http://www.suaramerdeka.com/harian/0406/29/nas04.htm Selasa, 29 Juni 2004 NASIONAL Analisis Prof Dr Riswandha Imawan Siapa yang Bakal Jadi Finalis
DALAM Pemilu Presiden dan Wakil Presiden 5 Juli 2004 nanti, hampir pasti tidak ada pasangan yang memenuhi ketentuan dalam pasal 6A ayat 3 UUD 1945. Artinya, pemilu putaran kedua hampir pasti pula dilakukan. Masyarakat pun penasaran. Siapa di antara lima pasangan capres-wapres yang ada saat ini yang menjadi finalis pada 20 September 2004 mendatang? Di balik sepinya kampanye, sebenarnya dari realitas lapangan sudah bisa diraba peluang tiap pasangan. Kampanye yang sepi ini bukan sekadar karena berbarengan dengan pertandingan sepak bola Euro 2004. Lebih dari itu, karena apatisme masyarakat terhadap pemilu yang tergambar dari tingginya angka golput (23,33%) pada pemilu anggota legislatif menjalar ke pemilu presiden dan wakil presiden. Apatisme masyarakat terkait dengan fungsi dan makna pemilu. Rakyat merasakan tidak ada perubahan apa pun setelah pelaksanaan pemilu. Mereka yang terpilih sebagai elite politik baru (wakil rayat) adalah orang yang itu-itu juga, dengan perilaku yang sama (bahkan lebih buruk) dibandingkan dengan orang yang mereka gantikan. Keadaan bukannya dibuat baik oleh para elite dalam kampanye. Mereka membuatnya bertambah buruk melalui obral janji yang sangat imajinatif dan bahkan mungkin manipulatif. Angin surga mereka tiupkan di tengah dahaga rakyat akan kehidupan yang layak sebagai manusia. Ada yang berjanji akan membuat SPP murah, bahkan menghapus SPP. Padahal, sekolah yang dikelola oleh sang tokoh bukan main mahalnya. Jika untuk masuk ke TK yang dikelola seorang tokoh memungut biaya Rp 3,5 juta, bagaimana SPP untuk sekolah yang lebih tinggi akan dia hapuskan? Banyak contoh lain. Misalnya mengurangi angka pengangguran sampai 40%, menaikkan harga komoditas pertanian, sampai memerangi penggusuran rumah-rumah rakyat. Sayang, para tokoh tidak mampu menurunkan slogan-slogan politik itu ke dalam tindakan atau program operasional yang dapat dipahami oleh rakyat. Bila begini keadaannya, maka jangan heran bila kampanye Pemilu Presiden dan Wakil Presiden 2004 tidak menarik perhatian rakyat. Variabel Utama Akan tetapi ada baiknya kita tidak terlena dengan dinginnya kampanye putaran pertama. Hal ini karena bekerjanya empat variabel utama dalam pemilu secara langsung. Pertama, adanya jaringan institusional ataupun personal yang menopang pasangan capres-wapres. Ini yang sering disebut "mesin politik". Fungsi utama dari jaringan ini adalah menjual visi, misi, dan program pasangan. Otomatis, jaringan itu harus mampu menyentuh akar rumput politik, yakni rakyat yang hidup di dusun-dusun terpencil. Sebaran yang dalam dan merata dari jaringan sangat menentukan kemungkinan lolosnya satu pasangan capres-wapres. Kedua, adanya dukungan dari pemilih yang sudah jadi. Yakni mereka yang sudah pasti akan memberikan suara pada satu pasangan sebagai modal awal untuk melakukan ekspansi menambang suara dari kubu pasangan lain. Di sini bukan sekadar banyaknya pemilih yang diperhatikan. Keragaman ciri pemilih juga sangat penting. Pemilih yang hanya memiliki satu entitas akan menyulitkan pasangan capres-wapres melakukan ekspansi. Sebaliknya, entitas pemilih yang makin variatif akan memudahkan pasangan membesarkan perolehan suara mereka. Ketiga, dana yang mencukupi. Pemilu presiden dan wakil presiden secara langsung membutuhkan dana yang luar biasa. Sebagai ilustrasi, saat George Bush bertanding melawan Albert Gore untuk menjadi presiden USA, dibutuhkan dana 163 juta dolar alias Rp 14 triliun (Los Angeles Times, 11/12/2000). Itu di negara yang mobilitasnya bisa dilakukan dengan bus dan kereta api. Pun di negara yang penduduknya cukup pintar, demokrasi dan penegak hukumnya sudah baik, hingga mengecilkan praktik politik uang. Sekarang bayangkan di Indonesia yang bentuknya kepulauan, penduduknya sudah lama bermimpi akan hidup yang makmur dan penegakan hukumnya masih acakadut. Keempat, gambaran personalitas dari para tokoh. Pemimpin adalah orang yang secara utuh dapat merepresentasikan kondisi dan situasi riil orang yang dipimpin. Pemilu milik rakyat. Ini pesta rakyat sebagai pemegang kedaulatan. Sementara itu, para tokoh hadir di sana untuk mohon diberi kewenangan. Tidak ada ceritanya pemegang kedaulatan boleh disakiti atau diperlakukan sewenang-wenang oleh (calon) pemegang kewenangan. Kita lihat akhir-akhir ini, semua pasangan capres-wapres menampilkan iklan yang menunjukkan bahwa mereka merupakan bagian yang utuh dari rakyat. Orang yang melihat keseharian para tokoh itu tertawa dibuatnya. Kok tiba-tiba para tokoh itu demikian merakyat? Demikian bermurah hati membeli sesuatu dari rakyat dengan harga yang tidak masuk akal? Bayangkan. Sejak kapan jeruk satu kilogram berharga Rp 50.000? Siapa? Bila selama kampanye putaran pertama "tidak ramai", tidak berarti pada putaran kedua demikian pula. Ini terjadi karena pada putaran pertama suara pemilih masih tersebar ke berbagai tokoh. Artinya, pada putaran pertama ini personifikasi tokoh berperan penting, sedangkan mesin politik tidak terlalu signifikan. Mudah dipahami bila dalam putaran pertama ini mereka masih hitung-hitung dalam penggunaan dana. Saat putaran kedua, saat pilihan menjadi sangat jelas karena hanya diikuti dua pasangan, akan terjadi konsolidasi pemilih menurut jalur ideologi yang menopang partai politik atau organisasi massa pendukung pasangan capres-wapres. Mesin politik akan menunjukkan tajinya. Politik uang terbuka untuk dioperasikan secara maksimal. Susahnya, saat itu secara formal tidak akan ada lagi kampanye sehingga segalanya akan dioperasikan secara diam-diam. Ini seperti api dalam sekam yang bisa menaikkan suhu konflik dalam masyarakat. Lalu siapa yang akan jadi finalis? Melihat konfigurasi yang berkembang, tampaknya ada dua arena perjuangan politik. Satu arena diisi oleh pasangan Wiranto-Gus Sholah dan SBY- Jusuf Kalla. Arena lain diisi oleh pasangan Megawati-Hasyim dan Amien Rais-Siswono. Adapun pasangan Hamzah-Agum tampaknya hanya berperan sebagai pengacau perolehan suara pasangan lain. Kecil sekali kemungkinannya bagi Hamzah-Agum lolos ke putaran kedua. Di arena pertama, terjadi upaya saling memaksimalkan jaringan Golkar dan keluarga besar TNI oleh Wiranto dan SBY. Saling sikut bisa terjadi di sini. Wiranto memang capres dari Golkar tapi bukan anggota Golkar sampai dengan mengikuti konvensi capres Golkar. Pada sisi lain, Jusuf Kalla (pasangan SBY) adalah tokoh Golkar. Tidak sekadar jaringan institusional. Kalla juga memiliki jaringan personal dalam tubuh Golkar. Inilah yang menyebabkan mesin politik Golkar tidak bekerja maksimal dalam putaran pertama. Keluarga besar TNI tampaknya juga bingung harus mendukung siapa. Wiranto yang rekam jejaknya diwarnai "jabatan perang" ditandingi SBY yang penuh dengan warna "jabatan intelektual". Dengan jabatan itu, Wiranto dapat membangun solidaritas yang tinggi dengan pola pikir operasi: "selesaikan masalah secepat mungkin dengan cara apa pun." Sebaliknya, SBY datang dengan tawaran strategis dan visioner, seperti paradigma baru TNI. Akan tetapi jangan lupa, ada Gus Sholah bersama Wiranto. Ada jaringan NU dan PKB yang bisa digunakan. Hanya, majunya Gus Sholah memunculkan friksi di kalangan NU dan PKB. Apalagi, ada Hasyim Muzadi bersama Megawati. Karena itu, harapan Wiranto untuk bisa memanfaatkan mesin NU sulit terpenuhi. Melihat demikian banyak masalah yang melilit Wiranto, tampaknya SBY yang lebih berpeluang tampil ke putaran kedua. Siapa lawannya? Mega-Hasyim yang memiliki pemilih tradisional yang "sudah jadi" mendapat saingan dari Amien-Siswono yang mengandalkan pemilih baru. Persaingan menjadi menarik, sebab Amien-Siswono sangat agresif memanfaatkan media massa. Media yang kekeringan berita menciptakan berita melalui debat capres-wapres. Sejauh ini Amien-Siswono aktif memanfaatkan kesempatan "gratis" itu. Ini secara tidak langsung membuat rekam jejak Mega- Hasyim berada dalam sorotan publik, sementara rekam jejak Amien-Siswono jauh dari sorotan publik. Orang lebih paham akan sisi buruk Mega-Hasyim dan sisi baik Amien-Siswono. Karena itu, jika Mega-Hasyim tidak segera mengubah gaya kampanye, bukan mustahil mereka akan dipecundangi oleh Amien- Siswono. Lalu, apakah finalis pemilu presiden dan wakil presiden adalah antara SBY-Kalla melawan Amien-Siswono? Belum tentu. Jika Mega-Hasyim bisa menempatkan rekam jejak Amien-Siswono dalam sorotan publik, masih ada kesempatan untuk mengatasinya. Apalagi pemilih jadi yang dimiliki Mega-Hasyim tampaknya lebih solid daripada pemilih Amien-Siswono. Selain itu, pasangan Amien-Siswono juga "ikut" ke dalam arena tempat Wiranto dan SBY berada. Ini sangat berisiko. Bila Amien-Siswono tidak keluar dari arena itu, maka sangat mungkin pepatah "gajah bertarung dengan gajah, pelanduk mati di tengah" akan mendapatkan buktinya. Dengan demikian, peluang Mega-Hasyim untuk tampil di putaran kedua masih cukup besar. Hanya setelah itu, seperti telah diungkapkan, suhu politik justru akan meningkat pada putaran kedua. Mari kita waspadai dengan bijak sebab melalui pemilu kita sedang mencari solusi terbaik bagi bangsa kita. Pemilu bukan awal penyebab disintegrasi. Sebaliknya, menjadikan makin kuat persatuan dan kesatuan di antara kita.(33j) Copyright� 1996-2004 SUARA MERDEKA --- End forwarded message --- ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar. Now with Pop-Up Blocker. Get it for free! http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

