Menarik belajar dari kuba ttg cara mengelola
pendidikan murah / gratis. silahkan diikuti. (mario)

Sabtu, 03 Juli 2004

Pendidikan di Negara Miskin 

Oleh : Samsuridjal Djauzi dan Ede Surya Darmawan
Dosen Universitas Indonesia

http://www.republika.co.id/ASP/kolom_detail.asp?id=165540&kat_id=16


Pendidikan memang tak murah. Namun, mungkinkah sebuah
negara miskin mampu menyelanggarakan pendidikan yang
bermutu? Pertanyaan ini terjawab ketika kami bersama
mantan menhutbun Dr Nurmahmudi Ismail, Dr Arief Budi
Witarto (BPPT), dan Dr Sri Hartini (RS Dharmais)
berkesempatan berkunjung ke sekolah dasar dan
universitas di Havana, Kuba, pada awal Juni 2004.

Kunjungan ke sekolah dasar di Havana itu amat
mengesankan. Kami disambut oleh murid-murid SD di
halaman sekolah dengan lagu-lagu Kuba. Mereka murid
murid kelas 3 sampai kelas 6. Mereka yang menjadi
panitia penyambutan untuk kedatangan kami. Guru hanya
mengawasi dan memberi penjelasan.

Gedung sekolah bertingkat dua terletak di jantung kota
Havana. Bangunan sekolah sederhana namun kokoh dan
bersih. Di sekolah ini terdapat 640 orang murid mulai
dari taman kanak-kanak sampai kelas 6 SD. Setiap kelas
paling banyak diisi oleh 20 orang murid. Jumlah guru
di sekolah ini 45 orang sehingga perbandingan guru dan
murid sekitar 1 banding 15. Latar belakang pendidikan
guru adalah sarjana pendidikan sedangkan untuk
pelajaran keterampilan seperti seni, pekerjaan tangan,
olahraga, dan komputer, guru dibantu oleh instruktur
lulusan sekolah kejuruan.

Bahasa yang dipergunakan adalah bahasa Spanyol namun
mulai kelas tiga murid SD sudah mulai belajar bahasa
Inggris. Kemampuan rata-rata murid SD di Kuba tinggi.
Survei yang diadakan oleh Unesco pada 2002 menunjukkan
kemampuan matematika dan bahasa siswa SD Kuba jauh di
atas rata-rata murid SD negara Amerika Latin lainnya. 

Mutu pendidikan di SD Kuba didukung oleh adanya
program nasional melalui televisi untuk pelajaran
matematika, biologi, dan bahasa. Pada jam-jam tertentu
guru yang berpengalaman nasional memberikan pelajaran
yang disiarkan oleh televisi Kuba. Seluruh kelas di
Kuba dilengkapi dengan televisi sehingga dapat
menangkap siaran tersebut.

Kami juga sempat berkunjung ke laboratorium komputer.
Untuk siswa TK, pengenalan komputer masih dilakukan
dengan komputer mainan yang terbuat dari kardus.
Namun, bagi siswa SD tersedia komputer sebenarnya yang
dapat dimanfaatkan untuk mendukung pelajaran. Mereka
mendapat kesempatan bekerja di laboratorium komputer
dua kali seminggu serta pada jam-jam senggang. Pada
saat kunjungan laboratorium sedang berlangsung
kegiatan siswa kelas 5 yang sedang berpraktik membuat
presentasi dengan program power point.

Pada umumnya siswa diantar oleh orang tua pagi hari
sekali ke sekolah karena orang tua mereka bekerja.
Siswa diwajibkan sampai di sekolah pada pukul tujuh
pagi dan pelajaran sekolah dimulai pukul delapan pagi.
Sambil menunggu waktu belajar mereka dapat
memanfaatkan komputer dan membaca buku di perpustakaan
yang koleksi bukunya cukup banyak. Siswa yang orang
tuanya bekerja dapat tinggal sampai sore di sekolah
sampai sore, dan sekitar pukul 16.30 dijemput oleh
orang tua mereka.

Kami sempat berkunjung ke beberapa kelas. Murid duduk
tidak selalu dalam posisi klasikal menghadap papan
tulis, namun disesuaikan dengan mata pelajaran. Untuk
mata pelajaran matematik mereka duduk dengan posisi
klasikal namun pada mata pelajaran bahasa mereka duduk
dalam kelompok kecil, setiap kelompok terdiri dari 4
orang siswa. Mereka mendapat kesempatan untuk
bercakap-cakap secara lebih akrab. 

Lapangan untuk pelajaran olahraga tersedia cukup luas.
Saat itu beberapa siswa laki-laki dan perempuan sedang
bermain basket, dan seorang instruktur dengan tekun
membimbing mereka. Bahkan di kelas juga disediakan
papan catur untuk olah pikir. Kami diantar oleh para
siswa melihat-lihat fasilitas sekolah. Salah seorang
siswi kelas 4 menjadi pemandu kami dan dia berbahasa
Inggris dengan lancar. Teman-temannya juga mampu
berbahasa Inggris namun tak selancar pemandu ini.

Selesai mengunjungi fasilitas sekolah kami
beristirahat di ruang perpustakaan. Di ruang ini
terpampang spanduk yang bertuliskan ucapan Fidel
Castro dalam bahasa Spanyol yang artinya adalah: Untuk
menjadi pendidik kita perlu memahami ilmu pengetahuan
serta cakap menyampaikannya kepada murid kita.

Untuk perpustakaan tingkat sekolah dasar maka
perpustakaan ini tergolong lengkap. Bahkan salah
seorang siswa mengungkapkan bahwa setelah mengetahui
akan ada kunjungan dari Indonesia maka dia mencari
bahan di kepustakaan ini tentang Indonesia. Dia
bertanya kepada kami betulkah Indonesia mempunyai
banyak suku dan masing-masing suku mempunyai bahasa
sendiri? Kami merasa kagum dengan minat siswa ini dan
keinginannya untuk mengetahui lebih jauh tentang
Indonesia.

Di ruang kepustakaan siswa mempertunjukkan beberapa
lagu dan tari. Kami pun diminta untuk menyanyikan lagu
Indonesia. Tampaknya murid di Kuba mendapat pelajaran
yang sungguh-sungguh dalam bidang kesenian. Mereka
menyanyi dan menari dengan amat baik. Namun yang
berkesan bagi kami adalah ketika mereka menghidangkan
konsumsi. Semua disediakan oleh murid, mereka yang
mengaturnya dan mereka pulalah yang membagikan pada
kami. Meski penganan yang dihidangkan amat sederhana
namun kami amat menikmati hidangan para siswa
tersebut. Kami meninggalkan sekolah dasar ini dengan
kenangan suasana belajar yang menyenangkan dan
fasilitas yang memadai meski Kuba seperti Indonesia
masih tergolong negara miskin.

Universitas
Kami juga berkesempatan berkunjung ke Universitas
Havana. Universitas ini sudah tua dan juga terletak di
tengah kota tak jauh dari Hotel Havana Libre tempat
kami menginap. Di Universitas Havana terdapat sekitar
5.000 orang mahasiswa. Sehabis Shalat Subuh biasanya
kami berjalan kaki dan beberapa kali kami sempat
berjalan kaki sampai ke Universitas Havana. Meski
sudah tua, bangunan universitas terpelihara baik,
bahkan halamannya amat bersih. Pagi-pagi kami melihat
petugas sudah menyapu halaman. Mahasiswa juga sudah
berdatangan meski ruang kuliah belum dibuka.
Gedung-gedung fakultas dihiasi dengan berbagai
patung-patung para ilmuwan dan semboyan-semboyan untuk
belajar.

Kami sempat berkunjung ke Fakultas Kimia. Gedung
laboratorium ini sudah tua namun dari gedung inilah
dihasilkan karya yang cukup besar yaitu sintesa
oligosakirida yang mampu menggantikan dinding sel
bakteri Hemophylus influenza B. Melalui penemuan ini
dapat dibuat vaksin secara sintesis dan penemuan ini
kemudian dikembangkan di pusat Biotek CIGB (Centre for
Genetic Engineering and Biotechnology). Sekarang Kuba
telah menghasilkan jutaan vial vaksin H.influenza B
yang digunakan di Kuba dan juga diekspor ke luar
negeri. Di laboratorium kimia ini bekerja 40 orang
pakar kimia sebagian besar adalah tenaga paruh waktu,
sebagian lagi adalah karyawan industri biotek yang
sedang dalam proses pendidikan untuk meraih gelar
master atau doktor. 

Jika dulu mahasiswa pasca-sarjana Kuba bangga dengan
gelar yang mereka peroleh di negara maju maka sekarang
mereka merasa bangga dengan gelar yang mereka dapat
dari Universitas Havana. Meski untuk mendapat gelar
tersebut kadang-kadang mereka perlu juga mendapat
pelatihan keterampilan di beberapa negara di Eropa.
Rata-rata usia staf di Universitas Havana masih amat
muda. Bahkan kepala laboratorium ini beserta isterinya
yang juga bekerja sebagai pakar kimia di laboratorium
ini juga tampaknya masih muda. Sulit untuk
membayangkan di laboratorium yang tampaknya sederhana
ini telah dapat dihasilkan berbagai penemuan yang
bermanfaat bagi masyarakat serta diakui mutunya oleh
dunia. 

Sebagian staf juga memperoleh kesempatan untuk bekerja
di pusat industri biotek yang menyebabkan suasana
kerja di industri biotek menjadi suasana yang ilmiah.
Salah seorang anggota rombongan kami, Dr Arief Budi
Witarto, pakar rekayasa protein dari LIPI diminta
untuk memberikan ceramah di pusat industri biotek
CICB, karena CICB banyak melakukan penelitian produk
yang produksinya berdasarkan teknik rekombinan DNA.
Suasana diskusi di pusat biotek ini tak berbeda dengan
pertemuan ilmiah di universitas yang terbuka dan
akrab. 

Saat ini Kuba mempunyai sekitar 14 pusat biotek yang
tersebar di Havana dan provinsi lain di Kuba. Jumlah
saintis di Kuba mencapai 12 ribu orang dan 1.800 di
antaranya merupakan doktor. Sarjana Kuba mempunyai
kemampuan tinggi dan mempunyai motivasi kuat untuk
menyumbangkan kepakarannya kepada masyarakat. Mutu
yang tinggi dan sikap yang mengutamakan masyarakat ini
merupakan hasil pendidikan sejak sekolah dasar. Kuba
membuktikan bahwa, meski miskin negara ini dapat
menyelenggarakan pendidikan yang baik. Bagaimana
dengan Indonesia?


=====
Mario Gagho
Political Science,
Agra University, India


                
__________________________________
Do you Yahoo!?
New and Improved Yahoo! Mail - Send 10MB messages!
http://promotions.yahoo.com/new_mail 


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke