--- http://www.kompas.com/kompas-cetak/0406/25/Politikhukum/1108721.htm Jumat, 25 Juni 2004
Cendekiawan Jadi Mesin Politik, Sebuah Pengkhianatan Jakarta, Kompas - Seorang cendekiawan, lembaga pendidikan, maupun seorang ulama tidak selayaknya menjadi mesin politik maupun terlibat dalam dukung mendukung calon presiden. Cendekiawan harus berdiri di tengah, tidak partisan. Ia seharusnya bisa menjadi suara moral bagi masyarakat, bukan justru terlibat dalam politik kekuasaan. Jika seorang cendekiawan menjadi mesin politik, adalah sebuah pengkhianatan. "Itu adalah pengkhianatan kaum intelektual, seperti yang kita saksikan saat ini," ujar Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Prof Dr Azyumardi Azra seusai acara seminar nasional "Pemilihan Presiden dan Pemberantasan Korupsi di Indonesia", Kamis (24/6). Kritik terhadap para cendekiawan ini juga pernah dilontarkan oleh Ketua Dewan Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Dr Ahmad Syafii Ma'arif pekan lalu (Kompas, 21/6). Jika alasan cendekiawan hendak melakukan perubahan di dalam kinerja penguasa, menurut Azyumardi, hal itu tidaklah semudah yang diduga. "Menjadikan ide atau konsep itu berkaki, bukanlah hal yang mudah dilakukan oleh para cendekiawan," kata Azyumardi. Cenderung manipulatif Ada dua alasan yang membuat para cendekiawan akan mengalami kegagalan kalau masuk ke pusaran politik kekuasaan. Pertama, gagasan para cendekiawan sering kali terlalu abstrak sehingga sulit untuk bisa dipahami oleh publik. Kedua, kemampuan para cendekiawan dalam hal manajemen politik masih rendah. Mereka tidak terlatih dalam manajemen politik yang kerap terlalu kompleks, rumit, dan cenderung manipulatif. Dalam proses-proses manipulatif itu, para cendekiawan kerap kehilangan integritas kecendekiaannya. Saat ini para cendekiawan marak mendukung para calon presiden. Ada yang secara terus terang menyatakan diri sebagai pendukung capres tertentu, ada juga yang secara sembunyi-sembunyi sebenarnya mendukung capres tertentu. Padahal, di sejumlah media, sang cendekiawan itu masih terus melontarkan opini mereka tentang analisa situasi politik saat ini. "Mereka kerap menggunakan kerangka-kerangka ilmiah untuk memberikan justifikasi terhadap kepentingan-kepentingan politik dan tujuan- tujuan politik tertentu. Saya kira itu sebuah bentuk pengkhianatan," kata Azyumardi. Ia menegaskan, seorang cendekiawan seharusnya menjadi moral oracle (orang bijaksana penjaga moral) sekaligus menjadi penyambung lidah rakyat untuk menyampaikan prinsip-prinsip moral. Bukannya malah mengemukakan sebuah analisis tetapi dibalik analisisnya tersembunyi kepentingan- kepentingan politis tertentu. "Itu kesalahan yang tidak terampunkan dari seorang cendekiawan," ujar Azyumardi. Selain mengkritik cendekiawan selaku individu, Azyumardi juga mengkritik lembaga-lembaga pendidikan dan pondok-pondok pesantren yang telah memberikan dukungan terhadap capres tertentu. Jika hal itu dilakukan, berarti lembaga pendidikan tersebut telah melakukan politisasi pendidikan, begitu pula dengan pondok pesantren yang telah melakukan politisasi agama. "Kunjungan capres ke pesantren dan memberikan bantuan sekian juta itu adalah money politics. Apalagi jika bantuan tersebut dalam jumlah besar dan setelah menerima bantuan pesantren tersebut lantas mengucapkan kebulatan tekat mendukung capres tertentu. Itu proses politisasi agama," tutur Azyumardi. Sebab, perlu diingat, pesantren itu dipimpin oleh seorang kiai dan kiai itu dipandang sebagai representasi dari simbolisme keagamaan. "Ulama itu juga masuk dalam kelompok cendekiawan," katanya. Azyumardi juga menegaskan, lembaga-lembaga pendidikan, seperti perguruan tinggi, seharusnya mampu mengambil jarak dari proses-proses politik yang ada. (vin) --- End forwarded message --- ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar. Now with Pop-Up Blocker. Get it for free! http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

