untuk tetap membeli atau
membatalkan sama sekali rencananya. 

Timbul banyak spekulasi terhadap hal itu. Pelaksanaan
pemilihan presiden 5 juli mendatang merupakan factor
yang paling banyak di tuding. Pihak BI sendiri -
selaku pemegang otoritas moneter - melihat adanya
berbagai faktor yang telah menekan rupiah. Deputi
Gubernur BI, Bunbunan Hutapea menyebut antara lain,
faktor eksternal seperti harga minyak meningkat,
tingkat suku bunga di Amerika Serikat, dan faktor
internal pemilihan presiden Juli mendatang.
Faktor-faktor ini mempengaruhi ekspektasi pelaku
bisnis, yang akhirnya memburu dollar.

Hukum ekonomi klasik menyebutkan bahwa bila permintaan
naik maka harga akan naik. Ekonom dari INDEF Drajat
Wibowo mengatakan, memang terjadi kenaikan secara
signifikan dalam perdagangan valas akhir-akhir ini.
Pada periode sebelum terjadi gejolak ini, angka
perdagangan harian berkisar dua ratus juta dollar
amerika. Saat ini bisa mencapai tiga ratus juta
dollar:

Drajat Wibowo: Ada satu faktor penting yang dilupakan
banyak orang, yaitu adanya penumpukan permintaan dari
beberapa perusahaan besar di indoensia, terutama
Pertamina. Jadi, akhir-akhir ini, Pertamina diluar
kebiasaan melakukan permintaan valas yang sangat
tinggi. Dan itu ikut menekan Rupiah.

Belakangan Pertamina memang dilaporkan membutuhkan
dolar dalam jumlah besar. Masyarakat juga mendengar
kontroversi penjualan tanker milik Pertamina dengan
alasan kebutuhan untuk membayar utang. Akan tetapi
pada saat yang sama BUMN-BUMN lain juga membutuhkan
dollar dalam jumlah yang banyak sehingga Menteri
Keuangan Budiono dan menteri pemberdayaan BUMN
Laksamana sukardi sempat mengeluarkan himbauan agar
BUMN menahan diri.

Sayang menteri Budiono terkesan menghindar saat
wartawan meminta penjelasan lebih jauh, dan menolak
memberi tanggapan.

Pembeli dollar dalam jumlah besar lain adalah
pengusaha swasta. Ketua assosiasi pengusaha Indonesia
(APINDO) Sofyan Wanandi ketika dijumpai tidak menolak
hal itu. Ia menegaskan, pengusaha mempunyai kewajiban
yang mengharuskannya memegang dollar dalam jumlah
banyak pada saat-saat tertentu. Sehingga wajar dalam
kurun waktu tersebut mereka memborong dollar dalam
jumlah besar, misalnya untuk membayar biaya impor
bahan mentah.

Jika biaya produksi naik, maka secara otomatis harga
barang-barang kebutuhan masyarakat menjadi mahal.
Untuk mengantisipasi kenikan-kenaikan harga itu,
Menteri Perindustrian Rini Suwandi sempat mengeluarkan
himbauan agar para pengusaha sebisa mungkin menahan
diri untuk tidak terburu-buru menaikan harga jual
barang-barang produksinya. Para pengusaha bisa saja
diharapkan untuk mematuhi himbauan itu, akan tetapi
bagaimana dengan kewajiban otoritas moneter untuk
menahan kemerosotan itu dan mengembalikannya ke
keseimbangan semula?. Sementara selama ini semua orang
tahu jurus-jurus BI menyelamatkan rupiah sering
menemui kegagalan.

Kini muncul pemikiran bahwa langkah yang mesti
dilakukan adalah bukan mengembalikan rupiah pada level
semula yakni di bawah delapan ribu lima ratus rupiah
setiap dollarnya. Yang lebih penting adalah menjaga
stabilitas rupiah. Jadi nilai tukar dollar akan tetap
tinggi. Dengan demikian bisa dipastikan harga-harga
kebutuhan akan membumbung. Biaya produksi di
pabrik-pabrik pasti akan naik mengingat besarnya
kandungan impor dalam banyak produk dalam negeri kita.


Thomas Darmawan direktur eksekutif Gabungan Pengusaha
Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia menjelaskan:

Thomas Darmawan: Jadi memang kenaikan nilai tukar
dollar, sekarang itu hampir 13%. Ditambah dengan
kenaikan harga minyak. Kemudian ditambah juga ada
beberapa harga bahan baku yang meningkat, karena
kekeringan di New Zealand dan Australia. Itu
menyebabkan harga bahan baku industri makanan
meningkat, gandum naik, susu bubuk naik, jagung dan
kedela juga naik. Itulah yang menyebabkan, mau tidak
mau, harga akan terjadi kenaikan.

Pada sisi lain, dampak negatif kemerosotan rupiah
terhadap iklim investasi terlihat nyata dari situasi
di pasar modal. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)
yang sempat berada di posisi puncak 800-an pada bulan
April sampai Mei, melorot hingga di bawah 700. Pada
pembukaan market Senin lalau (14/6), indeks dibuka
pada level 699,188.

Corporate finance Mega Akses Sekuritas Hendra Bujang
menyatakan fenomena umum di lantai bursa tersebut.
Para pelaku pasar serta merta hengkang dari pasar
saham, setelah melihat peluang yang lebih besar di
pasar uang. Itu sebabnya IHSG di Bursa Efek Jakarta
langsung jatuh. Situasi ini setidaknya akan
berlangsung sampai terpilihnya presiden baru produk
pemilihan umum. Sebab sekalipun para emiten melakukan
aksi-aksi memikat untuk menarik minat investor, para
pemilik modal itu tetap bersikap menunggu.

Hendra Bujang: Asumsinya, kalau nilai mata uang asing
turun, suku bunga juga akan turun. Nah, mereka akan
tarik dana, misalnya dari deposito, dan mencari
alternatif, misalnya di capital market. Demikian pula
sebaliknya, kalau nilai tukar mata uang asing naik,
mereka yang tadinya bermain di capital market, akan
beralih ke money market.

Adanya ancaman terhadap iklim investasi sebagai akibat
anjloknya rupiah dalam bentuk yang lebih luas ini
dinyatakan Drajat Wibowo sebagai akibat sistem devisa
bebas atau mengambang. Penerapan sistem itu tidak
diikuti dengan pertumbuhan pasar-pasar tempat
melakukan hedging. Padahal kalau itu ada, tentu pada
pemilik modal atau pelaku usaha tidak harus
kebingungan manakala terjadi fluktuasi rupiah. 

Drajat Wibowo: Kita tidak punya mekanisme untuk
mengabsorbsi resiko perubahan nilai tukar. Semestinya,
karena pemerintah menganut sistem kurs mengambang
bebas, semestinya pemerintah mendorong pertumbuhan
pasar untuk hedging. Sehingga Setiap pelaku usaha akan
mudah melakukan tindakan lindung nilai. 

Akibat buruk gejolak ini tentu akan dirasakan
pemerintahan baru nanti, siapapun yang akan terpilih
jadi presiden. Semua calon berjanji untuk membuka
lapangan kerja seluas-luasnya. Presiden terpilih mesti
bersiap-siap menghadapi kesulitan memenuhi janji
kampanye, sekurang-kurangnya dalam 100 hari pertama
masa kerjanya di istana.

Selamat berfluktuasi
 



                
__________________________________
Do you Yahoo!?
New and Improved Yahoo! Mail - Send 10MB messages!
http://promotions.yahoo.com/new_mail 


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke