Spiritualisme Studio Mendut, Sebuah Pengalaman Pentas 

(Kompas, Minggu 4 Juli 2004)

Oleh Ki Hadi Supeno

DATANG dari jarak 100 kilometer atau perjalanan dua
jam menuju Mendut, tiba-tiba kru pentas wayang saya
terlihat membisu, mengerutkan alis, sedih, dan saling
berbisik. Rupanya yang jadi sumber persoalan adalah
lokasi pentas wayang kulit yang jauh dari bayangan
selama ini, panggung megah dengan berbagai ornamen.
Lebih-lebih ini pentas pada sebuah Festival Gunung
se-Jawa I.

Apa yang tersedia? "Pentase deneng nang blumbang asat,
si keprimen (pentasnya di kolam yang dikeringkan,
bagaimana ini?)," ujar dalang Anom Sarjhono, yang
berperan sebagai supervisor pementasan. Ya, di Studio
Mendut milik Sutanto memang "hanya" tersedia sebuah
kebun di tepian Sungai Blongkeng, di bawah sanggar
kerja Sutanto dan istrinya, Mami Kato. Kebun itu
kira-kira 10 meter x 6 meter, tak ada fasilitas apa
pun, kecuali beberapa pohon di kanan kiri dan lampu
pentas di sudut jauh. Sangat maklum bila para
pengrawit dan penata panggung konvensional
terkaget-kaget, bahkan nyaris kehilangan semangat
manggung tatkala menyaksikan lokasi panggung seperti
itu. Padahal, hari sudah menjelang sore, pukul 16.00.
Padahal, langit mendung akan hujan. Sangat berbeda
dengan pentas wayang kulit saya di Banjarnegara dengan
panggung 14 meter x 12 meter, bahkan beberapa kali
dengan kelir sepanjang sembilan meter.

Warna baru

Saya sendiri bukan tidak tahu kondisi Studio Mendut.
Saya mengenal Sutanto sejak tahun 1986 ketika dia
masih lonthang lanthung tanpa pilihan karier. Saya
mengenal Studio Mendut sejak didirikan, saya pernah
bertahun-tahun menjadi guru bersama Sutanto, pernah
berdemo-demo bareng menentang agresi Amerika Serikat
terhadap Irak, kerap diskusi intens tentang apa saja.
Sampai akhirnya saya memperoleh tawaran untuk pentas
wayang kulit sebagai "acara utama" Festival Gunung
se-Jawa I. Rupanya Sutanto terkesan atas pementasan
Kresno Dhuto yang saya lakukan di Klampok Banjarnegara
tanggal 19 Mei, dengan penonton yang mbludak ribuan
jumlahnya yang memacetkan lalu lintas
Purwokerto-Banjarnegara.

Saya menyatakan oke atas tawaran Tanto, padahal tahu
saya tidak akan dibayar, malah-malah mungkin tombok.
Padahal saya juga tahu bahwa dia tak akan menyediakan
panggung pementasan yang megah seperti pentas-pentas
wayang kulit saya selama ini. Padahal saya tahu
penontonnya tidak akan seheboh pada pementasan di
tempat lainnya. Tetapi saya langsung menyanggupinya
karena saya tahu Sutanto pekerja seni yang selalu
mencoba memberikan warna baru, tanpa motif politik,
dan sebatas untuk dinikmati senikmat-nikmatnya.

Wahyu itu datang

Saya konon diplot mewakili Gunung Dieng. Saya
dipesan-pesan agar membawakan gagrag Banyumasan, yang
cablaka, mengalir tanpa tedheng aling aling, jauh dari
bahasa keraton, apakah Yogyakarta atawa Surakarta.
Maka lakon yang saya bawakan juga lakon yang
berkonteks dengan dunia gunung, yakni Rama Bargawa,
kisah anak gunung yang dendam pada elite
negara/ksatria yang telah membuat luka nganga pada
kawula dengan perilakunya; mengumbar janji, korup, dan
main selingkuh�. Saya bawa juga dari Banjarnegara
antologi puisi karya Sudrajat yang khas Dieng, saya
bawa kaset-kaset rekaman wayang kulit saya, gagrag
Banyumasan, dan tak lupa saya bawa minuman khas Dieng
Banjarnegara bernama Purwaceng, yakni Irex alternatif,
alami, bebas bahan kimia, yang membuat orang Dieng
usianya rata-rata 85 tahun!

Saya sengaja tidak memberitahukan pada 50 orang kru
baik pengrawit, penari, maupun pelawak, bahwa kita
akan pentas edan-edanan ala Tanto, tanpa panggung,
tanpa atap. Saya khawatir kalau saya beritahukan,
mereka akan nglokro. Hari Sabtu 12 Juni siang,
sebagian besar Jawa Tengah hujan deras. Dari Wonosobo
saya telepon Sutanto apakah Mendut hujan, ia jawab
Mendut hujan. Saat saya sampaikan kekhawatiran, dengan
enteng Tanto jawab, "Tenang saja, kita tunggu wahyu.
Kalau ada wahyu kan terang, kalau tak ada wahyu ya
hujan," ujarnya. Saya mengiyakan, sambil berpikir,
kalau nanti hujan ya enggak usah pentas, idep-idep
mlesiraken orang desa ke Mendut dan Borobudur.

Dan betullah, wajah mrengut yang saya dapati saat kru
melihat tak ada persiapan apa pun di studio Mendut.
"Sabarlah, orang kota biasa kerja cepat. Sebentar
nanti panggung sudah tergelar,"ujar saya ngeneng-nengi
para pengrawit. Dan saat yang ditunggu tiba, selepas
magrib Studio Mendut sudah berubah. Ketua Panitia
Pementasan, Wenti Guru, bak tukang sulap. Kebun dekil
telah menjadi panggung alami, asri. Dalam balutan
karpet merah, diterpa cahaya lampu, ditingkahi suara
gemericik air Sungai Blongkeng, malam itu Studio
Mendut tampak amat cantik. Wahyu itu telah datang! Kru
saya berkaca-kaca haru, tak membayangkan ada pentas
wayang kulit di bawah langit tanpa tenda bias secantik
ini. Bintang gemintang di langit tersenyum ramah,
wahyu telah datang.

"Nyong gemeter, haru, kemranyas atine, deneng apik
temen, pentas wayang nang alas kaya kiye. Mau kaya
blumbang, saiki kaya nang istana (Saya gemetar,
terharu, hati ini terasa berpasir, bagus benar, pentas
wayang di hutan sebagus ini. Tadi seperti kolam,
sekarang seperti istana)," ujar seniman Cundoroso,
saat memberi komentar. "Nyong kepengin pentas kaya
kiye nang Banjar. Jan nyong nembe weruh ana wayangan
ora nganggo payon (Saya ingin pentas seperti ini di
Banjar. Sungguh saya baru lihat ada pentas wayang
tidak memakai atap)," timpal Hasyim Setiyadi, dalang
dan pengarang lagu.

Wajah mrengut jadi sumringah, tanpa komando
gending-gending Banyumasan yang ngeh mengalir kompak
ditingkahi tepuk tangan penonton yang memenuhi Studio
Mendut, tidak mendapat tempat duduk. Gending Gunung
Sari, Waru Doyong, Gudril mengguncang-guncang malam di
Mendut, dipadu dengan gerakan eksotis penari Indri
yang membius penonton.

Balas dendam pada ksatria

Dalam gairah malam yang penuh sensasi itulah, bersama
musik talu Banyumasan saya turun beriring tepuk tangan
jubelan penonton yang mbludak melebihi saat pembukaan
festival oleh Gubernur Mardiyanto. "Ini rekor penonton
di Mendut Mas,"kata penyair ES Wibowo,
menginformasikan.

Lalu dengan penuh percaya diri, mengalirlah Rama
Bargawa, mempertontonkan balas dendam tak terkirakan
pada satria dan kehidupan elite yang tidak membawa
ketenteraman jagat raya. Suara cemrowet clometan yang
sejak sore bersahutan, begitu wayang mulai langsung
menghilang, berganti menjadi tepuk tangan silih
berganti menyambut antawacana dan dialog-dialog
kontekstual yang saya suguhkan.

Pertunjukan menjadi semakin gayeng tatkala lawakan
Banyumasan hadir oleh Jono Dower di tengah segmen
"Gara-gara". Penonton terpingkal-pingkal menikmati
logat Banyumasan, bahkan akhirnya ikut turun melantai
saat Caping Gunung berkumandang. Pertunjukan yang
mestinya usai pukul 01.00 sesuai jadwal, ternyata
molor sampai pukul 03.00 dini hari. Sutanto yang
sedang masuk angin dan sudah pamit tidur, ternyata
masih melek, dan ikut berdiri bertepuk tangan
menyambut kami meninggalkan arena pentas.

HP saya penuh SMS pujian, kata kru saya, memang dari
puluhan pentas selama ini, maka pada malam inilah saya
mengalami puncak kreativitas. Saya sendiri
bertanya-tanya, mengapa puncak kreativitas itu tidak
lahir tatkala saya pentas di atas panggung megah,
dengan tata lampu warna-warni disaksikan ribuan
penonton mungkin di antaranya para pembesar? Mungkin
pentas Mendut bukan sekadar mengurai cerita dan
membabar lakon, tetapi ada dimensi spiritualitas
transendental yang ikut hadir, pertunjukan yang tidak
dibelit oleh kepentingan sesaat, bukan sekadar mencari
penghiburan, tetapi ada nilai- nilai yang coba
diresapi secara komunal, yakni gugatan atas
kedurhakaan para elite terhadap nilai-nilai
kerakyatan, kemanusiaan, ketuhanan, keadilan, serta
kehidupan. Arena pentas tanpa panggung memberikan
simbolik, saatnya kita hidup tidak dibuat-buat,
menyatu dengan alam, bercengkerama dengan pohon,
bernyanyi dengan burung, barangkali.

Pentas di Mendut membikin hati deg-degan sebab seperti
main-mainan. Tetapi berakhir dengan kebahagiaan karena
ada pengalaman baru yang di tempat lain tidak
didapatkan. Selamat kepada Sutanto Mendut, sampai
ketemu pada Festival Gunung se-Jawa kedua. Rika aja
klalen karo nyong.

Ki Hadi Supeno Dalang Wayang Kulit, Wakil Bupati
Banjarnegara, Jawa Tengah

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0407/04/seni/1120583.htm


        
                
__________________________________
Do you Yahoo!?
New and Improved Yahoo! Mail - 100MB free storage!
http://promotions.yahoo.com/new_mail 


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke