Tiga Jenis Politik di NU 

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0407/05/opini/1127211.htm
Oleh Syafiq Hasyim

DALAM pertemuan Rembang Jilid 2 yang dihadiri sejumlah ulama NU struktural dan 
kultural, KH Sahal Mahfudh menyampaikan tujuh seruan kepada nahdliyin sebagai panduan 
untuk menyikapi kondisi politik dalam tubuh organisasi yang akhir-akhir ini mengalami 
krisis.

Pada butir pertama seruan itu disebutkan tiga model politik yang selama ini 
dilaksanakan NU, yaitu politik kenegaraan, politik kerakyatan, dan politik kekuasaan 
(Indo Pos, 1 Juli 2004).

Bagi NU, dari tiga macam politik itu, politik kekuasaan (praktis) menempati kedudukan 
paling rendah. Pernyataan ini implisit untuk mengingatkan para politisi NU yang sudah 
keluar dari khittah 1926.

Pertanyaannya, mengapa banyak tokoh NU lebih meminati politik kekuasaan praktis, 
padahal jenis politik ini banyak menimbulkan perpecahan dalam tubuh organisasi? Di 
kalangan NU ada asumsi, politik kerakyatan dan kenegaraan akan mendapatkan puncak pada 
peraihan politik kekuasaan.

SECARA historis, kelahiran NU dibidani Hadratus Syaikh Hasyim Asy�ari dan ulama-ulama 
terkemuka lain, seperti KH Wahab Hasbullah dan Bisri Sansuri, tahun 1926. Salah satu 
tujuannya untuk melindungi praktik dan pemikiran keagamaan Muslim Indonesia yang beda 
dengan praktik dan pemikiran keagamaan Muslim Timur Tengah, khususnya Arab Saudi, yang 
puritanistik.

Meminjam kerangka teori Elnerst Gellner, NU berdiri untuk membela praktis Islam yang 
cenderung dekat dengan local Islam. Dalam kitab Qanun Asasi Li Jami'ati Nadlatul 
Ulama, KH Hasyim Asy�ari memprihatinkan adanya gerakan keagamaan baru yang menyerukan 
pemberantasan bidah (heterodoksi) dengan "kedok" kembali kepada Al Quran. Padahal, 
gerakan baru inilah yang sebenarnya memproduksi bidah. Pernyataan KH Hasyim ini bisa 
dianggap (1) merespons situasi internasional tentang maraknya gerakan Wahabisme di 
Timur Tengah dan, (2) terhadap situasi nasional tentang maraknya gerakan pembaharuan 
(puritanisme) Islam.

Dari sini bisa disimpulkan, pendirian NU bukan untuk tujuan politik kekuasaan, tetapi 
politik (keagamaan) kerakyatan. Maka, bagi umat Islam Indonesia yang menginginkan 
pelaksanaan praktik dan pemikiran keagamaannya dekat dengan tradisi lokalnya, 
kehadiran NU dinilai memberi perlindungan. Bila ini bisa disebut tindakan politik 
kerakyatan-dalam pengertian luas-maka politik jenis inilah yang patut disebut 
tingkatan politik tertinggi NU. Politik kenegaraan belum muncul karena saat itu (1926) 
diskursus tentang negara belum ada.

Seiring kompleksitas perkembangan politik Indonesia, perjalanan politik NU juga 
berkembang. NU mulai bersentuhan dengan politik kenegaraan (kebangsaan), terutama 
menjelang dan pascakemerdekaan. Persentuhan ini merupakan pengaruh gerakan 
nasionalisme di beberapa negara yang bergerak menuju kemerdekaan. Kontribusi politik 
kenegaraan NU yang paling jelas adalah dukungan Wahid Hasyim, wakil NU pada PPKI, 
untuk tidak mencantumkan Piagam Jakarta di dalam dasar negara kita.

Selain itu, selama menjadi organisasi sosial-juga politik-keagamaan, NU tidak pernah 
terlibat kasus-kasus pemberontakan Islam. Komitmen terhadap negara dan bangsa 
diletakkan di atas segala-galanya karena NU menyadari, eksistensi negara adalah hal 
utama bagi kehidupan agama dan manusia sesuai dengan garis Ahlussunnah Waljamaah.

DUA model politik NU itu-kerakyatan dan kenegaraan-merupakan pengalaman paling ideal 
dalam sejarah NU. Mengapa? Dua model ini menjadikan NU sebagai organisasi keagamaan 
yang berorientasi pada kebaikan dan kepentingan umum (mashlahah ammah). Namun, NU 
ternyata tidak mampu mempertahankan dua model politik ini karena godaan politik 
kekuasaan, baik dari tokoh NU sendiri maupun dari luar NU.

Keterlibatan pertama NU dengan politik kekuasaan adalah dukungan organisasi ini 
terhadap pendirian Masyumi. Ketika menjadi organisasi penyangga Masyumi, tokoh-tokoh 
NU terlibat perebutan kekuasaan baik untuk jabatan dalam tubuh partai maupun di luar 
partai (eksekutif). Politik kekuasaan masa ini diakhiri dengan perpecahan. 
Keterlibatan paling pekat dengan politik kekuasaan saat NU berdiri sebagai partai 
politik (1952) pascapecah dari Masyumi.

Menurut Greg Fealy, tujuan politik NU saat menjadi parpol adalah 1) penyaluran dana 
pemerintah terhadap NU, 2) mendapat peluang bisnis, dan 3) menduduki jabatan birokrasi 
(Greg Fealy, Ijtihad Politik Ulama Sejarah NU 1952-1967, LKIS: Yogyakarta, 2003). 
Dengan tiga tujuan politik seperti itu, tampaknya justru menyebabkan NU terjerembap 
dalam kubangan orientasi politik materialistis, lalai pada politik kerakyatan. Bahkan 
pada periode ini NU dituduh sebagai oportunis dan akomodasionis. Inilah periode 
terburuk sejarah NU karena ketika menjadi parpol, NU tidak menunjukkan prestasi 
gemilang bahkan bisa dikatakan gagal.

Kegagalan itu tidak segera disadari sehingga saat Soeharto menerapkan kebijakan fusi 
bagi partai-partai politik Indonesia, NU tidak memanfaatkan momentum ini kembali ke 
jalan politik NU sesuai khittah 1926. Bahkan NU tetap menjadi pendukung PPP di garis 
depan. Dukungan terhadap PPP menunjukkan orientasi politik kekuasaan masih menjadi 
prioritas utama. Dan apa yang terjadi selama bergabung dengan PPP, pengulangan sejarah 
saat NU bergabung dengan Masyumi. Merasa dicurangi dan dikebiri, NU memutuskan untuk 
kembali ke model NU tahun 1926, NU yang berorientasi pada jama�ah dan jam�iyyah.

Namun, keputusan kembali kepada khittah 1926 ternyata tidak membuat NU benar-benar 
kembali kepada politik kerakyatan dan kenegaraan. Lubang untuk melakukan politisasi NU 
masih terbuka karena khittah 1926 tidak tegas mengatur hubungan antara organisasi dan 
pengurus. Padahal, ini merupakan titik krusial yang menyebabkan pertarungan politik 
praktis di antara tokoh NU. Dalam hal ini, khittah 1926 hanya menyatakan NU sebagai 
organisasi harus netral, namun sebagai individu, pengurus NU bisa berpolitik praktis. 
Memang ada aturan, pengurus NU yang rangkap jabatan dalam parpol harus memilih salah 
satu. Namun, aturan ini tidak bisa diterapkan untuk kasus selain partai politik.

Meski dalam kadar berbeda, namun dari titik inilah muncul dua peristiwa politik 
berorientasi kekuasaan pasca-khittah 1926 dalam tubuh NU. Pertama, kesediaan KH 
Abdurrahman Wahid menjadi calon presiden RI pada Pemilu 1999. Kedua, pencalonan KH 
Hasyim Muzadi oleh PDI-P untuk wakil presiden dalam pemilu presiden 5 Juli 2004.

Berdasarkan pengalaman itu, NU sebenarnya memiliki pengalaman amat kaya akan 
keterlibatannya dalam tiga medan politik (majal al-siyasi)-kerakyatan, kenegaraan, dan 
kekuasaan-di atas. Namun dari ketiga lapangan itu, yang membuat NU menjadi tercerai 
berai dan penuh nuansa konflik adalah jenis politik kekuasaan. Semula diharapkan, 
dengan politik kekuasaan, dua kepentingan politik -kerakyatan dan kenegaraan-bisa 
diperjuangkan, tetapi justru dua politik itu menjadi korban orientasi menuju politik 
kekuasaan.

Karena itu, alangkah baiknya bila NU-organisasi dan pengurus-di masa datang 
meninggalkan politik kekuasaan, kembali ke rakyat dan negara. Biarlah politik 
kekuasaan dilaksanakan oleh mereka yang bergerak untuk wilayah ini.


Syafiq Hasyim Deputi Direktur International Center for Islam and Pluralism (ICIP)


Khairurrazi
Aligarh Muslim University
Uttar Pradesh, India

-- 
India.com free e-mail - www.india.com. 
Check out our value-added Premium features, such as an extra 20MB for mail storage, 
POP3, e-mail forwarding, and ads-free mailboxes!

Powered by Outblaze


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke