DARI NOTES BELAJAR SEORANG AWAM: SUSAN SONTAG: "MASIH TERLALU BANYAK KATA YANG HARUS SAYA UCAPKAN"
Tidak bisa diingkari bahwa Susan Sontag adalah termasuk salah seorang sastrawan Amerika Serikat [AS] kekinian yang terkemuka. Karyanya "L'amant du Volcan" [terjemahan dari Volcano Lover] telah menjadi sebuah "best seller" di AS , sedangkan karyanya En Am�rique [In America] telah dianugerahi hadiah National Book Award pada tahun 2000. Kedua karya ini diterbitkan di Paris oleh Christian Bourgois. Wartawan sastra Harian Le Monde, Paris, menyebut sastrawan perempuan yang pada bulan Mei lalu sudah berusia 71 tahun ini sebagai "perempuan istimewa" dan "tokoh sentral cendekiawan kiri AS" [Lihat: Harian Le Monde, Paris, 2 Juli 2004]. Di usia senja ini, penulis roman, esais, novelis, dramaturg, penulis skenario dan berbagai artikel budaya, sosial dan politik ini, bertarung di setiap detik melawan penyakit kangker yang diidapinya sejak 30an tahun. Susan merasa penyakit ini sebagai hukuman mati telah dijatuhkan kepadanya. Oleh karenanya terkadang ia bahkan "tidak mempunyai keberanian membaca koran-koran". "Untuk apa saya harus membaca koran dan mengikuti perkembangan dunia, kalau saya sudah dijatuhi hukuman mati", ujarnya. "Kangker seperti menyihir diri saya", tambahnya. Menyihir dalam pengertian membuat Susan seperti kehilangan daya tarung. Pergulatan melawan "hukuman mati" kangker ini ia tuangkan dalam karya "La Maladie Comme M�taphore" [Penyakit Sebagai Metafora] yang di Paris diterbitkan oleh Christian Bourgois dalam tahun 1993. Susan berhasil mengalahkan pesimisme dan perasaan kalah di hadapan ajal. Ia mulai meneruskan kebiasaannya mengikuti perkembangan dunia melalui berbagai media massa, termasuk media cetak. Dengan kembalinya Susan pada kebiasaan, seakan ia telah menyepelekan kematian, dan kembali kepada dirinya yang merupakan "tokoh sentral cendekiawan kiri AS" dan sastrawan-budayawan yang setia pada misinya. Dalam posisi ini, memenuhi permintaan Harian The New York Times, Susan Sontag mengutuk penyiksaan yang dilakukan oleh administrasi Bush terhadap para tahanan perang Irak di penjara Abou Ghraib. Tulisan kutukan terhadap administrasi Bush ini di Perancis disiarkan oleh majalah Inrockuptibles 16 Juni 2004, pernyataan yang dinilai oleh majalah ini sebagai penuh dengan daya juang, berani , mendalam dan peka , tulisan yang mencerminkan wajah Susan Sontag sesungguhnya. Ketika ditanyai oleh para wartawan mengenai pernyataan ini, Susan Sontag menjawab: "Saya harus bicara. Saya harus mengungkapkan pikiran saya terhadap politik dan tindakan pemerintah Amerika, tentang politiknya dan tentang krisis kekinian yang dihadapi oleh negeri ini. Selayaknya saya berbicara dengan nada tinggi", ujar Susan.. Pernyataan Susan dinilai oleh wartawan sastra Harian Le Monde Paris, sebagai suara "langka dari kekuatan kiri di AS". Jika dicermati benar dari segi riwayat, sebenarnya pernyataan dan kritik keras begini bukanlah hal baru dilakukan oleh Susan. Sejak ia memulai karir sebagai sastrawan, ia selalu mencermati perkembangan nasional dan internasional serta mengajukan pendapat-pendapatnya. Aapabila kita mengikuti pendapat-pendapat Susan dari sejak awal maka akan nampak benar bahwa Susan menolak pandangan "nasionalisme cupet" yang ia nyatakan secara elegan sebagai seorang cendekiawan . Oleh perhatian besarnya terhadap masalah-masalah nasional dan internasional, Susan sangat kerap menyiarkan komentar-komentar. Sejalan dengan perhatian terhadap masalah-masalah nasional dan internasional , Susan berkecimpung juga di dunia fotografi. Fotografi di mata Susan memberikan bukti terhadap apa yang diungkapkannya. Berkat perhatian ini, Susan menghadirkan karya kesaksiannya berbentuk foto-foto dalam buku "Sur la Photographie" , Tentang Fotografi, [Editons le Seuil , Paris, 1979] atau dalam "Devant la Douleur des Autres", "Di hadapan Nestapa Orang Lain", [Editions de Christian Bourgois, Paris, 1993]. Untuk memahami mengapa Susan begitu tertarik pada masalah nasional dan international yang aktual bisa ditelusuri dari pernyataan Susan bahwa "Bagi saya dunia penulisan", ujar Susan, "adalah suatu proses mengamati dunia"."Fiksi khususnya menelingkuh paradoks", "menggemakan alur pikiran lain yang berlawanan, terutama berlawanan dari diskurs politik", lanjut Susan. Dalam usahanya mengenal kenyataan di lapangan, Susan banyak bepergian ke berbagai penjuru dunia dan merenungi realita yang dia saksikaan. Di hadapan realita ini, Susan menghadapinya sebagaimana adanya realita itu sendiri. Susan setia pada kenyataan. Untuk mengenal realita inilah maka pada 1993, ia meninggalkan New York kota tinggal kecintaannya, untuk pergi ke Sarajevo yang sedang terkepung. Realita dilihatnya sebagai suatu "keperluan" [la n�cessit�] bagi karya tulis. Karena ia menghadapi realita sebagaimana adanya maka pada Susan seperti yang dikatakannya sendiri: "Pada diri saya tidak ada satu mokelul sinisme sekalipun". "Saya mencintai kebenaran.Atas dasar ini maka sayapun adalah seorang moralis -- yang dalam artian tertentu merupakan warisan nilai bangsa Amerika. Pada saat saya membaca, saya mengharapkan saya mendapat gangguan pikiran, belajar dan mendapatkan anjuran baru untuk suatu jalan keluar atas dasar pengalaman-pengalaman para pendahulu dari apa yang saya baca.Dan ketika saya menulis saya berharap saya bisa membawakan sesuatu yang lebih mendasar , lebih luas, mengenai hubungan antar sesama. Dalam keadaan ini saya hilang dalam renungan egoistik dan keterasingan. Oleh karena itu saya sangat banyak dirobah oleh kesusastraan", jelas Susan lebih lanjut [LIhat: Harian Le Monde, Paris, 2 Juli 2004]. Sejak kanak , Susan memang berada di lingkungan kesusastraan! Keluarganya memandang kesusastraan sebagai hal yang menyimpan "ide-ide serius" sementara di kenyataan lain, "ide-ide serius" itu jauh dari kehidupan nyata. Susan memandang realita ini sebagai pertanyaan yang harus ia jawab, tantangan yang harus dihadapi. "Keadaan demikian membangkitkan keinginan diri untuk melampauinya", ujar Susan. Terasa oleh Susan bahwa jika kokoh berpegang pada "nilai-nilai serius" dan "membuat dirinya terasing". Dalam keadaan begini kosakata seperti kehilangan makna. Yang disebut mulia, spritualitas, roh, dan sebagainya menjadi samar arti sehingga kita jadi gamang untuk berucap jika masih ingin menghargai diri dan kata. Sastrawan justru sedang menghadapi keadaan begini dan oleh karenanya seperti dikatakan oleh Susan di tengah perjuangannya dalam menghadapi ajal bahwa masih banyak yang harus diucapkan oleh sastrawan. "Masih terlalu banyak kata yang harus saya ucapkan", ujar Susan. Paris, Juli 2004. -------------- JJ.KUSNI Catatan: Terlampir adalah foto Susan Sontag yang diambil dari Dokumentasi Jelitheng [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70 http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

