DARI NOTES BELAJAR SEORANG AWAM: THEODOR ADORNO -- SEBAGAI SAKSI ZAMAN
Sebagai musikolog, komponis, sosiolog, kritikus sastra, teoritisi estetika dan filosof, kiranya nama Theodor Adorno bukanlah nama asing lagi, apalagi bagi mereka yang mengikuti perkembangan ilmu sosiologi Eropa Barat. Nama Theodor Ludwig Wiesengrund-Adorno [1903-1969] dan Frankfurt School adalah dua nama yang erat bertautan. Adorno merupakan salah seorang tokoh terkemuka dari aliran Frankfurt [Frankfurt School]. Adorno mula-mula adalah seorang musikus, lahir pada tahun 1903 di Frankfurt di tengah-tengah keluar borjuasi yang cukup berada dari ayah yang Yahudi dan ibu yang beragama Katolik. Ayah ibu Adorno, atau kakeknya, adalah seseorang yang berdarah Korsika, berpandangan liberal, dengan pergaulan yang kosmopolitan, pencinta seni dan orang yang bersikap terbuka. Latarbelakang beginilah yang melingkungi Adorno sejak kecil hingga ia melalukan masa remaja yang bahagia dikitari oleh lingkungan penuh musik. Di lingkungan begini , Adorno belajar memainkan biola, celo lalu piano. Pada saat Adorno muda memasuki pintu universitas, ia langsung menekuni masalah penelitian filsafat dan musik. Sejak di universitas, Adorno sudah menulis berbagai esai tentang Sch�nberg, Bela Bartok, Hindemith bahkan telah mulai, menulis kritik terhadap tesis fenomenologi Husserl. Dalam korespondensi dengan berbagai teman dari tahun 1925 sampai dengan tahun 1935, Adorno intensif mempertanyakan sastra, perfileman dan terutama masalah permusikan di mana Adorno antara lain mempersalahkan Aliran Wina.Alban Berg, lawan koresponden Adorno pada periode ini cenderung membela tradisi, sebaliknya Adorno berkecenderungan putus. Sikap untuk cenderung meninggalkan tradisi ini, erat bertautan dengan analisa musik dan sikap atau pandangan filsafat Adorno. Adorno melihat bahwa dunia kekinian adalah sebuah dunia yang yang sudah berkeping-keping. Dunia modern di mata Adorno tidak lagi merupakan satu kohesi seperti halnya pada zaman romantik, karena itu di pandangan Adorno hanya pengungkapan subyektiflah yang masih memberikan kemungkinan membawa kebenaran secara isi. Ini tidak berarti harus melakukan dekonstruksi terhadap bahasa musik, tapi suatu bentuk baru akan lebih koheren daripada bentuk-bentuk tradisional, demikian Adorno. Dalam, tahun-tahun ini, Adorno intensif bertukarpikiran dengan Ernst Bloch, Walter Banjamin, dan Max Horkheimer membicarakan soal: Apa yang harus dilakukan oleh para filosof di hadapan ilmu modern? Apa bagaimana jawaban para pemikir terhadap kemerosotan masyarakat? Banyak orang mengira bahwa Adorno adalah seorang Marxis. Tapi menurut Francine de Martinoir, dari Harian Katolik , La Croix, Paris, anggapan demikian tidak lain dari pandangan yang simplistis [Lihat: La Croix, Paris, 24 Juni 2004]. Adorno memang membaca Marx, Lukacs dan menghargai bahkan mentrapkan metode-metode analisa mereka . Hanya jika diperhatikan benar dialektika Adorno sebenarnya lebih dekat kepada pandangan Hegel. Delektika Adorno menentang kebekuan, menentang kemandegan [coagulation] sehingga sesuatu itu senantiasa tanggap dengan keperluan nyata kita. Dialektika ini pula yang menjadi dasar berlangsungnya ketiadaan kompromi terhadap yang disebut Adorno dengan materialisasi ["intransigeance contre la mat�rialisasion]. Karena itu Rudiger Safranski, salah seorang pengikut/murid Adorno, mengatakan bahwa hakekatnya Adorno adalah "pelanjut dari idealisme Jerman" terutama idealisme Schilling yang mengatakan bahwa "Aku adalah sesuatu yang tidak membiarkan diri dimaterialisasikan". Masalah lain yang diangkat oleh Adorno dalam diskusinya dengan Walter Benjamin adalah masalah perdagangan karya seni melalui reproduksi. Adorno melihat reproduksi begini sebagai ujud dari pengaruh perkembangan industri di dunia kesenian. Pada saat kaum Nazi mengambil kekuasaan di Jerman, Adorno menyingkir ke Amerika Serikat di mana ia melalukan periode Tahun-tahun California-nya dengan bekerja dan menulis. Dari pengasingan ini pula Adorno telah membantu Thomas Mann dengan nasehat-nasehat dalam menciptakan tokoh-tokoh roman seperti Leverk�hn, komponis malang dalam cerita "Doktor Faustus", kegagalan yang merupakan metafora kegagalan Jerman. Praktek-praktek anti kemanusiaan daro Nazi Hitler tercermin dalam karya-karya Adorno berupa pertanyaan ganda mengapa petaka metafisik jenis Auschwitz sampai terjadi? Apa yang harus dilakukan agar malapetaka jenis Auschwitz , tidak lagi terulang? Perang Dunia II berakhir dengan kekalahan kaum Nazi Hitler. Adorno pada 1949 meninggalkan California kembali ke Jerman. Dengan susah-payah akhirnya ia mendapatkan pos di Universitas Frankfurt . Pada tahun 1958, Adorno memimpin Lembaga Penelitian yang menjadi pengembang ide-ide yang disebut Aliran Frankfurt [Frankfurt School]. Pengaruh Adorno membesar terutama setelah karyanya yang berjudul : "Minima Moralia. Refleksi Tentang Kehidupan Yang Catat" -- karya yang memberikan sumbangan mendasar bagi Republik Federasi Jerman dalam menemukan jatidirinya . Melalui karya ini, Adorno juga mengembangkan lebih lanjut pendekatan Kafka terhadap lambang-lambang barbari, atau pendekatan Beckett dan H�derlin dalam memberikan bentuk estetika terhadap malapetaka. Berhadapan dengan macam-macam bencana yang terjadi pada pertengahan abad lalu, sangatlah sulit bagi Adorno untuk menerima bahwa kemajuan [progr�s] muncul dari Pencerahan. Adorno lebih lanjut mengembangkan pandangan-pandangannya dalam esai-esai anumerta seperti "Dialetika Negatif [1967] atau "Teori Estetika" yang merangsang perdebatan sengit di kalangan para akademisi, filosof dan teoritisi estetika. Adorno tidak sempat mengembangkan lebih lanjut teori-teorinya karena pada 6 Agutus 1969, Adorno yang mencurigai Gerakan Mahasisiswa Mei 1968, menghembuskan nafas penghabisan. Di belakangnya, Adorno meninggalkan "teori kritik" yang ia susun berdasarkan pengalaman Auschwitz, teori yang memandang sejarah sebagai "mesin neraka" [machine infernal]. Dengan melihat sejarah sebagai "mesin infernal" ini juga , Adorno melukiskan pesimisme yang mendalam , kepekaannya terhadap produksi massal karya-karya budaya, terhadap yang disebutnya sebagai "mesin perbudakan massa" serupa rousseau-isme naif di Perancis, yang meragukan akan " hari esok penuh nyanyi", berbarengan dengan penolakannya pada Heidegger. Di hadapan barbarie ekononomi dan budaya yang menggentayangi planet kita, Adorno disebut oleh Francine de Martinoir dari Harian La Croix, Paris, "bukan hanya saksi masakre masa silam, tetapi juga merupakan sismograf petaka kekinian dan atau yang akan tiba" [Lihat: Harian La Croix, Paris, 24 Juni 2004]. Stefan M�ller -Doohm secara lebih rinci menguraikan riwayat, pandangan dan karya-karya Adorno dalam karyanya "Adorno. Une Biographie" [Editions Gallimard, Paris, 2004, hlm]. Paris, Juni 2004. --------------- JJ.KUSNI Catatan: oto terlampir melukiskan Adorno di ruang kerjanya. [Dok. JJK] [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70 http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

