Kompas : Minggu, 27 Juni 2004 Rubrik: Keluarga
Link:
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0406/27/keluarga/1111602.htm



Berbeda, tetapi Bukan Anak "Aneh" 


SEPANJANG perjalanan menuju rumah nenek, Ardi, sebut
saja begitu, seperti tidak bergerak. Wajahnya pucat
pasi. Ia terus menutupi telinganya. Sang ibu tak
berani mengusik anak sulungnya. "Saya sebenarnya
heran, kok Ardi nangisnya sampai begitu waktu
mendengar kabar ibu saya meninggal. Enggak seperti
anak kecil lain yang kehilangan neneknya. Sedih ya
sedih, tapi enggak gitu-gitu amat," ujar Dewi.

BEGITU turun dari mobil, Ardi seperti terkesima
melihat sesuatu di pintu masuk. Ketika mencium jenazah
neneknya, tiba-tiba ia kembali menutupi telinganya dan
tampak ketakutan. Pandangannya terus menuju ke luar
pintu. Setelah itu Ardi mengatakan kepalanya sakit,
dan tidak ikut ke makam.

Menjelang tengah malam, Ardi menanyakan apakah ibunya
mendengar suara petir siang tadi. Sang ibu menjawab,
"Tidak." "Masak Mama enggak dengar, kan keras sekali
dan terus- terusan, Ma," kata Dewi menirukan ucapan
Ardi saat itu. "Sehabis itu Ardi menceritakan
semuanya," lanjut Dewi. Selain petir, Ardi melihat
burung besar di pintu rumah sang nenek. "Burung itu
enggak pergi-pergi," ujar Ardi seperti ditirukan Dewi.

Saat mencium neneknya, Ardi melihat sang nenek
berjalan menuju sebuah gerbang. Saat itu Ardi
mendengar suara petir lagi, yang lebih keras dari
sebelumnya, dan ia menyaksikan neneknya melangkah
melewati gerbang, terus berjalan menuju tempat yang ia
katakan "indah sekali".

Peristiwa itu bukan yang pertama, sehingga Dewi dan
suaminya tidak lagi terkejut mendengar penuturan anak
mereka. "Dia sering melihat macam- macam, tetapi
biasanya diam. Ia hanya mau berbicara sesudahnya,
pelan-pelan dan hanya kepada orang tertentu," sambung
Dewi.

Usia Ardi kini menjelang 10 tahun. Di sekolah ia
termasuk cerdas. IQ-nya antara 125-130. "Tapi gurunya
bilang ia suka bengong di kelas," sambung Dewi. Kepada
ibunya, ia bercerita melihat macam-macam di sekolah,
yang tidak bisa dilihat orang lain, di antaranya anak
tanpa anggota badan, dan ia merasa sangat kasihan.

Suatu hari saat belajar di rumah ia tersenyum. Ketika
ditanya oleh sang ibu, ia mengatakan ada anak persis
sekali dengan dirinya. Hari berikutnya ia bercerita,
anak itu datang di sekolahnya. Ketika ditanya di mana
ia tinggal, anak itu menjawab, "Di sana," sambil
telunjuknya menunjuk ke arah atas. "Ada apa di sana?"
tanya Ardi. Anak itu menjawab, "Ada orang gede- gede
buanget. Anak itu omongnya juga medhok lho Ma, kayak
aku, persis," tutur Ardi seperti diceritakan kembali
oleh Dewi. Tentu tak ada orang lain melihat "anak itu"
kecuali Ardi.

Dewi dan suaminya memahami apa yang terjadi pada Ardi
dan juga adiknya. Beberapa anggota keluarganya juga
memiliki kepekaan lebih dibandingkan dengan orang
kebanyakan. Pada Ardi hal itu sudah terdeteksi saat
masih bayi. "Kalau dengar suara azan, Ardi tampak
mendengarkan dengan penuh konsentrasi," kenang Dewi.
Menjelang usia 1,5 tahun, Ardi membaca kalimat
syahadat secara sambung-menyambung seperti wirid.
Sesudah bisa jalan, sebelum usia dua tahun, ia mulai
mengambil sajadah sendiri, memakai sarung sendiri dan
membuat gerakan seperti orang shalat, meskipun bukan
waktu shalat.

Toh tingkah laku Ardi membuat Dewi merasa agak risau.
"Ia melihat dan mendengar apa saja yang orang lain
enggak bisa lihat dan enggak bisa dengar," katanya. Ia
tidak menceritakan situasi anaknya itu pada setiap
orang di luar keluarga. "Kalau enggak percaya
bisa-bisa anak itu dianggap berkhayal," lanjutnya.

Dewi tidak mengecap anaknya berkhayal, karena dalam
beberapa hal ia juga memiliki kepekaan itu, meski
hanya sampai tingkat tertentu. "Suatu sore, sehabis
shalat, saya merasa ada bayangan putih. Ardi rupanya
juga melihat karena ia tersenyum. Dia bilang, �Ma, ada
yang ngikutin, perempuan. Tapi orangnya baik sekali.�
Ketika saya tanya siapa, Ardi tidak menjawab."

Suatu hari, Dewi membaca majalah yang menulis tentang
tanda-tanda anak indigo. "Lha saya pikir kok persis
sekali sama anak saya. Lalu saya berusaha menemui dr
Erwin di Klinik Prorevital."

ANAK-ANAK dengan kemampuan seperti Ardi bukan hal yang
baru di dunia, tetapi fenomenanya semakin jelas 20
tahun terakhir ini. Beberapa film mengisahkan
kemampuan anak dan manusia dewasa dengan kemampuan
semacam itu, di antaranya The Sixth Sense, dan
film-film seri seperti The X Files.

Menurut dr Tubagus Erwin Kusuma SpKj, psikiater yang
menaruh perhatian pada masalah spiritualitas,
anak-anak seperti itu semakin muncul di mana-mana di
dunia, melewati batas budaya, agama, suku, etnis,
kelompok, dan batas apa pun yang dibuat manusia untuk
alasan-alasan tertentu.

Fenomena itu menarik perhatian banyak pihak, karena
dalam paradigma psikologi manusia, anak-anak itu
dianggap "aneh". Pandangan ini muncul karena selama
ini kemanusiaan telanjur dianggap sebagai hal yang
statis, tak pernah berubah. "Padahal, semua ciptaan
Tuhan selalu berubah," ujar dr Erwin.

Sebagai hukum, masyarakat cenderung memahami evolusi
tapi hanya untuk yang berkaitan dengan masa lalu.
"Fenomena munculnya anak-anak dengan kemampuan seperti
itu merupakan bagian dari evolusi kesadaran baru
manusia, yang secara perlahan muncul di bumi, terutama
sejak awal milenium spiritual sekitar tahun 2000 yang
disebut Masa Baru, The New Age, atau The Aquarian Age.
Semua ini merupakan wujud kebesaran Allah," tegas
Erwin.

Fisik anak-anak indigo sama dengan anak-anak lainnya,
tetapi batinnya tua (old soul) sehingga tak jarang
memperlihatkan sifat orang yang sudah dewasa atau tua.
Sering kali ia tak mau diperlakukan seperti anak kecil
dan tak mau mengikuti tata cara maupun prosedur yang
ada. Kebanyakan anak indigo juga memiliki indra keenam
yang lebih kuat dibanding orang biasa. Kecerdasannya
di atas rata-rata.

Istilah "indigo" berasal dari bahasa Spanyol yang
berarti nila. Warna ini merupakan kombinasi biru dan
ungu, diidentifikasi melalui cakra tubuh yang memiliki
spektrum warna pelangi, dari merah sampai ungu.
Istilah "anak indigo" atau indigo children juga
merupakan istilah baru yang ditemukan konselor
terkemuka di AS, Nancy Ann Tappe.

Pada pertengahan tahun 1970-an Nancy meneliti warna
aura manusia dan memetakan artinya untuk menandai
kepribadiannya. Tahun 1982 ia menulis buku
Understanding Your Life Through Color. Penelitian
lanjutan untuk mengelompokkan pola dasar perangai
manusia melalui warna aura mendapat dukungan psikiater
Dr McGreggor di San Diego University.

Dalam klasifikasi yang baru itu Nancy membahas warna
nila yang muncul kuat pada hampir 80 persen aura
anak-anak yang lahir setelah tahun 1980. Warna itu
menempati urutan keenam pada spektrum warna pelangi
maupun pada deretan vertikal cakra, dalam bahasa
Sansekerta disebut cakra ajna, yang terletak di dahi,
di antara dua alis mata.

"Itulah mata ketiga," ujar dr Erwin. The third eye
itu, menurut dia, berkaitan dengan hormon hipofisis
(pituary body) dan hormon epificis (pineal body) di
otak. Dalam peta klasifikasi yang dibuat Nancy,
manusia dengan aura dominan nila dikategorikan sebagai
manusia dengan intuisi dan imajinasi sangat kuat.

"Letak indigo ada di sini," jelas Tommy Suhalim sambil
menjalankan perangkat teknologi pembaca aura, aura
video station (AVS). Alat yang protipenya dibuat oleh
Johannes R Fisslinger dari Jerman tahun 1997 ini lebih
canggih dibandingkan perangkat teknologi serupa yang
ditemukan Seymon Kirlian tahun 1939, dan Aura Camera
6000 yang dibuat Guy Coggins tahun 1992 berdasarkan
Kirlian Photography.

Tom menunjukkan titik berkedip berwarna nila tua,
sangat jelas di antara kedua mata Vincent Liong (19).
Murid kelas dua tingkat SLTA di Gandhi International
School itu sudah menulis buku pada usia 14 tahun dan
bukunya diterbitkan oleh penerbit terkemuka di
Indonesia. Buku Berlindung di Bawah Payung itu
merupakan refleksi, berdasarkan kejadian sehari- hari
yang sangat sederhana.

Pergulatan pemikiran yang muncul dalam
tulisan-tulisannya kemudian seperti datang dari
pemikiran orang bijak, dan menjadi bahan pembicaraan.
Pemilihan angle-nya tidak biasa, dan hampir tidak
terpikir bahkan oleh orang dewasa yang menekuni bidang
itu. Belakangan ia banyak menulis soal spiritual,
namun tetap dilihat dalam konteks ilmiah dan rasional.

Mungkin karena minatnya yang sangat besar pada dunia
tulis-menulis, Vincent tidak terlalu berminat dengan
beberapa mata pelajaran di sekolahnya. Orangtuanya
yang tergolong demokratis pun sering tidak mengerti
apa yang diingini anaknya yang ber-IQ antara 125-130
ini. "Dia keras kepala. Kemarin ia tidak mau ikut
ujian matematika," sambung Liong, ayahnya.

Vincent mengaku "takut" pada matematika sejak kecil,
tapi mengaku disiplin pada aturan mainnya sendiri.
"Sejak kecil aku bingung pada dogma satu tambah satu
sama dengan dua. Aku juga bingung dengan ilmu ekonomi
karena dalam realitas sosial berbeda," tegas Vincent.

Toh sang ibu sudah menengarai keistimewaan anaknya
sejak bayi. Waktu SD, Vincent biasa bergaul dengan
gurunya, dan orang-orang setua gurunya. Pertanyaannya
banyak dan sangat kritis. "Saya langganan dipanggil
guru bukan hanya karena anak itu sulit. tetapi juga
karena karangan-karangannya membuat guru-gurunya
kagum," ujar Ny Ina.

Vincent sudah menulis tentang teleskop berdasarkan
pengamatan dan referensi pada usia SD. "Di rumah ia
membawa ensiklopedi yang besar- besar itu ke
kamarnya," ujar Ny Ina. "Kamarnya kayak kapal pecah.
Tidurnya dini hari karena menulis," sambung Liong.
"Saya sering meminta agar ia menyelesaikan pendidikan
formalnya dulu, karena bagaimanapun itu sangat
penting," lanjut Liong.

"PENDIDIKAN formal sangat penting karena anak-anak
indigo harus membumikan �ilmu langitnya� untuk
kebaikan manusia. Bukan sebaliknya," ujar Rosini (40).
Ia menganjurkan, agar anak-anak yang memiliki
kemampuan berbeda itu tidak dieksploitasi oleh
orangtua dan lingkungannya untuk mencari nomor togel
atau menjadi dukun atau klenik. "Bukan itu misi
anak-anak indigo," tegas Rosi.

Anak-anak itu sebenarnya punya mekanisme pertahanannya
sendiri. Annisa, misalnya. Gadis kecil berusia 4,5
tahun ini tiba-tiba berbicara dalam bahasa Inggris
beraksen Amerika begitu ia bisa bicara pada usia 2,5
tahun. Padahal orangtuanya tidak berbahasa Inggris
dengan baik. Meski tampak menggemaskan, dalam banyak
hal ia berbicara dan bersikap seperti orang dewasa,
bahkan menyebut dirinya "orang Amerika" karena "datang
dari Amerika". Nisa menyebut ibunya, Yenny bukan
dengan panggilan mama.

Kemampuan melihat dan mendengar Nisa sangat tajam pada
pukul 23.00 sampai dini hari. Tetapi kalau secara
sengaja diminta memperlihatkan kemampuannya, ia akan
menolak dengan tidak memperlihatkan kemampuan itu
sehingga ia tampak seperti anak-anak lainnya," ujar
Yenny. Kata sang ibu, Nisa tidak mudah bersalaman
dengan orang. Ia seperti tahu orang yang suka pergi ke
dukun atau memakai jimat. Namun sebagai anak-anak Nisa
juga suka menyanyi dan bermain.

Jenis dan kemampuan anak indigo bermacam-macam. Meski
memiliki kepekaan yang kuat, kepekaan mendengar dan
melihat sesuatu yang tidak didengar dan dilihat orang
kebanyakan, berbeda-beda gradasinya.

Menurut Lanny Kuswandi, fasilitator program relaksasi
di Klinik Prorevital, mengutip dr Erwin, "Ada tipe
humanis, tipe konseptual, tipe artis, dan tipe
interdimensional. Pendekatan terhadap mereka juga
berbeda-beda," sambungnya.

Namun karena dianggap "aneh", tak jarang diagnosisnya
keliru dan penanganannya lebih bersandar pada
obat-obatan. "Ada anak indigo yang dianggap autis,
ADHD (Attention-Deficit Hyperatictve Disorder) maupun
ADD (Attention Deficit Disorder). Padahal
tanda-tandanya berbeda," sambung Erwin. Kekeliruan
semacam ini juga terjadi di AS, karena banyak ahli
menganggap anak-anak itu menderita "gangguan" yang
harus dihilangkan.

"Saya beberapa kali pergi ke psikolog dan psikiater,"
ujar Rosini. Profesional di suatu perusahaan swasta
terkemuka itu suatu saat dalam hidupnya merasa sangat
terganggu oleh suara-suara itu. Orangtuanya juga
merasa anaknya "aneh" karena kerap memberi tahu
peristiwa yang akan terjadi, tetapi menolak mengakui
kemampuan anak itu.

"Dalam tes yang dibuat oleh mereka, saya dinyatakan
sehat. Tidak ada gangguan apa pun," sambung Rosini.
Sebaliknya, ia melihat psikolog dan psikiater yang
melakukan tes terhadap dirinyalah yang bermasalah. Ia
juga pernah mencoba mencari paranormal untuk membuang
kemampuannya itu, meski suara-suara itu mengatakan
"jangan".

Akhirnya Rosi berdamai dengan dirinya dan
mengembalikan kemampuannya sebagai wujud kebesaran
Allah SWT, dengan berusaha untuk terus mendekatkan
diri pada Sang Pencipta. Karena itu ia ingin membantu
orangtua dengan anak-anak indigo agar anak- anak itu
tidak melewati masa pencarian yang rumit seperti
dirinya.

Indigo children, menurut Erwin, bukan fenomena
terakhir, karena akan lahir anak-anak yang disebut
sebagai crystal children. "Anak-anak dengan warna
dasar aura, bening dan lengkap. Mereka lahir dari
orangtua yang spiritual."

Mungkin Cita (9) termasuk anak itu. Keluarganya,
sampai nenek-neneknya, spiritualis. Ia bisa melihat
sinar dan malaikat di rumah ibadah, khususnya ketika
orang-orang sedang berdoa. Ini hanya salah satu
kemampuan "melihat" milik anak yang selalu mendapat
rangking di sekolah itu. Cita tahu kapan hujan akan
turun hari itu dan sebaliknya, meskipun mendung sudah
menggantung.

"Ia menjadi teman dan penasihat kami, bapak-ibunya. Di
sekolah, di keluarga besar kami, terasa ia menebarkan
aura kedamaian dan kebahagiaan. Anak itu sangat tenang
dan pemaaf," ujar ibunya, Ny Dita. (MH)


Link:
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0406/27/keluarga/1111602.htm






Note From Vincentliong: 

Trims kepada mbak Maria Hartiningsih yang berinisiatif
untuk menulis tema semacam ini. Sebagai salah satu
diantara banyak orang semacam ini saya puas karena
tulisan mbak sifatnya tidak menghakimi saya.

Soal judul;"Berbeda, tetapi Bukan Anak "Aneh"" saya
kira pemilihan kalimatnya sangat tepat. Selama ini
saya sudah sering mendapat alasan-alasan aneh, gila,
setan, sesat, nyentrik-antik, dsb. 

Pada dasarnya manusia memang makhluk yang mudah iri
dan dengan pertimbangan itulah kata-kata ini digunakan
untuk mengalahkan tanpa turut bertanding. Saya masih
ingat benar pengalaman saya didiskriminasi oleh
lembaga anti diskriminasi di indonesia dengan alasan
bahwa saya harus diperbaiki dengan kebaikan versi
mereka, bahwa saya harus diselamatkan supaya jangan
sampai karena karangan saya rumah saya dibakar.
Menyebarkan ke publik bahwa saya sedang bertengkar
dengan pihak-pihak tertentu, Mengaku-aku
tulisan-tulisan saya adalah tulisan mereka, dll.

Kata LADI;"...saya tidak ingin bukunya akan dibakar
oleh massa agama tersebut, dan aatu rumahnya diserbu."
Padahal nga ada lembaga agama apapun yang berselisih
dengan saya kecuali lembaga anti diskriminasi yang
merasa berhak mewakili agama mayoritas.

Saya pendendam pada semua yang berlabel ghost buster
pemburu setan, dokter yang membasmi dengan obat yang
melumpuhkan, Lembaga Anti Diskriminasi yang tugasnya
mendiskriminasi musuh supaya hanya dia yang menang
semua label penyelamat.
(Mau bukti surat LADI ke publik tentang saya: Klik: 
http://groups.yahoo.com/group/Bimo/message/692
http://groups.yahoo.com/group/eksotika/message/1532

Semoga anda, saya dan orang-orang semacam saya bisa
hidup as good as it gets. I am a perfect person like
all of you are also a perfect person. Nothing need to
be change. nobody must be change.. 

The peace is preserved by hiding the truth. The truth
is one side only. Need to be truth?! Truth always need
the enemy as evil..



Vincentliong



Referensi yang juga perlu dibaca, 
"Pre-Crime a style of Propaganda" klik::
http://groups.yahoo.com/group/vincentliong/message/2736



Jika anda punya versi anda sendiri silahkan kirimkan
ke maillist tempat anda membaca tulisan ini dan juga
di forward ke [EMAIL PROTECTED]

Costumer Service Representative Vincentliong 
Ph:(62)5482193,5348567 M: (62)811919765

WARNING Vincentliong effects can cause psychoness..
http://groups.yahoo.com/group/vincentliong/files 
(Download vincentliong's book and files)


Find local movie times and trailers on Yahoo! Movies.
http://au.movies.yahoo.com


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke