SEORANG TKW MELIHAT PEMILU

Hari itu tanggal 5  Juli 2004, rakyat Indonesia di mana pun mereka 
berada, termasuk yang oleh berbagai sebab sedang berada di 
luarnegeri diajak untuk memberikan suara mereka guna memilih siapa 
yang menjadi presiden negara yang menyandang nama Republik 
Indonesia -- artinya negara yang berbentuk Republik    berserta 
nilai-nilai yang termuat dalam istilah Republik itu. Republik  
bermakna negara kita bukan sebuah kerajaan alias monarchi. 

Republik memang ada bermacam-macam. Ada "republik demokratik", " 
republik populer", "republik demokrasi rakyat", dan ada juga yang 
disebut "republik sosialis", tapi apapun namanya semuanya berbentuk 
republik . Kesemuanya bertolak dari ide "res publica", konsep yang 
muncul pertama kali pada tahun 1410 yang berarti hal-hal yang 
bersifat publik atau umum. Karena bertolak dari "res publica" 
(kepentingan umum)  maka selayaknya para publik ini berhak 
menentukan apa yang mereka pandang sebagai kepentingan mereka, bukan 
kepentingan yang didikte atau diperkirakan kepentingan publik oleh 
para  penguasa atau pihak lain. Karena itu terhadap masalah 
kepentingan publik ini agar tanggap dan relati obyektif maka publik 
perlu diajak berkonsultasi. Di sinilah pentingnya program politik 
pemilu  dari para capres perlu disebarluaskan dan didiskusikan oleh 
publik luas. Program politik pemilu capres adalah lukisan besar 
tentang tanahair dan bangsa yang ingin dibangun oleh capres dan 
sekaligus sebagai penakar prakteknya kelak ketika berkuasa. Atas 
dasar program politik inilah sebenarnya kita memilih dan kelak 
mengontrol orang yang kita pilih.

Pemilu, demokrasi dan kesetaraan di depan hukum tidak lain dari 
konsekwensi nalar dan wajar dari bentuk republik. Sehingga kalau 
pemahaman saya benar, maka negara yang memilih bentuk republik akan 
menjadikan kepentingan publik atau kepentingan umum sebagai landasan 
pijak bagi segala kegiatan, kebijakan alias politik pilihan dalam 
mengelola negara. Ketika Indonesia memilih  Republik sebagai bentuk 
negara, maka dengan sendirinya nilai-nilai republiken ini pulalah 
yang semestinya menjadi titik pijak dan dasar pilihan politik 
mengelola negara.  Pilihan politik yang tertuang dalam sebuah 
program politik yang pelaksanaannya diawasi oleh  publik pemilih 
melalui sarana-sarana demokratik.

Secara garis besar, bermula dari dasar pandang demikianlah, saya 
sebagai seorang TKW melihat dan menghadapi pemilu sekarang yang 
bakal menetapkan orang pertama di negeri kita dan mempunyai dampak 
nyata pada berbagai sektor kehidupan kita, termasuk kami dan saya 
yang TKW.   Sadar akan arti pemilu dalam hubungannya dengan arti 
Republik seperti di atas, sesungguhnya saya menyambut gembira 
adanya, terselenggaranya dan diselenggarakannya pemilu sebagai salah 
satu ujud dan salah satu tahap dari keikutsertaan publik yang biasa 
disebut demokrasi, dalam mengelola negara. Saya katakan sebagai 
salah satu tahap karena demokrasi republiken itu mempunyai tahap 
berikut yang sama pentingnya dengan tahap pertama yaitu periode 
pengawasan pilihan politik yang tertuang dalam program sebagai janji 
pemilu. Program republiken memang dibawa oleh perorangan yang 
mewakili  partai politik tertentu. Barangkali dari program politik 
inilah bisa diketahui republiken tidaknya partai politik dan orang-
perorang yang mengatasnamainya. Malang dan sangat malang dalam 
pemilu presidensial sekarang, saya tidak melihat ditonjolkannya 
program politik. Saya tidak melihat adanya debat serius tentang 
program yang bakal menjadi landasan pijak dan kerangka rencana 
pengelolaan republik seusai pemilu. Yang sangat menonjol adalah 
persaingan antar capres (calon presiden) yang dari segi sejarah 
dan "kebersihan" mereka tidak seorang pun yang tidak patut 
dipertanyakan. Dengan tidak adanya program jelas dan diumumkan 
secara luas, pemilihan capres saya lihat tidak lain dari seperti 
yang dikatakan oleh sementara penulis bagai "memilih kucing dalam 
karung" .  Dalam posisi demikian, memilih sama dengan berjudi dan 
yang kita perjudikan tidak lain dari kehidupan diri kita masing-
masing. "Memilih kucing dalam karung", dengan riwayat yang belang-
bonteng para capres, perjudian nasib ini menjadi makin mengerikan 
karena kita  diajak memilih calon-calon sebagai orang pertama yang 
semuanya belang-bontang. Kita tidak lain dari memilih calon-calon 
yang semuanya buruk dan sudah dibuktikan oleh kenyataan, paling 
tidak dalam periode lebih dari tiga dasawarsa jika dihitung sejak 
Orde Baru. Barangkali pilihan itu terletak pada soal memilih yang  
baik dari yang buruk. Dari sini kembali perjudian nasib negeri dan 
diri masing-masing dilakukan di meja pemilu hari ini. Terus-terang 
dalam keadaan begini, saya sebagai seorang TKW tidak merasakan ada 
harapan perbaikan atas nasib saya sebagai seorang TKW, juga tidak 
mempunyai keyakinan bahwa orang pertama yang "terpilih" akan membawa 
perbaikan atas nasib bangsa dan rakyat , kecuali akan melihat 
kedudukan orang pertama seperti selama  tiga dasawarsa lebih akan 
membuka peluang KKN -- entah terbuka atau terselubung --  sesuai 
dengan pandangan jabatan adalah kekayaan dan kemakmuran diri,  
keluarga dan kelompok yang berkuasa serta aliansinya. Sekalipun 
demikian, apalagi jika pemilu ini berlangsung tanpa kucuran darah, 
saya melihat pemilu sebagai proses kita belajar berdemokrasi . Jika 
tidak terjadi pertumpahan darah, maka kita melalui proses belajar 
berdemokrasi ini tidak mentradisikan setiap pergantian orang 
pertama  disertai dengan pertumpahan darah. Ini saya anggap sebagai 
satu hasil. Sedangkan masalah perbaikan? Saya tidak mengimpikannya 
apalagi para capres pun tidak pernah bicara dengan program jelas apa 
yang bakal mereka lakukan setelah jadi presiden. Munculnya presiden 
baru kelak bukanlah munculnya seorang "putera fajar" bagi negeri, 
bangsa dan negara. Sebagai seorang TKW saya melihat jalan panjang 
berliku masih menunggu diri saya sebagai anak bangsa dan negeri 
biasa yang hanya diharapkan suaranya pada pemilu untuk kemudian 
tidak diindahkan. Menusuk semua tanda gambar capres akhirnya 
merupakan  bentuk terbaik dari tanggungjawab saya: tanda bahwa saya 
masih mencintai dan memperhatikan tanahair dan bangsa yang adalah 
bagian dari diri saya sendiri.

Hong Kong, Juli 2004.
-------------------- 
Mega Vristian 


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke